Bab 13

1109 Kata
“Kamu kok udah nyampe duluan, Jup?” “Iya, Bos, soalnya tadi kan saya enggak ikut di mobil Saya naik motor.” Reno mengangguk. Maya berdiri dan menyerahkan uang pada Reno,”ini uangnya, Om, Maya mau pulang aja. Kayaknya hujannya juga bakalan lama banget.” “Loh, Mbak...masih hujan deras kok pulang. Kan lumayan jauh kalau jalan kaki. Nanti di jalan basah loh.” Jupri mengingatkan. “Enggak apa-apa, nanti sampai rumah saya mandi.” Reno menggeleng.”Saya antar aja, May.” “Memangnya ada jas hujan, Om?” tanya Maya. Gerakan Reno terhenti. Ia baru ingat kalau jas hujannya ada di rumah. Yang ada hanyalah payung yang dipakai oleh Jupri tadi.”Ada payun, May. Kamu payungin kita berdua dari belakang. Nanti saya bawa motornya pelan-pelan.” Maya mengangguk dengan ragu. Ia ingin menolak tapi tidak bisa. Jika ia memaksakan pulang jalan kaki di tengah hujan deras, ia pasti dikatain gila oleh tetangga. Tapi, kalau ia menunggu hujan reda, ia merasa tidak enak. Apa lagi barusan ia menolak cinta Reno. Jadi, sebaiknya ia pulang dan menerima tawaran Reno. “Iya, Om, maaf merepotkan.” Maya naik ke atas sepeda motor dan memayungi Reno dan juga dirinya. Sepeda motor berjalan perlahan agar air tidak terlalu keras menciprati mereka. “Om...Om, saya turun di sini aja.” Maya menghentikan Reno di perempatan jalan yang hanya beberapa meter jaraknya dari rumah. “Loh kenapa? Sedikit lagi nih nanggung,” kata Reno sedikit keras karena hujan begitu deras. “Enggak apa-apa, Om, makasih ya. Maaf merepotkan.” “Tapi, May....” belum sempat Reno melanjutkan ucapannya, Maya sudah berjalan cepat ke arah rumahnya dengan membawa payung. Reno terguyur air hujan yang begitu deras dan dingin. Lelaki itu hanya tersenyum, menatap Maya di kejauhan. “Enggak apa-apa, May, aku kehujanan. Yang penting kamu enggak kehujanan.” Reno memutarbalikkan motornya dan melaju pulang ke rumah. Ia harus ganti baju dan kembali lagi ke pasar. “Maya! Kok hujan-hujan pulang?” tannya Emak. “Iya, Mak...bosen nungguin. Lagian enggak jauh ini,” kata Maya memberi alasan yang terlihat logis. “Itu payung siapa? Kamu disuruh bawa payung sendiri enggak dibawa.” “Payung?” Maya mulai tersadar ia membawa payung milik Reno.”Astaga, Om Duren!” Maya kembali ke jalan dan melihat ke arah perempatan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Ia segera berlari ke perempatan dengan membawa payungnya. Ia mencari Reno, mungkin saja pria itu berteduh. Tapi, Reno tidak ada. Artinya ia sudah pulang dalam keadaan hujan-hujanan. “Ya ampun kok aku bisa lupa sih, ini kan payungnya Om Duren. Kok aku malah minta diturunin di perempatan...harusnya kalau di rumah, kan...payungnya bisa dipakai Om Duren lagi.” Maya terlihat panik sendiri di tengah hujan deras. Maya segera kembali ke rumahnya. “Maya, ngapain hujan-hujanan?” tanya Emak heran. Maya menggeleng lemah.”Enggak apa-apa, mak. Ada yang jatuh.” “Ya udah kamu mandi aja lagi sana. Kamu udah kena cipratan air hujan, nanti kamu demam,” kata Emak. “Iya, mak.” Maya masuk ke dalam rumah dengan perasaan bersalah pada Reno. Sementara itu Reno melajukan sepeda motornya dengan kencang sampai ke rumah. Ia mengigil kedinginan. Ia segera mandi dengan air hangat dan memilih tidur sejenak karena kepalanya terasa berat. Ia akan kembali ke pasar setelah kondisinya membaik. ** Pagi-pagi makan kolak, Kolak disisain untuk makan siang, Meskipun cinta ditolak, Om Duda tetap berjuang.   