Bab 7

1078 Kata
“Iya, Bos. Ayo...kita makan dulu, Bos.” Reno mencuci tangannya dan bergabung bersama ketiga pekerjanya untuk makan siang. Selama makan, Reno kepikiran atas kondisi Maya. Sakit apa gadis itu sampai tidak bisa berbuat apa-apa hari ini.  Reno memutuskan untuk menjenguk gadis itu malam ini. Malam, harinya, sehabis maghrib Reno berpakaian rapi. Lalu mengendarai sepeda motor bututnya menuju ke sebuah super market. Ia menuju sebuah rak, mengambil beberapa yang ingin ia beli lalu membayarya di kasir. Reno kembali melajukan kendaraannya. Sekarang ia menuju jalan jambu, rumah Maya. Emak Maya mengerutkan kening saat melihat Reno, penjual buah di pasar datang ke warungnya. Pasalnya lelaki itu tidak pernah menghampiri warungnya. Reno memang penjual buah, namun ia cukup dianggap sebagai orang berada di kelurahan ini. “Assalamualaikum!” Reno memberi salam setelah memarkirkan sepeda motornya di depan warung Emak Maya. “Waalaikum salam!” “Ibu!” Reno tersenyum ramah. “Eh,Reno bukan ya?” Emak menyipitkan matanya ke arah Reno. “Iya, Bu, saya Reno, kan Ibu langganan di saya kalau beli buah,” balas Reno dengan sopan. Emak tertawa cekikikan.”Maaf, udah tua...matanya agak siwer kalau malam-malam begini. Apa lagi, penampilannya beda. Eh ayo silahkan duduk, mau beli atau gimana?” “Saya mau jenguk Maya, Bu, katanya lagi enggak enak badan...” Emak Maya terdiam beberapa saat. Ia mulai bingung kenapa duda itu menjenguk anak gadisnya. Padahal Maya baru beberapa hari ini di rumah dan gadis itu tidak sakit. Hanya sedang datang bulan. “Ibu?” panggil Reno ketika Emak tidak berkata apa-apa dan malah melamun. “Eh iya...maaf, Maya ada di dalam. Ayo masuk aja.” Emak memersilahkan Reno duduk di ruang tamu. “Sebentar ya saya panggilin Maya.” “Iya, Bu.” “Maya!” panggil Emak pada anak gadisnya yang tengah berbaring sambil memejamkan mata. "Hmmmm...," gumam Maya. “Ada tamu tuh....” “hiahaha,hak? (Siapa, Mak?)" ucap Maya tidak jelas. Karena takut masker di wajahnya retak. "Ih enggak jelas ngomong apa. Udah cepetan keluar, ada yang nungguin tuh di ruang tamu." Emak menepuk b****g Maya. Ya udah temuin sana, kayaknya ada yang beli tuh di depan.” Emak segera keluar kamar. Reno tersenyum pada Emak. “Sebentar ya, Reno...Maya sebentar lagi keluar. Saya mau layani pembeli dulu.” “Iya, Bu, silahkan.” Maya merapikan rambutnya di depan cermin. Lalu ia berjalan dengan gontai keluar dari kamar. Maya kebingungan melihat Reno ada di ruang tamu. Ternyata tamu yang dimaksud Emak adalah Reno. "Astaghfirullah!" teriak Reno saat Maya muncul dengan wajah yang bewarna putih dan menyeramkan. "hi, Hahaaan hi, Hom, haya hahet Hau! (Hih, Apaan, sih, om, maya kaget tahu!) " kata Maya masih dengan bahasa planetnya. "Kamu ngomong apa, sih, Maya...." Reno menggaruk kepalanya. "Haya hahi hahe hasher! (Maya lagi pakai masker!)" kata Maya lagi. Reno menggelengkan kepalanya."Aduh terserah kamu deh, May, yang penting saat ini saya cuma bisa pakai bahasa manusia." "Hehenhar! (Sebentar)" Maya mengangkat tangannya, meminta Reno menunggunya di sana. Ia segera pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah selesai, ia mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil dan kembali menemui Reno. "Sudah, Om!" Maya tersenyum lebar. Reno mengusap dadanya lega."Syukurlah, kamu udah bisa bahasa manusia lagi." "Ish, Om...tadi kan Maya itu pakai masker. Takut maskernya pecah kalau ngomong kenceng. Tapi, ya udah deh...terpaksa dicuci soalnya kasihan Om sibuk menerka apa yang Maya ucapkan." “Katanya kamu sakit?" Reno mulai ke inti pembicaraan, tujuan utamanya adalah menjenguk Maya yang katanya sakit. “Iya, sih, Om...tapi bukan sakit yang serius kok,” balas Maya geli. Ia segera duduk di hadapan Reno. “Enggak serius tapi kamu sampai enggak jualan gitu.” “Ya biasa, Om, sakit bulanannya cewek. Takutnya nanti mood Maya enggak bagus, terus marah-marah deh sama yang beli,"jelas Maya. Reno mengangguk-angguk.”Syukurlah kalau kamu enggak apa-apa.” Maya menutup mulutnya menahan tawa." Naik kuda pergi ke Kenya, duh...Om duda...perhatiannya." Wajah Reno merona, sesekali ia mengusap tengkuknya sambil menyembunyikan wajahnya. "Cuma...bertanya-tanya aja sih kok tumben enggak ke pasar." "Lagian, tahu darimana kalau Maya sakit? Perasaan Maya cuma bilang ke Emak." "Tadi, Emak kamu bilang pas Paijo beli Sop buah...tapi enggak ada,"balas Reno. "Oh gitu...eh, maaf Maya bikinin minum dulu. Lupa!” Maya segera melesat pergi ke dapur dan membuatkan secangkir teh hangat. Reno tertawa geli. Ia menunggu dengan sabar sampai gadis itu datang membawa secangkir teh. “Silahkan diminum, Om.” “Terima kasih, Maya.” “Maya yang terima kasih, Om...udah dijenguk padahal Maya ini baru beberapa hari jadi pelanggannya Om.” Reno menyesap teh hangatnya. Lalu pandangannya terfokus pada gadis itu."Aku bawain sesuatu tuh." Mata Maya tertuju pada bungkusan di atas meja."Buat Maya?" "Iya." “Maya buka ya, Om?” Maya membuka bungkusan dan ia terbelalak. Beberapa jenis cokelat kesukaannya yang biasa ia beli sebulan sekali, itu pun kalau ia dapat uang bonus bulanan."Wah! Cokelat kesukaan Maya...ih kok Om bisa tahu sih, Maya suka banget sama cokelat-cokelat ini." “Kamu suka cokelat ya?” Maya mengangguk senang. Mendadak rasa sakit di perutnya menghilang.”Terima kasih, Om. Baik banget. Padahal Maya enggak sakit apa-apa. Eh tapi, kok...Om kepikiran bawain Maya cokelat. Biasanya kan kalau orang sakit dijenguk pakai buah. Ini kok cokelat." "Karena...cokelat itu manis,"jawab Reno datar. Mata Maya mendelik."Karena itu?" "Ya karena kalau buah, kamu juga tiap hari beli buah. Kan, kalau cokelat ...kamu enggak tiap hari beli cokelat." "Masuk akal juga..." Maya mulai stres mendengar jawaban Reno yang tanpa ekspresi dan intonasi suaranya biasa-biasa saja. Seperti antara niat dan tidak.”Iya deh, Om... Maya apa-apa aja deh terserah. Yang penting Maya dapat yang manis-manis." "Tapi, ada sesuatu yang manis, May, yang enggak bakalan saya kasih ke kamu?" Sambung Reno. Masih dengan intonasi suara seperti tadi. "Apa itu, Om? Permen ya,kan? Takut Maya sakit gigi atau...kena diabetes," jawab Maya pede. "Bukan!" "Terus apa dong?" "Sesuatu yang manis dan enggak bakalan saya kasih ke kamu adalah...Janji manis." "Cakep!! Pecah, Om!" Maya tertawa lepas, namun wajah Reno tetap biasa-biasa saja." Jalan-jalan naik sepeda. Sebelum pulang beli kenanga. Duh Om duda..., bikin hati Maya berbunga-bunga." Wajah Reno merona seketika.Ia mengedarkan padangangannya ke dinding rumah. Di sana ada beberapa figura.”Kamu sarjana, May?” Reno terkejut melihat foto Maya sedang diwisuda. Maya ikut melihat ke arah figura dan terkekeh.”Iya, Om, kaget ya? Ternyata penjual buah ini seorang sarjana? Atau sarjana kok jual es buah?” Reno menggeleng.”Lebih ke pilihan pertama, sih.” “Ya gitu deh, Om, baru beberapa hari ini Maya pulang dari kota terus memutuskan untuk jualan aja,” jelas Maya apa adanya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN