Meminta Izin

1083 Kata
Semua pakaian milik Aulia berserakan di lantai. Pintu lemari terbuka lebar-lebar isinya telah kosong. Tidak ada satu pun sudut yang terlepas dari pemeriksaan Ralia dan Maura yang masih memeriksa sekali lagi kantong-kantong atau saku-saku jaket Aulia. “Enggak ada apa-apa! Lo enggak pernah percaya sama gue, sih!* protes Maura. “Bukan enggak percaya. Aku cuma mastiin enggak ada yang kelewat.” Maura tampak bangkit lalu memasukkan kembali satu per satu pakaian milik Aulia. “Polisi sudah lakukan penyelidikan. Jadi, kalaupun ada petunjuk, mereka sudah lebih dulu tahu, Lia.” “Ya, aku cuma mikir mungkin ada yang terlewat.” “Lia, kayaknya kita harus cari kemungkinan lain. Kayaknya di sini emang enggak ada petunjuk dan soal Adjie, kita harus dekat dulu sama dia. Kalau sudah dekat, dia pasti lebih gampang diajak bicara.” Ralia mengangguk, tetapi untuk melakukan itu semua, ia jelas tidak memiliki banyak waktu. “Ra, kalau pendapat kamu gimana?” Maura diam sesaat kemudian kembali menatap Ralia. “Pendapat gue sama kaya sebelum-sebelumnya. Aulia bukan gadis yang aneh-aneh. Dia pendiam, misterius, tapi aku yakin kok, dia enggak kaya gitu,” jawab Maura. “Kamu yakin Adjie bukan pacar Aulia.” Maura hendak menggeleng, tetapi entah mengapa sekarang ia benar-benar tidak yakin dengan dirinya sendiri. “Yang gue tahu, pertama, mereka tetanggaan, satu kelas dan di sekolah Aulia pernah sesekali kelihatan ngobrol sama Adjie. Enggak tahu pasti, sih, tapi sepertinya kalaupun enggak pacaran kayaknya mereka lumayan dekat.” “Begitu ya?” Maura menganggukkan kepala. “Lia, besok lusa, gue sudah masuk sekolah. Nanti gue cek kelas Aulia, deh. Kalau emang di rumah enggak ada petunjuk. Mungkin di sekolah ada sesuatu yang bisa kita jadiin pegangan.” Ralia malah tercekat mendengar penuturan Maura. “Besok lusa sudah masuk sekolah?” Maura mengangguk. “Ya, kenapa? Lo mau pulang ke Surabaya atau masih di Jakarta, Lia?” Ralia diam. Ia tidak akan pulang ke Surabaya, tetapi ayahnya—Arif jelas akan mengatakan hal yang sebaliknya. Ralia berani bertaruh soal hal itu.  Selang satu jam kemudian, Maura izin pamit pulang. Ralia yang sungguh tidak mengantuk akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, tanpa peduli waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Ketika tiba di rumah sakit, sesuai dugaan, semuanya ada di kamar perawatan Aulia, Arif, Marini juga sang suami baru dari Marini, yaitu Heri. Arif yang awalnya sudah hampir terlelap dalam posisi duduk di sofa seketika kehilangan kantuknya. Ia bangkit lalu membimbing Ralia untuk duduk di sofa. “Ini sudah malam, kamu kenapa kembali ke sini?” tanya Arif gemas. Ralia terlebih dahulu menoleh ke arah Aulia. “Aku enggak bisa tidur. Kepikiran soal Aulia,” jawab Ralia ala kadarnya. Arif melirik ke arah Marini, tetapi sang mantan istrinya itu malah hanya memijat pelipisnya lalu menoleh ke arah lain. “Lia, Aulia baik-baik saja. Dia dapat perawatan terbaik di sini.” Ralia mengangguk-angguk. “Aku tahu, tapi aku beneran enggak mau jauh-jauh dari Aulia.” “Sepertinya kalian perlu bicara berdua saja. Aku dan Mas Heri keluar dulu cari—“ “Lusa nanti, aku akan ke sekolah Aulia,” potong Ralia langsung pada topik pembicaraan yang sebenarnya ingin ia katakan. Wajah tegang segera melingkupi Arif dan Marini. “Ka-kamu apa?” tanya Arif berharap yang didengarnya salah. Ralia mengangguk. “Ya, Ayah enggak salah dengar, kok. Aku akan gantiin posisi Aulia di sekolah. Kami kembar identik. Bahkan Maura saja enggak bisa bedain. Jadi, enggak akan ada yang tahu kalau aku bukan Aulia.” “Kenapa? Kenapa kamu harus punya pemikiran kaya gitu?” tanya Arif lagi yang terdengar mulai putus asa menghadapi Ralia. “Hari ini, Lia ketemu sama Adjie, Maura hilang kalau Adjie lumayan dekat sama Aulia, Lia juga sudah bongkar ulang kamar Aulia, tapi Lia enggak dapat petunjuk apa-apa,” ungkap Ralia. Arif meremas kepalanya sendiri. “Lia, apa kamu enggak bisa diam saja? Tugas kamu cuma berdoa saja sama Tuhan. Minta Aulia diberikan kesembuhan.” Ralia menggeleng. “Aku enggak mungkin kaya gitu, Ayah. Pasti ada sesuatu. Maura bilang di sekolah, teman Aulia cuma dia aja. Itu aneh, Ayah. Aku punya lusinan teman, enggak mungkin kalau Aulia hanya punya Maura saja. Pasti ada sesuatu!” “Aku belum menghubungi pihak sekolah soal ini. Rencananya baru besok mau mengabari,” tambah Marini seakan mulai setuju dengan rencana Ralia. “Rini, jangan bilang kamu setuju sama rencana Ralia?” tebak Arif. “Mereka memang kembar identik. Pakaian yang dimiliki Aulia juga pasti bisa dipakai Ralia.”  Arif bangkit. “Lia punya kehidupan sendiri! Aku enggak akan biarkan Ralia juga masuk ke dalam masalah lebih dalam dari ini! Lusa nanti kamu ikut ayah pulang ke Surabaya dan kali ini enggak ada lagi tawar-menawar!” tegas Arif. Kabut mulai melingkupi mata Ralia. Ia tahu kalau ayahnya sudah bicara seperti itu, bicara dengan nada tegas, maka yang akan terjadi adalah sesuai dengan perkataannya, tetapi Ralia juga enggak akan pergi dari sisi Aulia. Walaupun hanya sedetik. “Aku berharap kita masih punya titik terang. Yang lebih baik untuk semuanya,” lirih Marini.  “Dengar, aku enggak akan mengubah keputusan yang satu ini. Mereka memang kembar identik, tapi jalan hidup mereka enggak harus selalu sama. Menggantikan posisi Aulia di sekolah itu adalah ide konyol!” tambah Arif. Akhirnya Ralia menyeka air mata di sudut-sudut matanya. “Ayah, apa Ayah enggak mau menghukum mereka yang sudah jahat sama Aulia?” Arif diam, ia tidak ingin banyak berdebat dengan Ralia. Hari ini sudah sangat melelahkan dan Arif juga hanya ingin tidur dengan lebih nyenyak dan sikap diam Arif membuat Ralia semakin berani mengungkap rencananya. “Apa Ayah enggak mau tahu siapa ayah dari bayi yang pernah dikandung Aulia? Sekarang Ayah lihat, Aulia. Di sana dia terbaring enggak berdaya dan cowok enggak bertanggungjawab masih bisa makan enak, tidur lelap, tertawa tanpa mau peduli sama Aulia. Ayah rela hal itu terjadi?” tanya Ralia dengan suaranya yang mulai gemetar. “Lia, bagaimana dengan sekolah kamu? Kalau Aulia sudah sembuh, kamu bagaimana? Kita enggak bisa bermain mempertaruhkan masa depan kamu, Nak,” bujuk Arif. “Aku, aku masih punya jalan panjang, tapi mungkin enggak buat Aulia. Ayah sendiri tahu kalau dokter bilang kondisi Aulia naik-turun. Dia bisa tiba-tiba bangun atau sebaliknya dan aku enggak mau selamanya kita enggak bisa menghukum cowok enggak bertanggungjawab itu,” lanjut Ralia. “Meski begitu, Ayah tetap enggak bisa izinin kamu, Lia.” Ralia menarik tangan Arif, mencengkeramnya kuat-kuat. “Lia mohon, Ayah. Ayah tahu sendiri kalau Ralia enggak bisa ngapa-ngapain tanpa restu dari Ayah. Lia mohon, izinkan Lia untuk menjadi Aulia. Lia mohon, Ayah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN