*** Namira terus berlari tanpa melihat ke arah manapun. Sesekali perempuan itu mengusap air matanya yang jatuh. Ia telah kalah dari rasa sesaknya hingga tak mampu lagi berpura-pura kuat di depan Killa. Namira tak bisa mengerti kenapa Killa hanya menyalahkannya. Sementara perempuan itu tak tahu apa-apa. Bahkan apa yang sudah Zafi katakan setelah semalaman meneguk nikmat bersamanya. Semua rasa sakit dan kesalahan hanya Namira yang menanggungnya. Sementara lelaki itu bebas melakukan apapun. Bahkan sedikitpun tak memiliki rasa bersalah. Hati Namira sangat sakit. Tidak ada tempat baginya untuk menghilangkan kesakitan ini, menghibur dukanya selain pada perempuan yang dulu pernah melahirkannya. Biasanya, Namira akan mengunjungi makam ibunya ketika ia tak mampu lagi menahan kesedihannya. Namun

