Menghukum Mereka

1027 Kata
Memberikan kebebasan yang bertanggungjawab. Itulah prinsip yang Arif tanamkan selama mengurus Ralia sendirian di Surabaya. Tidak tahu harus bersyukur atau bagaimana, Ralia tumbuh dengan jiwa yang kritis dan tidak diam saja bila ada hal yang bertentangan dengan pendapatnya. Terkadang, Arif juga malah kewalahan sendiri bila Ralia sudah mulai berkeras atas kemauannya sendiri. Namun, bukan berarti Ralia tidak bisa sama sekali diberitahu. Ralia akan menurut bila memang hal itu dijelaskan dengan baik-baik. Dalam kasus ini, meski Arif telah menjelaskan secara baik-baik, ia bisa menebak dengan jitu kalau Ralia tidak akan mendengar. Bukannya Arif tidak peduli pada Aulia, Arif sangat sayang, tetapi kalaupun dugaan Ralia benar, ia tidak mungkin membiarkan putrinya dalam bahaya. Arif juga ingin mencari tahu siapa yang menghamili Aulia serta alasan lain mengapa Aulia sampai nekat melompat dari balkon. “Kamu beneran enggak mau mempertimbangkan?” Arif yang tidak tahu kalau Marini sudah duduk di sebelahnya agak terkejut kemudian menatap Marini. “Mempertimbangkan apa?” “Usulan Ralia,” jawab Marini, “aku setuju dengan pendapat dia,” lanjutnya setelah memberi jeda untuk Arif mengenyahkan keterkejutannya. “Setuju? Dengar aku enggak akan—“ “Ralia benar. Darahku terasa mendidih bila ingat lelaki b******n itu bisa tidur tenang di sana, sementara Aulia kita ... Aulia kita terbaring seperti mayat hidup di dalam sana,” potong Marini dengan suara gemetar. “Marini, aku jelas enggak akan membiarkan putriku yang lain berada dalam bahaya hanya untuk menolong putriku yang satunya lagi. Kamu membujuk aku dengan cara apa pun tidak akan pernah berhasil. Jadi, lupakan untuk terus membicarakan hal ini. Ralia tetap akan ikut aku pulang ke Surabaya!” tegas Arif. Marini menyeka air mata yang tidak disangka-sangka bisa jatuh juga. “Bagaimana dengan Aulia? Dengar, kita bisa meminta pihak sekolah untuk membantu Ralia. Kita juga bisa—“ “Aku sudah bilang tidak ya tidak!” potong Arif. Marini menyeka air matanya dengan kasar. Ia menatap Arif tanpa keraguan. “Kamu tahu. Selama bertahun-tahun aku disalahkan secara seratus persen karena aku telah pergi meninggalkan pernikahan kita, anak-anak kita tanpa pernah kamu coba untuk lihat semuanya dari sudut pandang aku.” Arif masih menatap Marini. Pendapatnya masih bulat. Ralia tidak bisa menggantikan posisi Aulia. Hal itu, dipikirkan dari sisi mana pun tetap aneh sekaligus berbahaya. “Ini yang membuat aku pergi meninggalkan kamu. Kamu yang egois dan enggak pernah mau mendengar pendapat orang lain! Semua orang, termasuk kamu berpikir kalau aku pergi mencari kebahagiaan lain hanya untuk memuaskan kebutuhan yang enggak bisa kamu penuhi dan tudingan aku enggak bisa bersyukur. Ya, aku akui aku sudah lelah untuk hidup pas-pasan saja. Aku cape memikirkan apa yang harus dimasak dengan uang seadanya dari kamu!” Wajah Arif memerah. Kedua tangannya bahkan ikut terkepal. Apa yang diucapkan Marini jelas mengusik luka yang selama ini coba diobati Arif. “Ka-kamu!” Sekali lagi Marini menyeka air mata yang menggenang di kedua pelupuk. “Apa? Aku apa? Aku sudah kenyang dituding yang aneh-aneh. Dicap yang aneh-aneh. Jadi, sebutan kasar darimu seharusnya enggak berpengaruh sama aku!” tantang Marini. Arif tahu ia tidak mungkin melakukan itu. Ia tidak pernah berniat sedikit pun untuk melukai Marini, baginya Marini adalah wanita, satu-satunya yang ia kasihi. Hancurnya pernikahannya dengan Marini jelas meninggalkan trauma mendalam di hati Arif. “Kenapa kamu diam saja, Mas? Kamu tuh enggak pernah mau berpikir kalau aku kecewa sama semua perlakuan kamu. Aku kasih tahu satu hal sama kamu! Satu hal aja! Kalau misalnya kamu memperlakukan aku dengan sangat baik, meski kelaparan pun, aku akan tetap berada di samping kamu, Mas!” sentak Marini. Arif tetap tidak mau menurunkan pandangannya dari Marini, ia tetap menanti kalimat selanjutnya apa yang akan Marini ucapkan. “Kamu ingat enggak, sih, Mas? Alasan pertama kenapa kita selalu bertengkar? Kenapa kita selalu saja ribut?” “Cukup Rin! Membicarakan masa lalu enggak akan mengubah apa-apa! Aku tetap enggak akan izinkan Ralia untuk masuk ke sekolah sebagai Aulia, mencari tahu apa yang terjadi atau semacamnya! Itu berbahaya!” balas Arif. Marini yang juga bersikeras atas pendapatnya sendiri, sekali lagi menatap garang Arif. “Dengar, Mas. Dengar satu hal saja. Mungkin kamu selalu bertanya, kenapa aku sampai tega ninggalin kamu dan anak-anak. Aku akan kasih tahu alasannya. Dulu, saat aku mulai merasa kamu kesulitan memberikan uang untukku dan anak-anak karena harus selalu memberikan uang dua kali lipat, aku berpikir untuk bantu kamu cari uang. Aku kerja lagi dan Nenek Grace sudah setuju untuk bantu jaga anak-anak. Aku pikir, anak-anak sudah cukup mandiri untuk bisa makan sendiri, mandiri sendiri dan sebagainya. Jadi, aku bisa meninggalkan mereka bekerja, tapi kamu enggak pernah mau lihat kalau kamu sendiri sudah kesulitan untuk memberikan uang!” ungkap Marini diselingi isak yang tertahan. Pundak Arif yang tadinya menegang mulai turun. Ia mengerti akan ucapan Marini, ia bisa mencernanya dengan sangat baik. Ya, waktu itu, Marini memang pernah meminta izin untuk kerja mencari tambahan uang, tetapi Arif yang merasa prinsipnya ternodai tidak bisa menerima hal itu. “Diam, Mas? Kamu mulai ingat semuanya? Aku sudah coba bertahan dengan kamu yang bisanya nyalahin orang lain. Kamu dan prinsip sialan kamu itu sudah hancurin aku! Sekarang, kamu mau bikin kamu sendiri ditinggalkan lagi oleh orang yang sebenarnya sayang sekali sama kamu, Mas! Walau aku enggak tinggal sama Ralia, aku adalah ibunya. Aku yang urus Ralia waktu masih bayi, aku mengenal anak-anak aku. Ralia enggak akan mundur dari rencananya dan kalau kamu masih berniat membelakangi Ralia, kamu juga akan kehilangan dia, persis sama seperti kamu kehilangan aku dan Aulia!” lanjut Marini. Ralia yang sedari tadi mendengarkan, akhirnya menarik diri dari daun pintu kamar perawatan Aulia. Ia meremas tangannya sendiri ketika mendengar semua kenyataan dari sudut pandang ibu yang selama ini dibencinya. Ibu yang selama ini dirindukan, tetapi Ralia coba mengubur dalam-dalam perasaan itu. Ralia mengalihkan pandangannya pada Aulia yang terbaring di ranjang lantas mendekatinya. Diusap lembut pipi Aulia yang dingin dan terlihat pucat. “Aul, aku tahu pasti ada sesuatu yang bikin kamu nekat lakuin ini. Aku masih ingat terakhir kali kamu telepon aku, kamu bilang kalau kamu takut. Kamu bingung mau ngapain, tapi sekarang kamu tenang saja. Aku enggak akan ninggalin kamu lagi. Kamu tenang aja. Aku akan hukum semua orang yang nyakitin kamu. Kamu tenang saja, Aul.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN