Bab 15. Satu Kamar

1646 Kata

Aku meraba pipiku yang memerah sambil mematut diri di depan kaca. Siapa sangka, lelaki yang dingin seperti Mas Alfa memiliki sisi yang begitu romantis. Walau hanya di depan kandang si Jalu. Mas Alfa benar-benar berhasil membuatku sulit move on dan anehnya entah kenapa setiap perbuatan yang dibuat Mas Alfa walau sederhana, selalu sukses membuatku ketar-ketir bahkan sampai sekarang. Agh, seandainya saja tadi Bi Ifah dan Mang Udin enggak ngintip bisa jadi tadi aku langsung 'tekotek' sama Mas Alfa. Namun, meski gagal, hatiku tetap saja bahagia karena otak ini seolah tak berhenti mengingat percakapan singkat kami tadi sebelum aku kembali ke kamar. "Zel, kamu tahu apa yang buat Mas bahagia sekarang?" tanya Mas Alfa beberapa waktu lalu. "Apa itu, Mas?" "Itu kamu, Zel. Mas berharap mulai seka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN