Adjie Earl Adelard

1013 Kata
“Sumpah, gue nyesel banget udah ngomong soal Adjie,” bisik Maura yang sekali lagi menekan bel pintu. Ralia hanya diam. Meladeni protes Maura hanya akan membuang waktu dan yang terpenting, ia takut kalau Arif atau Marini tiba-tiba mencarinya. Sekali lagi Maura melirik sebal ke arah Ralia kemudian menekan kembali tombol bel. Maura tidak tahu pasti apa tujuan Ralia mendatangi rumah Adjie yang persis satu gedung dengan apartemen tempat tinggal dengan Aulia, malahan ruang apartemen mereka jelas bersebelahan. “Tuh, dia mungkin enggak ada di rumah!” protes Maura lagi yang mulai putus asa. Maura memang tidak terlalu akrab dengan Adjie, tetapi menurutnya, kemungkinan Adjie adalah tersangka ayah dari bayi yang dikandung Aulia adalah hal paling konyol. “Tunggu sebentar lagi.” “Sampai kapan? Kita udah di sini hampir lima menitan, Lia! Lagian, gue sedikit kenal Adjie. Dia cowok baik. Di sekolah juga dia siswa teladan gitu,” tambah Maura. Ralia tidak mau mendengarkan Maura. Ia malah kembali menekan-nekan bel apartemen rumah Adjie. Baginya, orang jahat tidak selalu tampak menyeramkan. Semua orang yang terlibat dalam musibah buruk yang menimpa Aulia harus dijadikan bahan curiga. “Kalian lagi ngapain?” Sontak Ralia dan Maura menegakkan punggung kemudian serempak menoleh ke belakang. Pemuda yang mengenakan jaket cokelat dengan celana pendek itu bergantian menatap Ralia dan Maura. Menelisik penuh curiga. “A-Adjie, eh, lo, lo udah pulang?” tanya Maura tergagap. Adjie menyeka titik peluh di dahinya kemudian mengangguk. “Ada apa? Gue lihat kalian lagi di depan rumah gue,” selidiknya. Maura mengerjapkan matanya kemudian menoleh ke arah Ralia sebagai pertanda meminta pertolongan. Ia terlalu kaget sampai sulit mencari alasan, tetapi Ralia malah diam mematung, terperangah menatap wajah Adjie. Maura tidak menyalahkan Ralia yang jelas tampak terpukau melihat paras Adjie. Bukan rahasia lagi. Adjie Earl Adelard adalah yang paling tampan seantero sekolah. Ayahnya adalah warga negara Inggris yang sekarang tinggal di Indonesia. Matanya yang sedikit biru, tulang hidung tinggi, tetapi memiliki kulit cokelat khas orang asia yang didapat dari ibunya menjadikan Adjie sebagai idaman semua siswi. Tidak mau tampak semakin konyol, Maura menarik mencubit sedikit lengan Ralia, berharap agar kesadaran gadis itu segera kembali dan usahanya berhasil. Ralia menoleh ke arah Maura, wajahnya tiba-tiba pucat kemudian berkata, “Kita masuk lagi ke kamar.” “Hah?” Ralia tidak menjawab, ia menarik tangan Maura, memaksa gadis itu untuk menurut kemudian bergegas masuk ke dalam rumahnya lagi. “Lo kenapa, sih?” protes Maura ketika Ralia sudah menutup pintu apartemennya. “Tunggu dulu, kita harus menyusun rencana lagi,” sergah Ralia. “Rencana apa? Bukannya tadi gue yang sedari awal ngomong gitu sama, lo, tapi lo yang bilang, kita harus bergerak, bukan menyusun rencana dan lo maksa-maksa gue buat gedor-gedor tuh pintu rumah si Adjie. Nah, sekarang, giliran tuh orang beneran muncul, lo malah mundur. Gimana, sih?” cecarnya. Ralia menoleh ke arah pintu yang tertutup kemudian menarik tangan Maura, membimbing Maura masuk ke ruang tamu lalu memintanya duduk di sofa. Setelah itu, ia menggenggam tangan Maura. “Aku pernah ketemu sama dia.” Dahi Maura mengerut. “Iyalah, lo pasti ketemu dia. Secara kalian itu tetanggaan. Kamarnya persis bersebelahan. Wajar bukan?” Ralia menggeleng-gelengkan kepala. “Bukan. Bukan di sini. Malahan aku enggak tahu kalau Adjie tetanggaan sama Aulia. Aku enggak pernah ketemu sama dia di sini. Aku ketemu sama dia itu di rumah sakit,” ungkap Ralia. Maura mengurai genggaman tangan Ralia kemudian melipat lengan di d**a. “Kalau gitu, mungkin Lo harus atur ulang semua rencana lo.” “Maksudnya?” “Iya. Mungkin aja Adjie tahu soal Aulia. Lo jangan lupa kalau Adjie yang telepon gue dan bilang kalau Aulia jatuh. Makanya gue berkali-kali datang ke sini, waktu itu kita sempat ketemu dan menyangka kalau lo itu Aulia, 'kan?” debat Maura. “Tapi, tapi waktu itu Adjie udah tahu nama aku siapa. Dia ngasih sapu tangan dan manggil nama aku, Lia, gitu.” Maura menggaruk dagunya. Kepalanya mendadak pening. Kasus ini jelas akan semakin rumit karena Ralia tidak berniat untuk bicara pada siapa pun kalau Ralia bukan saudari kembar Aulia. Malahan rencananya adalah Ralia akan menggantikan posisi Aulia. “Lia, lo pernah berpikir enggak, sih, mungkin aja kalau kita bicarain semua kemungkinan-kemungkinan, kecurigaan lo sama Adjie, mungkin Adjie bisa bantu kita. Kita butuh seorang cowok buat masalah kaya gini, gimana?” bujuk Maura. Dengan mantap Ralia menggelengkan kepalanya. “Enggak. Adjie masuk ke dalam daftar tersangka.” Maura mencengkeram kepalanya sendiri. “Udah gue bilang. Adjie itu anak baik!” “Ra, orang jahat itu enggak selalu kelihatan jahat! Kamu tahu enggak sih, tersangka kasus pelecehan itu adalah orang terdekat yang enggak pernah disangka-sangka! Mereka itu yang ternyata berpotensi besar sebagai penolong, malah jadi penghancur semuanya! Kita enggak tahu setan apa yang ada di balik wajah tampan Adjie!” sentak Ralia. “Ya, tapi gue kenal Adjie lebih dari lo! Ah, tau, ah. Pusing, gue!” balas Maura. Sekali lagi Ralia menarik tangan Maura. “Ra, aku mohon. Ya, kamu benar, kamu memang lebih kenal Adjie, kamu juga lebih kenal Aulia. Dibandingkan aku, jelas kamu punya lebih banyak informasi, tapi kita enggak boleh langsung percaya saja. Aku hanya ingin tahu apa yang Aulia bicarakan sama Adjie,” lirih Ralia dengan matanya yang kembali berkabut. “Iya, Lia. Gue ngerti banget sama perasaan lo. Gue ngerti kalau lo cemas sama Aulia. Sumpah demi apa pun, gue juga ingin tahu siapa yang menghamili Aulia. Gue enggak percaya kalau Aulia adalah gadis nakal yang suka berbuat kaya gitu. Kita dalam satu jalan yang sama, Lia,” ucap Maura. “Terima kasih sudah mau ngertiin aku.” Keduanya berhenti bicara setelah mendengar denting bel rumah berbunyi. Maura menatap Ralia. “Siapa? Nyokap lo?” Ralia menggeleng. “Kayaknya bukan. Tadi ayah aku ngasih tahu kalau mama enggak bisa pulang. Hari ini Aulia ada observasi dan perlu ditemani.” “Terus, itu siapa?” Ralia menarik napas dalam-dalam kemudian bangkit. Langkahnya terlihat ragu, tetapi pada akhirnya ia sampai di balik pintu dengan tangan sudah menggenggam palka. Ralia menarik selot kemudian membuka pintu. “Aku butuh penjelasan,” ucap Adjie yang ternyata ada di balik pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN