Bab 12. Perlawanan

2004 Kata
Aku anak pembawa sial. Begitulah Mamah yang aku hormati menistakanku. Sakit, sangat sakit. Seolah hatiku ditumbuk oleh ribuan batu besar hingga pecah berkeping-keping. Tak pernah terbayangkan, aku akan mengalami nasib sehina ini. Kukira itu hanyalah stigma yang beredar di masyarakat, tapi nahasnya kini itu melekat padaku. Masih teringat saat dulu, Ayah memang pernah bilang kalau aku harus lebih kuat dari siapa pun karena hidup ini keras. Namun, tak kusangka akan sekeras ini. Sakit. Perih. Hancur. Seolah di dalam sini ada luka yang bernanah lalu disiram dengan air garam. Aku tak tahu harus tertawa atau menangis, karena saking kebasnya dilukai. Aku rapuh. Aku terluka dan aku sesak. Aku harus tahu kenapa keluargaku sangat membenciku. Petang ini, aku ijin pada Mas Alfa untuk pulang terlambat dan akan kembali secepatnya. Aku harus berkunjung ke rumah Nenek di mana di sana ada makam Ayahku juga. Aku yakin Nenek tahu apa yang terjadi pada keluargaku, karena dialah tempat curhat Mamah. Meski perih dan tersayat, hati ini kukuatkan demi suatu kebenaran, tentang kenapa aku disebut anak pembawa sial? Kurasa itu hal itu lebih penting dari apa pun sekarang, karena akhirnya aku bisa tahu kenapa aku diperlakukan bagaikan anak pungut dan ternyata terbukalah semua, Nenek pun menjelaskannya padaku dengan mata yang berkaca-kaca. Nenek bilang, Mamah dan Mbak Resa menyalahkanku karena semenjak kehadiranku usaha kami bangkrut, hutang di mana-mana karena selain sakit-sakitan, pada saat aku kecil, aku sering pulang-pergi ke rumah sakit dan itu mengakibatkan mereka sering bertengkar sampai akhirnya Ayahku meninggal karena telah menyelamatkanku saat aku mau tertabrak mobil. Dari sanalah Mamah mulai membenciku, bahkan sekarang kehamilan Resa pun kesalahannya dilimpahkan padaku. Namun, sesuai dugaanku Nenek sangat syok saat aku jelaskan bahwa Mbak Resa ternyata selingkuh dengan mertuaku sendiri. "Jadi aku harus bagaimana, Nek? Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau berdosa dengan menyembunyikan fakta ini, Nek, ini sama saja mengorbankan keluarga Prawira, aku tidak mau mengkhianati suamiku Nek, dia terlalu baik," erangku di sela isak. Nenek memelukku dengan penuh kasih sayang, dia menangis seolah memahami betapa aku terluka oleh semua ini. "Sabar ya, Sayang ... semua gimana Zela, jika Zela sanggup menanggung akibat dari terkuaknya hubungan terlarang itu yang akan berpengaruh pada pernikahan Zela, Nenek akan dukung Sayang. Tapi, jika kamu akan menutup mata pun dan memilih bahagia dengan Alfa, Nenek pun akan mendukung," ujar Nenek seraya mengelus punggungku berulang kali. Aku tak menjawab, entahlah ada rasa yang begitu menyesakkan hadir di dalam d**a kala kusadari bisa saja aku akan menyakiti Mas Alfa dan berpisah darinya jika kuungkap fakta ini ke permukaan. Namun ... egoiskan aku? Jika aku ingin tetap bersamanya. "Tapi, Nek, bagaimana dengan Yoga? Dia hanya korban dari semua ini, Nek. Aku tidak tahu harus bagaimana juga jika Yoga dan keluarganya tahu kalau dia telah ditipu walau Yoga pun salah karena sudah mabuk-mabukkan dan tergiur godaan Mbak Resa," ujarku seraya melonggarkan pelukan Nenek. Tak dapat kupungkiri, kalau peristiwa ini akan menyakiti banyak pihak termasuk Yoga. Mungkin saja banyak hati yang hancur tapi di sanalah dosa akan terhenti. Jujur saja, bagiku persoalan ini bagaikan buah simalakama. Mau dimakan sakit tak dimakan pun sakit. Namun, aku tahu pasti jika aku menutupi suatu perzinahan dosanya sama saja dengan orang yang berzinah bahkan bisa jadi terus bertambah karena aku telah membiarkan kemunkaran terjadi di depanku dan Tuhan akan murka karenanya. Nenek menarik napasnya dalam, lalu menyeka air matanya yang terus mengalir ke pipi. "Zel, sebagai seseorang yang berakhlak, pastinya kita akan coba untuk tidak menyakiti orang lain. Yoga tidak bersalah itu benar, tapi dia pun telah berzina dengan Kakakmu, biarlah ini menjadi tanggung jawabnya. Nenek pikir suatu saat fakta ini akan terbongkar dengan sendirinya, bagaikan bangkai yang jika terus disimpan maka dia akan mendatangkan bau. Bukan? Sekarang, saran Nenek hanya satu. Siapkan hatimu jika nanti akan terjadi sesuatu yang buruk pada pernikahanmu setelah bapak dari bayi Resa akhirnya ketahuan. Apakah kamu paham? Kamu belum memiliki perasaan pada Alfa kan, Zel? Sebelum terlambat, lebih baik kamu lepaskan Alfa, paling tidak dia akan menemukan perempuan yang lebih baik dengan keluarga lebih baik. Betul, kan?" Aku terkesiap mendengar pertanyaan Nenek. Tak bisa kubohongi perasaan sakit yang hadir saat baru saja aku membayangkan harus meninggalkan Mas Alfa dan melihatnya dengan perempuan lain. Agh, aku belum sanggup. Sudah kubilang kan, semua tentang Alfa membuatku serasa hidup kembali setelah lama menjadi zombi. Melihat aku hanya diam, Nenek lalu meraih tanganku. "Zel, apa kamu sudah sayang sama Alfa?" ulang Nenek karena aku hanya diam membisu, sementara air mata terus mengalir. Perih. "Zel!" panggil Nenek lagi membuatku mendongakkan kepala. Kutatap mata tua Nenek dengan rasa yang tak terungkapkan, aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri sebelum semua hilang. "Nek?" "Iya, Sayang?" "Egoiskah jika aku ingin bersamanya?" tanyaku dengan bibir bergetar membuat Nenek langsung memelukku erat. Menangis sejadinya. (***) Kata orang, jika kamu ingin berkorban jangan setengah-setengah dan sepertinya aku akan melakukan pengorbanan sekali lagi. Obrolan dengan Nenek tadi siang membuat perasaanku sedikit lebih baik. Betul, sekali pun kami harus berpisah Mas Alfa tidak boleh tahu kalau aku mulai memiliki rasa padanya. Suatu saat nanti, aku yakin dia akan menemukan perempuan yang lebih baik dari aku. Perempuan yang berasal dari keluarga baik-baik dan tak pernah menyakitinya. Paling tidak, dia tidak perlu mengorbankan dirinya, untuk menjadi suami dari anak pembawa sial sepertiku. Dia terlalu baik untuk itu. Maka, aku pun bertekad untuk menekan perasaan dan sebisa mungkin menghindarinya. Agar ketika dia meninggalkanku setelah tahu tentang aib dan rahasia terbesarku, jiwa ini tidak terlalu patah hati. Huft! Aku menghembuskan napas pelan. Entah berapa lama aku mematut diri di depan kaca. Malam ini, Mas Alfa berencana mengajakku untuk pergi ke undangan pernikahan sahabatnya. Jujur, ini kali pertama aku pergi dengannya sebagai pasangan. Hatiku jadi deg-degan takut mengecewakan, apalagi aku tak pede atas penampilanku. "Zel!" Sebuah ketukan membuatku menoleh ke arah pintu yang setengahnya terbuka. Aku tersenyum pada Mas Alfa yang entah kenapa menatapku tak berkedip. "Mas, gimana, Zela cocok gak ya, pake ini?" tanyaku pada Mas Alfa. Aku berputar agar Mas Alfa bisa menilai penampilanku. Hari ini aku memakai gaun berwarna biru elektrik dengan aksen bunga dan renda yang simpel di ujungnya. Rambut panjangku kugelung ke atas agar terlihat elegan, sementara untuk sepatu meski agak sakit aku tetap memakai higheels biar terlihat resmi. Bukannya menjawab, dia malah tertegun, sampai aku merasa bingung. "Mas, aneh ya, aku pakai ini?" ulangku sambil mendekatinya. Dia terkesiap lalu mengalihkan pandangan ke samping, berdehem. "Eheum! Kayaknya kamu gak usah berdandan terlalu rapi buat ke sana, lagi pula gak akan ada yang liat kecuali saya." Dia mengusap hidungnya, tanpa melihatku seolah menyembunyikan sesuatu. "Kok, gitu? Kan, aku ingin kayak Mas juga biar gak malu-maluin. Gini-gini juga, aku pernah jadi juara fashion show, Mas." Aku memberengutkan bibir mendapat respon menyebalkan darinya. Dia tidak tahu apa, aku hampir menguras setengah tabunganku agar bisa serasi dengannya malam ini. Enggak mungkin kan, istri seorang dokter sembarangan dalam berpakaian. Walau, aku tidak tahu kebersamaanku sampai kapan, aku bertekad menjadi istri yang terbaik ketika kami bersama. "Iya, tapi kecantikan kamu itu harusnya buat saya aja." "Oh, jadi aku cantik ya, Mas? Cie ... Mas-nya cemburu ya, kalau aku cantik? Kayak lagu Syahrini. 'Aku cantik kamu marah'," godaku sambil mencolek lengannya. Seketika mata elangnya langsung gelagapan. "Ih, apaan sih, ngawur!" ucapnya salah tingkah sambil membalikkan badan. "Udah jangan dibahas! Mas, tunggu di bawah, jangan telat, ya," lanjutnya sambil berjalan bak robot ke arah depan. Ish, kenapa sih, dia? Bilang cantik saja gengsi. Tapi, inilah yang membuatku enggak bisa move on. Tabah ... Zela! Ingat, kamu gak boleh jatuh cinta untuk sekarang. Dosa kamu besar. (***) Pesta pernikahan Mbak Enjel, temannya Mas Alfa berlangsung meriah. Hampir semua orang yang diundang tampaknya datang tak terkecuali Mbak Resa dan Yoga. Heran, aku tak pernah mengerti jalan pikiran Mbak Resa, dia itu pintar sekali ber-akting. Seingatku Mbak Resa memang satu SMA dengan Mas Alfa. Wajar jika dia datang ke sini memenuhi undangan temannya, yang enggak wajar adalah ketika dia malah lebih memperhatikan Mas Alfa dari kejauhan dibanding suaminya dan itu membuat Yoga juga memperhatikanku. Padahal jarak kami berdiri tidak jauh. Benar-benar berasa tukar pasangan. Tapi, bedanya kali ini aku tak memiliki perasaan lagi pada Yoga, karena hatiku sepertinya sudah beralih pada lelaki di sampingku yang kini tengah jadi sorotan para kaum hawa. Duh ... wajah Mas Alfa bisa dikarungin aja enggak, sih? Kesal rasa hati melihatnya dibicarakan para wanita di sekelilingku. Kuakui malam ini, baju tuksedonya membuat Mas Alfa terlihat semakin memesona. "Zel, kenapa cemberut terus? Kamu mau Mas, ambilin kue?" Aku menoleh padanya yang seperti paham kalau aku sedang tidak nyaman. "Ehm, enggak usah Mas, Zela lagi pingin makan orang," jawabku sewot. "Loh, kenapa?" tanya Mas Alfa sambil mengulum senyum. "Zela lagi coba jadi bodyguard biar mereka tahu, Mas ada yang punya. Udahlah, Zela mau ke toilet," pamitku dengan wajah bete karena mendadak kebelet mau ke kamar mandi. "Ya, udah hati-hati, ya, Azela istrinya Mas," ujar Mas Alfa sambil tertawa. Sepertinya dia tahu aku lagi cemburu. Setelah menitipkan tas pada Mas Alfa aku pun mencari toilet. Nahas, baru saja melihat pintu toilet aku sudah berpapasan dengan Mbak Resa tepat di depannya. Awalnya, aku mau melengsos saja karena tidak ingin berurusan saking muaknya. Lagi pula bertanya tentang hal yang terjadi di rumah sakit pun bukan waktunya. Jadi, lebih baik aku menghindar tapi ternyata Mbak Resa yang lebih dulu nge-gas. "Enak ya, jadi pasangan Alfa? Biar dapat perhatian gitu?" Asem! Aku melotot mendengarnya menyindirku sedemikian rupa. Masalahnya ini di depan orang. "Oh iya, dong, saya istrinya yang sah. Kenapa memang? Kalau Mbak syirik perhatiin sana suami Mbak sendiri, bukan perhatiin suami aku," balasku dengan gaya paling elegan yang aku punya. Kali ini aku tak mau takut lagi, soalnya aku udah punya kartu As tentang Mbak Zela. "Oh, sekarang berani ya, kamu ngajarin aku! Siapa yang menggoda suami orang coba? Saya tahu apa yang kalian lakukan di belakang saya. Kalian masih suka chat-an, kan?" sentak Mbak Resa memfitnahku. Bodohnya, itu membuat semua orang berkerumun menyaksikan kami termasuk Yoga. Lelaki itu mencoba menarik lengan Mbak Resa tapi Mbak Resa menolak kasar. Tak ada pilihan kalau difitnah begini sudah kewajibanku meluruskan. "Enak saja Mbak, Mbak boleh lihat dichat saya, semua chat suami Mbak enggak pernah saya balas, silahkan tanya pada Yoga! Awalnya saya gak mau buka, tapi Mbak yang bahas! Jadi, siapa yang genit sama siapa? Bukannya, Mbak yang tadi lirik-lirik sama suami saya? Hah?" balasku sengit karena aku merasa tak nyaman mendengar selentingan di belakangku. Mereka saling menunjuk dan menuding, bahkan samar-samar aku dengar ada yang bilang kami adalah Kakak-Adik yang suka tukar pasangan. Sakit, marah dan ingin menjambak rambut Mbak Resa tapi kutahan. Aku tidak mau harga diriku hancur. "Lirik-lirikan? Berani ya kamu fitnah Mbak! Awas, ya! Mbak bilang sama Mamah pulang dari sini!" "Emang kenapa kalau saya berani? Sekarang saya gak takut karena saya tahu kok, siapa sebenarnya Mbak! Dan itu memuakkan!" ledekku dengan tatapan tajam. Mendengar penghinaanku Mbak Resa tampaknya meradang. Mungkin dia kaget aku yang terbiasa pendiam sekarang jadi berani membalasnya. Aku menyeringai sinis. Biarkan dia marah. Biar dia tahu orang yang terluka pun sekali-kali bisa melakukan perlawanan. Bisa jadi ini saatnya. "Sialan, berani ya, kamu hina Mbak?! Dasar kamu anak pembawa sial!" Kulihat tangan Mbak Resa sudah teracung mau menampar pipuku. Sontak aku melotot kaget tapi ternyata saat aku mau menghindar tangan lain sudah lebih dulu menahan tangan Mbak Resa. Mas Alfa? "Sudah sandiwaranya, Res?" tantang Mas Alfa dengan tatapan setajam pedang. "Alfa? Tolong jangan ikut campur! Lepasin aku! Aku mau menamparnya!" Tunjuk Mbak Resa padaku dengan membabi buta, wajahnya sudah merah padam karena amarah. "Cih! Lepasin? Nih, saya lepasin! Tapi, inget! Jangan sekali-kali menyentuh Zela! Karena dia istri saya, saya yang tahu betapa setianya dia enggak kayak kamu!" tegas Mas Alfa sadis seraya melepas kasar tangan Mbak Resa yang langsung mengaduh. Melihat itu Yoga pun langsung memeluk Resa, diam-diam aku merasa miris. Namun, belum sempat aku mencerna keadaan tiba-tiba tanganku ditarik Mas Alfa. "Ayo, Zel! Kita pulang! Toilet di sini gak aman!" ajak Mas Alfa cepat seraya mengamit lenganku melewati kerumunan manusia. Meninggalkan Mbak Resa yang meraung emosi di samping Yoga yang hanya bisa menarik istrinya dengan dingin. Syukurin, lo! Mampus kan, sama Mas Alfa. Tiup poni! Tsah!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN