Bab 14

1189 Kata
 Mendadak bulu kuduk Maya berdiri.”Jangan, Om, enggak baik. Nanti menimbulkan fitnah.” Reno melepaskan tangan Maya perlahan.”Oh, maaf...ya udah silahkan nunggu aja kalau gitu.” “Om, maafin Maya ya?” “Soal apa, May?” “Kemaren...payungnya Maya bawa jadinya Om kehujanan. Terus...Om jadi sakit deh.” “Nah itu tahu,” balas Reno datar. “Ya...Maya kan udah minta maaf, Om.” “Enggak diterima. Udah terlanjur sakit. Kamu tahu kan kalau saya sakit itu enggak ada yang ngurusin. Mana saya harus cari duit juga lagi.” Reno pura-pura kesal. Ada sedikit rasa bahagia juga kalau ternyata sakitnya itu justru membuat ia dikunjungi Maya. Maya menyatukan kedua telapak tangannya. ”Maaf, Om, maaf....” “Enggak mau!” “Ya jadi gimana dong!” Maya mulai kesal dengan sikap duda yang tidak mau memaafkannya itu. Reno terdiam, ia membiarkan Maya bertaya-tanya. Lagi pula saat ini kepalanya sedang pusing. “Sebagai tanda permintaan maaf, bagaimana kalau...Maya masakin. Om udah makan belum?” Reno melirik ke arah Maya.”Boleh juga rayuan kamu, maya.” “Maya enggak genit, suka ngerayu Om-Om. Ini sebagai permintaan maaf.” “Ya terserahlah,” balas Reno. “Dimana dapurnya, Om?” Reno menyandarkan kepalanya di sofa sambil memejamkan mata.“Cari aja yang ada kompornya, May, itu pasti dapur.” “Ya iyalah, Om, terus yang ada Wcnya itu pasti kamar mandi, kan, om....” “Pinter!” “Masa Maya harus menerka-nerka dimana dapurnya, sih, Om...nanti kalau Maya nyasar ke kamar gimana?” “Ya udah saya ikut juga masuk ke dalam kamar. Kita tidur deh,"balas Reno cepat. Maya melemparkan bantal ke arah Reno. Ia sudah lupa kalau Reno itu adalah pria dengan usia hampir mencapai empat puluh tahun. ”Mesumnya Om Duren ini.” “Ya udah kamu cari aja dapurya. Sekalian belajar...nanti kan jadi rumah kamu juga.” Maya terkekeh.”Ngerinya halusinasi Om. Ya udah Maya cari dapurnya. Om tunggu aja di sini ya.” Maya mencari dapur di rumah besar itu. Akhirnya ketemu. Ia membuka kulkas dan melihat banyak sayuran di dalam sana. Ia memasak yang ia bisa saja. Sup sayur dan ikan gurame goreng. Setengah jam kemudian, Maya kembali ke ruang tamu. Reno tertidur di sofa. “Om...Om,” panggil Maya. Reno membuka kepalanya dengan berat.”Iya, May?” “Udah selesai masak, Om, ayo makan.” Reno mengusap wajahnya, ia mengangguk dan bangkit dari duduknya. ”Kamu masak apa, May?” “Masak yang Maya bisa aja, Om. Maaf kalau enggak enak.” Maya cengengesan. Reno melihat makanan sudah tersaji di meja makan.”Saya makan ya. Kamu enggak makan?” Maya menggeleng.”Udah kenyang pas nyicipin, Om.” Reno tertawa. Ia mulai makan masakan gadis itu dengan lahap. “Om lagi lapar atau memang rakus?” “Saya belum makan dari pagi, Maya,” jelas Reno. Maya mengangguk-angguk.”Kasihan banget sih. Nasib jadi duda begitu, ya, om.” “Makanya...memang kamu enggak kasihan sama saya, sendiri terus.” “Kan bisa beli makan, Om, atau minta masakin sama isterinya Jupri.” “Saya enggak cocok sama masakannya,"kata Reno berbohong. Padahal setiap hari ia makan masakan Ratna. “Terus biasanya gimana dong, Om?” “Saya masak sendiri.” Jawaban ini setengah jujur, setengah bohong. Karena terkadang ia juga masak sendiri. Yaitu masak mi rebus dan masak air. Maya terdiam, ia tampak berpikir keras.”Tapi, kemarin Om beli nasi di warung emak.” “Ya sesekali nyoba masakan calon mertua,” jawab Reno lagi. Kali ini wajah Maya merona “Om, itu di depan ada suara motor...Bang Jupri kali ya.” Maya melongok ke arah luar. “Lihat aja sana. Kasih aja catatannya sama dia." Reno terus makan dengan lahap karena ia memang sedang kelaparan. Maya keluar menghampiri Jupri yang baru sampai dengan isterinya.”Bang Jupri!” Jupri menoleh.”Eh, Mbak Maya. Kok tiba-tiba nongol aja di sini.” Maya tersenyum malu.Iya...tadi habis nemuin Om Duda. Maya mau beli buah, udah ditungguin dari tadi.” Maya menyerahkan catatan seperti biasa. “Oh siap, Mbak. Tunggu aja di dalam.” Jupri mengambil catatan dan masuk ke dalam gudang Maya kembali ke dalam rumah. Reno tampak sedang sikat gigi di wastafel dapur. Ia sudah selesai makan. “Om, Maya pamit ya...Bang Juprinya udah datang tuh." Reno menyeka mulutnya yang basah setelah kumur-kumur.”Iya, May.”Diraihnya tisu di atas meja dan mengeringkan mulutnya. “Cepat sembuh ya, Om.” Maya melangkah hendak kembali keluar. Reno menarik tangan Maya dengan cepat dan mendorong tubuh gadis itu ke dinding. Ia mengurung tubuh gadis itu. Maya tercengang, tubuhnya langsung membatu. Ia bertatapan dengan Reno. Aroma mint dari embusan napas Reno tercium, ia mulai terhipnotis sampai matanya terpejam dengan sendirinya. Reno menempelkan bibir ke bibirnya. Terasa panas karena lelaki itu sedang demam. Lidah Reno melesak ke dalam mulut Maya, memaksa gadis itu membalas ciumannya. Maya terbawa suasana dan membalas ciuman duda itu. Keduanya hanyut dalam lumatan-lumatan lembut itu. Mata Maya terbuka, ia tersadar dan mendorong tubuh Reno. Reno mengatur napasnya, ia tetap mengurung tubuh Maya meski tadinya sempat terdorong sedikit “Om... jangan sentuh Maya.” Maya mengusap bibirnya. “Tapi, tadi...kamu membalas ciuman saya, May!” “Saya...” “Mbak Maya, ini buahnya, mbak!” Suara Jupri terdengar jelas di ruang tamu. Secara otomatis Reno menjauh dari Maya. Ia segera menemui Jupri di ruang tamu. “Udah, jup?” “Udah, Bos. Nih, mbak!” Maya mengangguk dan menyerahkan uang pada Jupri. Ia segera pergi dari sana tanpa berkata apa-apa lagi. “Maya, kamu naik apa?” Maya tidak menjawab pertanyaan Reno. Ia terus berjalan cepat meninggalkan rumah Reno. Sepanjang jalan pikirannya berkecamuk. Ia memegang bibirnya sendiri. “Aku ciuman sama duda?” Maya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia harus melupakan kejadian tadi dan menganggapnya tak pernah terjadi. “Mbak Maya!” Maya menoleh ke sumber suara. Ternyata itu adalah Juned, tetangga Maya yang merupakan penjual bubur ayam. “Eh, juned, darimana?” “Habis nganterin pesanan, Mbak. Mbak sendiri darimana dan mau kemana?” “Dari beli buah terus mau pulang ke rumah.” “Ya udah ayuk sama saya, saya juga mau pulang.” Maya naik ke boncengan.”Makasih loh, Jun.” “Siap...belanja buahnya di Mas Reno ya, Mbak?” “Iya. Soalnya yang di pasar kagak buka, Jun.” “Mbak deket banget sama Mas Reno ya...” “Hah? Enggak kok!” “Oh, kirain...soalnya sampe dianterin bubur ayam segala.” Juned terkekeh sambil terus melajukan sepeda motornya. “Oh iya, Jun, yang kasih bubur ayam waktu itu siapa ya?” tanya Maya. Ia baru teringat dengan hal itu. “Mas Reno, Mbak.” "Masa sih...dalam rangka apaan?"selidik Maya. Juned mengangkat kedua bahunya."Kurang tahu, Mbak. Tanya ke Mas Reno aja. Soalnya saya hanya mengantar pesanan." Mendengar hal itu, jantung maya langsung berdegup kencang. Maya duduk termenung di salah satu bangku warung. Emak sedang melayani pembeli yang kemungkinan akan menjadi pembeli terakhir malam ini. Dagangan Emak sudah habis sebelum pukul tujuh malam. Gadis itu teringat dengan kejadian di rumah Reno sore tadi. Ia memegang bibir yang tadi dicium oleh Reno. Tubuhnya terasa merinding dan geli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN