Pagi hari yang cerah, mentari menelisik jendela kamar Alfian. Sinar yang menyilaukan mata memaksanya terbangun dari tidur yang sebentar. Semalaman terjaga karena memikirkan keputusan gegabahnya yang berujung menyakiti Sarah. Sore itu, saat terbangun mendapati dirinya bersama Amira di ranjang yang sama, pikiran Alfian kacau. Memilih pergi dari rumah, Alfian merasa bersalah telah menghianati Sarah. "Apa bedanya aku dengannya kalau sampai melakukan perbuatan kotor ini. Semoga Amira mau memberi penjelasan." Tok tok. Suara ketukan pintu menyadarkan Alfian dari lamunannya. "Al, sudah bangun? Ini mami bawakan s**u hangat." "Sudah, Mi. Habis subuh tadi Al tiduran lagi, semalam susah memejamkan mata." Senyuman mami begitu hangat, seketika Alfian memeluk wanita yang telah melahirkan dan memb

