Chapter 11 - Serakah

1232 Kata
“Akkkk!” erangan Kinan terdengar dikala pagi, bahkan matahari belum genap menampakan sinarnya saat Kinan merasakan kemihnya penuh. Dia harus segera pergi kekamar mandi jika tak ingin mengompol disitu. Tapi rupanya nyeri dipangkal pahanya masih saja terasa.Harry terbangun saat gadis dalam pelukannya bergerak,”Kenapa?” tanyanya sembari sedikit mengangkat kepalanya agar dapat melihat kearah Kinan dengan lebih jelas. “Nyeri…” jawab Kinan sekilas lalu sambil meninggalkan Harry menuju toilet. Harry memperhatikan cara gadis itu berjalan. Berkelebat kembali dalam benaknya saat Kinan memuaskannya semalam, ciumannya, erangannya, desahannya, gerakan pinggulnya,”Gadis nakal…” gumam Harry sambil mengulum senyuman. (Ponselnya berdering) Harry mengerutkan kening seraya mengedip-ngedipkan matanya yang masih terasa mengganjal. Dia  melirik jam dinding yang berada dihadapannya. “Jam lima pagi. Pasti itu Mira.” Siapa lagi yang berani menelpon dirinya diluar jam kantor selain istrinya itu. Harry menghela nafasnya. Semenjak sakit Mira semakin parah, ponsel Harry hampir tidak pernah off. Harry takut jika sewaktu-waktu terjadi apa-apa dengan Mira. Sembari berusaha menyamankan posisi duduknya untuk bersandar pada kepala ranjang, tangannya memanjang meraih ponsel. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya sempurna, Harry mengangkat telpon istrinya. “Pah, kamu dimana? Semalam kamu nggak pulang?” suara diujung sana terdengar sangat cemas. “iya, Sayang. Bukankah sudah aku katakan, aku sedang sangat sibuk karena Mike cuti? Mungkin beberapa hari lagi aku baru akan pulang..” jawabnya dengan suara yang serak khas orang bangun tidur. “Ooo… ya sudahlah kalau begitu. Tapi kamu benar-benar sedang bekerja ‘kan? Bukan sedang berduaan dengan perempuan lain?” cerca Mira. Kinan masih meringis saat melangkah keluar kamar mandi. Dengan hati-hati dia berjalan agar nyeri akibat perbuatan Harry diarea sensitifnya semalam tidak semakin menjadi-jadi. Diatas ranjang, Harry masih menggenggam ponsel yang menempel ditelinganya. Kinan memperhatikan gerak gerik Harry sambil bersandar pada dinding kamar. Dengan tatapan serius dia menganalisa dengan siapa dan apa yang sedang Harry bicarakan. “Jangan gila, Mira… mana mungkin aku seperti itu disaat istriku sedang sangat membutuhkan aku…” seulas senyum Harry muncul saat matanya menangkap sosok Kinan yang bersandar pada dinding sembari menelisik kearahnya. Gemasnya lagi gadis itu benar-benar telanjang bulat. Tangan Harry  melambai kearah Kinan, menginstruksikan agar gadis itu mendekat padanya. seulas senyum nakal menghiasi wajah berjambangnya. “Baiklah, aku mempercayaimu.” Sahut wanita diujung telepon. Kinan berjalan menuju ranjang saat Harry melambaikan tangannya. Dia duduk disisi ranjang tanpa berusaha mendekati Harry. Dengan posisi menggbelakangi Harry, dia masih menganalisa setiap kata-kata yang pria itu katakan. “Bagaimana dengan Brian? Apa dia mencariku?” sambung Harry menanyakan kabar anak semata wayangnya. Kinan semakin penasaran dengan siapa Harry berbicara. Wajahnya nampak biasa saja walaupun suaranya terkesan sangat perhatian. Laki-laki itu pandai bersandiwara. “Brian, dia baik-baik saja semalam. Sekarang masih tidur, dia belum bangun. Aku akan menghubungimu lagi nanti…” “Bagaimana dengan checkup mu kemarin? Apa ada perkembangan?” kali ini Harry memperjelas rasa penasaran Kinan dengan siapa dia berbicara. “Baiklah kalau begitu, telpon aku jika ada apa-apa…” pungkas Harry begitu mendengar penjelasan wanita diujung telpon. “Istrimu??” tanya Kinan seraya membalikkan badannya, menoleh pada Harry. Nada bicaranya menunjukan kekesalan pria itu. Tapi Kinan bisa berbuat apa? Itu adalah telpon dari istri sahnya. Wanita itu jelas berhak menelpon Harry kapan saja dan dimana saja. “Kenapa? Kamu cemburu?” goda Harry seraya berusaha memeluk gadisnya, ahh bukan, wanitanya.. “Jika tubuhku, hatiku dan hidupku adalah milikmu.. Bisakah aku juga memiliki tubuhmu, hatimu juga hidupmu? Bisakah kamu membiarkannya saja saat kamu bersama denganku? Itu membuatku sangat kesal!” dalam sekejap Kinan mulai menuntut Harry. Wajahnya mendekat pada Harry seakan dia benar-benar ingin memenangkan pria itu lebih jauh lagi. Rasanya sungguh sangat menyebalkan bagi Kinan walaupun hanya mendengar Harry berbicara dengan istrinya. Kinan seperti menjadi lebih serakah kali ini. Dia mulai ingin memiliki Harry sepenuhnya. Entah bagaimana dia bisa berubah dengan sekejap mata seperti ini. Harry menautkan alisnya saat Kinan bersikap seakan sedang menuntut padanya. Tangannya memegang dan mengelus dagu Kinan dengan lembut dan menggoda,”Bukankah sudah jelas, Sayangku?” dengan mudah Harry memagut bibir Kinan. Pagutannya kuat dan menggairahkan. Pertarungan panas diatas ranjang itu tak dapat terelakan lagi. Harry tentu saja menikmati semua yang ada diantara dia dan Kinan. ‘Bagaimana jika istri Harry tahu suaminya sedang berada diatas tubuhku. Menikmati surga yang aku sajikan padanya?’ pemikiran nakal terbit dikepala Kinan. Diselingi dengan desahan dan senyumannya, membuat Harry semakin gemas melihat Kinan. Pria itu sungguh tak paham apa yang ada dalam benak Kinan. Yang Harry tahu, Kinan sangat menggoda dan menggairahkan baginya. Laki-laki ohh laki-laki… ***** Andy sudah duduk di belakang villa. Ditemani secangkir kopi, sepiring kecil kue kering dan hamparan bukit yang dipenuhi dengan pepohonan hijau menyejukan mata. Paginya cerah, kian semarak dengan suara cicitan burung dan semilir hawa sejuk angin perbukitan disekitar villa. “Apa kamu bermalam disini, Andy?” tegur Neni pada Andy. Matanya liar menelusuri wajah tampan Andy yang terlihat sangat segar pagi ini. Menambah daya tarik ajudan itu dimata Neni. Neni adalah gadis asisten rumah tangga yang mengurus villa selama ini. Usianya mungkin sepantaran dengan Kinan. Namun keadaan keluarga yang serba kekurangan memaksa gadis itu berjuang lebih keras untuk menghidupi dirinya sendiri. “Ya… aku harus selalu mendampingi bapak..” pria gagah itu sama sekali tak menoleh pada Neni, padahal gadis itu sedari tadi berdiri disampingnya. “Mau aku tambahkan kopimu?” Neni berusaha membangun interaksi dengan Andy. Dirinya mendekat mencoba meraih cangkir kopi Andy yang isinya tampak tinggal setengah. “Tak perlu.” Kata Andy saat Neni hampir menyentuh cangkirnya. Begitulah Andy, dia sangat dingin dan ketus pada semua gadis yang hendak mendekat padanya. Neni menekuk mukanya, suara nafasnya terdengar mendengus kesal. Pria dihadapannya itu begitu susah untuk didekati. Tapi kharismanya sangat menggoda. Dia terlalu tampan untuk menjadi seorang ajudan. Badannya juga gagah. Benar-benar terlalu baik untuk menjadi seorang ajudan. Tapi untuk sekarang, gadis itu memilih untuk pergi meninggalkan Andy. Dia sudah memintanya secara halus pada Neni, jangan sampai Andy membentaknya seperti dulu lagi. Lebih baik dia pergi kedapur untuk menyelesaikan pekerjaannya, sebelum majikannya juga terbangun dari tidurnya. ***** Sudah hampir jam 8 pagi saat Harry dan Kinan menyelesaikan ronde terakhirnya. Kinan memandangi Harry yang berdiri dihadapannya, laki-laki itu sedang berpakaian. Celana pendek dengan kaos oblong ketat yang mencetak jelas bentuk tubuhnya, khas baju rumahan. Tangan Kinan bergeraak manja menjamah d**a bidang yang terhidang dihadapannya. Harry melenguh, matanya  seketika mulai menatap Kinan yang berdiri dihadapannya dengan berbalut sehelai handuk. “Kamu ingin melakukannya lagi?” seringai Harry tangannya bergerak membelai helaian rambut Kinan yang masih basah meneteskan air kelantai. “Ehm… kapan kamu akan menikahi aku?” desak Kinan seraya menyorongkan tubuhnya merapat pada Harry. “Secepatnya..” kecupan kilat Harry mendarat di bibir Kinan. Pria itu menatap mata Kinan dalam-dalam. Gadis ini beberapa Harry lalu dengan keras menolak dirinya, sekarang dia bahkan seperti bertekuk lutut padanya. Kinan membalas tatapan Harry dengan senyuman manja. Cuuppp! Sekali lagi kecupan itu mendarat di bibir Kinan. Namun kali ini Harry memilih untuk segera melangkah pergi meninggalkan Kinan sendirian di dalam kamar,”Lekas berpakaian, kita sarapan…” perintah Harry sebelum hilang dari baik pintu. ***** Harry duduk dihadapannya dengan tablet ditangan kanannya. Matanya tampak terfokus dengan apa yang ditampilkan di layar tablet. Kinan mengangsur suapan terakhir kedalam mulutnya. Nasi goreng daging asap itu sepertinya terasa sangat nikmat hingga Kinan bisa menghabiskan satu piring penuh. Mereka berdua sarapan sambil duduk dihalaman belakang sembari menikmati pemandangan di sekitar villa yang menyegarkan mata. Jarang-jarang mereka bisa menikmati udara fresh jika berada ditengah kota. “Mike sudah masuk kerja?” Harry membuka suara. Dia berencana untuk berada di villa itu selama 2hari, jangan sampai rencananya gagal hanya karena sekretarisnya itu tak kunjung masuk kantor. “Sudah, Pak..” Harry mengangguk-anggukan kepalanya. Matanya masih saja menatap tablet yang berada ditangan kanannya. “Aku akan masuk terlebih dulu.” tanpa menunggu persetujuan Harry, Kinan berdiri dari kursi duduknya. Harry mendongak kearah Kinan,”Tunggu! Aku masih ingin bicara denganmu, Kinan.” Kinan membalikan tubuhnya, mata pria itu tampak sangat serius. Sikapnya berbeda dengan yang semalam ataupun tadi pagi, dengan malas Kinan kembali duduk dikursinya. Bersiap mendengarkan  mandate yang akan pria itu sampaikan padanya.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN