Pacar Aulia? Siapa?

1126 Kata
Adjie menatap Ralia dan Maura yang sudah berpindah duduk di salah satu sofa rumah Adjie. Pemuda yang tahun ini genap berusia tujuh belas tahun ini berjalan mondar-mandir di hadapan mereka dengan lengan terlipat di d**a. Berharap keduanya tahu kalau ia cukup serius dan penasaran.  Maura tampak menunjukkan penyesalan dengan menundukkan kepala, tetapi berbeda dengan Ralia. Ekor mata gadis itu malah mengikuti gerakan Adjie. Jujur, ia juga penasaran dengan pemuda yang berjalan mondar-mandir seperti seorang polisi yang kesulitan mencari topik pertanyaan pada tersangka. Ralia merasa pernah melihat Adjie di suatu tempat. Apa mungkin salah satu aktor atau model yang mirip dengan Adjie? Sumpah demi apa pun, Ralia merasa pernah melihat Adjie. Bukan saat Adjie tiba-tiba datang menawarkan sapu tangan padanya tempo hari di rumah sakit. Ralia pernah melihatnya di suatu tempat. “Jadi, kalian sudah punya alasan?” tanya Adjie menyentakan suaranya. Maura menyenggol pinggang Ralia. Menurutnya, gadis itu yang harus mencari alasan. Maura sudah berkali-kali, ah, tidak. Sudah puluhan kali mengatakan kalau ide Ralia mendatangi Adjie kurang tepat. Kalaupun Adjie terlibat, bahkan lebih buruk, yaitu menjadi tersangka yang menyebabkan Aulia nekat melompat, tetap saja tidak bisa langsung bertanya pada inti permasalahan. “Gue masih menunggu jawaban,” ulang Adjie. “Lia,” panggil Maura lagi yang kali ini menyenggol pinggang Ralia semakin agak kencang. Ralia dengan cepat menguasai dirinya sendiri. Ia menoleh ke samping. Maura tampak panik dan sedikit pucat. Jadi, tidak mungkin ia berharap Maura bisa membantu kalau-kalau nanti lidahnya terpeleset saat coba berbohong soal alasan hendak bertamu. Kali ini, Ralia benar-benar sendirian dan ia yakin bisa menekan Adjie untuk mengatakan hal yang sebenar-benarnya. “Maaf kalau aku ganggu kamu. Aku sama Maura datang cuma mau tanya soal tugas sekolah. Maura bilang kamu pintar dan masuk kelas khusus siswa-siswa terbaik, 'kan?” Maura menoleh dengan cepat hingga rasa-rasanya lehernya terpuntir. Jawaban Ralia adalah yang paling bodoh di antara hal bodoh yang bisa Maura pikirkan. Bukankah sebelumnya Maura sudah menjelaskan kalau Adjie adalah teman satu kelas Aulia? Kalau Ralia mau berpura-pura sebagai Aulia, bukankah seharusnya Ralia yang kini berperan sebagai Aulia tahu kalau Aulia juga masuk ke dalam kelas khusus siswa-siswa terbaik atau disebut kelas unggulan? Adjie melirik ke arah Maura hingga mata mereka bertemu. Maura berdeham seolah ada biji kedondong tersangkut di esofagusnya kemudian menoleh ke arah lain. Kali ini Ralia benar-benar sendirian. Maura tidak akan berkata apa-apa lagi. Adjie berhenti, sedikit membungkuk untuk menatap Ralia yang duduk di sofa. “Lo lebih pintar dari gue. Kenapa lo ngomong kaya gitu?” tanya Adjie. Ralia terkesiap kemudian menoleh ke arah Maura yang sudah terlebih dahulu mengunci bibirnya. “Ah, itu, itu, ada yang enggak aku ngerti,” ujar Ralia terbata. “Biasanya gue enggak pernah cek kamera pengawas sebelumnya, tapi setelah tahu kalian hampir sepuluh menit diam di depan pintu, nunggu gue. Pasti alasannya lebih dari sekadar mau tanya soal sekolah. Lagian, kita mau masuk semester baru. Enggak ada tugas dari sekolah.” Maura menatap Ralia, seolah matanya berkata, “Mampus!” Ralia menarik napas dalam-dalam lalu berganti menatap Adjie balik. “Oke. Sebenarnya aku ke sini emang enggak mau tanya soal tugas sekolah!” Maura tampak semakin tegang sekaligus penasaran akan apa lagi niat dari Ralia. Padahal, Maura sudah mati-matian membujuk untuk jujur sana dan membiarkan Adjie untuk ikut dalam penyelidikan. Semua akan jauh lebih mudah. Terlebih, Ralia berbeda sekali dengan Aulia. Meski mereka adalah saudari kembar, tetapi untuk yang telah mengenal Aulia, jelas Ralia sangat berbeda. “Waktu itu, kamu ada di rumah sakit. Ngapain?” tanya Ralia. Adjie menarik diri dari tatapan Ralia kemudian menatap Maura yang hanya bisa mengedikkan bahu. “Lo sendiri waktu itu nangis di rumah sakit kenapa?” Ralia diam sesaat lalu kembali mendebat. “Kenapa balik tanya? Aku, 'kan yang duluan tanya. Soal kenapa aku nangis, kamu enggak perlu tahu. Itu urusan aku!” Adjie kembali melipat lengan di d**a. “Kalau gitu jawaban gue sama. Itu urusan gue. Lo atau siapa pun enggak berhak ikut campur.” Ralia terkesiap kaget hingga ia tiba-tiba bangkit. “Kok kaya gitu, sih? Harusnya kamu bisa jelasin sama aku, 'kan? Kamu mau mastiin kalau Aulia sudah mati atau belum, 'kan? Terus kalau Aulia sudah mati, kamu bisa senang-senang, gitu?” cecar Ralia. Maura yang ikut kaget mendengar Ralia meninggikan suara akhirnya ikut bangkit lalu menarik lengan Ralia agar gadis itu tidak maju mendesak Adjie. “Tunggu dulu, sabar. Sebentar,” bujuk Maura. Ralia menepis tangan Maura. Pandangannya mengunci Adjie. “Kenapa? Kenapa kamu diam saja?” “Lo kenapa, sih? Ya, memang. Gue datang ke sana untuk memastikan keadaan lo!” jawab Adjie. “Kenapa? Kamu berharap Aulia mati, gitu? Jawab? Jawab?” paksa Ralia sembari mengguncang-guncangkan lengan Adjie. Kali ini Maura akan bertindak sedikit lebih keras. Ia menarik tangan Ralia. “Maaf, ya, Adjie. Ayo, Lia, ayo!” paksa Maura yang kini tidak akan melepaskan tangan Ralia. Ia harus membawa Ralia keluar dari rumah Adjie. Adjie hanya bisa menatap Ralia yang dibawa paksa Maura. Baik Adjie dan Ralia, keduanya masih sama-sama saling menatap hingga pintu apartemen tertutup rapat.  “Sumpah, sumpah, sumpah! Gue enggak ngerti lagi sama Lo!” ujar Maura ketika keduanya sudah masuk ke dalam unit apartemen rumah Ralia. Ralia tidak menjawab, ia menghempaskan diri ke sofa lalu melipat lengan di dad sembari menatap Maura. “Kamu ada di pihak Adjie!” tuduhnya. “Gue? Astaga, Ralia.” Maura menyusul Ralia yang sedang duduk. Ditatapnya wajah Ralia. “Dengar, gue selalu ada di pihak lo. Gue juga mau urusan ini cepat kelar. Gue juga yakin, kok. Kalau Aulia bukan gadis nakal. Dia pasti punya alasan.” “Naah, itu, apa? Kenapa coba Adjie hari itu ke rumah sakit? Dia pasti mau tahu soal kondisi Aulia! Aneh!” “Lia, mereka tetanggaan. Wajah bukan? Lagian, gue udah bilang sama Lo kalau Adjie adalah orang pertama yang waktu itu kabarin gue Aulia kena musibah. Hari itu, waktu gue susul Adjie ke apartemen. Di sini udah banyak polisi. Adjie emang enggak ada di rumah, tapi kalau dipikir soal alasan Adjie ke rumah sakit, gue juga enggak bisa tebak.” “Kita harus tahu, Ra.” “Kenapa, sih kita enggak skip masalah itu? Fokus ke dugaan lo, Lia. Mungkin ada petunjuk kecil yang disembunyikan Aulia. Mungkin ada di kamarnya!” Ralia menoleh ke arah Maura. “Aku sudah bongkar kamar Aulia berkali-kali, tapi beneran enggak ada apa-apa.” “Ya sudah, satu-satu. Pertama, kita cari dulu tersangka ayah dari anak Aulia, tapi Aulia enggak pernah cerita soal cowok. Jadi, gue enggak tahu.” Ralia diam beberapa detik. Meski kembar, Ralia tahu kalau Aulia agak lebih cantik darinya. Jadi, kemungkinan besar memang Aulia pasti punya kekasih. “Kamu tahu siapa pacarnya?” “Pacar? Terserah Lo percaya atau enggak, tapi jangankan pacar, temen dia di sekolah Cuma satu, gue doang!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN