Bab 6 Laki-laki itu

1051 Kata
"Hai, kenapa mengendap-endap?" Deg, jantung Sarah berdetak kencang mendengar suara yang mengagetkannya. "Astaghfirullah, Satya. Eh maaf Pak Satya, ngagetin aja, sih," ucap kesal Sarah. Satya adalah sepupu Aldo, jadi Sarah sudah kenal baik padanya. Bahkan Sarah bisa bekerja di hotel ini karena info lowongan dari Aldo. Kadang Sarah di luar kerja hanya memanggil Satya langsung dengan namanya sesuai permintaan laki-laki itu. "Ada apa, Ra?" "Ada waktu, nggak? Aku mau bicara." "Hmm." Terlihat Satya ragu mengatakannya sembari menengok jam yang melingkar di tangannya. "Dua puluh menit saja, Sat." Sarah memberi kode angka dua dan nol dengan jarinya. Namun Satya menggelengkan kepala. "Ah tidak, sepuluh menit saja," Sarah mengiba dengan menangkupkan dua tangannya. Akhirnya Satya mengajaknya ke ruangan biasanya. "Ada apa, Ra?" "Aku besok mulai magang di MTG setiap Senin sampai Jumat. Jadi, apa aku harus resign dari part time ini atau diizinkan masuk saat weekend?" Wajah memelas Sarah membuat Satya iba. Laki-laki di depannya ini tidak mampu menolak permintaan gadis di depannya entah kenapa. Satya tahu tentang Sarah dari Aldo. Sarah yatim piatu, kerja part time untuk menyambung biaya hidup karena biaya kuliah ditanggung beasiswa pemerintah atas prestasinya yang memukau. "Oke, kamu bisa bekerja saat weekend." Wajah Sarah terlampau gembira. Dia mengguncang-guncang bahu Satya dan hampir saja memeluknya. Satya pun dibuat tercengang, jantungnya berdegup kencang hanya karena melihat tingkah gadis yang sejak awal menarik perhatiannya, tetapi susah ditaklukkan. "Terima kasih banyak, Sat." "Iya-iya. Sudah, sekarang aku harus bertugas." "Satya kamu selalu baik sekali padaku, semoga dimudahkan jodohnya." "Ckkk, kamu bisa aja." Sarah pun mengangkat dua jarinya. "Kalau jodohnya kamu ya, aku langsung iya, Ra," batin Satya berlalu meninggalkan Sarah. Baru tiga langkah hampir keluar ruangan, Satya berbalik lagi. "Ngomong-ngomong tentang MTG, kemarin itu bosnya menginap di sini lho, Ra. Kamu yang bersihkan kamarnya, bukan?" "Hah, serius? Pasti orangnya masih muda dan energik." "Sok tahu kamu?" "Hehe, kata atasan divisi di MTG." "Hati-hati, terjebak pesonanya." "Ishh." Satya sudah terbahak sembari keluar ruangan. Sarah hanya mencebik kesal, lalu mengulas senyumnya. Sampai di kos, Sarah merebahkan tubuhnya yang kelelahan akibat berpindah tiga tempat kampus, MTG, dan hotel. Dia mengingat kembali kilas balik aktivitasnya seharian ini sambil menatap langit kamar. "Dua orang yang sudah mengkawatirkan aku agar tidak terpesona bos MTG. Memangnya dia seperti apa, sih? Apa dia melebihi Mas Alfian? Astaga, kenapa aku mengingat mantan yang sudah jadi suami orang. Sadar, Ra! Ini pasti akan membuat hidupku jadi berat." Sarah menghela napasnya, buru-buru dia mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajiban sholat Ashar. **** Pagi-pagi sekali Sarah sudah disibukkan dengan memilih baju untuk magang. Dia juga memikirkan tatanan make upnya. Mengingat pesan dari Bu Marry untuk berdandan yang sopan dan tidak mencolok karena bisa menarik perhatian bos maupun karyawan. Sudah sejak dini hari Sarah bangun, tak lupa menjalankan sholat malam yang selalu dipesankan oleh orang tua angkatnya. "Ingatlah Allah di setiap langkahmu, Ra," pesan umi Aisyah dan abi Randy sebelum menimba ilmu di kota ini. Memilih menghubungi Tiana, Sarah minta diajari berdandan. Akhirnya pesan berisi link dari Tiana pun diterimanya. Sarah mencoba berdandan ala youtube. "Ish, ribet amat ini. Aku nggak pernah menyanggul rambutku kayak gini." Setengah jam, Sarah berhasil mengubah penampilannya seperti yang dilihatnya di youtube. Dia selfie dan mengirimkan ke Tiana. Sahabatnya itu memberi acungan jempol dan ucapan doa semoga lancar magangnya. Tak perlu berlama-lama karena hari ini Sarah tidak perlu repot mencari sarapan pagi. Dia bersama Tiana membiasakan diri puasa sunah Senin Kamis. Awalnya niat Sarah untuk menghemat uang makan, biasa anak kos. Namun Aldo mengejeknya, luruskan niat supaya dapat berkahnya. Mengingat itu Sarah tersenyum malu di depan kaca. Bukan berarti dia kekurangan uang, karena orang tua angkatnya selalu mengirimkan uang saku ke nomer rekeningnya. Akan tetapi, Sarah ingin hidup mandiri. Uang kiriman itu mengendap di bank, hanya kalau terpaksa dia mengambilnya. Pagi ini Sarah naik ojek online karena takut terlambat, bisa-bisa performa di hari pertama buruk nanti. "Pagi, Pak!" "Pagi, Mbak...." "Sarah, Pak. Anak magang yang baru." "Oya, silakan masuk, Mbak Sarah! Masih pagi banget ini." Senyum satpam menyambut pagi Sarah yang merasa gugup dengan penampilan barunya. Rok selutut, kemeja dilengkapi blazer. Rambut digelung dengan tusuk sanggul dan kacamata fantasi bertengger di wajahnya. Make up pun dibuat senatural mungkin. Perfect menurutnya, entah nanti kalau dilihat Bu Marry apa pendapatnya. Sarah memiliki tubuh yang bagus karena terbiasa olahraga karate di sela aktivitasnya sebagai bekal beladiri yang dikenalkan oleh ayah angkatnya. Suasana kantor masih sepi saat Sarah menginjakkan kaki di lobby. Benar saja karena jam kerja baru dimulai satu jam lagi. Memilih duduk di ruang tunggu lobby, Sarah mulai melihat lalu lalang para karyawan. Saat dua sosok laki-laki memasuki lobby dan menunggu di depan lift khusus direksi, Sarah memicingkan mata. Tampak dari samping wajah laki-laki yang berpenampilan layaknya bos. "Apa itu bos MTG bersama ajudannya?" Dilihat dari bodynya memang keren dan energik. Entah kalau dilihat dari depan. Sarah hanya melukis sosok yang dilihatnya di dalam benaknya. "Hmm, tapi kenapa aku seperti tak asing dengan wajahnya yang terlihat dari samping? Ada-ada saja." Sarah menggeleng dan menepuk beberapa kali kepalanya biar tersadar. Begitu melihat Bu Marry datang, Sarah sudah beranjak dari duduknya dan segera berlari kecil menghampiri atasannya untuk menyapa pagi. "Pagi, Bu!" Marry menatap lekat Sarah dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Ada yang kurang pas ya, Bu?" tanya Sarah dengan sedikit gugup. Senyuman sekilas dari Bu Marry dan acungan jempol membuat Sarah lega, artinya penampilan hari ini tidak ada masalah. "Siapkan diri, jam 9 ada meeting dengan bos! Saya ajak kamu supaya tahu suasana meeting," ucap tegas Bu Marry. "Oh siap, Bu." Gugup jelas iya, tiba-tiba hari pertama diajak meeting dengan bos. Artinya Sarah akan bertemu untuk pertama kali dengan bosnya. Sarah membenahi penampilannya. Membawa buku agenda kecil dan pena untuk catatan penting yang akan diperolehnya di acara meeting. Dia tidak mau melewatkan pengalaman di dunia kerjanya ini. Di sinilah Sarah duduk di samping Bu Marry. Peserta yang mengikuti meeting adalah kepala divisi dan sekitar 3 anak muda adalah mahasiswa magang termasuk Sarah. Denting sepatu menggema memasuki ruangan meeting berukuran 6x9m. Semua karyawan berdiri menyambut kedatangan bos mereka. Mata Sarah menatap lekat penampilan bosnya yang berjalan tegak menuju kursi kebesarannya. Benar saja terlihat energik dan masih muda. "Iya, masih muda. Eh tunggu dulu, dia kan...." Sarah menutup mulutnya yang menganga. Tubuhnya menegang disertai tangannya yang tremor. Siapapun di sini tolong bantu hilangkan aku dari ruang meeting ini! Kenapa laki-laki asing itu ada di sini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN