Page-01
Malam itu, Celina keluar dari kos hanya dengan mengenakan jaket tipis dan sandal. Supermarket yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya menjadi tujuan karena persediaan camilan di kamarnya sudah hampir habis. Selain beberapa bungkus makanan ringan, ia memasukkan minuman, mie instan, tisu, dan beberapa kebutuhan kecil lainnya ke dalam keranjang. Setelah membayar, Celina tidak langsung kembali ke kos.
Ia membawa satu botol minuman bersoda dan duduk di bangku yang berada di depan supermarket. Udara malam terasa cukup nyaman untuk sekadar duduk sendirian sambil memainkan ponsel.
Baru beberapa menit menikmati minumannya, seseorang berhenti tepat di depannya. Celina mendongak sebentar, ia tahu persisi siapa yang berdiri di depannya sekarang. Ia adalah teman kekasihnya. Keenan.
“Lo pacarnya Ezra kan?” Katanya.
Celine tidak menjawab, ia lebih sibuk dengan ponselnya. Hampir semua teman Ezra perempuan itu tahu. Tidak mungkin jika teman Ezra tidak ada yang tahu tentang Celine. Apalagi ketika Ezra bilang jika Celine adalah perempuan matre, itulah yang Ezra bilang pada semua temannya. Sehingga mereka menganggap jika Celine menumpang hidup pada Ezra. Tapi peduli setan, apapun itu demi kelangsungan hidup Celine akan lakukan.
“Lo ngapain disini malam-malam sendirian? Kok gak sama Ezra Lo?”
Celine menatap cowok di depannya sesaat, pertanyaan itu tidak seharusnya ia jawab. Bukannya cowok itu juga tahu kemana perginya Ezra? Sejak sore, Ezra sama sekali tidak menghubunginya. Tidak mengirim pesan tidak juga menelepon Celine kecuali mengirim uang setelah berpamitan kalau dia akan mengantar Vanya pergi. Celine tidak pernah mengirim pesan lebih dulu sebelum Ezra yang menghubunginya.
Bukan sesuatu yang membuat Celina kaget jika Ezra tiba-tiba menghilang. Dulu, mungkin iya waktu awal pacaran karena memang Celine yang jatuh cinta duluan dengan Ezra. Ketika cowok itu mulai mendekatinya, memberikan perhatian padanya dan seolah Celine adalah perempuan satu-satunya dalam hidupnya. Celine harus menghabiskan waktu satu Minggu untuk menangis cowok modelan Ezra yang ketahuan menjalin hubungan dengan Vanya. Waktu itu Celina ingin penjelasan Ezra untuk memilih Vanya atau mungkin dirinya. Tapi setelah dipikir kembali untuk apa? Setidaknya setiap bulan yang yang dikirim Ezra tidak putus sampai dia lulus kuliah, mau dia selingkuh apa gimana pun bodo amat.
“Dia lagi sibuk.” Jawab Celine seadanya.
Keenan tersenyum kecil, duduk di kursi kosong samping Celina. “Sendirian?”
Orang dengan dua mata normal pun juga tahu jika disini Celina seorang diri. Dan cowok di sampingnya itu masih bertanya? Ingin rasanya Celine mengumpatnya, tapi sebisa mungkin dia urungkan setidaknya dia harus terkenal menjadi cewek yang kalem dan tidak gampang marah.
“Keliatannya?”
Keenan terkekeh, “Nomer Lo berapa?”
“Buat apa?”
“Gue mau ngirim sesuatu.”
Celine memberikan nomer ponselnya pada Keenan. Tak lama pesan masuk dari nomor tak dikenal, tentu saja Celine tahu jika nomor itu jelas nomor Keenan. Disana ada sebuah foto Ezra bersama dengan Vanya, mereka sedang makan malam bersama di salah satu restoran terkenal di ibukota. Karena Ezra juga pernah membawa Celine kesana. Bedanya, mereka duduk berdua cukup dekat dan saling akrab. Sedangkan waktu bersama dengan Celine mereka duduk berhadapan, terhalang meja dan tidak sedekat itu. Dulu, Celine pikir Ezra akan bucin angkut pada dirinya tapi yang ada dibalik kata bucin yang Ezra ucapkan ada seseorang yang menemaninya selama ini.
“Ngapain Lo ngirim ini ke gue?” Ucap Celine bingung
“Lo nggak marah?”
“Buat apa?”
“Itu pacar Lo lagi sama cewek satunya?”
Celine menggeleng ini kan bukan yang pertama. Bahkan Celine juga pernah memergoki Ezra sedang berciuman dengan Vanya di kampus. Kalau dibilang teman tentu saja mana mungkin ada teman yang berciuman begini. Tidak hanya dengan Vanya, siapapun akan melemparkan diri pada Ezra jika perempuan itu mau. Karena menurut berita satu komplotan Ezra termasuk cowok yang duduk di sampingnya ini juga termasuk playboy, suka gonta ganti cewek yang mereka suka.
“Bodo amat!!!”
Keenan menatap aneh, apa mungkin Celine tahu kalau Ezra selama ini menjalin hubungan dengan Vanya?
***
Perjalanan pulang berlangsung cukup singkat. Keenan mengendarai motornya dengan santai, sementara Celina duduk di belakang sambil membawa kantong belanjaan yang tadi ia beli dari supermarket. Tidak banyak percakapan selama perjalanan. Celina juga tidak berniat membuka obrolan. Ia hanya ingin segera sampai kos, masuk kamar, makan camilan, lalu tidur. Begitu motor berhenti di depan kosnya, Celina langsung turun.
“Makasih.”
Dia mengambil kantong belanjaannya dan hendak berjalan masuk. Namun suara standar motor yang diturunkan membuat langkahnya terhenti. Celina menoleh, Keenan ternyata ikut turun. Cowok itu melepas helmnya, lalu berjalan santai menuju teras kos seolah-olah tempat itu milik keluarganya. Ia bahkan duduk di salah satu kursi plastik yang tersedia tanpa sedikit pun merasa perlu meminta izin.
Celina menatapnya tidak percaya.
“Lo mau ngapain?”
“Duduk.”
Celina tahu jika cowok itu tengah duduk. Maksudnya, kenapa masih ada disini? Bukannya tadi dia cuma mau nganterin Celine pulang? Sekarang giliran sudah sampai di kos kenapa dia malah tidak pulang?
Cowok itu hanya mengangkat bahunya ketika pertanyaan aneh muncul dari bibir Celine. Dia belum ingin pulang, dan dia merasa nyaman hanya duduk di depan teras kos perempuan itu. Hanya sebatas duduk dan itu tidak akan membuat Celine terganggu, itu yang diucapkan Keenan barusan.
Celina mendengus kesal. Dia bahkan tidak pernah menawarkan Keenan masuk atau duduk, tetapi cowok itu sudah bertingkah seperti penghuni tetap. Celina akhirnya berbalik hendak masuk.
“Cel.” Langkah kaki Celine berhenti ketika namanya dipanggil. Keenan menatapnya dengan wajah serius, sehingga membuat Celina menaruh curiga pada cowok itu. “Gue mau jadi pacar kedua Lo.”
Hening. Celina masih mencerna apa yang dikatakan oleh keenan. Bahkan tanpa sadar belanjaan yang dia bawa sampai jatuh dari tangannya. Apa dia sudah gila? Apa dia lupa siapa Celine? Dan apa dia juga amnesia jika dirinya adalah teman baik Ezra?
“Ha gimana?”
“Gue mau jadi pacar kedua Lo.”
Celine menarik nafasnya panjang. “Gue gak nawarin Lo Keenan.”
“Gue tau. Makanya gue menawarkan diri.”
“Lo gila ya!!!”
“Demi lo apa sih ya nggak?”
Celina memijat pelipisnya. Baru malam ini dia mengenal Keenan lebih jauh, dan entah kenapa cowok itu sudah berhasil membuat kepalanya sakit. Perempuan itu mulai menjelaskan jika Celina memilih kekasih bernama Ezra, jika Keenan lupa Ezra itu teman atau sahabat Ezra. Dan sekarang cowok itu menawarkan diri untuk menjadi kekasih Celine yang kedua? Apa dia tidak tahu resikonya jika Ezra tahu hubungan gelap mereka?
Keenan menunjuk dirinya dengan santai. Dia tidak meminta Celine putus hubungan dengan Ezra. Dia hanya ingin mengimbangi, sekarang gini Ezra menjalin hubungan dengan Vanya sudah cukup lama. Dan Celine tahu itu, masa iya perempuan itu mau tinggal diam saja? Minimal imbangi jika Ezra bisa selingkuh dengan Vanya kenapa Celine tidak bisa selingkuh dengan Keenan? Toh, mereka sama-sama bersalah, sama-sama selingkuh dengan teman. Disini Keenan hanya membantu saja.
“Sayang kan cewek mantep kayak lo dianggurin.” kekeh Keenan.
“Terus apa yang gue dapat kalau gue selingkuh sama lo?”
****