Bab 6

1060 Kata
Maya meneguk salivanya."Kalau itu, Maya enggak open Order, Om. Maaf, cek toko sebelah!!" Jupri dan Paijo tertawa cekikikan di balik dinding kayu mendengar percakapan Reno dan Maya. Trisno yang sedang mengambilkan pesanan Maya pun ikut terkekeh. "Yang tadi boleh juga, Om." "Namanya Juleha, janda kembang." "Mantep tuh, Om!" Maya mengacungkan jempolnya. "Saya mau yang perawan," balas Reno telak. Maya menggeleng-gelengkan kepalanya."Om, Perawan memang nikmat, tapi janda...lebih menggoda." Reno tertawa terpingkal-pingkal. Tadinya ia bisa bersikap kalem, tapi untuk kali ini ia tidak bisa menjaga imagenya lagi."Tahu apa kamu soal itu,Maya." "Kan ada istilah sekarang itu loh, Om...janda semakin di depan, perawan gulung tikar." Maya berkata seperti ia sedang berorasi di depan kantor MPR RI. "Kata saya enggak tuh. Saya pilih yang nyaman di hati. Enggak penting cantik atau enggaknya,"jawab Reno santai, sesekali matanya menatap layar ponsel. Melihat pemberitahuan yang masuk. "Kalau Maya cantik dong, Om." Maya memainkan alisnya dengan pede. Tidak peduli bagaimana bentuk wajahnya. Apakah terlihat cantik atau malah menyeramkan. "Iya." "Iya apanya, Om, yang jelas dong." "Iya kamu cantik, Maya." Maya menepuk tangannya."Akhirnya setelah tujuh purnama ada juga yang bilang Maya cantik." "Kalau lihatnya dari ujung sedotan," sambung Reno datar. Mulut Maya komat-Kamit sendiri karena kesal.""Ekspresinya nyebelin, kayak papan setrikaan. Datar..." "Kayak d**a kamu juga!" "Apa?" Maya menangkup b*******a dengan kedua tangannya."Datar? Lebih datar muka Om kali. Jahat banget sih." "Iya,"jawab Reno. "Iya  apa, sih, enggak jelas banget ini Om Duda," gumam Maya. "Mbak, pesanannya." Trisno menyerahkan bungkusan pada Maya. Maya mengangguk."Terima kasih ,Bang. Ini uangnya,Om." "Berapa, Maya?" "Loh kok malah nanya Maya, yang jualan kan Om." Maya menggaruk kepalanya. "Oh iya ya. Kayak biasa...berarti ya harganya kayak biasa. Duitnya pas." Maya memutar bola matanya." Ya udah, Om...Maya harus pulang." "Mau diantar enggak, Maya?" Reno memberanikan diri mengantar Maya. Itu juga kalau Maya bersedia. "Maya jalan kaki aja, Om. Biar sehat sentosa, Indonesia raya...merdeka!" ucap Maya keras. Reno hanya bisa meringis."Ya...ya...ya, pulanglah. Awas hilang. Hati-hati di jalan." "Beli micin di warung mang Dadang. Singgah ke pasar membeli gundu. Enggak bakalan mungkin Maya hilang. Kasihan Om duda nanti jadi rindu." "Asek!!" teriak Paijo. Maya tertawa, ia pergi melangkah meninggalkan kios Reno. "Maya...Maya," panggil Reno sebelum gadis itu benar-benar melangkah lebih jauh. Maya membalikkan badannya."Kenapa, Om? Ada yang ketinggalan?" "Satu titik dua koma!" "Cakep!" Kata Paijo, Jupri, dan Trisno. "Maya cantik, Om duda kan yang punya?" sambung Reno lagi. "Asek, tarik, Bos!" ucap Jupri. "Yok, bales, Mbak Maya," kata Trisno. Sepertinya kelakuan Maya yang suka iseng dengan bos mereka yang ekspresinya datar-datar saja menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Maya mengedipkan matanya berkali-kali. Ia cukup kaget dengan pantun yang barusan dikatakan oleh Reno. Bukannya meneruskan perjalanannya pulang, Maya justru kembali ke hadapan Reno. "Pergi ke London naik pesawat, singgah ke Paris membeli paku." " Cakep, Mbak!" "Wah...gawat, Om duda ngaku-ngaku." Maya tertawa mengejek, lalu ia berlari kecil menghindari tatapan kesal dari Reno. Jupri mengambil gitar butut yang biasa mereka gunakan sebagai hiburan di kala sepi pelanggan,  kemudian memetiknya."Kau hancurkan aku dengan sikapmu...tak sadarkah kau telah menyakitiku. Lelah hati ini meyakinkanmu...pantunmu...membunuhku!" "Sabar ya, Bos. Cinta itu memang butuh perjuangan,"kata Trisno. Reno meringis, antara malu dan ingin mengejar gadis itu dan mengajaknya membicarakan banyak hal. Tapi, masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Ia harus menunggu waktu yang tepat.   **  Jalan-jalan ke kota Cilacap, Singgah ke warung beli onde-onde, Wah...Maya harus bersiap, Om Duda mulai kasih kode.  **   Maya berjalan menenteng bungkusan berisi buah. Sesekali ia mengganti tangannya untuk menenteng bawaannya yang cukup berat itu. Sesampai di rumah, tangannya terasa pegal, uratnya terasa ngilu. Gadis itu menghempaskan tubuhnya di kursi."Capek, Mak!" Emak menoleh."Kok bisa?" "Pegel, Mak. Berat." "Besok-besok naik sepeda aja, May." "Sepeda siapa, Mak? Kita kan enggak punya kendaraan,"kata Maya yang kemudian mengambil segelas air putih dan meneguknya. "Ada tuh sepeda butut Emak, ya tinggal dipoles dikit-dikit, lumayan daripada kamu jalan kaki terus ke pasar,"kata Emak sambil mengulek bumbu rujak. "Boleh deh, Mak." "Ya udah, besok Emak suruh mang Udin perbaiki. Mudah-mudahan sehari selesai." "Iya,Mak. Maya simpan buahnya dulu di kulkas." Maya membawa hasil belanjaannya ke dalam rumah dan menyimpannya di dalam kulkas. Setelah itu, Maya segera mandi. Pinggangnya terasa pegal dan tidak nyaman. "Hmmm pantes, datang bulan ternyata." Maya mengembuskan napas dengan keras. Setelah mandi, Maya memutuskan membantu Emak melayani pembeli.   **   Pagi ini Maya bangun dengan mood yang tidak baik. Mungkin karena ini sudah hampir memasuki tanggal ia mendapat tamu bulanan. Ia keluar kamar dengan wajah tidak semangat. “Kenapa tuh? Asem banget mukanya?” tanya Emak sambil menyiapkan sarapan. “Sakit perut, Mak,  datang bulan,” jawab Maya sambil memegangi perutnya. Pinggangnya pun mulai terasa pegal dan panas. “Kamu enggak apa-apa, May?” tanya Emak khawatir. Maya mengangguk.”Iya, Mak, enggak apa-apa. Maya...mandi dulu ya, Mak.” Emak mengangguk dan melanjutkan memasaknya. Sementara Maya mandi dengan cepat karena perutnya semakin sakit. Ia memutuskan untuk tidak menjual sop buah hari ini. Di pasar, Reno melayani beberapa pembeli. Sementara ketiga pekerjanya sedang sibuk menata dan menyortir buah yang baru masuk.  Kesehariannya memang ia habiskan di pasar. Sesekali ia keluar kota untuk menemui manager-manager supermarket yang mengambil pasokan buah dari kebunnya. “Jo!” panggil Reno saat pelanggan sudah sepi. “Iya, Bos?” “Beli makan siang sana sama sop buah,” perintah Reno sambil mengeluarkan uang dari dompetnya. “Wah, rindu sop buahnya Mbak Maya, ya, Bos,” kata Paijo sambil mencuci tangannya. “Bisa aja.” Reno tertawa.”Nih, beli empat. Jangan lama-lama, udah lapar.” “Siap, Bos!” Paijo mengambil sepeda motor butut milik Reno dan melaju ke arah rumah Maya. Sepeda motor butut itu adalah sepeda motor pertama yang dibeli Reno. Waktu itu ia masih lajang. Sampai sekarang, ia masih merawatnya dan digunakan sebagai inventaris. Semua pekerja di kios buahnya dipersilahkan memakai untuk keperluan pekerjaan. Mereka semua kembali disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Pembeli datang dan pergi. Reno menghitung uang yang terkumpul sampai siang ini. Suara sepeda motor butut pun terdengar, Paijo turun dengan memabwa bungkusan.”Bos, sop buahnya enggak ada.” Gerakan Reno terhenti.”Loh kenapa? Kehabisan buah ya? Kok Maya enggak ke sini aja?” “Bukan, Bos, Mbak Maya lagi sakit kata Ibunya.” Jupri dengan sigap mengambil karpet berbahan plastik, lalu merentangkannya di lantai. Paijo meletakkan makan siang mereka di atas karpet. “Ya udah, kalau kalian pengen minum es, pesan di Bu Siti aja,” kata Reno sambil menunjuk ke arah warung Ibu Siti, penjual es dawet.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN