Kala merasa gugup, Maura meremas-remas tangannya sendiri atau menggigiti bibir bawahnya. Sekarang, ia merasa lebih dari sekadar gugup. Beberapa pasang mata tertancap padanya. Ralia, Arif, Marini juga Heri. Semuanya sudah mengemukakan masing-masing pendapat. Sekarang, tinggal giliran Maura saja yang bicara.
“Iya, nanti Maura bantu Ralia,” ucap Maura yang akhirnya bisa bersuara.
“Apa sebaiknya kita minta bantuan Adjie? Menurut kamu, bagaimana Maura? Mereka itu satu kelas. Jadi, Adjie bisa bantu jaga Ralia,” ujar Marini.
“Enggak!” tolak Ralia mentah-mentah.
Maura menggeser posisi duduknya agar bisa lebih dekat dengan Ralia. “Lia, nyokap lo ada benernya juga. Gue sama Aulia tuh enggak satu kelas. Jadi, kemungkinan Adjie bisa jaga Lo di sana.”
Ralia mengerlingkan matanya. “Aku bilang enggak ya enggak! Kita enggak tahu Adjie itu berpihak sama siapa! Dia tetap bisa jadi tersangka ayah dari bayi Aulia!” tegas Ralia.
Maura melirik ke arah Marini dan Marini pun mengerti akan tatapan itu. Bagaimanapun, soal ini, ia satu pendapat dengan Maura. “Sepertinya Adjie enggak kaya begitu. Mama kenal Adjie, selama ini Adjie selalu bantu Aulia. Dia tetangga dan teman baik Aulia,” ungkap Marini.
Ralia menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa lantas melipat lengan di d**a. “Enggak semua hal buruk harus terlihat buruk! Pokoknya Adjie tetap dimasukkan ke dalam list tersangka!”
Arif memijat dahinya. “Sudahlah. Sekarang bukan waktunya untuk memperdebatkan hal itu. Ralia benar, Maura dan Marini juga benar. Ralia takut kalau-kalau Adjie memang ternyata penjahatnya dan Maura juga Marini mencemaskan Ralia. Kalian ada di pihak yang sama. Jadi, enggak perlu memperdebatkan hal ini.”
Semuanya menganggukkan kepala dan Ralia menoleh kemudian tersenyum pada Arif. Merasa lega karena sepertinya Arif telah memberikan dukungan seratus persen pada Ralia.
Besok, Ralia mulai masuk sekolah, tepatnya ke sekolah Aulia. Pertempuran ini baru dimulai. Ralia tidak akan mundur sebelum semuanya terjawab. Nalurinya mengatakan kalau semua jawaban ada di sekolah Aulia.
Setelah satu pertemuan singkat dan Maura menjelaskan secara rinci apa saja yang boleh serta tidak boleh dilakukan Ralia, Ralia pulang ke apartemen dengan perasaan gugup luas biasa. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia akan melakukan hal terbesar dalam hidupnya.
Ralia hendak mendorong pintu apartemen ketika ponselnya berdering. Senyuman cantik miliknya melebar sempurna. Orang yang bisa membuat Ralia tersenyum sedemikian lebar adalah panggilan telepon dari salah satu sahabatnya—Agnes di Surabaya.
“Halo? Iya, Agnes.”
“Lia, tadi aku dapat kabar dari pihak sekolah, katanya kamu ambil cuti, bener?”
Dahi Ralia mengerut. “Kok kamu bisa tahu?”
“Jadi beneran?”
“Iya. Ada satu hal di Jakarta. Jadi, aku akan tetap di sini, paling lama sebulan.” Ada satu tarikan berat di ujung sambungan dan Ralia sedih mendengarnya. “Maaf, aku belum bisa jelasin apa-apa,” lanjut Ralia.
“Yo memang, kamu harus jelasin ke aku sama teman-teman,” sambung Agnes.
Ralia tertawa pelan. “Iya, maaf. Ini semua buat Aulia.”
“Eh, bagaimana keadaannya sekarang?”
“Ya, masih begitu saja. Aku juga cemas kalau lihat kondisinya kaya gini. Mama bilang kalau dalam dua mingguan ke depan belum ada perubahan yang berarti, mungkin Aulia akan di bawa ke luar negeri.”
“Kamu mau ke luar negeri?”
Punggung Ralia menegak. Pertanyaan itu bukan berasal dari Agnes, melainkan dari seseorang yang entah sejak kapan ada di belakangnya dan Ralia tahu siapa seseorang itu.
“Lia? Kamu masih di sana?” tanya Agnes.
“Nanti aku hubungi kamu lagi.” Setelah dengan sangat terpaksa mengakhiri panggilan telepon Ralia memutar tubuhnya dan dugaan gadis itu benar.
“Kenapa? Kamu liat aku sudah kaya lihat hantu.”
“Adjie?”
“Ya, kenapa?”
“Sejak kapan kamu ada di situ? Kenapa kamu di situ?”
“Baru aja. Aku mau masuk ke rumah,” jawabnya santai sembari memperlihatkan kunci apartemen di tangan kanannya.
Ralia terdiam sembari memperhatikan Adjie dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dilihat dari arah manapun, Adjie adalah pemuda tampan dan ia tidak bisa berbohong soal itu. Bahkan, menatap wajahnya dalam sekian detik saja, bisa membuat Ralia malu sendiri. Cepat-cepat Ralia menaruh kembali ponselnya lantas hendak masuk ke dalam, tetapi Adjie malah menarik lengannya.
“Tunggu.”
Ralia kembali menoleh. “Apa?”
Adjie yang tersenyum, memperlihatkan lesung pipi yang melekuk dalam di ke dua pipinya. “Ini, kamu belum makan, 'kan?”
Ralia menatap bungkusan makanan yang disodorkan Adjie. Kalau boleh ia mengaku, memang benar perutnya sudah keroncongan, tetapi menerima apa yang diberikan Adjie jelas seperti menerima kebaikan musuh dan itu tidak akan terjadi.
Kening Adjie mengerut, ia menarik tangan Ralia laku memindahkan bungkusan itu ke tangan Ralia. “Kebanyakan mikir. Aku tahu kamu laper. Aku masuk dulu. Bye, Lia, sampai ketemu besok di sekolah.”
Ralia tercenung saat Adjie masuk ke unit apartemennya. Matanya tertuju pada tangan yang sudah menggenggam bungkusan makanan dari Adjie. Hatinya tiba-tiba meragu dan ingat apa yang sudah dikatakan Marini dan Maura. Mereka bersikeras mengatakan kalau Adjie adalah pemuda baik. Hingga kemungkinan Adjie adalah tersangka ayah dari bayi yang pernah dikandung Aulia sangat kecil malah nyaris tidak mungkin.
Tidak mau sampai ia terprovokasi oleh kalimat Maura, Marini dan tambahan perlakuan baik dari Adjie, Ralia cepat-cepat menekan bel pintu unit apartemen Adjie. “Adjie! Keluar! Adjie!!”
Daun pintu apartemen terbuka. Adjie keluar dari unit apartemen. “Kenapa?”
“Enggak usah sok baik sama aku!” desis Ralia yang kemudian memindahkan bungkusan makanan itu kembali ke tangan Adjie yang terperangah mendengar suara Ralia.
“Itu, kenapa?”
“Enggak usah tanya kenapa! Pokoknya jangan sok akrab sama aku karena aku enggak akan terjebak sama kamu!”
Ralia hendak pergi, tetapi gerakannya kalah cepat. Adjie menarik tangan Ralia, menekan kedua bahu gadis itu hingga menempel ke dinding apartemen. “Apa salah aku sama kamu?”
Jangankan untuk balas bicara, bernapas saja rasanya sulit dilakukan Ralia. Wajah Ralia berada sangat dengar dengan Adjie, bahkan Ralia bisa merasakan embusan napas Adjie menerpa wajahnya. Ralia bisa disebut buta atau bodoh bila tidak tertarik akan aura yang dipancarkan Adjie. Namun, lebih jauh dari itu, dari sekadar sebuah kekaguman pada paras tampan Adjie, Ralia merasa pernah bertemu dengan Adjie. Pernah melihat wajah Adjie sebelumnya.
“Jangan diam saja!” sentak Adjie.
Kewarasan Ralia kembali, gadis itu mendorong Adjie dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. “Dengar! Jangan pernah sok peduli sama aku!” lanjutnya.
“Kenapa? Apa salah aku sama kamu?”
Ralia diam, kalau dipikir-pikir, bila dugaannya meleset, maka sekarang ia sedang memarahi orang yang tidak bersalah dan itu kejam sekali. “Pokoknya aku enggak mau kamu dekat-dekat sama aku! Kamu dengar itu! Jangan baik sama aku!”