Part 11. Kenyataan Pahit

1271 Kata
Seperti orang yang terlahir kembali. Hari ini aku beraktivitas tak seperti biasanya. Setelah aku sakit, aku seperti memiliki amunisi baru untuk mengisi semangat. Mungkinkah ini gara-gara ciuman yang tak sengaja itu? Sampai-sampai di mana pun yang kulihat hanya wajah Mas Alfa dengan bibir indah nan cipok-able tersebut. Astaghfirullah! Sudah kuduga, memiliki suami seperti Mas Alfa itu berat godaannya. Mau bagaimana pun perasaan hati ingin menghindar, tetap saja akan balik lagi terjebak pesona seorang Alfa. Harus kuakui, Mas Alfa itu memang layaknya zat adiktif level hot yang membuatku sulit berhenti memikirkannya, karena semua tentangnya telah menjadi fokus utama. Namun, meski aku sangat bahagia sekarang, tentu saja kemajuan dalam hubungan kami ini masih belum bisa membuatku lega. Bayangan tentang perselingkuhan Mbak Resa dan Pak Bayu masih menjadi pertanyaan besar yang ada di benakku. Perlahan, penasaran itu berubah menjadi rasa takut kala kusadari efek yang akan ditimbulkan jika mereka ketahuan mungkin akan tak terbayangkan sakitnya. "Huuh!" Aku menarik napas dalam. Siang ini aku ijin tidak masuk kerja pada Mas Alfa dengan alasan mau ada urusan ke rumah Mamah. Padahal, aku tengah bertekad untuk mencari sesuatu tentang fakta hubungan mertua dan Kakakku. Untuk itulah, meski tak ada urusan aku sengaja ikut menjadi pasien Pak Bayu, demi melihat apakah Mbak Resa datang kontrol kandungan siang ini. Setahuku, selama Mbak Resa hamil dia memang memilih mertuaku sebagai Dokter kandungannya. "Zela! Tumben ke sini? Mau periksa juga? Kok, gak kasih tahu Ayah?" Sial! Aku ketahuan. Tak kusangka pada saat aku baru saja mau mendaftarkan diri, Pak Bayu memergokiku di barisan para pasien poli kandungan. Dokter Kandungan senior itu tersenyum sumringah. "Ah, Ayah tahu, pasti kamu mau promil, ya?" tebak Pak Bayu dengan nada menggoda. Biasanya aku pasti akan tertawa atau tersenyum, jika digoda oleh Bu Imel atau Bapak mertuaku ini. Tapi, kali ini bayangan jijik ketika melihatnya berciuman dengan Mbak Resa menggugurkan rasa hormatku. "Enggak Yah, aku ke sini mau ...." "Zela! Hey, cek obgyn juga?" Belum selesai aku berbicara Mbak Resa tiba-tiba datang menyela kami. Benar dugaanku dia pasti ke sini, wanita itu langsung menyalami Pak Bayu seolah dialah suaminya padahal tak pernah sekali pun kulihat dia begitu pada Yoga. Agh, kenapa aku jadi kasian pada Yoga? Aku mematung sejenak, menyadari kalau Pak Bayu dan Mbak Resa terlihat sangat akrab bahkan tak segan Mbak Resa memegang lengan Pak Bayu yang terlihat tak nyaman dilihat olehku. Menjijikan. Entah kenapa rasa hati ini tiba-tiba muak. Ya, aku muak dengan yang namanya pengkhianatan. Mengapa ada orang yang tega mengkhianati pasangannya yang setia? Memalukan. "Zel, kok bengong? Kamu ke sini mau tes obgyn?" tegur Mbak Resa lagi. Tampaknya dia baru sadar kalau aku hanya diam menyaksikan mereka. "Eh, Mbak, enggak kok, Zela ke sini karena ada keperluan aja," jawabku mengelak. Ingin rasanya terus mengumpat tapi ini rumah sakit, aku harus tahan diri. Mbak Resa tersenyum canggung. "Oh, gitu, baiklah. Ehm, Pak Dok, apa saya bisa diperiksa sekarang?" tanya Mbak Resa tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke Pak Bayu. Bapak mertuaku itu terlihat kaget atas pertanyaan Mbak Resa yang to the point. "Ehm, maaf, Res, memangnya kamu sudah daftar? Coba daftar dulu, nanti baru ke poli." "Tapi Mas, eh, Pak Dok!" Mbak resa tampak gemas dan tak suka karena diminta Pak Bayu untuk mengantri. Sewajarnya, jika dia pasien biasa, dia tak akan semarah itu ketika diminta Dokter untuk melakukan sesuai prosedur tapi ini berbeda. Mbak Resa tampak kesal sekali, membuat kecurigaanku semakin besar. Namun, sadar keberadaanku hanya membuat mereka tak menunjukan sisi buruk mereka, aku pun berinisiatif untuk mohon diri dan menguntit mereka diam-diam. "Ma-maaf Mbak, Yah, kayaknya Zela duluan aja, ya? Soalnya keperluannya kayaknya udah selesai," ujarku pamit pada Mbak Resa dan Ayah. Sekilas kulihat mereka berpandangan lalu keduanya menganggukkan kepala. "Oh, iya, silahkan Zel, hati-hati!" ujar Pak Bayu ramah sedangkan Mbak Resa hanya melengos tak perduli. Setelah berbasa-basi, aku pun langsung pergi ke tempat yang aman tapi masih bisa melihat keberadaan keduanya. Aku pun memilih pura-pura ke toilet dekat poli Obgyn, karena kulihat keduanya mulai berjalan ke arah poli. Sekarang, aku bertekad tak akan kecolongan lagi, aku harus mendapatkan bukti. Namun, ternyata tak perlu waktu lama aku bisa mendapatkan pemandangan yang memerihkan hati. Baru saja aku berbelok ke toilet dan memutuskan untuk mengintip di baliknya. Mataku langsung menangkap pemandangan yang menyakitkan, kulihat berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri mereka kembali berhadapan di taman yang sepi depan poli Kandungan. Kali ini Mbak Resa tampak marah, tapi coba ditenangkan oleh Pak Bayu sampai akhirnya entah apa yang mereka bicarakan, usai obrolan itu Pak Bayu mengakhirinya dengan ciuman di kening Mbak Resa. Tak membuang kesempatan, bagai paparazi aku langsung memotret mereka dengan tangan yang gemetar dan d**a yang bergemuruh panas. Tak kupungkiri, kini tak ada lagi yang bisa kuragukan. Aku tahu mereka ada hubungan. Ya, mereka sama-sama pengkhianat. (***) Sesuai alasan yang kuberikan pada Mas Alfa, setelah mendapat bukti aku pun langsung pergi ke rumah Mamah. Aku ingin memberitahukan terlebih dahulu pada Mamah, karena bagaimana pun ini adalah masalah anaknya yang juga Kakakku. Sekaligus aku ingin memastikan. Apa Mamah tahu atau tidak perihal perselingkuhan ini? Kalau Mamah tidak tahu berarti kami adalah orang-orang yang benar-benar bodoh karena mau saja dibohongi Mbak Resa. Namun, jika Mamah tahu. Mungkin aku tidak bisa memaafkan Mamah dan Mbak Resa, karena aku sangat marah. Aku merasa ditumbalkan oleh hubungan laknat ini. Sampai di rumah Mamah, tanpa basa-basi aku langsung menunjukan apa yang kulihat di rumah sakit dan restoran kemarin pada Mamah yang saat itu sedang sibuk membuat adonan. Aku jelaskan bagaimana aku memergoki mereka sampai terakhir tadi siang. Sayang, meski aku sudah menggebu-gebu dan merasa ini tak adil. Mamah hanya menanggapinya dengan dingin, seolah dia sudah mengetahui semuanya. Runtuh. Kepercayaanku runtuh, melihat Mamah hanya menghela napas panjang tanpa emosi membuatku berpikir wanita setengah baya itu hanya berpendapat bahwa masalah ini adalah hal yang tak perlu kami diperdebatkan. "Sudahlah, Zel! Lupakan yang kamu temukan! Buang foto itu dan fokus saja pada hidupmu," ujarnya dengan wajah beku dan itu membuatku sangat frustasi. "Apa lupakan? Mana bisa, Mah? Ini perzinahan, Mah? Mamah tahu berapa dosa yang akan kita tanggung dan berapa hati yang akan tersakiti, jika kita menutupi ini?" sentakku pada Mamah. Ini kali pertama aku berani mengungkapkan pikiranku setelah selama ini diam. Tak terasa air mataku kembali menganak sungai, menyadari keluargaku ternyata begitu b****k. Saking bobroknya kelakuan Mbak Resa bahkan dilindungi oleh Mamahku sendiri. Padahal saat Ayah masih ada, dia mengajarkan kami bagaimana cara menjadi manusia yang berakhlak. Sekarang? Kakakku sendiri malah membuat keburukan ini kepada keluarga kami. Dia dengan buruknya melempar bom tepat ke muka keluarga Raharja dan keluargaku. Ini benar-benar menyakitkan dan lebih menyakitkan lagi ketika Malaikat pertamaku yang kuanggap paling baik di muka bumi, kembali telah mematahkan hatiku entah untuk ke berapa kali. Hancur. Remuk. "Zela! Lalu, kamu mau apa? Kamu mau keluarga Alfa menyalahkan Mbak-mu, iya? Kamu mau anak Mbakmu lahir tanpa Ayah? Kamu tahu, Zel. Mamah pun terluka, sama seperti kamu. Mamah pun sakit, sama seperti kamu dan asal kamu tahu mendengar Resa hamil di luar nikah sama sakitnya ketika mendengar Ayahmu meninggal karena menyelamatkanmu. Kamu penyebab Ayahmu meninggal, Zel!" "Ma-maksud Mamah?" "Iya, kamu anak Mamah yang tak seharusnya lahir Zel. Karena kelahiranmu hanya membawa sial! Mamah merasa menyesal melahirkanmu!" Jleb. Seolah ada hunusan pedang yang terhujam tepat ke jantungku ketika mendengar Mamah mengatakan kalau akulah penyebab Ayahku meninggal dan aku hanyalah pembawa sial. Otakku buntu, tubuhku beku dan lidahku kelu. Bagai orang yahg linglung aku menatap Mamah yang kini sudah menangis dan menatapku dengan tatapan mengiba. "Jadi, Mamah, harap kamu gak usah usik hidup kami lagi terutama Mbak-mu. Simpan bukti itu atau hapuskan! Setelah itu, pergilah! Mamah, enggak mau lihat kamu lagi," ucap Mamah seraya masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkanku yang tersungkur jatuh ke lantai. Menangis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN