Kesan Pertama

1061 Kata
Dari ambang pintu ia menatap Adjie yang juga balas menatapnya. Seharusnya Ralia tidak kaget. Marini dan Maura sudah mengatakan kalau Adjie adalah teman satu kelas Aulia. Makanya mereka sempat berpikir untuk mengatakan yang sebenarnya pada Adjie dengan harapan Adjie mau membantu Ralia, tetapi Ralia tetap kokoh pada pendiriannya. Kemungkinan besar Adjie juga tersangka dalam kasus ini. Tepukan lempur di bahu membuat Ralia berjengit kaget. Ia menoleh dan di belakangnya sudah berdiri sang wali kelas. “Kenapa belum masuk?” Ralia mundur selangkah. “Ah, iya, Pak.” “Ayo, Bapak temani.” Ralia mengangguk kemudian mengikuti langkah Surya masuk ke dalam kelas. Suasana mendadak hening. Semuanya juga segera duduk ke tempat masing-masing laku menatap Ralia juga Surya yang berada di depan kelas. “Baik anak-anak. Sebelum Bapak Teguh nanti masuk untuk mengajar matematika, Bapak akan umumkan sesuatu. Teman kita mengalami musibah, Aulia terjatuh di tangga darurat, sekilas kondisinya baik-baik saja, tapi karena benturan cukup keras di bagian kepala, dokter mengatakan kalau Aulia mengalami amnesia parsial.” Sejenak keheningan berganti menjadi bisik-bisik pelan di tiap murid yang kemudian mereka menghunjam Ralia dengan tatapan menyelidik. Ralia meremas tangannya sendiri, tetapi kecemasan itu belum mau menghilang. “Jadi, Bapak harap semuanya membatu Aulia untuk kembali beradaptasi dengan lingkungan sekolah juga pelajaran. Baik Aulia, silakan duduk.” Ralia mengangguk kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Di hadapannya sudah berderet-deret meja dan kursi dengan enam baris ke belakang dan ke samping ada empat baris. Berarti kalau dijumlahkan satu kelas hanya terdiri dari dua puluh empat murid saja. Kalau Maura tidak mengatakan ini adalah kelas unggulan, Ralia pasti heran. “Aulia, silakan duduk,” ulang Surya. Ralia menoleh lalu mengangguk. Sekali lagi ia mengedarkan pandangannya. Satu-satunya kursi kosong yang ada di sana adalah satu di paling pojok dan yang membuatnya enggan duduk di sana karena kursi itu bersebelahan persis dengan Adjie. Sekali lagi Ralia menguatkan hatinya. Ia sadar, walaupun ditemani Maura, pada dasarnya ia sendirian. Langkah pertamanya terasa berat, tetapi langkah-langkah selanjutnya semakin ringan malahan Ralia berpikir ia tidak memijak kakinya di lantai. Ralia melepaskan tas kemudian menautkannya di sebuah kaitan samping meja. Adjie tersenyum kemudian mencondongkan wajahnya ke arah Ralia. “Amnesia, ya? Kamu benar enggak ingat aku?” Ralia mendorong dahi Adjie dengan jari telunjuknya. “Jauh-jauh sana!” Diusir seperti itu malah membuat Adjie tersenyum jahil. Ia menangkap telunjuk Ralia dari dahinya. “Kalau aku enggak mau bagaimana?” Ralia bisa merasakan hawa panas menyebar di pipinya. Kalau terus menerus melihat senyum Adjie yang memukau seperti itu, bisa-bisa ia terkena serangan jantung. “Lepas!” Adjie malah tersenyum semakin lebar kemudian menangkap jemari Ralia yang lain. “Tangan kamu kecil ternyata.” Ralia tahu wajahnya bukan sekadar memerah saja, ia pasti tampak begitu konyol dan sialnya lagi kini ia dan Adjie menjadi pusat perhatian. “Lepas, Adjie!” cicitnya dengan penuh penegasan. Adjie menggeleng, tetapi senyumnya makin merekah sempurna. “Baik anak-anak, Bapak akan kembali ke ruang guru. Aulia, kalau ada apa-apa, kamu boleh langsung melapor Bapak atau ke Adjie,” ungkap Surya. Dahi Ralia mengerut, spontan ia bertanya, “Kenapa harus Adjie?” “Dia ketua kelas. Bapak pergi dulu.” Setelah menatap kepergian Surya, Ralia kembali menoleh ke arah Adjie yang langsung melepaskan