Bab 10. Dag Dig Dug

1086 Kata
Mau dipikir berapa kali pun rasanya ini tidak mungkin. Bagaimana mungkin mertuaku sendiri berselingkuh dengan Kakakku? Ini terlalu sadis. Teramat sadis. Karena, jika apa yang kulihat itu benar mereka. Berarti bukan hanya aku, Mas Alfa dan Yoga saja yang terluka tapi Mamah dan Bu Imel. Jujur, aku tidak bisa membayangkan semarah dan sesakit apa Bu Imel jika dia tahu, Kakak ipar anaknya berselingkuh dengan suaminya sendiri. Lalu, bagaimana perasaan Mas Alfa jika nanti dia tahu, kalau yang menghamili mantan kekasihnya itu bukan Yoga tapi ayahnya sendiri? Kacau! Ini gila! Aku tak sanggup membayangkannya. Agh, kenapa mereka tega? Kenapa mereka harus mengorbankan kami yang tak tahu apa-apa. Kenapa? Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Sementara, aku pun takut hubungan dua keluarga akan hancur jika fakta ini akhirnya terkuak. Tak dapat kubohongi, menyaksikan kejadian tadi, membuat aku berpikir ucapan Yoga terakhir kali kemarin. Apa mungkin anak yang dikandung Mbak Resa itu benar-benar bukan anak Yoga? Biadab. Jika itu benar, maka bisa saja tersangka selanjutnya adalah Pak Bayu. Sekarang aku paham, pantas saja Mbak Resa bersikeras cari muka saat ulang tahun Pak Bayu ternyata tujuannya bukan kembali pada Mas Alfa tapi ada rencana busuk di belakangnya. Astaghfirullah! Entah bagaimana lagi aku harus berpikir. Otakku terasa sangat buntu dan jiwaku seolah memberontak. Aku ingin marah, tapi entah pada siapa dan untuk apa. Terbayang lagi di pelupuk mata bagaimana mereka saling bermesraan tanpa sungkan dengan jijiknya. Syok. Aku benar-benar syok. Sampai-sampai aku tak bisa fokus pada yang Mas Alfa bicarakan sejak tadi di dalam mobil. "Zel, kamu kenapa?" tegur Mas Alfa. Lelaki itu melirikku sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. Kami sekarang sedang dalam perjalanan menuju apartemen. "Aku gak apa-apa, Mas. Aku hanya capek," ujarku menutupi alasan sebenarnya. "Dari tadi Mas lihat, kamu aneh. Kamu sakit?" tanya Mas Alfa seraya memegang dahiku. 'Iya, Mas, hati dan otakku sakit. Aku takut! Aku kecewa! Aku marah! Aku takut kamu membenci keluargaku!' jawabku dalam hati. Sayang, ucapan itu sama sekali tak bisa kukeluarkan. Hanya tatapan mataku saja yang menatapnya sendu. Rasanya ingin memeluk Mas Alfa dan menangis lagi dalam pelukannya. Entah kenapa, sekarang aku takut menghadapi kenyataan jika suatu saat dia pun akan membenciku karena serpihan keluargaku telah melukai Mamahnya juga menghancurkan keluarganya yang harmonis. Benar saja, lelaki yang terlihat baik dan sempurna belum tentu setia dan Pak Bayu telah membuktikannya. "Zel, Zela? Kamu baik-baik saja, kan? Kok diem, sih? Jangan-jangan Mas harus ruqyah kamu lagi, ya?" candanya karena aku hanya diam memandangnya tak berkedip. Aku hanya tersenyum tipis menghadapi candaanya lalu kuraih tangan kirinya yang ada di dahiku. "Mas!" panggilku pelan dan berat. "Iya, Zel?" tanyanya tanpa melihatku. "Apa pun yang terjadi ke depannya, Zela minta jangan tinggalin Zela, ya? Karena Zela gak mau sendirian ... lagi," ucapku lirih membuatnya seketika menghentikan mobil hanya untuk memelukku. Ya Allah! Kumohon jangan biarkan aku kehilangan orang yang kucintai untuk kedua kalinya. Kumohon. (***) Aku demam hari ini. Kepalaku pening dan suhu badanku naik. Mungkinkah ini efek dari pikiranku yang hampir stress, apalagi setelah melihat kejadian malam di restoran. Karena merasa lemah dan limbung. Aku pun memutuskan untuk tak beranjak dari ranjang dan teronggok di kasur. Perfect. Sekarang, tak ada yang bisa kulakukan selain merebahkan diri. Tok. Tok. Tok. "Zela? Kamu udah bangun?" tanya Mas sambil membuka pintu. "Loh, kamu beneran sakit?" Setelah melihat aku melilitkan selimut tebal ke seluruh tubuh, dia buru-buru masuk untuk memeriksa keadaanku. "Ya Allah, Zel, harusnya kamu bilang sama Mas kalau demam, sekarang mana yang sakit? Mana kamu berkeringat lagi," cerocos Mas Alfa sembari memeriksa dahi dan denyut jantungku dengan seksama. Wajahnya terlihat sangat tegang, seolah aku pasien gawat darurat. Padahal, dia kan Dokter, kenapa juga harus berekspresi panik hanya karena aku sakit dan berkeringat. "Enggak apa-apa, Mas, mungkin Zela masuk angin. Nanti juga sembuh kok," ujarku menenangkannya. "Kamu pusing?" "Iya." "Ada mual?" "Iya." "Heum sepertinya anemia kamu kambuh, pasti kamu kecapean," terkanya dengan diagnosis yang tepat. Aku menganggukkan kepala, sudah kuduga dia kan Dokter pasti tahu apa yang kurasakan tanpa harus aku bilang dan juga dia pasti sudah memeriksa riwayat penyakitku waktu aku menyerahkan berkas lamaran. "Ya, sudah kamu tunggu di sini, saya mau buatkan dulu makanan yang mengandung zat besi, agar kamu bisa makan dan lanjut minum obat." Tanpa menunggu persetujuan, lelaki itu pun keluar dari kamar, sementara aku hanya bisa memejamkan mata, merasakan sakit di kepala yang kian menghebat. (***) Mataku terbuka ketika sesuatu yang menempel di keningku terjatuh. Oh, ternyata plester penurun demam. Aku tersenyum tipis. Pasti Mas Alfa yang meletakkannya, diam-diam aku bersyukur Mas Alfa-lah suamiku. Walau dia terlihat panik, tapi dia tahu apa yang harus dilakukan. Buktinya, setelah makan bubur ati ayam buatannya dan minum obat, alhamdullilah tubuhku kembali bugar. Merasa bosan, aku pun memutuskan untuk mengubah posisi menjadi duduk dan tepat ketika aku bangkit kulihat Mas Alfa sedang tertidur di sofa yang ada di depanku. Kasian Mas Alfa, sudah mah dia kelelahan mengurusku masih juga harus bekerja, itu terlihat dari buku medis yang berserakan di bawahnya. Oh, iya, bukannya dia ada praktek sore ini? Merasa bersalah, aku pun langsung beringsut turun dari ranjang untuk mendekati sofa. Kududukkan pantatku di atas lantai, sambil memandangi wajahnya yang sangat tampan kala tertidur seperti ini. "Mas!" Aku membelai pipi putihnya pelan. Namun, Mas Alfa bergeming, matanya tetap terpejam membuatku tertarik untuk mengelus bulu mata panjangnya yang hitam. Indahnya ciptaan-Mu Tuhan .... "Eghh...." Dia pun menggeliat pelan mungkin geli karena jariku terus bergerak menyusur dari mata sampai ke hidung. Akhirnya, pas tepat sampai ke bibir dia pun membuka matanya. Sontak aku membelalakan mata, merasa ketahuan telah menyentuh secara diam-diam. Gelagapan, aku pun langsung menarik jariku hendak beranjak tapi tangannya lebih dulu menarikku. "Eh, mau ke mana?" cegahnya menahanku pergi. Tanganku yang digenggamnya, ia tarik lebih dekat sampai jarak di antara wajah kami terkikis. "Mas, aku mau ...." "Mau apa?" potongnya cepat seraya merengkuh tengkukku dengan tangannya. Sekarang, tinggal satu gerakan saja, maka hal yang kupikirkan akan terjadi. Dag-dig-dug. Kurasakan jantungku berdebar hebat, kala dia mulai memiringkan wajahnya 15 derajat. Gugup. Aku ingin sekali berkelit, tapi naluriku meminta berhenti untuk menikmati waktu dan aku hanya perlu menghitung mundur kala bibir kami hampir saja bersentuhan. Satu ... dua ... tiga.... I am lost my first kiss. Dia pun tersenyum seraya mengusap puncak kepalaku. "Sepertinya kamu sudah bener-bener sembuh, ya udah, saya ke luar dulu ya, mau nyiapin makanan buat kamu," ujarnya santai setelah menciumku. Sementara aku, masih bengong karena jantungku masih saja kebat-kebit enggak karuan, bahkan setelah dia menghilang di balik pintu kamar. Kuraba pipiku yang memanas dan aku pun tersenyum malu. Agh, sepertinya mungkin aku akan insomnia lagi malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN