"Ya Rabb, Mas Alfian ternyata sudah menikah. Kenapa aku tidak berpikir sejauh itu. Mas Alfian tampan, baik hati, dan mapan," guman Sarah seraya berjalan lesu menuju gerbang kampus.
Dia merasa kalah telak, penyesalan pun tiada guna. Dia sendiri yang memutuskan sepihak lamaran Alfian tanpa memberi penjelasan alasan yang sebenarnya. Kini rasa tidak percayanya pada laki-laki kian bertambah. Bisa jadi dia tidak akan pernah lagi menyukai yang namanya makhluk dijuluki kaum adam itu.
Sejak mengetahui sang ayah meninggalkan ibunya, Sarah menjadi tak percaya laki-laki yang akan menjadi pendampingnya. Ayahnya yang membuat dirinya jadi yatim piatu karena sang ibu pun berusaha mencari sosok ayahnya. Keduanya hingga kini tak tau dimana rimbanya.
Awalnya bertemu kembali sang mantan, menuai harapan adanya satu laki-laki yang akan menjadi sandaran hidupnya kembali. Namun harapan tinggal mimpi, semua terlambat, tak mungkin dia mau dicap pelakor atau biang skandal di kampusnya.
Tak terasa matanya mengembun. Segera diusapnya cairan bening yang hampir menetes membasahi pipinya.
"Permisi, numpang tanya Mbak. Ruang dosen di sebelah mana, ya?" Seorang wanita cantik memakai gamis dan pasmina floral tengah menggandeng putrinya yang berusia kira-kira 4 tahun.
"Oh, itu deretan ruang dosen Mbak. Nanti ada papan namanya di setiap pintu. Kalau boleh tahu mbak dan adik mau mencari siapa?"
"Saya mencari Pa...."
"Mau mencari ayah tante. Ayo, Ma! Da tante cantik."
"Maaf, anak saya sudah nggak sabaran."
"Tidak apa-apa, Mbak. Dah anak manis."
Sarah pun membalas lambaian tangan anak kecil itu disertai senyuman. Hati yang gundah pun sejenak terobati oleh perjumpaannya dengan anak menggemaskan tadi.
"Alangkah beruntungnya pak dosen yang istrinya cantik dan anaknya menggemaskan tadi," gumannya.
Dia segera mencari angkot menuju MTG untuk menerima hasil pengajuan magangnya.
Melangkah dengan pasti sesaat setelah turun dari angkot, Sarah berdecak kagum melihat gedung yang lebih besar dibandingkan bangunan samping kanan kirinya. Gedung yang terdiri banyak lantai menurut perkiraannya. Sarah berdoa dalam hatinya berharap proposal magangnya diterima.
Di depan pintu masuk lobby berdiri satpam gagah berusia paruh baya tengah menyambut kedatangan Sarah.
"Ada yang bisa dibantu, Mbak?"
"Oh, ini, Pak. Saya mahasiswi yang magang di sini. Kepala HRD memberitahu saya untuk menemui beliau.
"Oh ya, mari saya antar ke ruangannya!"
"Selamat, Mbak Sarah diterima magang di perusahaan ini. MTG perusahaan besar, saya harap Mbak Sarah bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengasah kemampuan dan mencari pengalaman di dunia kerja."
Wajah Sarah tampak berbinar, puji syukur sudah sepatutnya dipanjatkannya pada Allah karena dimudahkan masuk perusahaan bergengsi. Dari sekian banyak temannya, hanya dia yang berani mencoba di kantor MTG.
"Terima kasih banyak atas info sekaligus sarannya, Pak. Untuk selanjutnya bagaimana ya?" Sarah tidak merasa canggung karena kepala HRD sangat ramah padanya.
"Oh, Mbak Sarah sekarang temui kepala divisi marketing karena penempatannya di sana sesuai jurusan."
"Baik, Pak. Saya akan menemui beliau."
"Namanya Bu Marry, ruangnya di lantai 5. Naik lift aja!"
"Baik, Pak." Sarah membungkukkan badannya, lalu meninggalkan ruang HRD untuk mancari kepala divisi marketing.
Tampak oleh penglihatan Sarah, ada dua lift satu tertulis untuk umum dan satu lagi lift khusus direksi. Bersamaan dengan Sarah yang mau masuk lift umum, dia berpapasan dengan tiga orang laki-laki yang baru saja keluar dari lift khusus.
Dua orang melangkah sejajar di depan, sedangkan satu orang lagi mengekorinya seperti ajudan.
"Dev, kantormu ada karyawan baru? Cantik euy, boleh dong aku cari gebetan di sini."
Terdengar celetukan salah satu laki-laki yang sempat terlihat beradu pandang dengan Sarah.
"Ckkk, kalau dia tidak pakai nametag berarti anak magang. Nggak usah macam-macam, playboy kayak kamu nggak cocok nyari di sini, yang ada karyawanku jadi eror nanti," jawab lelaki satunya yang berpenampilan seperti bos.
Sarah menajamkan telinga hingga menangkap suara yang tidak seharusnya dia dengar.
"Astaga, atasan-atasan di sini playboy begitu. Aku harus bisa menjaga diri."
Sebelum pintu lift menutup, Sarah seperti pernah mencium aroma parfum yang menguar tajam menusuk hidungnya.
"Aku seperti pernah mencium wangi ini tapi dimana ya? Ah sudahlah, ini pasti aroma parfum mahal orang-orang kaya."
Lift berdenting, Sarah keluar dan melangkahkan kaki di lantai 5. Ditelusurinya ruangan yang bertuliskan divisi marketing sampai dia melihat sebuah ruangan tak jauh dari lift.
"Nah, ini dia. Kantornya benar-benar luar biasa. Swandainya kerja di sini pasti gajianya besar."
Di saat Sarah larut dalam kekagumannya terdengar suara dehemen dari belakang membuatnya berbalik.
"Ada yang bisa dibantu?" Kalimat yang keluar dari wanita dengan penampilan modis. Suaranya tegas, dia tampak elegan, tetapi minim senyum.
Deg, Sarah spontan membungkukkan badan seraya mengucap maaf.
"Saya ingin bertemu Bu Marry."
"Ya, saya sendiri. Ada perlu apa, ya?"
Singkat, padat dan jelas membuat Sarah seketika gugup.
"Eh itu, Bu. Saya mahasiswi yang mau magang di sini."
"Oh, ayo masuk!"
Sikapnya yang kurang ramah dan terkesan galak ditangkap Sarah. Jauh berbeda dengan kepala HRD yang ditemuinya tadi. Mungkin karena posisinya sebagai kepala divisi jadi harus tegas dan ditakuti bawahannya.
Marry menyilakan Sarah duduk lalu menjelaskan aturan magang di MTG.
"Apa sudah paham, Mbak...."
"Sarah, Bu. Itu panggilan saya."
"Ya, Sarah apa ada yang mau ditanyakan?"
"Sudah jelas, Bu."
"Satu hal lagi, bos MTG tidak suka karyawan terlambat. Beliau masih muda, energik dan single."
Glek, Sarah menelan ludahnya sendiri. Maksud Bu Marry apa sampai menegaskan kata single.
"Jadi Sarah, jangan coba-coba menggoda bos kita. Paham?"
"Hah, pa...paham, Bu," ucap Sarah terbata.
"Apa aku terlihat seperti w*************a dimata Bu Marry?" batin Sarah pada wanita yang berusia lebih tua darinya itu.
"Baiklah Sarah, kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, ayo saya kenalkan pada karyawan di ruangan ini. Kamu bisa mulai kerja besok pagi sampai waktu magang selesai."
Sarah mengangguk, lalu mengikuti langkah Bu Marry berkenalan dengan enam karyawan yang terdiri dua laki-laki dan sisanya perempuan. Semua terlihat patuh pada atasan divisinya. Terlihat Sarah yang paling muda diusianya yang menginjak dua puluh tahun.
Sambutan ukuran tangan satu persatu didapat Sarah. Raut wajah kaku para karyawan sempat berganti ceria seiring senyuman yang diberikannya. Namun setelahnya mereka kembali dengan mode serius.
Sarah menhambil napas dalam setelah keluar ruangan divisi.
"Hufh, kantor ini bergengsi tetapi suasana kerjanya kenapa menyeramkan begini. Sangat kaku, apa karyawan tidak bertambah stres." Sarah hanya berguman sendiri dengan pemikirannya.
Sebelumnya dia membayangkan akan bekerja di kantor besar dengan suasana hangat seperti keluarga antara karyawan. Kenyataannya berbeda, mungkin Sarah harus mengambil pelajaran berharga ini mulai sekarang.
Selesai urusan di MTG, Sarah berniat ke tempat kerja part timenya. Dia harus minta izin pada Satya kepala bagian CS di hotel tempatnya bekerja. Dia tidak bisa masuk lagi seperti biasa karena mulai besok harus magang. Jika masih diizinkan, Sarah akan mengambil part time akhir pekan.
"Siang, Pak!" Seperti biasa Sarah selaku berusaha ramah di manapun berada baik di kampus maupun di hotel tempatnya bekerja.
"Tumben siang, Mbak?" ujar Satpam yang kena shift siang.
"Iya, Pak. Pagi ngampus dulu. Pak Satya ada nggak?"
"Ada, Mbak. Pak Satya di ruangnya."
Melangkahkan kaki menuju ruang kepala CS, Sarah menoleh ke kanan kiri seperti seorang maling takut kepergok.
Dia merasa was-was barangkali akan bertemu dengan pria asing yang tidur seranjang dengannya. Meskipun mereka tidak melakukan apa-apa, tetapi akan sangat memalukan bagi Sarah jika sampai bertemu orang itu.
"Hai, kenapa mengendap-endap?"
Deg, jantung Sarah berdetak kencang mendengar suara yang mengagetkannya dari belakang.