Lari-lari di atas bukit, Pulangnya jalan kehujanan, Eh...Om Duda sakit, Maya mulai perhatian. **  Sore ini, Maya bergegas menuju pasar. Hari ini cuaca panas. Dagangannya begitu laris hingga persedaan buahnya habis. Dengan semangat yang menggebu-gebu, ia berjalan ke pasar dan langsung menuju kios buah Reno. “kok tutup?” Maya menatap kios Reno dengan kaget. “Neng Maya!” tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang. “Eh, Bang Paijo...syukurlah, Kirain kiosnya tutup.” Maya mengelus dadanya. “Memang tutup, Mbak Maya. Saya ke sini karena nganterin isteri belanja.” "Kenapa tutup, Bang? Saya mau belanja nih soalnya udah pada habis. Kan Maya enggak pernah stok banyak." Maya menggaruk-garuk kepalanya. "Kata Jupri, Bos Reno sakit, Mbak," balas Paijo. Jantung Maya seakan digunakan saat mendengar ucapan Paijo.“Sakit apa, Bang?” “Katanya Jupri, si Bos demam, Mbak. Kemaren kehujanan.” Raut wajah Maya langsung berubah. Ia jadi merasa bersalah. Reno sakit karena kehujanan. Dan sudah pasti itu ketika mengantarkannya kemarin. “Mbak, kalau mau beli buah...ke rumahnya aja. Di sana ada Jupri sama isterinya yang bisa ngelayani pembeli kalau di rumah,” saran Paijo. Maya berpikir sejenak. Ia tidak mungkin mencari buah ke kabupaten. Lagi pula ia belinya hanya sedikit, tidak mungkin menempuh perjalanan sejauh itu.”Rumahnya dimana, Bang?” “Di jalan mangga, Mbak...nomor delapan belas. Kalau enggak nemu tanya aja sama warga di sana. Tanya rumahnya juragan buah Reno,” jelas Paijo. “Jalan mangga....” Maya berusaha mengingat-ingat dimana Jalan Mangga.”Oh ... daerah rumahnya Pak lurah kan ya?” “Bener, Mbak.” “Ya udah, Maya ke sana deh, Bang Paijo. Terima kasih.” “Sama-sama, mbak.” Maya segera ke pangkalan ojek. Pergi ke rumah Reno membutuhkan kendaraan, ia tidak mungkin jalan kaki ke sana akrena jaraknya lumayan jauh. Maya tiba di rumah besar itu. Terlihat sepi. Ia pun memanggil-manggil orang di dalam. “Permisi! Assalamualaikum, Bang Jupri!” Reno mengerjapkan matannya berkali-kali saat mendengar ada yang berteriak di depan rumah. Ia menggerutu karena Jupri yang biasa menjaga rumah tidak kunjung muncul juga. Mau tidak mau Reno bangkit dengan kepala nyut-nyutan. Ia membuka pintu dan terkejut melihat Maya. “Maya?” ucapnya dengan suara serak. “Eh, om...maaf ngeganggu saya sih manggilnya Mas Jupri. Tapi, enggak muncul juga.” Maya mengusap tengkuknya. Ia merasa tidak enak, tetapi tidak tahu harus bicara apa. Wajah lelaki itu terlihat pucat dan lemas. Jelas sekali bahwa pria itu sedang sakit. “Mau beli buah ya, May?” Maya mengangguk pelan Reno melihat ke sebelah dimana biasanya Jupri tinggal. Di sana juga ada gudang buah-buahan. Tetapi, lelaki itu tidak ada beserta isteri dan anaknya.”Kayaknya Jupri pergi, Maya. Sebentar ya...kamu masuk aja dulu. Saya enggak bisa jualin. Dikunci tuh." “Iya, Om, enggak apa-apa. Maya tunggu aja. Enggak buru-buru juga kok.” Maya mengikuti Reno ke ruang tamu dan duduk dengan tegang. “Mau minum apa, May?” “Enggak usah, Om, Om kan lagi sakit" Maya tersenyum tidak enak. Reno tersenyum.”Iya, May, maaf ya saya lagi kurang enak badan, Jadi, kalau agak kurang nanggepin harap maklum.” “Udah, om, istirahat aja di kamar. Maya tunggu Mas Jupri di depan aja.” Maya bangkit dan hendak keluar. Reno menarik tangan Maya.”Jangan, May, di sini aja temeni saya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN