Keadilan Untuk Aulia

1101 Kata
Berkali-kali Maura bergumam dalam hati Aulia baik-baik saja, Aulia baik-baik saja, Aulia baik-baik saja, tetapi ketika Ralia membuka pintu ruang perawatan, apa yang Maura lihat jelas menghancurkan harapannya. Aulia terbaring dengan berbagai peralatan medis terpasang padanya. Mulai dari alat bantu pernapasan, alat monitor jantung, selang infus hingga penyangga leher. Pelan, dengan sangat pelan. Malah terkesan menyeret diri, Maura berjalan mendekati Aulia. Tangan Maura membekap erat bibirnya. Takut kalau satu saja isak terlepas dari bibirnya, Maura tidak akan bisa berhenti menangis. Berkali Maura menyeka air matanya, tetapi bulir bening yang menggunduk di ujung dagu terus saja berkumpul lalu jatuh. Ia menggigit bibirnya lumayan kuat. Tangannya bergerak menyusuri pipi Aulia yang dingin. Ralia yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Maura akhirnya lega karena berpikir tindakannya tidak keliru. Dari gestur yang Maura keluarkan, Ralia yakin kalau Maura adalah orang baik dan yang paling penting adalah kenyataan kalau Maura teman dari Aulia. “Dia jatuh dari balkon apartemen,” ungkap Ralia gang kemudian berjalan mendekati Maura. Diusapnya lembut punggung Maura hingga gadis itu akhirnya tersedak air matanya sendiri. “Aku yakin, pasti Aulia enggak kaya gitu,” lanjutnya. Maura menyusut air mata dengan punggung tangan. Matanya kembali menatap Ralia. “Ja-jadi, ini, ini, benar?” Ralia melepaskan punggung Maura kemudian matanya mengarah pada Aulia yang terbaring lemah tidak berdaya. “Aku juga berharap ini hanya mimpi buruk.” Marini yang sedari tadi diam akhirnya mendekati Maura juga Ralia. Melihat interaksi dari Maura dan Aulia, Marini bisa dengan cepat menyimpulkan kalau gadis tembam itu adalah teman dekat Aulia. “Kamu ... teman Aulia?” tanyanya. Maura menoleh, kemudian mengangguk pelan. “Iya.” Maura berpikir, mudah-mudahan saja ibu Aulia bisa puas dengan pernyataannya. Marini menarik napas dalam-dalam. “Maaf, tapi sepertinya Aulia belum bisa dijenguk terlalu lama.” Sontak isak tangis Maura terhenti. Ia menyeka air mata lalu memandang Ralia. Maura bukan orang bodoh dan ia mengerti kalau Marini meminta dirinya pergi dari sini. Hal tersebut pula dirasakan Ralia, tetapi Ralia tidak akan mau meminta Maura pergi begitu saja. Ralia merasa kalau Maura adalah orang terdekat dari Aulia, Maura pasti bisa memberikan pendapat yang akan membantu semua orang menyelesaikan masalah. “Mama kok ngomong gitu?” protesnya. Marini tidak menjawab, ia menoleh ke arah Arif untuk meminta bantuan. Hari ini, sudah terlalu banyak perdebatan antara dirinya dengan Ralia. Arif menarik napas kemudian mendekati Ralia. Ia hendak menyentuh lengan putrinya. Namun, Ralia dengan cepat menepis tangan Arif.  “Lia,” bujuk Arif putus asa. Ralia menyeka air mata. “Kenapa? Apa? Enggak ada yang harus ditutupi dari Maura. Dia sayang sama Aulia. Kalian enggak bisa lihat ketulusan Maura?” Arif bungkam dan karenanya Marini terpaksa kembali maju. “Bukannya begitu, Ralia. Mama berpikir kita harus hati-hati. Banyak yang—“ “Maura lebih dekat dengan Aulia. Dibandingkan siapa pun, mungkin Maura yang paling dekat sama Aulia,” potong Ralia yang kemudian menatap Maura. “Ra, tolong, tolongin aku sama Aulia. Kamu yang bilang kalau kamu percaya Aulia enggak mungkin secara sukarela lompat dari apartemen. Pada saat hari kejadian, kamera pengawas di gedung itu rusak dan sedang perbaikan. Aku enggak pernah bisa percaya dengan adanya kata kebetulan. Pasti terjadi sesuatu. Mungkin di hari itu, ada orang lain yang masuk ke apartemen!” selidik Ralia berapi-api. Maura malah kebingungan sendiri. Ia juga tidak yakin kalau punya banyak informasi banyak. Aulia adalah orang yang paling tertutup. Maura juga tidak pernah berusaha untuk mengorek sesuatu kalau Aulia enggan untuk bercerita dengan sukarela. Ia malah menatap Marini. “Tante, di sekolah ... Aulia enggak pernah bersosialisasi.” Marini menarik napas dalam-dalam lalu mengangguk. “Ya. Tante tahu, sudah beberapa kali wali kelas Aulia menghubungi Tante. Aulia memang siswi cerdas dan berprestasi, tapi Aulia tidak bisa untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. Tante sudah mendiskusikan hal ini dengan pihak sekolah dan belum mendapat jalan terbaik agar Aulia mau nyaman bersekolah.” Ralia yang mendengar penjelasan Marini malah semakin emosi. “Kenapa Mama enggak pernah bilang sama ayah atau yang paling mudah adalah seharusnya Mama bisa lebih dekat sama Aulia! Mama tahu, setiap kali aku tanya soal Mama ke Aulia, Aulia pasti cuma bila bilang, enggak tahu, enggak tahu dan enggak tahu!” “Mama enggak bisa dua puluh empat jam sama Aulia! Mama juga harus kerja!” sentak Marini yang sudah habis kesabarannya. Arif bergerak. Kali ini ia menarik lengan Ralia. “Lia, tenang dulu. Tenang.” Sekali lagi Ralia menepis tangan Arif. “Bagaimana aku bisa tenang? Kian dengan mudahnya bilang kalau ya, Aulia nekat mau bunuh diri! Kalian dengan tenangnya melimpahkan semua kesalahan tanpa mau berusaha cari tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Aulia!” “Enggak gitu, Lia. Enggak gitu! Kita semua sayang sama Ralia,” sergah Marini. Ralia menyusut air mata dengan kasar dan tampak semakin berani menentang Marini. “Lalu apa?” “Kita harus sabar. Tunggu Aulia bangun dulu,” pungkasnya. “Bangun? Bagaimana kalau Aulia enggak bisa bangun? Bagaimana kalau Aulia enggak pernah punya waktu atau kesempatan buat jelasin banyak hal sama kita? Aulia hamil! Pernah enggak sih kalian berpikir untuk cari siapa lelaki itu?” lanjut Ralia. Maura yang sedari tadi diam, akhirnya mendekati Ralia, ia menarik pelan lengan Ralia. Meski terkejut, tetapi Maura setuju kalau Ralia harus tenang dulu. “Bentar Lia, bentar.” Sekali lagi Ralia juga menepis tangan Maura. “Apa? Aku enggak bisa sabar! Sampai kapan juga aku enggak akan pernah bisa sabar! Aulia enggak punya banyak waktu! Aku mau hukum siapa yang bertanggungjawab atas semua kejadian ini!” “Kita sedang berusaha, Lia,” ujar Marini. Ralia kembali menatap garang Marini. “Berusaha? Apanya yang berusaha? Bukannya selama ini Mama cuma senang-senang sama suami baru Mama? Mama sibuk dengan dunia Mama sendiri! Mama enggak pernah peduli sama Aulia!” sentaknya. Keheningan yang lebih dingin dari es batu menyergap semua orang yang berada di ruangan itu. Marini yang tangannya sudah gemetaran sedari tadi akhirnya tidak bisa lagi menahan air matanya. Jelas kalimat Ralia membuatnya sakit hati atau bahkan lebih dari itu. Marini tidak lagi mau banyak bicara. Ia menyeka air mata, meraih tasnya kemudian berjalan pergi meninggalkan ruang perawatan. Heri yang sedari tadi menahan dirinya untuk tidak ikut campur akhirnya mendekati Ralia. Ia tahu kalau pemikiran Ralia belum matang, Ralia masih remaja yang kadang selalu menganggap diri mereka adalah satu manusia dewasa yang bisa berpikiran secara matang. Kali ini, Heri tidak bisa diam saja seperti yang selama ini Marini inginkan. Heri berjalan mendekati Ralia. “Selama ini, kamu selalu berpikir kalau Aulia adalah seorang malaikat tanpa pernah tahu kebenaran yang sebenarnya terjadi. Aulia memang bermasalah dan ada satu hal yang kamu enggak tahu. Hari itu, Aulia, dia jatuh dalam keadaan sedang mabuk.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN