*** Sunyi senyap, hanya terdengar helaan napas seseorang yang sesekali terdengar. Bahkan desau angin tak bisa masuk ke ruangan ini. Seolah takut pada tatapan tajam yang Zafi berikan pada apapun yang tertangkap matanya. Pasalnya, lelaki bertubuh tinggi itu terlihat murung sejak kembali dari pasar. Bukan karena sedang memikirkan kondosi Kanara, namun Zafi tak bisa berhenti memikirkan Namira. Bagaimana cara perempuan itu tertawa bahkan ketika ia menyibukan diri dengan Raksa tanpa sedikitpun menatapnya. Zafi mengingat semua itu dengan baik. Meski pikirannya memerintahnya untuk melupakan semua perasaan aneh yang menderanya ini, namun dia justru semakin mengingat perempuan itu. Zafi tidak tahu lagi bagaimana caranya membunuh sisa rasa cemburunya ini. Setiap kali mencoba untuk membenci Namir

