POV ALFA
Aku tak perduli sama sekali jika ada yang berpikir kalau aku terlalu berlebihan membela Azela. Aku tak perduli jika aku dikira menikahi anak pembawa sial dari kalangan keluarga Raharja. Aku pun tidak perduli kalau aku disebut telah berubah karena kehilangan keramahanku yang biasa kutunjukkan pada pasien. Lalu, aku juga tidak perduli jika nanti akan banyak tantangan yang harus kulewati demi menggenggam tangannya erat karena aku tahu gadis ini begitu banyak mengalami luka.
Jika bukan aku yang menjaganya sebagai imam, maka siapa?
"Mas Alfa ...." Zela memanggil namaku lemah kala kami sudah sampai di parkiran.
"Heum?"
Aku menggumam menanggapi panggilannya sembari berhenti, mengecek kondisi Azela. Otakku jelas memahami gadis itu pasti sangat syok setelah pertengkaran yang terjadi antara dia dan Resa. Sesungguhnya, aku baru pertama kali melihat gadis itu membela diri karena selama ini dia hanya bungkam dan menyimpan kisahnya sendiri.
Zela mendongakkan kepala untuk menatapku seraya tersenyum, wajahnya terlihat semakin cantik karena ada semburat merah yang muncul di kedua pipinya.
"Mas, Zela mau ngucapin makasih buat yang tadi, tapi gimana kalau ada pasien di antara tamu? Pasti mereka berpikir Mas kasar karena tadi saat kita pergi Zela lihat ada banyak yang berbisik-bisik, Zela jadi gak enak padahal Mas biarin aja Mbak Resa pukul Zela," ujarnya terlihat khawatir.
Inilah yang kusuka dari Zela, dia selalu memperdulikan orang lain sebelum dirinya, tapi sikap seperti ini juga yang terkadang membuatku kesal. Kesal karena aku tidak tahu harus bagaimana untuk menyadarkan Zela kalau tidak semua yang terlihat baik itu baik. Seperti tidak semua niat baik akan diterima baik.
"Mas, kok, bengong? Zela salah ngomong, ya?" Dia memegang tanganku karena aku hanya diam menatapya.
Aku menyunggingkan senyum tipis seraya mengelus puncak kepalanya. "Zel, bagi Mas nggak masalah mereka nuduh Mas macam-macam. Toh yang Mas bela bukan orang lain tapi istri sendiri, ya, kan?" kataku menenangkannya.
"Jadi, Mas gak perduli nikah sama anak pembawa sial? Kalau kebawa sial gimana? Hayo!" katanya sambil memanyunkan bibir. Lagi-lagi dia mengujiku.
Apakah dia masih takut, aku akan meninggalkannya?
"Oh, kalau masalah itu tenang kamu jangan khawatir karena Mas itu pembawa keberuntungan, berarti kita klop kan?" godaku sambil terkekeh.
Zela memukul lenganku pelan. "Ish pede, aku serius Mas, Mas tahu kan, apa yang mereka bicarakan? Bahkan Mamah dan Mbak Resa saja ingin menghindariku, Mas gak takut kalau ...."
"Zela, Mas tidak pernah percaya tentang mitos seperti itu. Oke-lah, memang terkadang ada saja yang beranggapan demikian. Tapi, bagi Mas, anak pembawa sial, perempuan pembawa sial atau apalah namanya itu hanya asumsi yang tak berdasar. Kamu tahu cerita nabi Musa as?
Dulu sang nabi pun pernah dituduh sebagai pembawa sial oleh Firaun, Tuduhan itu Firaun layangkan saat Allah mencabut nikmat kesuburan pada tanah Mesir, padahal sebelumnya Mesir hidup dengan kemakmuran maka Firaun menuduh musibah itu disebabkan oleh Musa. Tahu, apa yang terjadi?"
Aku sengaja menjeda untuk melihat ekspresi Zela yang menggemaskan.
"Apa Mas yang terjadi?" tanya gadis itu dengan wajah penasaran. Tampaknya Zela sangat tertarik akan kisah yang kusampaikan.
"Untuk mencegah tuduhan semakin meluas Allah langsung menurunkan ayat yang intinya, 'sesungguhnya kesialan yang mereka alami merupakan ketetapan Allah SWT. Sedangkan banyak dari manusia yang tidak mengetahui' itu ada dalam quran surat Al-Araf. So, kamu paham kan, kenapa Mas tak percaya tentang itu?"
Zela tak langsung menjawab, dia hanya terdiam sembari menundukkan kepala selama aku menjelaskan, wajahnya tampak sendu juga terharu membuatku ingin sekali memegang pipinya dan membawa Zela ke dalam pelukan yang hangat tapi aku cukup waras untuk tak melakukan itu di parkiran.
"Zel, are you ockay?" tegurku karena dia terdiam lama. Sepertinya, gadis ini sedang memikirkan sesuatu yang masih berat untuk dibaginya.
Kulihat dia menyeka sudut matanya sebelum menatapku, lalu seketika pipi Zela yang putih kembali memerah dan dia pun tersenyum lebar seolah tak mau suaminya khawatir.
"Ockay, banget dong Mas. Ceritanya bagus. Lebih bagus lagi kalau diajak makan martabak," sahutnya sambil mengelus perut dan aku pun tertawa.
Dasar bocah! Bikin cemas saja.
(***)
Ponselku bergetar berulang kali, sampai aku benar-benar membuka mata dini hari ini.
"Agh, jam setengah empat pagi," gumamku seraya memijit pelipis yang terasa lelah.
Meski berat, perlahan kubuka mataku lebih lebar, entah kenapa setelah mengalami kejadian melihat salah satu pasien-ku meninggal dengan ikhlas dalam melawan penyakitnya, aku jadi bertekad untuk lebih memperbaiki diri dan memperdalam ilmu agama.
Gegas, kupaksakan diri untuk bangun dari ranjang kemudian berjalan menuju pintu kamar, berniat ke kamar mandi. Tak terduga, bersamaan dengan aku yang membuka pintu, ternyata pintu kamar toilet yang tepat berhadapan dengan kamarku pun terbuka.
"Zela?"
Mataku sontak membelalak, begitu pun Zela. Dalam waktu sepersekian detik mata kami bersitatap sebelum Zela berteriak kencang karena terkejut.
"Aaaa!" Zela yang lebih dulu sadar langsung masuk lagi ke dalam toilet. Sementara, aku langsung memalingkan muka gelagapan.
Tak bisa kucegah, saat itu kurasakan hormon feromonku seketika meningkat sampai-sampai darahku berdesir cepat dan jantungku berlonjakan.
Ya Allah! Kenapa ritme jantung ini jadi enggak beraturan? Tenang ... tenang. Seperti orang bodoh, aku memegang dadaku yang berdebar kencang.
"M-Mas kok, sudah bangun?" teriaknya dari dalam kamar mandi.
Lah, orang bangun dimarahi? Aneh, Zela mah.
Alih-alih menjawabnya, aku malah sibuk menetralkan debar yang tak kunjung normal.
Lelaki mana yang bisa bersikap biasa saja saat melihat wanitanya hanya mengenakan handuk sampai d**a?
Agh, tak kusangka niatku untuk mengerjakan shalat malam membuatku bertemu dengan Zela yang sepertinya baru mandi dan keramas.
Benar-Benar hiburan bagi yang mau berniat baik. Diam-diam aku mengulum senyum.
"Mas!" panggil Zela lagi membuatku sadar kalau aku telah begitu lama tertegun.
Agar tak membuatnya berpikir macam-macam, aku pun berjalan mendekati pintu toilet. Berjaga-jaga, kalau dia butuh sesuatu karena malu.
"Iya, Zel?" sahutku dengan nada suara yang dibuat tenang. Aku tidak mau kalau Zela tahu tentang kegugupan yang telah melanda diri ini.
"Mas, kenapa bangun?"
"Mau solat," jawabku, singkat. Hening sejenak, sampai akhirnya dia membuka pintu kamar toilet sedikit.
"Mas!" Zela berbisik lewat celah pintu yang terbuka.
"Heum?"
"Bisa tolong ambilkan baju Zela?" tanyanya dengan nada yang sama gugupnya. Pasti gadis itu tengah merutuki dirinya sekarang karena begitulah dia.
"Bisa, di mana itu?"
"Di kamar di atas nakas. Ambil semuanya ya Mas, gak usah dilihat-lihat dulu, awas!" ancam Zela terdengar lucu.
Cih! Pasti dia menerka aku sedang berpikiran m***m.
Aku pun menghela napas pasrah, beginilah kalau menikah dengan orang yang belum jelas perasaannya. Semua hal jadi privasi. Sesuai saran Zela, aku pun langsung mengambil baju Zela beserta perintilannya. Dasar perempuan! Mau mandi saja perlengkapannya kayak mau camping.
Tok. Tok. Tok.
"Zel! Ini bajunya, ayo cepet buka!" Ketukku beberapa kali di pintu sampai Zela membuka pintu dan menyembulkan kepalanya dari baliknya.
"Ma-makasih Mas, maaf merepotkan," ujarnya pelan yang langsung kusambut dengan anggukan.
Sambil menunggu dia memakai bajunya di kamar mandi, aku pun mengambil gelas lalu memutuskan untuk minum sambil duduk di kursi pantry. Akibat kejadian tadi, kerongkonganku mendadak kering juga haus.
Agh, entah sampai kapan aku bisa menahan diri. Namun, sesuai prinsip yang aku pegang, aku tak akan menyentuhnya sampai aku tahu perasaan Zela yang sebenarnya. Sebagai lelaki, aku bisa menunggu sampai hatinya hanya untukku dan bukan untuk Yoga. Walau, perlahan aku mulai merasa ragu.
"Mas, Zela udah selesai," ujar Zela yang tiba-tiba muncul di depanku dengan sudah memakai baju.
Muka Zela subuh ini benar-benar terlihat sangat memesona, entah skin care apa yang dia pakai tapi yang pasti disapa olehnya saja sudah membuat hati ini berbunga.
Aku meletakkan gelas dengan salah tingkah. "Oke, Mas mau ke toilet."
Belum juga aku beranjak, Zela lebih dulu menahan tanganku.
"Mas, tadi gak liat apa-apa, kan?" tanyanya dengan muka malu.
Anehnya, dengan sikap Zela yang begitu aku malah ingin menggodanya.
Aku pura-pura memutar bola mata enggan lalu kembali berjalan menuju kamar mandi.
"Mas! Kok malah melengos? Mas, gak lihat apa-apa, kan?" serunya lagi panik.
"Ya, lihatlah! Masa gak liat? Rugi dong?" candaku santai sambil menutup pintu tak memperdulikan Zela yang heboh di luar sana.
Dalam hati aku berdoa. Semoga kejadian tadi, suatu saat bisa terulang lagi dan bahkan lebih.
(***)
Hari ini kerjaaanku benar-benar padat. Tadinya ingin sekali menjemput Zela agar bisa makan siang lalu menuju klinik secara bersama-sama, tapi tiba-tiba ada dua koas meminta untuk berkonsultasi. Sebagai senior mereka di stase penyakit dalam, mau tak mau aku pun harus menjadi pendengar yang baik, alhasil Zela-lah yang mengalah, dia bilang akan menemuiku di rumah sakit untuk menghemat waktu.
Sebenarnya aku tidak enak memintanya bersusah payah ke sini, tapi dia bersikeras ingin makan siang denganku di rumah sakit. Katanya, dia sengaja memasak agar bisa disantap olehku.
Setelah satu jam berdiskusi, akhirnya dua koas itu pun undur diri karena merasa telah cukup menerima masukan.
Usai kedua koas itu keluar ruangan, aku pun langsung menyandarkan tubuh ke sandaran kursi sambil menunggu Zela datang.
Siang ini, entah kenapa otakku ini terasa sangat berat karena selain aktivitas sebagai dokter yang menyita waktu, hatiku pun sejak tadi teringat ucapan Reno tentang keanehan Zela akhir-akhir ini.
"Lo, coba deh ajak Zela honeymoon atau liburan, bukannya kalian belum pernah menghabiskan waktu bersama? Kata lo, dia kelihatan sedih terus. Nah, bisa jadi dia butuh hiburan."
Begitulah saran Reno, ketika kusampaikan kegundahanku. Reno itu sahabatku di rumah sakit ini, bedanya dia adalah seorang dokter bedah dan dia sudah berpengalaman dalam pernikahan.
Aku menghembuskan napas panjang, seraya menimbang-nimbang ucapan Reno.
"Ho-ney-moon?" Aku mengeja kata itu pelan-pelan.
Aneh, dengan membayangkannya saja d**a ini sudah berdebar sangat kencang. Walau aku tahu, honeymoon versi kami jelas saja berbeda.
"Assalammu'alaikum."
Di tengah kesibukanku berpikir, tiba-tiba pintu ruanganku dibuka seseorang. Ternyata itu Zela.
Aku terkesiap melihat tampilannya siang ini. Dalam pandanganku, gadis itu tampak sangat cantik dengan memakai dress lengan panjang yang aku beli untuknya tempo hari.
"Mas?" Zela melambaikan tangan di depan wajahku.
Aku segera tersadar dan tersenyum tipis padanya. "Eh, iya, kamu udah datang," kataku.
"Mas, kenapa sih, kok, bengong?" tanya Zela seraya meletakkan susunan tupperware di atas meja lalu duduk di hadapanku.
Aku menatapnya lurus, mencoba menyusun kata-kata terbaik agar dia tak salah paham.
"Zel?" panggilku gugup.
Sumpah! Rasanya jantungku hampir saja palpitasi hanya gara-gara mau mengajaknya pergi berdua saja sesuai saran Reno.
"Iya, Mas?" Wajah cantiknya terlihat bingung karena melihatku yang tiba-tiba serius.
Aku menarik napas dalam, membuat ancang-ancang.
"Honeymoon, yuk?" tanyaku langsung membuat iris mata Zela seketika melebar sempurna.
"Hah? Honeymoon?" Zela sontak terkejut sementara aku hanya bisa tersenyum menyeringai.
"Iya, besok, ke villa. Berdua aja," bisikku pelan tapi cukup berhasil membuat Zela terdiam dan wajahnya memerah merona.
Melihat itu, aku pun tersenyum bahagia. Tampaknya ajakanku berhasil.
Savage, Alfa! Selamat!
"Mas, emangnya kalau honeymoon kita mau ngapain?" tanya Zela tiba-tiba.
Dan aku pun menepuk jidat.