Bab 9. Curiga

1731 Kata
Dulu sewaktu Ayahku masih ada, almarhum selalu bilang kalau ada sesuatu yang enggak berjalan sesuai harapan, tidak perlu kita menyalahkan takdir karena bisa jadi itu yang terbaik untuk kita. Kurasa itu ada benarnya, setelah beberapa waktu berjalan kini aku mulai memahami betapa beruntungnya aku menjadi istri seorang Alfa. Ya ... walau terkadang dia itu jutek, menyebalkan, kalau ngomong pedas dan satu lagi sok tahunya itu loh, bikin istighfar. Masa Mas Alfa bilang kalau dia tahu ukuran braku? Ish, songong deh, pernah melihat juga enggak. Eh, tapi, apa mungkin dia bisa memperkirakan, ya? Haduh! Bisa gawat. Pasti ini gara-gara tragedi lingerie itu. Ah, memalukan. Namun, terlepas dari sifat minusnya, bagiku dia tetap tempat ternyaman untuk sekarang karena sikapnya yang dewasa membuatku seolah menemukan pengganti Ayah yang telah pergi. Lagi pula, semua hal tidak ada yang sempurna, bukan? Kalau mau menikah dengan yang sempurna, dijamin sampai kita beruban pun susah mencarinya. Sebenarnya, akhir-akhir ini kurasa ada yang berbeda di antara kami. Setelah dia memelukku saat aku menangis, kami mulai membuka diri. Semua aktivitas kami jalani selayaknya sahabat, walau terkadang debaran itu masih saja membuatku tak mampu bertindak lebih. Kenapa? Karena aku masih takut jatuh cinta padanya. Kuakui aku masih takut terluka lagi apalagi aku belum tahu, siapa sebenarnya wanita yang masih bercokol di hati Mas Alfa. Mungkinkah, dia benar-benar sudah melupakan Mbak Resa? Agh, entah. Aku tak perduli, lebih baik aku kembali fokus memeriksa catatan pasien hari ini. "Huft!" Aku menghembuskan napas lega setelah pasien terakhir sudah keluar dari kamar periksa. Itu berarti hari ini, aku dan Mas Alfa bisa pulang lebih cepat. Semenjak, para pasien dan petugas tahu kalau kami suami-istri, mereka jadi lebih tahu diri. Tidak ada lagi, pasien nakal atau petugas genit. Bahkan, si ibu jambul pun tampak segan jika bertemu denganku. Baguslah! Itu yang kumau. "Zel, kamu sudah siap?" teguran seseorang sukses membuat kepalaku menoleh ke samping. Aku tersenyum ketika mendapati Mas Alfa sedang berdiri di depan ruang periksa, dengan gaya tangan yang dimasukkan ke saku celananya. Dokter muda satu itu ternyata sudah siap pergi. Amboi! Kukira aku doang yang semangat buat pulang. Tumben sekali, Mas Alfa sudah siap pergi biasanya banyak acara. Entah itu cek riwayat pasien-lah, ngecek hasil lab-lah dan banyak lagi iklannya. "Sudah, Mas, kita langsung pulang, kan?" tanyaku semangat. Mas Alfa menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak kita akan makan di luar kamu mau, kan?" Aku mengerutkan kening, sambil mengambil tas. "Makan di luar? Wah, ada apa nih? Mas baru gajian, ya? Kok, Zela belum?" tanyaku merasa aneh. Perasaan saldo di rekening belum bertambah. Mas Alfa berdehem pelan sambil menghampiriku lebih dekat. "Saya belum gajian tapi saya punya sesuatu buat kamu." Aku menaikan kepala sehingga mata kami bertemu. "Wah, apa itu?" tanyaku gembira. Mas Alfa tidak menjawab, dia hanya mengangkat bahu sambil mendahuluiku. "Loh, kok diam? Hadiah, ya? Alhamdullilah rezeki anak solehah," godaku sambil bersorak kepedean. Gegas, aku menyusul langkahnya yang panjang. Melihat aku yang kegirangan sambil berjalan riang Mas Alfa malah terkekeh pelan, dia lalu menarikku yang masih berjalan di belakangnya. "Udah ah, bawel! Buruan! Nanti kemalaman," sahutnya seraya menjalin jari-jari kami. Seolah muda-mudi yang baru pertama berpegangan tangan. Tentu saja aku syok, karena baru kali pertama tanganku digenggam sepertti ini dan anehnya dia pun tanpa sungkan berjalan di sampingku. Biasanya, aku akan mengekorinya layaknya hulu-balang raja. Mendapati sikap Mas Alfa yang berubah, sontak saja dadaku berdebar tak beraturan dan wajahku memanas tanpa sebab. Allahu Akbar! Hangatnya tangan Mas Alfa mengaliri tubuhku seketika. Kalau begini, serasa dunia milik berdua dan yang lain ngontrak. (***) Aku menepuk-nepuk perutku yang kekenyangan. Lelaki tampan di depanku ini memang benar-benar memahami selera istrinya. Seperti biasa, tanpa banyak bicara dia hanya mempersilahkan aku untuk makan dan minum apa saja tanpa terkecuali selama halal. Sedangkan, dia hanya makan salad dan wafel, seperti kebiasaannya selama ini. Benar-benar beda denganku yang segala dipesan. "Gimana enak, makannya?" tanya Mas Alfa seraya menahan senyum. Mungkin dia berpikir, kenapa dia punya istri seperti aku? Udah mah makannya banyak mana bawel lagi. Terlebih restoran tempat makan kami sekarang harga menunya cukup mahal. Semoga dia enggak kapok mengajak aku makan lagi. "Enak banget, Mas, sampai aku nambah. Betewe makasih banyak, ya, Mas?" sahutku sembari tersenyum lebar. Dia terkekeh kecil melihat ekspresiku, lalu tiba-tiba dia mencondongkan tubuhnya. "Zel, ini!" Tunjuknya ke bibirku, tapi aku malah bingung. "Ini apa, Mas?" Dahiku berlipat tiga, karena tak mengerti. Dia mendesis pelan. "Ah, kamu sengaja ya nyisain makanan, biar saya usap. Iya, kan?" tuduhnya seraya mengusap bibir perlahan dari ujung ke ujung. "Nah, udah, sekarang kamu bersih lagi, tadi ada butir nasi," ujar Mas Alfa sambil kembali ke tempatnya dengan wajah tersenyum manis. Baru 'ngeuh' kalau jempol Mas Alfa menyentuh bibirku. Sontak saja aku membeku karena kaget. Tidak menyangka kalau Mas Alfa akan membersihkan sisa butiran nasi tersebut tanpa rasa jijik. Ya Allah! Baru disentuh jempolnya saja, sudah cenat-cenut begini jantungku. Gimana kalau ... ah, Zel! Fokus. "Zel, kok malah bengong? Mau pesen lagi?" tegur Mas Alfa menatapku aneh karena aku malah melongo kayak orang b**o. "E-enggak Mas, gak usah," jawabku gugup. Gimana nggak gugup? Jika efek rasa hangat yang ditimbulkan masih berasa sampai sekarang. Mas Alfa manggut-manggut mendengar jawabanku, kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. "Zel, ini buat kamu," ujar Mas Alfa sambil meletakkan satu kotak perhiasan di atas meja. Aku melongo melihat hadiah yang tak terduga itu, padahal aku hanya bercanda saat bilang kalau aku mau kado karena saat kemarin pun dia sudah memberikan kenangan yang maknanya lebih dari cukup. "Loh, serius, Mas? Zela kan hanya bercanda waktu bilang kalau mau kado, gak mau ah, Zela nolak," jawabku seraya menggeser kotak itu ke arahnya. Bagaimana pun agak berlebihan jika aku menerima ini dan aku bukan tipe cewek matre. Aku tahu Mas Alfa lagi butuh banyak biaya untuk membangun rumah praktek mandiri, jadi lebih baik dia menyimpannya. "Emang kamu kira ini isinya, apa?" tanyanya seraya menahan tawa. "Oh, emang apa? Pasti Mas ngasih yang aneh-aneh, ya? Tapi, apa pun itu Zela gak mau, apalagi kalau barang berharga." "Loh, kenapa?" "Karena Mas lebih baik simpan saja buat modal buka praktek dari pada kasih itu ke Zela," jawabku serius. Mas Alfa menyunggingkan senyum tipis. "Bukan ... coba deh, buka," katanya lagi. Melihat gelagat suamiku yang aneh, aku pun langsung membuka kotak perhiasan itu dengan rasa penasaran dan hasilnya.... Jeng-jeng! Ternyata isinya bukan cincin atau kalung, tapi sapu tangan. Alamak! Aku tertipu. Fix ini mah prank. "Wah, sapu tangan? Bagusnya ...," seruku bahagia. Kuambil sapu tangan berwarna pink yang berinisial AZ tersebut dengan suka-cita karena selain ada huruf, di atas sapu tangan itu ada dua merpati yang sedang mematuk tali di kedua sisinya. Benar-benar simbol yang bagus, seolah tali itu adalah hati yang menyambungkan satu-sama lain. "Kamu suka?" Mas Alfa memiringkan kepalanya dengan wajah penasaran. "Aku suka banget. Eh, tapi, kenapa harus sapu tangan? Emangnya Zela suka ingusan, ya?" rutukku berpura-pura marah sambil mengerucutkan bibir. Alih-alih menjawab, dia malah tertawa puas. Lalu, dengan wajah serius dia menatapku lurus. "Kamu tahu, kenapa saya kasih sapu tangan?" Aku menggelengkan kepala. "Enggak, kenapa?" Mas Alfa tersenyum tipis sembari memajukan badan dan menautkan jari-jarinya di atas meja. "Karena saya gak mau liat kamu menghapus air mata saat tangan kamu habis megang bawang, itu sama saja membuat mata kamu semakin perih dan selain itu ...." Dia menjeda dulu kalimatnya untuk melihat ekspresiku. "Saya gak mau liat kamu nangis sendirian lagi kayak kemarin. Jadi pakai sapu tangan ini untuk menyeka air mata ketika saya gak ada biar kamu tahu saya ada buat kamu, oke?" pintanya sembari memandangku dengan tatapan yang dalam. Aku membeku sejenak mendengar permintaannya, rasa haru bercampur bahagia menelusup ke dalam d**a. Jujur, ini kali pertama aku diperhatikan seseorang sampai segininya. Dulu, Yoga pun tak sampai memahami sedalam ini. Sekarang, Mas Alfa yang pada awalnya bukan siapa-siapa dan terbilang baru mengenalku ketika kami menikah bahkan memahami bahwa aku kesepian. Tak terasa mataku sudah menghangat akibat ucapan Mas Alfa. "Zel, kok malah sedih gitu? Apa Mas, salah ngomong? Kamu gak suka ya, hadiahnya? Maaf ya, maksud Mas baik hanya gak mau kamu merasa gak punya siapa-siapa," ujarnya terdengar tulus. Sebelum menjawab, kuseka lebih dulu sudut mataku yang berair. "Mas gak salah ngomong kok. Zela suka, Mas. Suka sekali. Sekarang, sapu tangannya Zela simpen, ya? Makasih ya, Mas?" Aku melemparkan senyum termanis untuk menenangkannya yang terlihat tegang, sampai Mas Alfa menarik napas lega. "Alhamdullilah." (***) Aku keluar dari bilik toilet restoran dengan wajah kuyu. Entah kenapa, aku merasa masih sakit perut padahal panggilan alam sudah kutunaikan. Apa mungkin karena aku makan kebanyakan? Begini nih, karma orang serakah baru saja diisi sudah meminta dikeluarkan. Setelah cukup rapi aku pun berniat untuk kembali menuju ke dalam restoran. Namun, tiba-tiba di tengah jalan langkahku terhenti karena melihat pemandangan yang tak asing buatku. Pak Bayu? Mbak Resa? Mataku membelalak melihat mertua dan Kakakku sedang berdiri saling berhadapan di lorong kecil yang menghubungkan restoran dan toilet. Tampaknya kedua orang itu menyewa spot VIP di lantai dua, setahuku spot itu memang sangat privasi, parkirannya saja beda, pantas jika kami tidak bertemu. Entah apa yang mereka bicarakan tapi kulihat keduanya seperti tengah berbicara serius. Terlebih saat tanpa kuduga Mbak Resa tiba-tiba memeluk Pak Bayu, sambil menangis. Ya Allah! Tiba-tiba dadaku berdebar kencang dan otakku mengirimkan sinyal buruk. Kenapa Mbak Resa memeluk mertuaku? Untuk apa mereka ada di sini? Kenapa Pak Bayu malah membelai rambut Mbak Resa seolah membelai kekasihnya? Ada apa dengan mereka? Aku menggelengkan kepala mencoba menepis firasat buruk tapi adegan selanjutnya benar-benar merontokkan hatiku. Dalam cahaya yang remang, kulihat Mbak Resa dan Pak Bayu saling mencium satu sama lain. Gila! Hancur! Kacau! Ini enggak mungkin! Deertt. Deerrtt. Pengamatanku mendadak teralih ketika ponsel di tasku bergetar berulang kali. Bergegas, aku menyembunyikan diri di balik tembok, takut mengganggu dan ketahuan oleh Mbak Resa dan Pak Bayu. "Halo?" tanyaku pelan dengan bibir gemetar. Ada rasa takut juga kecewa yang teramat dalam dadaku sekarang. "Zel, masih lama? Mas, jemput, ya, ke toilet?" Astaghfirullah! Mas Alfa? Aku lupa kalau dia juga ada di sini, bisa gawat kalau dia melihat apa yang aku lihat. Bagaimana pun aku harus menyelidikinya terlebih dulu. Sebelum semua jelas. Walau ini sudah lebih dari bukti, sayangnya aku tak bisa merekam adegan tadi karena terlalu syok. "Ehm, jangan Mas! Bentar lagi, oke, tunggu ya," kataku cepat sambil mematikan telepon. Setelah memastikan ponselku mati, aku pun kembali melongokan kepala ke lorong karena tak ingin kehilangan jejak. Nahas, mereka sudah tak ada. Ya Allah! Mereka hilang. Ke mana mereka? Apakah benar yang kulihat tadi? Apa mungkin mereka ... selingkuh?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN