Kucing kurus mandi di papan,
Papannya putus jatuh ke jalan,
Eh, Om Duda mulai perhatian,
Ada apakah gerangan?
Ke Jakarta membeli tinta,
Tinta dijual ke pasar raya,
Om Duda sudah menyatakan cinta,
Lalu apa ya jawaban Maya?
Burung berkicauan di ranting-ranting pohon yang ada di sebelah kamar Maya. Gadis itu terbangun dan langsung menatap ke arah luar jendela yang sudah dibuka Emak sejak lima belas menit yang lalu. Semalaman ia menangisi peristiwa yang sudah terjadi sore kemarin. Hatinya terasa disayat-sayat pisau yang tajam. Ingin sekali ia menjadi hati dan pikiran Emak agar ia saja yang merasakan sakit. Bukan Emak.
“Maya!” suara Emak melengking dari depan. Sepertinya Emak sudah terlihat bersemangat pagi ini.
Maya tersentak.”Iya, Mak!”
“Ada kiriman nih buat kamu,"kata Emak lagi.
Masih dengan keadaaan muka bantal, rambut acak-acakan, Maya keluar dari kamar. ”Kiriman apa, Mak?
Emak menunjuk ke arah meja ruang tamu.”Itu tuh.”
Maya meraih bungkusan itu dan melihat isinya.”Bubur ayam?”
Emak tertawa.”Kamu pesan bubur ayam ya buat menghibur hati kita yang sedang gundah gulana ini?"
“Enggak kok. Siapa tahu salah kirim, Mak...” Maya menggaruk kepalanya kebingungan.
Emak menggeleng.”Tadi, Juned bilang, itu pesenannya mbak Maya. Ya kamu dong.” Juned adalah anak penjual bubur ayam di dekat pasar.
“Emak enggak nanya dari siapa?”
“Emak pikir kamu memang pesen sama Juned. Ya enggak Emak tanya. Ya udah dimakan. Jatah Emak udah emak makan...lapar. Syukuri aja, rejeki."
Maya mengangguk dan menguap.”Iya deh, mak, nanti Maya tanya aja sama Juned deh siapa yang kirim ini.” Maya pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu sarapan.
"Maya, pergi ke pasar ya,"kata Emak.
"Emak jualan?"tanya Maya dengan ragu.
"Iyalah...kalau enggak jualan, darimana lagi penghasilan Emak," katanya dengan senyum kecut yang tersemat di bibirnya.
"Tapi, Mak..kemaren kan habis ada masalah."
"Enggak usah dipikirkan,Maya. Sudah biasa begitu. Tetangga juga habis itu bakalan bersikap biasa aja kok. Emak lupa, banyak buah buat rujak habis. Kamu beliin ya...tapi mandi dulu."
Maya mengangguk."Iya, Mak. Maya mandi dulu deh." Ia segera mandi dan bergegas berpakaian.
“Mak, Maya ke pasar.” Maya memakai sendalnya.
Emak melihat ke arah langit.”Tapi, mendung, Maya. Kamu mau jualan es?”
“Ya semoga aja hujannya cuma sebentar terus setelah itu panas terik, kan masih pagi juga.” Maya tetap optimis.
“Bawa payung, Maya,” pesan Emak.
“Iya, Mak,” jawab Maya sambil melenggang pergi.
Emak menggeleng-gelengkan kepalanya. Begitu melihat payung masih tergantung di dinding warung.”Iya, mak tapi...enggak dibawa payungnya.” Ia ingin berteriak memanggil tapi gadis itu sudah terlanjur menghilang di perempatan jalan.
Maya menyusuri jalanan pasar. Tujuan utamanya ke kios buah yang terlihat sepi.”Permisi..,, Mas, om,” Maya melihat ke sana ke mari, tidak ada siapa pun di kios. Ia menunggu dengan sabar.
Reno baru saja keluar dari toilet umum yang ada di pasar dan menghampiri seorang gadis yang sedang menunggu. Setelah dekat, ia baru tahu kalau gadis itu adalah Maya.
“Eh, maya...belanjanya pagi. Katanya kemarin udah belanja."
"Naik sepeda makan ongol-ongol, eh Om duda udah nongol," sapa Maya.
Reno tersenyum."Iya, kemarin kamu nyariin saya ya?"
"Kata siapa?" Wajah Maya langsung merona, malu karena sudah ketahuan mencari duda itu.
"Kata Jupri." Reno tersenyum penuh arti.
"Om, ini beli buah untuk rujaknya Emak. Tapi, Maya lupa enggak bawa catatan. Lupa juga nanya sama Emak yang dibeli apa aja."
"Saya tahu kok." Reno pun segera menimbang buah-buahan yang biasanya dibeli oleh Emak Maya. Maya pun menunggu dengan sabar sambil memerhatikan pria itu. Lalu hujan rintik-rintik mulai turun.
"Masuk, Maya...di situ kena hujan.”
Maya menatap langit yang terlihat sangat gelap. Awalnya ia tidak mengindahkan perkataan Reno, ia tetap berdiri di sana. Namun, hujan semakin deras. Cipratan air mulai mengenai kakinya.
Reno tertawa.”Tuh kan, basah. Makanya sini masuk.”
“Iya, Om.” Maya masuk ke dalam kios buah Reno dan duduk di bangku kayu panjang yang tampaknya begitu nyaman.”Deras banget lagi, lupa bawa payung.”
“Ya udah, tunggu di sini aja dulu. Enggak perlu takut kan rame di pasar.”
Maya tersenyum.”Iya, Om. Abang-abang yang lain pada kemana, Om?”
“Saya suruh antar buah ke pasar-pasar kabupaten sebelah,” jawab Reno sambi terus menyiapkan semua pesanan Maya.
“Memang banyak yang ambil di Om ya? Kan...kiosnya enggak terlalu gede, Om.”
“Saya tanam buah-buahan di kebun sendiri. Tapi, enggak semua. Hanya buah-buahan lokal aja. Terus...kalau yang masih sekitaran sini ya ambilnya di saya,” jelas Reno.
“Oh...gitu, hebat dong Om ya. Ngerti masalah tanam menanam gitu.”
“Ya kan saya memang dulunya kuliah jurusan pertanian, Maya, terus malah tertarik ke perkebunan begini. Tanam buah-buahan...dan akhirnya dikembangkan deh.”
Maya menganga tak pecaya.”Jadi, Om ini sarjana juga? Wah...wah...wah.”
Reno menoleh ke arah Maya.”Enggak nyangka, ya? Kalau penjual buah di pasar ini adalah insinyur pertanian.”
“Kita sama dong, om,saya sarjana penjual es buah dan om insinyur yang jadi penjual buah.” Maya tertawa.
“Sarjana itu bukan harus selalu bekerja kantoran. Kerja di kantor orang, memakai seragam keren, sepatu kinclong, di ruangan ber-AC. Enggak selalu, Maya. Justru seharusnya seorang sarjana itu memikirkan bagaimana menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri dan orang lain. Berwirausaha. Serta...memiliki sikap dan sifat yang dapat menjadi panutan bagi generasi-generasi muda di bawahnya. Baru deh itu Sarjana yang betul-betul ‘sarjana’."
Maya bertepuk tangan dengan keras. ”Super sekali! Om Duda Reno Teduh.”
“Udah cocok jadi calon suami kamu belum?”
“Co....cok! Eh...kok malah nanya udah cocok belum jadi calon suami Maya.” Maya meringis.
Reno tersenyum, ia mencuci tangannya lalu duduk di sebelah Maya.”Iya jadi calon suami kamu.”
“Maksudnya, Om?” Maya menggeser tubuhnya perlahan, sedikit menjauh dari Reno.
“Saya suka sama kamu, May.”
“Apa?”
Mereka berdua terdiam beberapa detik dengan backsound suara hujan yang deras.
“Om udah bisa bercanda ya. Biasanya lempeng-lempeng aja.” Maya tertawa garing.
“Serius, May.”
“Gombal ah, Om Duren...baru juga berapa hari kita ketemu. Masa udah langsung suka. Sama Anak baru gede lagi.”
“Kamu udah dewasa tahu.” Reno mengusap puncak kepala Maya dengan lembut.
Jantung Maya berdegup kencang mendapat perlakuan seperti itu. Ia justru merasa suasana ini agak menyeramkan. Ia tidak ingin dicintai oleh Reno yang seorang duda.
“Ta...tapi, om kan udah tahu kalau Maya enggak bisa menjalin hubungan sama Duda. Maaf, Om.”
Reno tersenyum kecut.”Iya, enggak apa-apa, Maya. Namanya juga perasaan...harus saya ungkapkan. Terserah bagaimana kamu menanggapinya.”
“Maaf ya, Om.”
Reno mengangguk dengan hati yang sedikit terluka. Mengungkapkan perasaan memang beresiko ditolak. Apa lagi dengan statusnya sebagai duda. Tiba-tiba Jupri datang dengan payung besar. Reno mendesah lega, setidaknya suasana tidak akan setegang tadi. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa setelah mendapat penolakan dari Maya.