Persetujuan

1013 Kata
Ralia memperhatikan gerak-gerik Marini yang asyik mengotak-atik ponsel di sofa kemudian menoleh ke arah daun pintu yang tertutup. Arif belum kembali dari kantin rumah sakit. Ralia sempat ragu, tetapi akhirnya ia menghampiri Marini lantas duduk di sebelahnya. Marini refleks sedikit bergeser menjauh ketika Ralia duduk di sebelahnya. Ia meletakkan ponsel di meja lalu menatap Ralia seakan menanti apa yang akan di katakan oleh salah satu putrinya itu. “Lia, itu, tadi Lia dengar semuanya,” ucap Ralia. Dahi Marini mengerut. “Dengar apa?” Ralia sempat ragu, tetapi pada akhirnya ia kembali bicara. “Tadi, obrolan ayah sama Mama tentang masa lalu.” “Oh, soal itu,” timpal Marini yang dilanjutkan dengan satu tawa kecil. Ralia memberanikan diri untuk menoleh ke arah Marini. “Aku enggak tahu soal itu.” Ingin sekali rasanya Marini mengusap pipi Ralia, tetapi ia harus bisa menahan diri. Berpisah sekian lama telah meninggalkan luka, terlebih selama ini Marini pun menghindari Ralia karena merasa tidak enak hati telah memilih Aulia. “Soal apa?” “Soal Mama yang dilarang bekerja sama ayah. Padahal itu bisa bantu perekonomian keluarga. Ralia, Ralia pikir Mama ....” Tentu saja Ralia enggan meneruskan kalimatnya. Sekarang, entah mengapa ia takut menyakiti hati Marini. Marini kembali tertawa kecil. “Pikir kalau Mama materialistis?” tanya Marini meneruskan kalimat Ralia. Namun, gadis itu enggan untuk membenarkan atau pun sebaliknya. “Soal itu, bukan perkara besar. Apa yang kamu dengar jangan dijadikan satu tolok ukur atau alasan kamu kecewa apalagi benci sama ayah kamu. Arif adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Lelaki pasti punya ego dan harga diri yang harus dijunjung setinggi langit. Begitu pun dengan ayah kamu.” Kalimat-kalimat Marini tidak bisa dimengerti sekaligus. Ralia memang masih remaja yang hanya bisa menilai satu masalah dari permukaannya saja. Ralia masih dalam tahap memutuskan siapa yang salah atau tidak dan dalam kasus perpisahan orang tuanya pun, Ralia masih menentukan pihak mana yang bersalah lalu mencari pihak mana yang harus diberikan dukungannya. Jemari lentik Marini tiba-tiba menggenggam erat tangan Ralia hingga gadis itu tersentak, tetapi Ralia membiarkan tangan Marini yang setiap kuku-kukunya dicat warna merah muda lembut. Pandangan Ralia yang tadinya berfokus ke jemarinya yang digenggam Marini, pindah ke wajah Marini. Sontak Marini tersenyum lalu nalurinya sebagai seorang ibu menuntun Marini mengusap pipi Ralia. “Lia, kelak kamu akan mengerti. Mama akan selalu berdoa agar kamu mendapatkan pasangan yang bertanggungjawab seperti ayah dan enggak pernah mengambil jalan yang harus Mama lewati dengan berdarah-darah. Mama harus menyakiti banyak hati untuk bisa mencari kata lebih bahagia. Itu egois, tapi begitulah keadaannya. Mungkin, nanti kamu akan mengerti semuanya.” Ralia mengangguk-angguk. Ia memang masih tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Marini, tetapi sepertinya ia memang telah salah mengerti. “Soal Ralia yang berniat pergi ke sekolah Aulia, apa Mama enggak bisa bantu bujuk ayah?” Marini melepaskan tangan dari pipi Ralia kemudian menyandarkan punggungnya di bantalan sofa. “Kamu dapat sifat keras kepala kamu dari ayah kamu. Jadi, kamu tahu sendiri jawabannya apa, 'kan, Ralia?” Ralia bisa merasakan hawa panas menyebar cepat di kedua pipinya. “Ya, Ralia ngerti.” Marini kembali tertawa kecil. “Mama tetap berada di pihak kamu, Ralia. Bukannya Mama enggak sayang sama kamu dan enggak berpikir takut kamu kenapa-kenapa, tapi sepertinya rencana kamu benar. Mama juga enggak bisa diam saja membiarkan Aulia menderita sendirian saja. Soal Aulia mabuk dan pernah mencuri uang, itu bisa dijelaskan nanti. Mama juga enggak terlalu mempermasalahkan hal itu.” Ralia kembali bersemangat. Setidaknya ia tahu kalau salah satu orang tuanya berpihak padanya dan itu bagus sekali. “Tapi aku beneran mirip sama Aulia, 'kan? Orang-orang enggak akan tahu kalau aku bukan Aulia, 'kan?” Marini mengangguk. “Iya. Enggak akan ada yang tahu. Kalian sangat mirip. Hampir semuanya sama. Mama memang belum kasih tahu pihak sekolah soal insiden ini, tapi Mama enggak bisa menjamin pihak sekolah enggak tahu juga, tapi kalau memang kamu akan melanjutkan rencana ini, nanti Mama akan minta bantuan pihak sekolah untuk—“ “Sebaiknya enggak ada yang tahu soal rencana ini selain Maura,” potong Arif yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang perawatan. Kompak Ralia dan Marini menoleh ke arah Arif yang tersenyum lalu menghampiri keduanya lantas duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa yang diduduki Ralia dan Marini. “Ayah?” “Sebaiknya, kita cuma kasih tahu ke pihak sekolah kalau Aulia memang jatuh, tetapi sudah lebih baik dan karena benturan keras, beberapa ingatannya menghilang. Bila diperlukan, kita bisa bantuan pihak rumah sakit untuk memberi surat pendukung, ya, walau sebenarnya itu pura-pura saja,” lanjut Arif. Ralia mengerjapkan matanya tidak percaya dengan apa yang didengar dari Arif. “Ayah, itu, sungguh?” Arif melipat lengan di d**a. “Ayah lagi bicara sama pihak sekolah kamu di Surabaya. Belum ada jawaban pasti kamu boleh ambil cuti sekolah atau enggak, tapi waktu kamu di sini hanya satu bulan saja. Setelah itu, kalaupun harus dilakukan, Ayah akan seret kamu kembali ke Surabaya!” Ralia melebarkan senyumannya lalu memeluk Arif dengan erat. “Terima kasih, Ayah, terima kasih,” ucapnya berulang-ulang diselingi air mata. “Ralia, ini keputusan yang berat buat Ayah, tapi Ayah juga enggak mau Aulia dapat ketidak adilan. Ayah juga yakin semuanya pasti bisa dijelaskan. Kalau saja Aulia bisa cerita, mungkin semua ini bisa dihindari,” tambah Arif. Ralia mengurai dekapannya pada Arif kemudian duduk di tempatnya semula. Ia menatap Arif kemudian mengangguk-angguk. “Ralia setuju. Aulia memang harus dapat keadilan! Mengenai sekolah di Surabaya, Ralia berani ambil risikonya, Ayah. Ayah tenang saja,” ucap Ralia menyanggupi. Arif coba untuk tersenyum. “Teman Aulia yang datang kemarin, apa kamu bisa panggil dia ke sini? Kita perlu bicara beberapa hal,” tambah Arif. Ralia mengangguk-angguk. Senyumnya semakin lebar saja. Sepertinya Arif sudah hampir seratus persen menyetujui rencana ini. “Maura pasti bantu aku. Ayah tenang saja. Aku enggak bisa ditindas! Aku yakin bisa cari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita terhadap Aulia!” Arif kembali tersenyum. “Ya, Ayah percaya sama kamu.” Ralia kembali menoleh ke arah Aulia yang terbaring. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak bisa menantikan hari itu datang. Hari ia akan datang sebagai Aulia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN