"Tidak, aku tak tahu, aku bahkan baru mendengar berita ini," ujar seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam sebahu yang berwarna senada dengan bola matanya. Jemarinya yang dilapisi cat kuku berwarna merah mengusap perutku, tersenyum dengan lembut sebelum kembali menarik tangannya. "Bila ia perempuan, ia akan secantik ibunya, dan bila ia lelaki, ia akan jadi lelaki yang tangguh, tampan, dan bekerja keras, seperti ayahnya" Diana, yang kini duduk tepat di sampingku tersenyum dengan bangga. Menerima semua komentar positif dari rekan-rekan sosialitanya membuat ia merasa sangat senang. Diana bahkan tak berhenti mengumbar senyum takala Juliet—teman wanitanya yang sempat mengusap perutku—tak berhenti melontarkan pujian. Mereka mengatakan mereka sangat senang mengetahui kehamilanku, tentunya