tangannya. Adjie menegakkan punggung hingga sebuah pin yang tersemat di atas saku d**a bagian kanannya terlihat oleh Ralia. “Bisa baca? Ketua kelas!” ujar Adjie berbangga diri. Ralia memberengut kesal lantas menoleh ke arah jendela. Hatinya mendadak nyeri ketika pemandangan hamparan lapangan sekolah menerpa matanya. Ralia bertanya, apa yang sekarang dilakukan oleh teman-temannya? Hari pertama sekolah pasti penuh dengan suka cita. Semua kawan-kawannya pasti sedang riang gembira. Semua keceriaan yang tidak habis-habis. Ralia tahu teman-temannya pun pasti merindukan dirinya. Sekali lagi Ralia menarik napas dalam-dalam. Ia tahu tidak mungkin baginya untuk berubah pikiran. Lagi pula, ia juga harus tahu apa yang terjadi pada Aulia. Kalau memang Marini merasa lingkungan rumahnya baik-baik saja, itu berarti masalahnya ada di sekolah. Bunyi derit kaki-kaki kursi yang bergeser membuat Ralia kembali menoleh. Dilihatnya Adjie sudah bersiap pergi. Dari posisi ini, postur tubuh Adjie tampak kian sempurna. “Ish, mikir apa sih, kamu Lia,” cicit Ralia sembari memukul kepalanya. “Bapak Teguh belum datang. Gue ke ruang guru dulu,” ujar Adjie yang kemudian diikuti anggukan pelan semua murid. Sekali lagi Adjie menoleh ke arah Ralia lalu tersenyum sebelum ia melangkah keluar kelas. Ketika punggung Adjie benar-benar tidak tampak, kecemasan Ralia semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba ia merasa sendirian. Adjie memang tidak membantu apa-apa, tetapi ketika orang yang dikenal Ralia pergi, Ralia merasa kekosongan hampa menohok hatinya. “Jadi, lo masih hidup?” Ralia mengalihkan pandangannya dari ambang pintu. Seorang gadis cantik dengan rambut hitam bergelombang sepunggung sudah berdiri di dekatnya. Ralia tidak ingin terkesima akan paras cantiknya, pertanyaan gadis itu terdengar begitu aneh. “Maksud kamu apa? Iya, aku baik-baik saja,” balas Ralia. Gadis itu tersenyum kemudian menggebrak meja Ralia hingga Ralia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. “Oh, sudah berani ngejawab sekarang, hah?” Jantung Ralia merosot hingga ke perut, hawa dingin menjalar cepat dari ujung kaki lalu menggunduk di belakang lehernya. “Ap-apa?” Tanpa banyak bicara, gadis itu menarik rambut Ralia sampai Ralia tidak tahu bagaimana caranya menjerit ketika rasa sakit menyebar di kulit kepala. “Berani lo liat gue kaya gitu!” Ralia tahu kalau air mata sudah mengenang di kedua pelupuk, tetapi otak di dalam rongga kepalanya kembali bekerja dengan baik. Ralia menarik tangan gadis itu dari kepalanya lalu berdiri cepat seolah menantang balik. “Kenapa? Kenapa memangnya?” balas Ralia. Sejenak gadis itu menatap tak percaya Ralia. Tangannya bergerak cepat menampar pipi Ralia hingga Ralia kembali terjerembap ke meja. Kali ini Ralia tidak lagi bisa menahan air matanya. Rasa nyeri di dalam hati mengalahkan sakit teramat yang menjalar di pipinya. “Hmm, nangis, 'kan, Lo?” Ralia tahu kalau gadis itu berbisik tepat di telinganya. Dadanya naik turun menahan sesak. Kedua tangannya ikut terkepal. Ingin rasanya ia menerjang gadis itu, tetapi Ralia perlu tahu lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi. “Woi!” Dengan cepat Ralia menegakkan punggungnya. Adjie sudah berdiri di ambang pintu, balas menatapnya dengan tatapan menyelidik. Adjie kembali berjalan menghampiri Ralia. “Kenapa Lo ada di sini?” Gadis itu mundur selangkah. “Cuma nyapa dia doang, eh, dia malah nangis, aneh.” Adjie kembali menatap Ralia. “Kamu ikut aku, ayo.” Ralia menatap tangannya yang digenggam Adjie kemudian kepalanya mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN