Bab 18. Keputusan

1952 Kata

"Bilang? Enggak? Bilang? Enggak? Bilang!" Bilang?! Mataku membulat seraya menelan ludah cepat. Sudah setengah jam aku melakukan hal bodoh dan sudah setengah jam pula aku menyobek kertas untuk menentukan apa yang harus kulakukan. "Alay!" Merasa percuma, aku pun melemparkan secarik kertas yang ada di tangan lalu menghempaskan tubuh ke atas kasur. Berbaring. Aku berpikir dalam seraya menatap langit-langit kamar. Sebenarnya, sudah tiga hari ini aku benar-benar merasa gelisah, galau dan merana karena bingung memutuskan kapan aku harus bilang pada Mas Alfa. Aku sudah tak kuat memendam perasaan ini sendiri, aku harus mengatakan rahasia besar itu apa pun resikonya. Masih teringat jelas di benak ini bagaimana dia marah hanya gara-gara aku terlambat memberi tahu tentang Yoga. Lalu, apa jadiny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN