Kau menjebaknya! Dasar bodoh! Dia bisa saja kesal denganmu! Agh, peduli setan! Toh sejak awal dia ingin melepaskanku dan merasa tak bahagia! Aku tersenyum miring ketika melihat Zela sudah berdiri di depan pintu rumahku. Sesuai janjinya untuk membayar hutang, gadis itu sepagi ini sudah siap untuk bekerja sebagai asisten. Dengan mengenakan celana kulot warna hitam dan kaos lengan panjang, wanitaku itu terlihat sangat manis, polos dan menggemaskan. Senang? Tentu saja. Bukankah tidak ada yang lebih membahagiakan ketika melihat seorang wanita yang selama ini kurindukan telah ada di hadapan. Bahkan luka-luka yang telah ia sebabkan serasa sirna hanya dengan melihat wajahnya. Namun, jangan harap aku akan berbaik hati menunjukan perhatianku seperti dulu karena aku tak mau Zela menganggap

