Bagian 8

1267 Kata
Setelah melalui berbagai pengarahan dan pelatihan fisik, akhirnya Sabrina bisa mulai merasakan menjadi CPNS. Sudah satu bulan ini dia mulai bekerja menjadi guru. Menyenangkan bisa bergabung dengan anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Hubungannya dengan Ismi pun semakin dekat, beberapa kali mereka sering nongkrong bersama untuk melepas penat setelah mengajar atau rapat bersama guru. Hubungannya dengan Bima masih terus berjalan seperti dulu dan baik-baik saja, hanya saja mereka sudah mulai jarang bertemu. Sabrina mulai memahami jika bekerja lumayan melelahkan. Apalagi Bima yang berjualan dan memproduksi jualannya sendiri kemudian dijajakan. Sabrina pun merasa bersalah dengan Bima karena dia masih sering merepotkan Bima disaat Bima pasti juga membutuhkan istirahat setelah berjualan. Sabrina berniatan untuk mentraktir Bima ketika nanti dia sudah mulai mendapatkan gaji. Karena memang menjadi CPNS tidak semudah itu juga. Dia harus menunggu tiga bulan untuk mendapatkan gaji pertamanya dan beberapa tunjangan. Dia bersyukur karena dia masih tinggal dengan orang tuanya dan Kanaya selalu memaksanya untuk membawa bekal sehingga dia tidak perlu bingung harus makan apa. Terkadang Kanaya meminta Sabrina untuk memberikan bekalnya juga kepada Ismi. Walaupun Kanaya belum pernah bertemu dengan Ismi namun berdasarkan cerita dari Atma dan Sabrina membuat Kanaya memahami bahwa menjadi anak yang tinggal jauh dari orang tuanya itu berat. "Sab, nanti nongkrong yuk ke Matos. Aku pingin beli beberapa perabotan buat di kos." Matos adalah salah satu mall di Malang. Matos merupakan singkatan dari Malang Town Square. Menyediakan berbagai keperluan dan dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti food court dan bioskop. "Kenapa nggak belanja di pasar saja sih, Is? Lagian mau beli perabotan kok harus ke mall. Yang ada kamu malah kepincut beli yang lain. Ingat, jadi anak kos keperluannya banyak." "Nggak gitu, Sab. Aku mau ke Ace Hardware perabotan sekalian. Beli yang bagus sekalian dong. Aku masih ada tabungan kok. Walaupun belum gajian tapi aku masih bisa makan kok. Jadi kamu tenang saja. Lagian ibu kamu juga sering ngasih aku bekal juga kan?” "Ya terserah saja sih. Tapi kita naik apa? Mobil online? Atau minta ditemani ayah? Aku jarang ke mall dan kalau pun ke mall biasanya sama keluarga atau temen kampus." "Jangan ah. Aku sungkan sama ayah kamu. Merepotkan kamu terus." "Gak apa deh. Sekalian saja siapa tahu ibuk atau ayah mau beli apa gitu." "Ya sudah, terserah kamu. Kalau ayahmu ndak bisa kita bisa naik mobil online. Aku mau masuk kelas dulu ya." "Oke siap. Aku hubungi ayah dulu deh. Aku di kantor aja. Jadwalku lagi kosong." Setelah mengenal Ismi satu bulan ini, Sabrina memang sudah mulai terbuka dan banyak bicara. Jadi tidak heran jika sekarang Sabrina sudah mulai banyak omong. "Oke." Ismi pun meninggalkan Sabrina dan segera menuju kelas yang harus dia masuki. Ketika Sabrina sedang asyik mengirim pesan ke ayahnya, datang seorang guru senior menuju mejanya. "Bu Sabrina sedang kosong ya jadwalnya?” tanya guru tersebut. "Iya bu. Kenapa ya? Ada sesuatu yang bisa Sabrina bantu nopo, bu?" Sabrina masih ada rasa unggah-ungguh untuk menghargai orang yang sudah senior. Bukan bermaksud menjilat. Namun, dia juga paham bahwa dalam dunia kerja junior harus selalu bekerja aktif dan membantu terhadap kegiatan apa pun di sekolah atau beberapa tempat kerja. "Itu, banyak buku baru yang datang. Bisa bantu bu Ika untuk menata dan memberikan identitas pada bukunya ya bu." "Oh iya bu, bisa. Bu Ika sudah di perpustakaan kah bu?" "Iya, sudah di sana. Bu Sabrina bisa segera menyusul. Sebelumnya terima kasih ya, bu. Saya ada jadwal di kelas jadi tidak bisa meninggalkan anak-anak." "Iya, bu. Kalau begitu saya ke perpustakaan dulu ya, bu." "Iya, bu. Terima kasih ya.” Sabrina pun mengangguk dan segera menuju perpustakaan untuk menemui bu Ika—pegawai yang bertugas untuk menjaga perpustakaan dan mengurus administrasi pada perpustakaan. Setelah mengucap salam, Sabrina segera bergabung dengan bu Ika untuk membantu memberikan identitas pada buku yang baru datang. Dengan membantu beberapa hal di sekolah tempatnya mengajar membuat Sabrina mendapatkan ilmu baru tentang berbagai hal. Sabrina sudah berada di perpustakaan hingga waktu sholat Dhuhur datang. Para siswa sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Hanya tersisa beberapa guru saja yang masih ada keperluan. Dering ponsel Sabrina membuat Sabrina menghentikan aktivitasnya membantu bu Ika. Nama ayah tertera pada ponselnya. Dia segera mengangkat telpon dari sang ayah. "Iya, yah. Assalamu'alaikum." "..." "Iya. Sab masih di sekolah. Masih bantu-bantu di perpustakaan." "..." "Oke kalau gitu, yah. Iya. Sabrina akan nunggu ayah." "..." "Iya. Wa'alaikumsalam, ayah." Setelah panggilan dari ayahnya diakhiri, Sabrina segera kembali membantu ke perpustakaan. Dia harus menyelesaikan dengan cepat. Karena ayahnya akan mengantarnya dan Ismi ke Matos bersama dengan Kanaya. Baru saja Sabrina akan membantu kembali pekerjaan bu Ika, ponselnya kembali berdering. Kali ini panggilan dari Ismi. Sabrina baru menyadari jika dia belum memberitahu Ismi keberadaannya. "Iya. Masih. Di perpustakaan. Sama ayah. Oke." Ismi menanyakan posisi Sabrina dan bagaimana keberangkatan mereka ke Matos. Ismi akan menyusul Sabrina ke perpustakaan dan membantunya agar pekerjaan di perpustkaan bisa segera selesai. Beberapa menit kemudian Ismi sudah bergabung untuk membantu bu Ika dan Sabrina. Sebenarnya bisa saja Sabrina ijin untuk pulang lebih awal, namun Sabrina dan Ismi sudah membuat kesepakatan jika mereka harus membantu berbagai pekerjaan dan urusan di sekolah. Walaupun rekan kerja mereka baik kepada mereka, mereka sadar diri jika mereka sering menjadi bahan pembicaraan karena Sabrina yang sering diantar jemput dengan mobil oleh ayahnya. Hal itu yang membuat mereka harus tidak selalu salah di hadapan para rekannya. Setengah jam telah berlalu dan semua buku yang sudah datang sudah diberikan identitas. Bu Ika meminta untuk mengakhiri kegiatan itu dan segera pulang saja karena jam mereka sudah selesai. Sabrina dan Ismi bersyukur karena mereka tidak harus lembur sampai terlalu sore. Sabrina segera memberitahu sang ayah jika urusannya sudah selesai dan mereka akan menunggu di kos Ismi. Dari sekolah mereka hanya perlu berjalan lima menit untuk sampai di kos Ismi. Sabrina ingin melepas lelah dan menumpang sholat Dhuhur sekalian di tempat Ismi. Setelah semua urusan beres, mereka segera pulang dan menuju ke kos Ismi. Atma datang ketika mereka sudah selesai sholat Dhuhur dan kembali memberikan usapan make up tipis pada wajah mereka. Mengajar juga membuat make up mereka di pagi hari mulai luntur. Dan mereka juga sadar bahwa pemakaian sun screen di siang hari sangat penting untuk kulit mereka. "Assalamu'alaikum pak dan buk." Ismi yang baru saja masuk ke dalam mobil langsung membuat kehebohan. Sabrina hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu. Atma dan Kanaya menyambut hangat Ismi. Mereka bersyukur Sabrina sudah mulai akrab dengan teman baru di tempat kerjanya. Karena mereka sadar jika Sabrina memang memerlukan teman yang berisik agar Sabrina lebih banyak berbicara dan mudah bersosialisasi dengan orang. Saat sampai di Matos, orang tua Sabrina segera mengajak mereka untuk makan siang lebih dahulu. Mereka sengaja tidak makan di rumah karena tahu jika Sabrina belum makan siang. Setelah makan siang mereka segera menuju ke Ace Hardware untuk membeli perabotan yang dibutuhkan oleh Ismi. Orang tua Sabrina hanya mengamati beberapa perabotan yang ada pada etalase. Mereka merasa tidak memerlukan perabotan baru. Mereka hanya ingin lebih mengenal teman Sabrina saja. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak mereka. Mereka bukan tidak percaya pada Ismi, namun namanya orang tua harus mengenal dalam teman anaknya agar tidak sampai kecolongan jika teman anaknya adalah orang yang tidak baik. Atma sudah meminta ijin pada Kanaya bahwa dia yang akan membayar segala keperluan Ismi. Mereka sadar bahwa Ismi adalah anak yang tinggal jauh dari orang tua pasti mengelola keuangannya harus baik. Bukan bermaksud merendahkan, namun mereka hanya ingin mengurangi beban pengeluaran Ismi. Mereka juga tahu bahwa Sabrina dan Ismi belum mendapatkan gaji maka dari itu Atma berinisiatif untuk membayar semua keperluan Ismi ataupun Sabrina. Bukan bermaksud sombong, namun Atma dan Kanaya berniat untuk membuat nyaman dan menganggap Ismi seperti anaknya sendiri. Karena mereka sadar bahwa Sabrina semakin ekspresif setelah mengenal Ismi. Orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Lagi pula berbagi pun tidak ada salahnya. Berbagi malah akan membuka segala jalan untuk melancarkan rejeki setiap manusia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN