Kata orang, orang yang terlalu baik dan bodoh itu beda tipis. Orang terlalu baik biasanya gampang dibodohi. Mungkin itulah yang terjadi pada kasusku, mungkin bisa jadi aku terlalu berprasangka baik ketika Mbak Resa mulai mengambil apa yang kumiliki sehingga ketika kehilangan aku mulai merasa menyesal.
Aku bodoh. Ya, aku merasa bodoh. Setelah mendengar pengakuan Yoga kemarin, aku menarik kesimpulan, jika saja sebelumnya aku sedikit saja berani menarik Yoga dan melarangnya untuk sering berpergian dengan Mbak Resa mungkin ini tak akan terjadi. Jika saja, aku tidak terlalu sibuk dan membiarkan Mbak Resa masuk lebih dalam, bisa jadi tidak akan ada yang tersakiti.
Agh, tapi percuma. Sekali pun aku merutuki takdir, tetap saja semua tidak berubah.
Yoga tetap harus menerima kesalahannya, terlepas dari apa pun alasannya. Sementara aku, hanya perlu melanjutkan hidup dengan lelaki dingin berhati baik bernama Alfa.
Namun, meski dingin, sejujurnya dalam hati ini, aku bersyukur telah menikah dengan Mas Alfa dibanding dengan Yoga karena walau misterius, dia orang yang dewasa.
Saking dewasanya, sampai-sampai aku merasa dia sama sekali tak terganggu saat aku mengobrol bahkan menangis karena Yoga. Dia tetap bersikap biasa saja, sekali pun aku menangis di depan mantan.
Aku jadi penasaran. Apa dia pernah cemburu padaku? Ataukah jangan-jangan dia hanya menganggapku hanya adik bukan istri?
Rumit.
Entah kenapa, aku malah berharap dia menunjukan perasaannya, agar aku tidak menerka-nerka karena menerka itu ... melelahkan.
Sudah dua puluh menit, aku di depan cermin seraya merapikan rambut. Pagi ini, rencananya aku akan pergi ke rumah Mamah karena hari ini hari spesialku karena aku ulang tahun.
Emang Mamahmu ingat? Tentu saja tidak. Selama 23 tahun aku hidup, dia tak pernah ingat ulang tahunku kecuali dikasih tahu Ayah tapi aku enggak masalah, karena aku hanya rindu makan masakan Mamah.
Hanya itu. Simpel bukan? Makan bersama Mamah tanpa gangguan, sudah lebih dari cukup menjadi hadiah di hari ini.
Tok. Tok. Tok.
"Zela?" Di antara kesibukanku bersiap diri, tiba-tiba Mas Alfa muncul dari balik pintu.
Aku yang sedang mengikat rambut panjang langsung menoleh.
"Iya, Mas?" tanyaku bingung.
Tumben dia pagi-pagi sudah mampir ke kamar perawan, ada apa gerangan? Biasanya mendekat ke kamarku saja dia harus baca-baca doa dulu.
"Ehm, boleh saya masuk?" tanyanya dengan gugup.
Ya Allah! Suami siapa sih, ini? Masuk ke kamar istrinya saja pakai permisi. Luar biasa sopannya lelaki satu ini.
Aku tersenyum simpul. "Masuklah, Mas. Ada apa?" tanyaku.
"Ehm, ini."
Tanpa basa-basi, dia langsung menyodorkan satu benda ke hadapanku.
Dasi?
Aku mendongakkan kepala, menatap.
"Maksudnya apa, Mas? Kok, dasi? Mas, minta aku pakai dasi?" Dahiku berkerut halus, tak mengerti maksudnya.
Dia menggelengkan kepalanya cepat.
"Bukan, Zel, saya minta kamu pasangin dasi ke saya. Bisa?"
"Hah?"
Mataku mengerjap-ngerjap beberapa kali, merasa kaget bercampur senang ternyata suami kaku ini butuh bantuanku juga.
"Iya, pasang dasi. Kamu bisa, kan? Eh, tapi kalau kamu gak bisa, gak apa-apa saya ...."
"Oke! Sini, Zela bantu, masalah kayak gini mah gampang," potongku cepat seraya mengambil dasi dari tangannya.
"Alhamdullilah."
Mas Alfa mengulas senyum lega sembari memutar tubuhnya padaku. Tak terelakkan tubuh kami pun langsung berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Sontak saja jantungku berdebar sangat kencang, apalagi saat aku mulai mengalungkan dasi ke lehernya.
Dag-dig-dug.
Amboi! d**a ini rasanya serasa dilempari petasan tahun baru saat tanpa sengaja mataku dan mata Mas Alfa bersitatap.
Lelaki itu seperti sengaja menujukan pandangannya pada wajahku yang tepat berada di bawahnya.
Aku pun langsung mengalihkan fokusku pada dasi yang ada di lehernya dengan salah tingkah. Sebisa mungkin aku harus mencoba berkonsentrasi pada tugas yang diberikan.
Namun, sayang ... tampaknya itu tak berhasil, sebagai wanita normal, kondisi begini cukup membuatku sesak napas. Bayangkan saja, dalam jarak sedekat ini, apa pun bisa kurasakan termasuk dadanya yang bidang dan hembusan napasnya yang hangat di puncak kepalaku.
Ya Allah! Aku enggak kuat. Rasanya mau melambaikan tangan saja ke kamera. Godaan ini terlalu berat.
"Zel, maaf sepertinya saya enggak bisa jemput kamu sore nanti di rumah Mamah. Kamu gak apa-apa kan, pulang sendirian? Mas, ada acara penting dan seminar. Makanya pakai dasi, lagi pula kan klinik libur," ujar Mas Alfa memecah kecanggungan di antara kami.
"I-iya Mas. Gak apa-apa, gak masalah," jawabku tanpa melihatnya. Mataku tetap fokus pada simpul dasi yang sedang kujalin.
"Zel!"
Aduh! Ngapain sih panggil-panggil. Deg-degan nih.
"Apa, Mas?" sahutku lagi tambah gugup. Ingin rasanya segera menyelesaikan tugas sebelum jiwaku tersihir pesona Mas Alfa.
"Mas boleh minta sesuatu?"
Mendengar pertanyaan yang satu ini, sontak saja aku mendongakkan kepala dan menatap matanya yang berkilap bagaikan kristal.
"Iya, Mas. Apa itu?" tanyaku seraya menggigit bibir. Menahan gejolak di dadaku yang kian brutal.
"Mas minta, tolong jangan bertemu lagi dengan Yoga, ya? Karena ...." Mas Alfa menghembuskan napas dalam. "Saya gak suka," bisiknya lirih tepat di telinga membuat tubuhku merinding seketika.
Ya Allah! Ingin pingsan rasanya.
(***)
Mas Alfa seorang yang misterius, itu aku tahu. Mas Alfa itu dokter kaku, ramah tapi bikin penasaran? Beuh! Udah rahasia umum itu mah. Tapi kalau Mas Alfa bisa cemburu? Ini baru ajaib.
Aku kembali tersenyum geli mengingat permintaannya tadi pagi, tak dapat kupungkiri dadaku seolah ditumbuhi taman bunga sekarang.
Harapanku akhirnya tercapai juga, hampir saja aku menyerah mengira dia tak perduli tapi ternyata aku salah. Dia memang serius memintaku untuk tak berdekatan dengan Yoga, bahkan dia bilang kalau aku ketemu Yoga aku harus laporan sama dia 1x24 jam udah kayak Hansip.
Aneh. Perasaan dulu, kata Mbak Resa, Mas Alfa itu cuek banget sama Mbak Resa. Sekali pun Mbak Resa pergi sama laki-laki, Mas Alfa tak pernah komentar.
Lalu, sekarang? Kok, bisa berubah, ya? Apa dia kesambet setan bucin klinik?
Agh, ada-ada saja.
Aku kembali menggelengkan kepala merasa lucu dengan perkiraanku sendiri.
"Zel, kok senyam-senyum sendiri, sih? Ada apa? Kayak orang gila aja," tanya Mamah menegurku yang sedang melamun di meja makan.
Siang ini, aku sengaja menunggu Mamah yang sedang sibuk di dapur, berharap keinginan sederhanaku terwujud di hari yang spesial ini.
"Enggak, Mah, enggak apa-apa," elakku sembari menatap Mamah yang datang membawa satu panci sop dari arah dapur.
Aku tersenyum bahagia melihatnya, pasti dia masak untukku. Mungkinkah dia ingat hari ini aku ulang tahun? Alhamdullilah, jika benar aku terharu.
"Oh iya, bantu Mamah yuk Zel, masukan makanan ini ke tupperware, kita kirim ke Mbak Resa semuanya, kabarnya mertua Mbak-mu mau datang," pinta Mamah tiba-tiba.
Jleb. Mendengar Mamah mau memberikan makanan sop kesukaanku, tiba-tiba hatiku mencelos tanpa sebab. Aku melongokkan kepala ke dapur, di sana tak ada lagi sisa makanan, benarkah ini untuk Mbak Resa semua? Lalu, aku? Ternyata benar, Mamah tak pernah sekali pun ingat ulang tahunku.
Bukankah, aku anaknya?
"Wah, semuanya, Mah? Zela boleh minta?" tanyaku menahan getir. Berdoa semoga firasatku salah.
"Jangan Zel, ini buat Mbak-mu. Kasian dia lagi hamil, makan saja susah, sudah kamu masak mie saja, ya? Lagian kamu mau ke sini gak bilang-bilang, udah ah, masukin ya, semua makanan itu ke dalam tupperware. Mamah mau pergi ke rumah Mbakmu, takut telat."
"MM-Mamah, mau pergi?" Gagap aku bertanya, karena ada rasa sedih yang tiba-tiba menyerang hati.
Agh, lagi-lagi harus seperti ini. Aku selalu sendiri di ulang tahunku, setelah kepergian Ayah tak ada satu pun yang mengingatnya.
Sudah puluhan tahun berlalu yang kurasakan hanyalah sama yaitu terasing di keluarga sendiri, setelah kepergian Ayah tampaknya itu semakin parah.
Sebenarnya, aku anak siapa?
"Iya, Mamah ke rumah Mbakmu, ya? Tolong ya, Zel. Masukin semua makanannya, Mamah mau siap-siap, sebentar ...," ujar Mamah sambil bergegas mau meninggalkanku.
Melihat itu, aku pun langsung menahan Mamah.
"Mah, tapi Mamah makan siang di sini, kan? Ze-Zela mau makan sama Mamah, sekali saja," cegahku dengan mata yang mulai berkabut. Berharap, Mamah paham keinginanku.
Mamah menepis tanganku pelan, sambil menepuk punggungku dua kali.
"Zela, kok, kamu kayak anak kecil sih, Sayang? Udah ah, jangan manja, Mbak-mu lebih membutuhkan Mamah dari pada kamu. Udah, ya, kamu makan sama Mbok aja. Mbok! Ini masakin mie instan buat Zela, ya?" panggil Mamah pada si Mbok.
"Mah! Tolonglah!" rengekku memohon. "Aku benar-benar rindu ingin sama Mamah juga."
"Apa sih, Zel? Udah, lepas! Kamu tuh manja banget sih! Udah, sana makan sama Mbok! Udah nikah, bukannya makin dewasa!"
Ya Allah! Reflek aku melepaskan tanganku dari lengan Mamah.
Mematung.
Rasanya ada perih di dalam sini setelah mendengar Mamah hanya memberiku mie instan, sementara Mamah memberikan Mbak Resa sop daging, tempe, tahu dan lainnya.
Bolehkah aku cemburu? Padahal permintaanku tak banyak? Hanya ingin makan masakannya walau sedikit.
Tak kuasa lagi menahan sesak, aku pun mengatupkan kelopak mataku yang terasa perih. Sebab, bukan hanya sekali Mamah berbuat begini dan bukan hanya sekali juga aku melihat punggung Mamah meninggalkanku seperti ini.
"Neng ...," panggil Mbok Darmi yang tiba-tiba sudah ada di depanku.
"Iya, Mbok?" sahutku dengan nada yang dibuat tegar
"Selamat ulang tahun, ya? Neng ...," ujar si Mbok dengan mata yang berkaca-kaca membuatku ingin memeluknya.
Paling tidak walau bukan keluarga, ini kali pertama aku menerima ucapan berharga itu setelah ayah meninggal.