Hari Pertama

1056 Kata
Arif tidak henti-hentinya meremas tangan Ralia yang ada di genggaman. Sepanjang perjalanan dari rumah menuju sekolah, sesekali ia juga mengusap peluh di dahi seolah pendingin di mobil Heri tidak berfungsi dengan baik. “Aku akan baik-baik saja, Ayah,” ucap Ralia yang akhirnya ikut cemas sendiri karena Arif terus-menerus gelisah. Arif menarik embuskan napas. “Ya, semoga semuanya baik-baik saja.” Marini yang memperhatikan keduanya melalui spion tersenyum lembut. Ia tidak menyangka kalau Arif bisa dengan baik mengurus Ralia, sedangkan dirinya bahkan tidak bisa mengobrol lebih dari satu menit bersama Aulia. Marini tahu kalau Aulia selalu memiliki jarak dengannya. “Kamu kenapa?” tanya Heri yang duduk di kursi pengemudi. Marini menoleh sebentar lalu menggeleng. “Enggak kenapa-kenapa. Ah, di sana, setelah lampu merah belok ke kanan,” ucapnya sembari memberikan arahan pada Heri. “Dia sekolah di Pelita Jaya?” tanya Heri. Marini mengangguk. “Iya, kenapa?” Heri tidak sadar sudah mencengkeram erat kemudi. “Enggak. Enggak ada apa-apa.” Awalnya Marini hendak kembali bertanya, sebab ia tahu dari sorot mata Heri ada yang disembunyikan, tetapi ketika ia sadar kalau di jok belakang ada Ralia dan Arif, ia urung melakukannya. Tepat setelah lampu merah, mobil Heri belok sesuai arahan Marini kemudian memasuki gerbang yang terbuka lebar. Mobilnya melaju pelan di antara pada murid yang berdatangan lalu berhenti di sebuah lahan parkir. “Aku tunggu di sini, ya,” ujar Heri yang kemudian mematikan mesin. Marini membuka sabuk pengaman. “Kenapa? Kamu ikut saja dengan aku.” Heri menggeleng. “Maaf, tapi sebaiknya aku di sini saja. Pihak sekolah pasti nanti malah ingin tahu lebih banyak kalau dengar Ralia punya dua ayah.” Ralia tercekat mendengar penuturan Heri dan refleks menatap Arif yang kemudian mengangguk kecil seolah memberi isyarat kalau yang dikatakan Heri memang benar adanya. Ia hendak menyanggah, meski kenyataannya memang begitu, tetapi Ralia tidak bisa menerima kalau Heri mengakui dirinya sebagai ayah Ralia. “Ini sudah siang. Kamu harus cepat,” titah Arif pada Ralia. “Ayah!” “Jangan melakukan sesuatu yang aneh-aneh! Kamu ngerti maksud Ayah, 'kan?” Kali ini Ralia bungkam. Ia membuka kaitan sabuk pengaman, menyampirkan tasnya lalu keluar dari mobil dan gerakannya itu diikuti oleh Arif juga Marini. Kesan pertama ketika Ralia melihat gedung sekolah Aulia hanya menorehkan satu kata, yaitu megah. Dibandingkan dengan bangunan sekolahnya di Surabaya, Ralia sadar kalau kehidupannya di Surabaya berbeda jauh dengan Aulia. “Ayo, Ralia,” ucap Marini yang terlebih dahulu jalan di depannya. Ralia menoleh ke arah Arif yang secara cepat mengangguk kemudian mengikuti langkah Marini menuju ruang kepala sekolah. Setibanya di sana, mereka disambut baik oleh sang kepala sekolah, Harjanto, juga guru bidang kesiswaan Nelasari. Marini tampak gugup, tetapi sesuai dengan rencana, ia bertugas untuk menjelaskan segalanya. Terlebih dahulu ia mengeluarkan selembar surat pernyataan dokter dari tas lalu meletakkannya di meja. “Itu surat pernyataan dokter soal Aulia yang jatuh di apartemen kami,” ucap Marini memulai pembicaraan. Harjanto meraih surat itu, membacanya sebentar lantas memindah tangankan surat ke Nelasari. “Saya memang mendengar simpang siur berita seseorang yang jatuh dari lantai empat apartemen, tetapi melihat dari kondisi Aulia, sepertinya bukan Aulia orangnya.” Marini memaksakan senyum lantas mengangguk. Ia telah membayar mahal sejumlah media untuk bungkam, hingga kasus ini tidak dibesar-besarkan. “Tentang itu, saya juga mendengar, entah ini harus disyukuri atau tidak, tetapi karena lift yang rusak dan Aulia terpaksa menuruni tangga darurat, Aulia terjatuh dan karena kepalaku terbentur, sebagian dari ingatannya hilang. Dokter katakan hanya amnesia parsial,” ungkap Marini dengan mantap. Nelasari meletakkan kembali surat itu lalu menatap Ralia. “Kamu yakin bisa sekolah, Aulia?” Ralia mengangguk. “Ya, Bu.” “Mohon bantuannya, ya, Bu. Mungkin, Aulia akan tampak seperti siswi baru. Bahkan, awalnya pun, Aulia enggak mengenali kami ... orang tua kandungnya sendiri,” lanjut Marini yang kemudian berpura-pura menyeka sesuatu di ke dua sudut mata. Nelasari berpindah duduk tepat di samping Ralia kemudian menggenggam erat tangan Ralia. “Ya, tentu kami akan membantu Aulia. Kalau ada sesuatu kamu bisa hubungi Ibu atau Bapak kepala sekolah.” Suara pintu yang dibuka membuat semuanya kompak menoleh. Seorang lelaki berusia hampir tiga puluhan masuk dengan wajah penuh peluh dan dadanya naik-turun dengan napas tersengal-sengal. Lelaki itu mengedarkan pandangan pada semua orang yang ada di ruangan lantas berhenti di wajah Ralia. “Pak Surya? Masuk, Pak,” titah Harjanto. Lelaki yang dipanggil Surya itu mengangguk kemudian masuk lalu berdiri tepat di sebelah Harjanto. “Sa-saya mendengar kalau Aulia datang,” ucapnya terbata. Harjanto mengangguk lantas meraih surat keterangan dokter lalu menyerahkannya pada Surya. “Itu surat keterangan sakit dari dokter. Mohon bantuannya, Aulia sedang dalam masa pemulihan. Jadi, lebih diperhatikan,” lanjutnya. Bergantian Surya menatap surat dan Ralia. “Benar tidak ingat?” tanya Surya tidak percaya. Marini menangguk. “Benar, Pak. Menurut dokter, ini tidak bersifat permanen. Bisa cepat atau lambat. Kami masih melakukan terapi pengobatan,” jelas Marini. “Aulia, itu Bapak Surya, beliau adalah wali kelas kamu. Kamu juga boleh banyak bertanya padanya. Kamu juga bisa tanya sama Ibu,” tambah Nelasari. Ralia kembali mengangguk kemudian memberikan senyum tipis. Sekilas semuanya masih tampak baik-baik saja. Tidak ada yang aneh atau perlu diperhatikan. Guru-guru di sekolah Aulia tidak ada yang patut dicurigai. Setelah melakukan beberapa hal administrasi, ditemani Surya, Ralia, Marini dan Arif pergi menuju kelas Aulia di lantai dua bangunan kedua yang berjajar setelah ruang guru. Ralia kembali terkesima melihat luasnya sekolah Aulia, ia menoleh ke kiri dan kanan, berusaha menghafal semua yang diperlukan. “Ini ruang kelas Aulia,” ungkap Surya yang membuat semuanya berhenti berjalan. “Kalau ada apa-apa, bisa ke ruang guru. Kalau begitu, saya tinggal dulu,” ucapnya kemudian pergi. Arif langsung menggenggam erat tangan Ralia. “Lia, kamu yakin?” “Ayah, iya. Lia yakin!” “Ingat, waktu kamu hanya sebulan. Dapat petunjuk atau enggak, tetap kamu harus pulang ke Surabaya sama Ayah!” tegasnya. Ralia berusaha tersenyum dan kali ini sebaiknya ia menyetujui perintah Arif. “Iya, Ayah, iya.” “Kalau begitu, ini sudah mau masuk. Kami pergi dulu, ya, Lia?”  Ralia menoleh ke arah Marini lantas mengangguk. Setelah itu Marini dan Arif pergi meninggalkan Ralia yang merasa cemas bukan main. Namun, ia tahu di tahap ini tidak ada alasan baginya untuk mundur. Ralia meneguhkan tekad lantas masuk ke dalam ruang kelas, tetapi sekali lagi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang tidak asing lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN