Sepertinya aku keracunan. Iya, keracunan sikap Mas Alfa yang terlalu banyak mengandung zat adiktif yang berbahaya bagi jantungku.
Baru beberapa hari menjadi istrinya saja, jantung ini sudah dibuat kembang-kempis.
Bagaimana jika setahun?
Ya, ockay lah aku paham dia mengatakan kata 'Sayang' untuk sekedar membantuku yang tersudut. Tapi, kenapa harus sejauh itu?
Lalu, anehnya, kenapa juga setelah pulang dari rumah Bu Imel dia sama sekali tak membahas tentang panggilan, 'Sayang' yang dia ucapkan di depan keluarga kami?
Apa panggilan itu sama sekali tidak berarti untuknya?
Layaknya patung manusia yang diberi nyawa, dia kembali kaku. Sedang, aku hanya bisa menatapnya dan mencoba menerka-nerka isi kepala Mas Alfa.
Hal ini tentu membuatku gelisah enggak jelas dan hasilnya aku pun mengalami insomnia semalaman. Sampai-sampai aku baru bisa tidur setelah jam Cinderella selesai.
Ngantuk.
Sekuat tenaga aku menahan mataku agar tetap terbuka sambil membereskan meja Mas Alfa, tapi tetap saja aku kalah.
Mata ini seolah berat untuk mengangkat kelopaknya. Mungkin memang syaiton sedang bergelantungan di bulu mata.
Merasa tak kuat, aku pun memilih memejamkan mata sebentar di atas meja dan tertidur sekitar beberapa menit.
"Zel!"
Parah! Bahkan dalam mimpi pun, suara Mas Alfa terasa nyata.
"Zel? Zela? Ayo, bangun, Zel! Bentar lagi praktek buka ...."
Kali ini kurasakan ada sebuah tangan menepuk tanganku berulang kali dengan lembut. Mataku pun reflek terbuka, karena perasaan suaranya sangat familiar.
Dengan cepat, kudongakkan kepala dan menemukan Mas Alfa sudah ada di depanku.
"Mas? Eh, udah datang?"
Sontak aku berdiri, lalu membersihkan muka. Untunglah karena mungkin hanya sejenak terlelap, tak ada iler atau sebagainya.
Aman.
"Iya, kamu capek, ya? Sampai ketiduran, gitu?" tanya Mas Alfa yang hari itu mengenakan kemeja slim fit warna biru metalic.
Heran. Meski sudah siang begini wajahnya Mas Alfa masih tampak segar dan badannya mengeluarkan aroma parfum yang menyegarkan. Jelas kondisi Mas Alfa berbanding terbalik dengan kondisiku yang kuyu. Padahal dia sudah bekerja di rumah sakit sebelumnya.
Ini tidak adil. Dia pasti tidur nyenyak semalam, sementara aku untuk memejamkan mata saja sulit karena terus terbayang panggilannya.
"Eh, anu, Mas maaf. Soalnya semalam aku gak bisa tidur, jadi ngantuk hehehe ...." cengirku
malu.
"Gak bisa tidur? Kok bisa?"
Mas Alfa memiringkan kepalanya seperti bingung atas jawabanku. Fyi, kami memang sepakat sementara tidak tidur dalam kamar yang sama, selain karena menghindari hal yang diinginkan, kami pun berusaha menjaga privasi satu sama lain.
"Ehm, sebenarnya itu karena ...."
Aku menjeda kalimat sambil memutar bola mata, mencari alasan yang tepat. Namun, belum sempat aku menyelesaikan ucapan tiba-tiba tubuh Mas Alfa melangkah maju mendekat sehingga kakiku mundur merapat ke bad periksa.
Mentok. Gawat.
"Karena apa? Karena saya, ya?" tanyanya lirih seraya memajukan wajah hingga hidung kami hanya berjarak lima centi.
Tak dapat terhindarkan, dalam jarak sedekat ini mata kami tentu saja langsung bertemu pandang dan dadaku sontak saja berdebar kencang.
"Ka-kata siapa?" Aku menelan ludah dengan gugup karena merasa tersudut.
Oh Tuhan! Selamatkanlah aku dari pesona lelaki satu ini.
"Kata saya, barusan. Iya, kan? Kenapa?"
"Enggak apa-apa tapi ...." Kalimatku mendadak terhenti.
Pelan tapi pasti pandangan kami, sama-sama mengarah ke bibir satu sama lain. Begitu pintarnya, syetan menggoda.
Tok. Tok. Tok.
"Pak Dokter, boleh saya masuk?"
Di waktu yang sangat krusial. Untungnya, tiba-tiba saja pintu ruangan ada yang mengetuk dari luar. Suaranya seperti Danias--petugas registrasi.
"Astaghfirullah!"
Menyadari posisiku dan Mas Alfa yang terbilang intens. Sontak saja Mas Alfa langsung menjauhkan tubuhnya, begitu pun aku. Kami sama-sama gelagapan dan gugup. Itu terlihat dari gerakan Mas Alfa yang salah tingkah ketika mau duduk di kursinya.
Mungkin kami sama-sama bertanya dalam hati. Apa yang terjadi pada kami barusan?
Bahaya.
"Masuk silahkan!" Suara Mas Alfa dibuat senormal mungkin, sementara aku pura-pura sibuk merapikan berkas.
Setelah diperintahkan, barulah Danias berani masuk.
"Maaf Dok, saya mau infokan kalau pendaftaran sudah selesai, Suster Zela bisa mulai memanggil pasien," ujar Danias sopan.
"Oh, oke. Terima kasih infonya Danias," jawab Mas Alfa yang langsung disambut anggukan Danias.
Setelah Danias pamit, Mas Alfa pun mengalihkan pandangannya padaku. Gelagatnya terlihat amat canggung, dia pun berdehem untuk menetralkan suasana.
"Eheum! Zel, panggil pasien pertama sepuluh menit lagi ya, dan jangan lupa minta Danias siapkan masker," ujar Mas Alfa bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Sedang aku, hanya bisa menganggukkan kepala lalu pergi keluar dengan pipi yang mungkin sudah memerah sempurna.
Ya Allah! Ada apa denganku? Kenapa debar ini tak kunjung berhenti?
(***)
Ini gila! Gila!
Bagaimana mungkin aku bisa berpikiran begitu? Tak heran, banyak yang bilang jangan biarkan dua manusia berlainan jenis hanya berduaan, karena yang ketiganya adalah syetan.
Benar. Itu terbukti.
'Ya Allah! Maafkan hambamu ini yang sudah berpikir yang iya-iya.'
Pokoknya aku harus melupakan kejadian tadi, anggap saja itu karena kekhilafan yang tak disengaja. Lagian Mas Alfa sih, pakai acara maju-maju segala kan, imanku lemah, gampang tergoda.
Heum ....
Eh, membahas tentang kata 'khilaf', kok, aku jadi teringat tentang chat Yoga semalam, ya?
[Zel, aku butuh ketemu sama kamu. Kapan kita bisa bicara berdua?]
[Zel, aku benar-benar tidak tahu kenapa Resa bisa hamil? Zel! Tolong percaya aku, aku akan menjelaskannya.]
[ZELA! Aku sayang kamu]
[ZELA, tolong jawab!]
Begitulah sekelumit rentetan isi chat Yoga yang menambah daftar panjang keraguanku selama ini. Entah, berapa ratus chat yang ia layangkan pada nomorku sampai saat ini, tapi aku tak pernah membalasnya.
Muak. Ya, aku muak karena isinya pasti membahas hal yang sama.
Agh, aku tak percaya padanya! Bukankah semua lelaki sama saja?
Dia akan mencari alasan untuk menutup kesalahan. Apalagi mereka sedang mabuk dan pasti hilang kendali, tetap saja salah karena itu bukanlah akhlak yang baik bagi seorang calon imam.
Namun, jika benar apa yang dikatakan Yoga. Sebenarnya anak siapa yang dikandung Mbak Resa? Ini sangat aneh.
Mana mungkin, Mbak Resa tega mengkhianati Mas Alfa berulang kali. Atau ... bisa jadi ada lelaki lain selain Yoga?
Ah, entah.
"Sus, maaf, Sus! Ada yang nyari." Seorang pasien wanita tiba-tiba berbicara padaku yang sedang berjaga di depan ruang periksa.
Aku yang sedang menulis catatan pasien, terpaksa mengangkat kepala dan mengernyitkan dahi.
"Siapa, Bu?" tanyaku sopan.
Si Ibu yang berambut sasak itu pun menunjuk ke arah lobby dan alangkah kagetnya hati ini ketika melihat siapa yang mencariku.
"Yoga? Dia ke sini?" pekikku kaget saat melihat seorang lelaki muda tengah menatapku dengan tatapan sendu.
Menyedihkan.
Ya Allah ... kuatkan hatiku.
(***)
"Aku minta maaf, Zel," tegas Yoga.
Dengan berat aku memberanikan diri mengangkat kepala dan menatap matanya.
"Untuk apa? Untuk menghamili Kakakku dan mengkhianati aku? Cih! Basi!"
Yoga terdiam, kemudian menundukkan kepala mendengar sindiran yang kulayangkan.
Bagiku, berbicara dengannya di taman belakang klinik seperti ini adalah keterpaksaan yang begitu menyiksa. Jika saja, aku tak enak karena dia terus saja memohon di depan para pasien mungkin aku tak akan mau.
Untungnya, ada Mbak Pipit yang bersedia menggantikanku sementara waktu. Jadi, aku titip amanah pada Mbak Pipit untuk menyampaikan pada Mas Alfa karena ponselku mati dan kupikir tidak akan lama.
"Saat itu aku khilaf Zel dan Resa duluan yang mengajakku ke hotel. Bodohnya aku, karena kala itu kita lagi berantem, aku pikir tak ada salahnya mengobrol dengan Resa tapi hasilnya malah gini.
Zel, aku benar-benar tak mengerti kenapa kami bisa ada dalam satu ranjang karena aku gak merasa menyentuhnya," jelasnya dengan wajah yang sangat menyesal.
Aku mendengkus kesal, aku tahu dia hanya beralibi, pasti ada alasan yang lebih kuat dibanding sekedar khilaf.
"Pengkianat! Yang namanya mabuk, mana ada yang sadar!" erangku marah.
"Tapi, orang mabuk pun ada secuil kesadaran Zel. Dia bisa merasakan, kecuali kalau dia dibius!"
"Sialan! Kamu pikir aku bodoh, hah?" bentakku marah. Aku memberanikan diri menatap matanya tajam sekali pun air mata sudah siap mengalir.
Melihat Yoga di depanku sekarang, seolah mengingatkanku pada kenangan-kenangan yang indah juga memilukan bersamanya.
Aku sangat sakit. Sakit sekali. Kuakui perasaan pada Yoga belum hilang sempurna, bagaimana pun, kami pernah berbagi rasa selama dua tahun lamanya.
Yoga membuang mukanya ke samping kanan sambil menghembuskan napas berat. Sekilas dapat kulihat matanya yang memerah tapi aku tak perduli.
Jujur. Saat ini yang kuinginkan hanya ingin menjauh dari semua sesak dan menutup telinga dari semua tentang Yoga mau pun Mbak Resa.
"Zel! Aku merindukanmu," bisiknya seraya kembali menatapku.
"Dasar berengsek!"
Sontak aku melotot mendengar pengakuannya. Entah kenapa, aku sangat marah sekali mendengarnya mengaku rindu. Dulu mungkin itu adalah kata yang paling kunantikan ketika kami sempat menjalani LDR tapi sekarang tidak lagi, karena ada hati lain yang harus kujaga.
"Diamlah! Jangan sebut itu lagi di depanku! Aku membencimu Yoga!"
"Bohong! Jika kamu benci aku, kenapa kamu masih menangis ketika menatapku? Itu karena kamu masih sayang aku, kan?" cecarnya lagi. Dia bahkan mau menyentuh tanganku tapi langsung kusentakkan dengan kasar.
"Aku menangis karena ...," kata-kataku tertahan karena isakanku sendiri.
"Maaf, apa boleh saya menjemput istri saya?" Sebuah suara tegas tiba-tiba menyela di antara obrolan.
Sontak saja aku menoleh dengan wajah terkejut.
"Mas Alfa?"
Mataku membelalak saat mendapati lelaki itu menghampiri kami dengan pandangan yang tak dapat kuartikan. Pasti dia marah padaku karena sudah meninggalkan meja, demi mengobrol dengan Yoga.
Bagaimana ini?
Aku menelan ludah gugup, saat Mas Alfa berjalan semakin dekat. Sekarang, aku pasrah jika dia mau marah atau melakukan apa pun karena sejatinya aku tidak melakukan hal yang salah, malah aku menjaga harga diriku sekali pun bersama mantan. Namun, ternyata lagi-lagi perkiraanku salah.
Tak kuduga, alih-alih marah, dia malah bertindak lebih elegan dari yang kupikirkan.
Seolah hantu, Mas Alfa tidak menganggap Yoga sama sekali, dengan tenangnya lelaki itu melintasi Yoga dan berdiri di antara aku dan mantanku tersebut.
Aku mendongakkan kepala, menatap dengan mata yang basah mencoba menjelaskan.
"M-Mas, maaf tadi aku ...."
"Gak apa-apa Zel, saya paham. Saya yakin kok, sama kamu. Karena kamu istri seorang dr. Alfa Prawira bukan istri Yogantara Yudha. Saya yakin kamu setia." Seringai Mas Alfa pelan tapi menakutkan.
Mati aku. Apa ini tanda dia cemburu?
==