Bab 15

1040 Kata
"Maya, dagangan udah habis," kata Emak yang kemudian duduk di hadapan Maya. "Iya, Mak. Alhamdulillah udah habis jam segini," balas Maya. "Kamu baik-baik aja, May?" Emak menatap wajah Maya yang terlihat lesu dan lelah. Anak bungsunya itu terlihat tak bersemangat. "Baik-baik aja kok, Mak." Maya tersenyum tipis. Lalu terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. "Siapa itu, May?" tanya Emak heran. Maya menggeleng."Enggak tahu, Mak." Ia terus menatap sebuah sedan hitam itu. Seorang pria dengan pakaian rapi keluar dari sana. Maya langsung menganga setelah menyadari bahwa yang datang adalah Reno. "Eh, Reno!" teriak Emak. Reno tersenyum."Assalamualaikum, Bu." "Waalaikumsalam..." Maya menatap Reno dengan aneh. Selama ini ia hanya melihat Reno mengenakan kaus oblong serta celana jeans dan terkadang ada handuk kecil di pundaknya. Setiap hari berjibaku dengan buah-buahan dan kotornya pasar. Namun, malam ini lelaki itu terlihat sangat berbeda. Ia sampai meneguk salivanya. "Reno!" panggil Emak. "Iya, Bu?" "Beli mukena, nyasar ke jember. Mau kemana, kok rapi bener?" tanya Emak dengan ceria. Reno tersenyum penuh arti. Ia melirik ke arah Maya yang hanya bisa terdiam."Pergi ke Cikini beli bakwan." "Cakep!" Emak mengacungkan jempolnya ke arah Reno. "Kalau boleh, nih. Reno mau ajak kalian jalan-jalan," sambung Reno. "Yang bener, Reno? Maksudnya kalian itu...kami berdua?" tanya Emak memastikan "Iya...saya mau ajak Maya sama Ibu jalan-jalan. Mungkin...makan malam." Reno kembali melirik ke arah Maya, ingin tahu bagaimana ekspresi gadis tersebut. Emak langsung merapat ke arah Reno."Mau ajak Emak atau Maya nih? Maya aja kan?" "Sama Ibu juga. Enggak baik kalau cuma berduaan, Bu." Emak mengacungkan jempolnya."Bagus ...anak muda." "Jadi, mau kan, Bu?"tanya Reno. Hatinya mulai risau karena takut ditolak. Sebenarnya ia ingin sekali berduaan dengan Maya. Tapi, sebaiknya ia membawa Emak serta dalam perjalanan kali ini. Karena Restu Emak Maya akan membantunya mendapatkan hati Maya. "Emak setuju dong. Tapi, emak boleh mandi dulu kan ya? Soalnya baru selesai dagang." "Iya silahkan, Bu. Saya tunggu." "Maya, ayo mandi." "Tapi, Mak..." Maya terlihat ragu. "Eh, enggak boleh menolak kebaikan hati orang, Maya. Lagi pula...kan kita perginya bertiga. Eh, emak mandi duluan ya. Kamu rapikan dan tutup warung. Jangan lama-lama. Reno...emak mandi ya." Emak langsung melesat masuk ke dalam rumah untuk bersiap diri. Maya meneguk salivanya dan berdiri secara perlahan, merapikan barang-barang dagangan dan menyimpannya ke tempat semula. Reno duduk di salah satu bangku, menatap Maya. "Pelan-pelan,Maya." Maya menoleh, ia tersenyum tipis."Iya, Om. Kita mau kemana, Om?" "Mau ajak makan malam aja kok," jawab Reno. Kemudian ponselnya berbunyi, beberapa chatting dari kedua temannya masuk. Maya selesai berberes."Maya tinggal dulu ya, Om." "Iya, Maya. Saya tunggu ya." Maya mengangguk pelan. Ia segera masuk ke dalam dan mencari Emak. "Mak." "Kenapa?" Emak baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita paruh baya itu mandi dengan cepat. "Maya enggak usah ikut ya. Emak aja sama Om Reno," kata Maya tak bersemangat. "Ya enggak bisa. Jangan begitu, Maya...dia udah datang terus udah pakaian rapi gitu. Artinya dia seserius itu mau ajak kita keluar. Jangan bikin orang kecewa ya. Udah mandi sana cepetan. Emak mau dandan." Emak terkekeh dan masuk ke kamar dengan riang. Maya menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. Jantungnya berdegup semakin kencang. Sebenarnya ini menjadi momen yang tidak ia harapkan. Ia juga heran pada Reno, kenapa lelaki itu justru datang ke rumahnya malam ini padahal siang tadi ia masih sakit dan ditolak cintanya. Maya menggeleng, berusaha menenangkan diri. Ia pun segera mandi. Reno sibuk chatting dengan Randy dan Rion sampai-sampai ia tidak sadar Maya dan Emak sudah ada di hadapannya. "Reno!" panggil Emak. Reno mendongak."Eh, iya...maaf, Bu. Sudah selesai?" Emak mengangguk ."Udah...maaf ya lama." "Enggak apa-apa, Mak. Kita pergi sekarang?" Reno menatap emak dan Maya bergantian. "Udah, Om." Reno mengangguk."Ayo." Ia segera membukakan pintu mobil untuk Emak Maya di bagian depan."Emak duduk di depan aja." "Terus Maya gimana? Enggak sebaiknya Reno duduk berdampingan sama Maya?" Emak meringis. "Duduk berdampingan sama Maya...di pelaminan aja," ucap Reno pelan tetapi masih bisa didengar Maya. Gadis itu lantas membuang pandangannya. "Mantep!" balas Emak yang kemudian masuk ke bangku depan. Reno menutup pintu mobil, lalu membuka pintu bagian belakang."Masuk, Maya." Maya hendak masuk, namun tak sengaja matanya menangkap wajah Reno yang entah kenapa jadi terlihat lebih tampan dari biasanya. Bahkan tatapan lelaki itu juga berbeda, lebih bersinar dan hangat. "I...iya, Om." Reno menutup pintu mobil, lalu ia berputar masuk ke dalam kemudi. Ia melakukan mobilnya ke sebuah restoran yang ada di pusat kota kecil ini. Maya hanya bisa terdiam di bangkunya. Sesekali ia menangkap tatapan Reno dari kaca. Jika sudah seperti itu, ia akan langsung membuang pandangan karena malu. Mobil memasuki halaman sebuah restoran yang cukup terkenal. "Ayo kita turun." Reno turun dari mobil. Emak memandang restoran di hadapannya dengan takjub."Wah, ini restoran gede banget, Reno...ibu jadi enggak percaya diri masuk sini." Reno tersenyum."Jangan gitu, Ibu." "Om," panggil Maya. Reno menoleh ke belakang."Iya, Maya?" "Ini terlalu mewah, makan di tempat yang biasa-biasa aja, Om." Reno mengusap puncak kepala Maya."Enggak apa-apa. Ini spesial untuk kamu..." "Untuk saya?" Maya menunjuk dirinya sendiri. Senyuman Reno terlihat misterius, ia segera memeluk pundak Emak dan membawanya masuk ke dalam."Maya...ayo!" Perasaan Maya mulai tidak enak. Ia melangkah perlahan mengikuti Reno dan Emak dari belakang. Seorang pramusaji menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Setelah bicara pada Reno, ia pun membawa mereka ke sebuah meja dan memberikan tiga buku menu. Maya mengusap dadanya pelan, lalu membuka buku menu dengan tangan gemetaran. Perlahan terdengar suara musik mengalun, entah dari mana. "Enggak terlalu ramai ya, Ren, emak suka tempatnya,"bisik Emak. "Iya, Bu, memang enggak terlalu ramai. Silahkan dipilih menunya." "Mahal-mahal," balas Emak lagi. "Enggak apa-apa, Bu. Dipilih aja...terserah Ibu sukanya yang mana." "Oke deh." Emak mengangguk-angguk, lalu menyebutkan makanan yang ia inginkan pada pramusaji. "Maya?" panggil Reno. Maya tersentak."Eh iya, Om..." "Kenapa malah enggak semangat gitu? Sakit perutnya?"tanya Reno. Maya menggeleng."Enggak kok, Om. Maya baik-baik aja." "Ya udah, dipilih mau makan apa." "Iya, Om." Maya melihat buku menu, sesekali ia melirik Reno yang tengah menuntun Emak dalam memilih menu makanan. Mereka telah selesai memesan makanan dan tinggal menunggu makanan mereka datang. Di depan mereka ada beberapa alat musik yang biasanya dipakai untuk acara tertentu. "Maya, saya mau nyanyi," kata Reno tiba-tiba. Maya terkekeh."Nyanyi apa, Om? Bisa nyanyi?" "Dikit...lumayan sambil nunggu makanan datang, kan." Reno berdiri, ia lantas berjalan ke depan. Lalu seorang pria ikut bergabung dengan Reno. Perlahan musik mengalun, dan orang-orang di sana bertepuk tangan.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN