“Lo udah liatin gue dari tadi kaya gitu, Aulia! Lo kenapa, sih?”
Ralia masih bungkam. Memang sudah hampir lima menit ia menatap nyalang Maura; berusaha menyelidiki apakah yang diucapkan gadis itu bisa dipercaya. Ralia yakin, melalui Maura, ia pasti bisa tahu apa sebenarnya yang menimpa Aulia.
“Maura, kamu sudah lama berteman dengan Aulia?”
Wajah Maura memucat. “Lo kenapa nanya hal kaya gitu, sih, Aulia? Sumpah, lo serem banget!”
Ralia menangkap tangan Maura dan tidak lupa meninggalkan kesan tatapan serius pada Maura. “Aku enggak tahu keputusan ini benar atau enggak, tapi selain kamu, aku enggak tahu harus tanya siapa lagi,” jawab Ralia.
“Maksudnya?”
“Aku bukan Aulia.”
Maura menepis tangan Ralia. “Lo kenapa, sih? Sumpah, jangan jadi aneh kaya Adjie dong!”
“Maura, aku saudara kembar Aulia, namaku Ralia.”
Maura diam beberapa saat. Ia menatap Ralia seakan menelanjangi gadis itu. “Lo, lo emang terlihat sedikit berbeda, tapi ... Aulia enggak pernah cerita kalau dia punya saudari kembar. Lo jangan gini, enggak lucu!”
Ralia kembali meraih tangan Maura. Ia tidak tahu sedekat apa Aulia dengan Maura, tetapi kalau nama Maura sampai disimpan dalam kontak ponsel Aulia. “Aulia memang pendiam, tapi aku enggak percaya kalau dia mau bunuh diri.”
Darah seakan hilang dari wajah Maura. Pernyataan dari Ralia menghantam jantung Maura hingga rasanya jantung Maura tidak lagi berdetak. “Aulia?”
“Kamu enggak percaya sama ini, 'kan? Aulia enggak mungkin lakuin kaya gitu, 'kan?”
Guncangan di lengan Maura belum bisa mengembalikan kesadaran Maura sepenuhnya, tetapi yang bisa ia rasakan air matanya telah melajur di pipi. “Gu-gue?”
“Maura, aku enggak tahu apa nilai Aulia buat kamu, tapi, tapi buat aku, buat aku Aulia berharga! Walau semua orang yakin, Aulia lompat karena kesadarannya sendiri, aku yakin Aulia enggak kaya gitu. Kamu percaya sama aku, 'kan?”
Maura mengerjapkan mata, berusaha menghilangkan air yang membakar pelupuk matanya. “Tunggu, gue, gue enggak bisa berpikir. Sebentar.”
“Aku enggak bohong, Maura.”
Maura menyusut air mata dari pipinya yang tembam dengan punggung tangan. “Gue, emang ngerasa lo beda. Aulia enggak pernah mau tatap mata gue kalau kita ngobrol, walau sebenarnya dia enggak pernah ngomong apa-apa.”
Ralia, berusaha untuk menerima apa yang dikatakan oleh Maura. “Tadi, kamu bicara soal Adjie, dia, siapa?”
Maura menyeka kembali air matanya kemudian mengangguk. Sebenarnya, ia masih tidak mau percaya dengan apa yang Ralia katakan, percaya kalau gadis yang ada di hadapannya bukanlah Aulia saja, itu sudah sulit. Apalagi menerima kabar kalau Aulia mencoba bunuh diri, tetapi berarti apa yang dikatakan oleh Adjie benar, 'kan?
“Lo beneran bukan Aulia?”
Ralia mengangguk kemudian memperlihatkan ponselnya. Tampak di layar ponsel potret Ralia sedang merangkul erat-erat Aulia. “Ini.”
Untuk kesekian kalinya Maura mengusap air mata juga menyeka ingus dari hidung kemudian menatap bergantian tak percaya Ralia dengan potret yang terpampang nyata di layar ponsel Ralia. “Lo serius?”
“Aku pengennya bercanda, tapi enggak bisa. Aku pengennya juga Aulia itu baik-baik saja dan seharusnya sekarang aku sama dia lagi keliling Jakarta buat ngisi libur semester,” desah Ralia yang kali ini tidak bisa menyembunyikan air matanya.
“Sekarang Aulia di mana?” tanya Maura yang kali ini balas mencengkeram lengan Ralia.
Ralia lega karena bisa melihat ketulusan dalam sorot mata Maura, tetapi kali ini ia butuh seseorang untuk bisa menenangkan hatinya juga. Ralia tidak menjawab, ia malah menghambur ke dekapan Maura; menangis tersedu seperti air yang meluap dari bendungan.
Maura terkesiap mendengar sedu sedan Ralia yang sama sekali tidak coba ditahan oleh Ralia. Maura sempat ragu, tetapi pada akhirnya, tangannya bergerak mengelus punggung Ralia dan air matanya kembali tumpah ruah.
Setelah menangis dan merasa beban yang selama ini dipendamnya pecah, Ralia bisa kembali menjelaskan kondisi Aulia. Maura mengusap cepat air mata sebelum sempat turun dari pelupuk mata ketika Ralia mengatakan kalau Aulia dalam kondisi vegetatif dan kalaupun sadar, besar kemungkinan Aulia akan lumpuh.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tangan Maura tidak bisa berhenti gemetar. Ia memang tidak tahu bagaimana Aulia menilai Maura, ia tidak tahu apakah dirinya dinilai berharga oleh Aulia, tetapi di mata Maura, Aulia adalah sahabatnya.
Bila ditarik mundur, Maura masih ingat betul bagaimana pertemuan pertama mereka. Meski Maura memiliki paras yang imut, tetapi karena tubuhnya agak gempal, tidak heran bila Maura terkadang menjadi bulan-bulanan siswi lain. Ia masih ingat betul, waktu itu hari sedang hujan dan Maura sudah terlambat pulang karena tambahan jam pelajaran. Matahari mulai tenggelam dan Maura pergi ke toilet, tetapi siswi-siswi nakal yang menganggap Maura dari bisa dijadikan bahan lelucon, tega mengunci Maura dalam toilet.
Saat itu, Maura sudah hilang harapan, ia menangis sampai rasanya bola matanya akan keluar, tetapi saat ia merasa benar-benar akan tidur di toilet, penjaga sekolah datang membukakan pintu dan Aulia yang tidak dikenal Maura memeluk dirinya erat-erat. Sejak saat itu, Maura melekatkan diri pada Aulia. Meski pada akhirnya, Maura yang terkesan melindungi Aulia, tetapi keduanya jelas berhubungan baik.
“Lo yakin?” tanya Maura yang tiba-tiba saja berhenti sembari menarik tangan Ralia.
“Iya. Emang kenapa?”
“Gue pengen ketemu Aulia, tapi apa enggak kenapa-kenapa kalau gue ketemu sama nyokap lo?”
Ralia mencondongkan wajahnya ke arah Maura. Memang sedari tadi Maura terus saja berkata, kalau dia takut Marini akan memergokinya atau semacamnya. “Kenapa emangnya, sih?”
“Gue juga enggak tahu kenapa, tapi Aulia enggak pernah mau kalau gue ketemu nyokap kalian.”
“Kenapa?”
“Gue enggak tahu. Pokoknya Aulia itu enggak mau bicarain masalah keluarganya malah kalau dipikir-pikir Aulia enggak pernah cerita apa-apa soal dirinya sendiri.”
Ralia terdiam untuk sesaat. “Ya sudah, nanti kalau Aulia sudah bangun, kita tanya juga soal ini.”
Maura masih belum yakin untuk ikut melangkah. Ia ragu meneruskan rencana Ralia, tetapi Maura tidak mungkin diam saja bila memang apa yang Ralia curigai ternyata benar adanya. Maura harus membantu Ralia.
Maura menarik napas dalam-dalam kemudian menggenggam tangan Ralia, menatapnya seolah ia telah membulatkan tekad. “Ayo, kali ini, kita enggak bisa mundur lagi. Semua demi Aulia!”