Mata Ralia menatap lirih ke arah pohon-pohon palem yang berjejer di tepi jalan masuk dari gerbang menuju lobi utama rumah sakit. Namun, siapa pun yang melihat Ralia akan tahu kalau gadis itu tidak sedang melihat apa-apa. Tatapannya kosong. Ralia tidak bisa menghentikan kedua tangannya yang gemetaran. Memang sulit dipercaya, tetapi ia tahu kalau kali ini Marini tidak berbohong.
Setelah Ralia dan Arif mengantar Maura mencari bis untuk pulang, keduanya enggan segera kembali ke ruang perawatan. Arif tahu Ralia memerlukan beberapa waktu yang agak lama untuk bisa menerima kenyataan yang sebenarnya juga enggan untuk Arif utarakan. Beberapa hasil penyelidikan yang didapatkan pihak kepolisian, telah disepakati oleh dirinya juga Marini untuk disimpan berdua saja dan rencananya setelah kondisi Aulia membaik, baru mereka akan mendiskusikan hal ini.
Arif melirik putrinya. Kondisi Ralia semakin tidak karuan. Arif mengerti akan niat baik Ralia, tetapi Ralia belum bisa dinilai cukup matang untuk menghadapi kasus seperti ini. Aulia yang selama ini jelas dikenal Ralia sebagai gadis pendiam yang manis ternyata bisa mabuk dan pernah tertangkap basah mencuri uang ibunya sendiri. Arif tahu kalau pukulan ini mungkin sulit diterima Ralia.
“Rencananya Ayah akan tinggal sampai besok lusa. Setelah itu kita pulang dan ka—“
“Kita?” potong Ralia.
Arif mengusap bibir dengan jemarinya yang tidak disangka-sangka gemetar tanpa alasan. “Lia, Aulia pasti tahu kalau kamu cemas, kamu juga perhatian, tapi kamu juga harus kembali ke kegiatan kamu, sekolah kamu.”
Bibir Ralia berkedut menahan emosi. “Pulang? Aku? Aku sudah bilang aku enggak akan pulang sebelum Aulia sadar! Ayang ngerti enggak, sih?”
“Lia, kamu sendiri tahu kalau dokter saja enggak ada yang bisa prediksi kapan Aulia bisa bangun. Kamu harus sekolah, kamu punya kehidupan kamu sendiri.”
“Kalau terjadi sesuatu sama Aulia, aku enggak akan pernah bisa hidup!”
“Lia, kamu enggak boleh ngomong kaya gitu. Memang berat, tapi doakan Aulia baik-baik.”
“Ayah enggak tahu bagaimana perasaan aku!”
“Ayah ngerti.” Arif kembali menggenggam erat tangan Ralia. “Karena itu Ayah ngomong kaya gini sama kamu.”
Ralia melepaskan tangan Arif. “Pokoknya, Ralia enggak mau pulang! Ralia enggak peduli sama sekolah. Ralia enggak bakalan pergi ke sekolah sebelum Aulia sembuh!” tegasnya.
“Tapi Lia—“
“Kalau Ayah tetap memaksa ... aku akan pergi nyusul Aulia!” ancam Ralia yang kemudian bangkit meninggalkan Arif yang diam seribu bahasa.
Ralia melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. Berjalan di pedestrian sepanjang jalan Rahman Hakim. Hatinya remuk redam, Ralia tidak mengerti mengapa semua orang tidak ada yang berpikiran seperti apa yang ada di kepala dan hatinya. Mengapa semuanya hanya menarik satu kesimpulan saja? Mengapa mereka secara kejam menjadikan kasus ini sebagai satu musibah yang sengaja dilakukan oleh Aulia? Itu tidak benar! Jelas menurut Ralia itu tidak benar!
Tekadnya telah bulat. Tidak akan ada yang pernah bisa memaksa Ralia untuk pergi meninggalkan Aulia sebelum semuanya baik-baik saja. Ralia tidak akan pernah percaya kalau Aulia adalah seorang remaja putri yang ternyata berkelakuan nakal. Ralia tetap percaya penuh pada nalurinya. Aulia hanyalah korban dan semua tindakan buruk itu adalah satu kesalahpahaman yang pasti bisa dijawab ketika Aulia sadar.
Langkah Ralia terhenti. Ia merogoh tasnya kemudian mengeluarkan ponsel Aulia. Sekali lagi jemarinya menari di atas permukaan ponsel Aulia. Kalau tidak salah, di riwayat panggilan ponsel, ada dua nomor tidak tersimpan yang mencoba menghubungi Aulia pada saat kejadian. Satu nomor diterima dan Aulia melakukan perbincangan selama hampir tiga menit dan satu lagi tidak terjawab. Ralia berpikir keras dan menyimpulkan satu kemungkinan kalau ada petunjuk lain.
Cepat-cepat ia memasukkan kembali ponsel Aulia dan mengambil ponselnya sendiri lantas menghubungi Maura.
“Halo? Ralia?” ujar Maura di ujung sambungan tak lama setelah Ralia mendengar suara bunyi beep konstan dari ponselnya.
“Ra, kamu udah sampe rumah?”
“Udah, kenapa?”
“Ra, ada dua nomor telepon yang enggak di simpan Aulia di ponselnya. Aku boleh ke rumah kamu buat diskusiin masalah ini enggak?”
Maura tidak langsung menjawab. Ia sangat ingin membantu Aulia dan Ralia. Ia juga tidak percaya pada pernyataan kalau Aulia mabuk, hamil di luar nikah serta suka mencuri. Maura setuju dengan pendapat Ralia kalau ini semua hanya salah paham dan hanya bisa diselesaikan oleh Aulia sendiri, tetapi Maura juga tahu kalau ia tidak bisa ikut campur karena sejujur-jujurnya, Maura memang tidak terlalu dekat dengan Aulia.
Buktinya banyak, mulai dari Maura tidak tahu kalau ternyata Aulia punya saudari kembar, keluarga Aulia berantakan, alias orang tuanya bercerai sejak Aulia kecil serta Aulia tidak dekat dengan ibu kandungnya sendiri. Maura merasa takutnya, apa yang akan dikatakannya hanya akan menambah masalah saja. Terlebih Ralia memang terlalu berani mengungkapkan perasaannya tanpa pikir-pikir.
“Ra, kenapa kamu diam aja? Kamu mau bantu aku, 'kan?”
Maura tercekat mendengar suara serak Ralia di ujung sambungan. Berpikir kalau Ralia pasti sudah menangis. Memang sewajarnya kalau Ralia pasti menangis. Kalaupun ia berada di posisi Ralia, ia akan melakukan hal serupa.
“Lia, nanti gue kirim alamat rumah gue, ya? Lo ke sini dulu. Kita ngobrol di rumah.” Meski tidak melihat, Maura tahu kalau di ujung sambungan sana, Ralia mengangguk setuju. “Lo tenang aja. Meski enggak ada yang berada di pihak lo, gue percaya sama lo. Gue juga yakin kalau Aulia enggak kaya gitu! Tenang aja, ada gue,” lanjutnya.
“Terima kasih, Maura, terima kasih,” jawab Ralia diselingi sedu sedan yang tertahan.
Selang hampir satu jam berikutnya, Ralia tiba di sebuah rumah mungil kawasan Condet. Ketika Maura menyambutnya di ambang pintu, Ralia berlari mendekap tubuh tambun Maura lalu menangis sepuasnya. Ralia tidak tahu lagi harus melakukan apa selain menangis dan Maura juga tahu lebih baik Ralia tidak melakukan apa-apa selain menangis sepuas-puasnya.
Sekarang keduanya duduk bersisian di atas karpet beledu di kamar Maura yang tidak terlalu besar, tetapi menurut Ralia. Keadaan inilah yang seharusnya ada di kamar seorang gadis yang tidak ia temukan di kamar Aulia, yaitu kesan kalau kamar tersebut memang adalah ruangan ternyaman untuknya.
“Lo mau minum dulu?” tanya Maura pada Ralia yang masih diam dengan mata sembab.
“Aku butuh lebih dari sekadar minum.”
“Apa? Lo mau makan?” tanyanya sembari mengusap air mata yang sedari tadi masih berlomba di pipi.
Akhirnya Ralia bisa tersenyum. Ia menatap Maura, mengusap air mata gadis itu lalu menggeleng. “Aku butuh lebih dari itu, Ra.”
“Gue ngerti sama apa yang lo rasain. Mungkin, kalau gue ada di posisi lo, gue enggak akan bisa setenang ini,” aku Maura.
Ralia tidak tahu apa ia bisa mengategorikan dirinya sendiri sebagai gadis yang tangguh. “Ajubsudah setengah gila, Ra.”
Maura mengusap punggung Ralia. “Lo salah orang kalau berpikir gue bisa nenangin lo atau kasih solusi jitu.”
Ralia kembali tersenyum. “Enggak apa-apa. Aku cuma pengen didengerin aja dulu.”
“Iya, gue pasti dengerin lo. Malam ini, lo nginep di sini aja, ya?” tawar Maura.
“Aku pengen banget, tapi mama sama ayah pasti cari aku. Aku enggak bisa, Ra.”
“Ya sudah. Jadi, gimana? Mana no telepon yang tadi lo bilang?”
Ralia meraih tas di sampingnya kemudian mengeluarkan ponsel Aulia. “Ini.”
Maura meraih ponsel Aulia yang disodorkan Ralia. Jemarinya mulai lincah bergerak, dahinya mengerut, pipi gembilnya bahkan bergerak-gerak. “Kayaknya gue tahu nomor yang ini deh, Lia.”
“Beneran? Yang mana?” tanya Ralia antusias.
“Sebentar.” Maura bangkit untuk meraih ponselnya di atas meja kemudian kembali duduk. Ia memasukkan salah satu nomor tersebut kemudian memanggilnya. “Astaga, liat deh. Ini nomernya dia!”
Ralia membulatkan matanya. Bergantian menatap Maura dan ponsel miliknya. “Di-dia siapa?”
“Cowok yang suka sama Aulia!”