Sesekali Ralia menoleh ke belakang. Merasa tidak ada yang mengejarnya, ia memperlambat langkah sembari coba mengatur ulang napasnya. Tangannya masih membekap erat ponsel Aulia. Menurut Ralia, pasti ada yang terlewatkan. Sesuatu yang membuktikan kalau Aulia pasti tidak bermaksud untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Ralia duduk di kursi panjang tepat di bawah naungan pohon beringin. Angin menerpa wajahnya. Meski ragu, tetapi Ralia sadar, tidak ada cela untuk kembali.
Ia membuka penutup plastik kemudian mengeluarkan ponsel Aulia. Ia mengamati ponsel itu dalam waktu beberapa detik kemudian menyalakannya.
Ralia menahan napas ketika muncul logo yang berpendar di layar ponsel. Hingga akhirnya Ralia mengusap layar ponsel dan ia malah terdiam dengan tangan gemetar. Menurutnya tidak mungkin polisi tidak menemukan satu pun petunjuk dan dengan kejam hanya menyimpulkan kalau ya, Aulia benar-benar melakukan tindakan percobaan bunuh diri.
Setelah meyakinkan diri sendiri kalau ia tidak akan menemukan sesuatu yang malah merugikan Aulia. Jemari Ralia kembali berselancar di atas permukaan ponsel Aulia. Hal yang pertama ia lakukan adalah melihat akun sosial media milik Aulia. Namun, hingga beberapa menit berlalu. Ralia malah bingung sendiri.
Ponsel milik Aulia bisa dikatakan kosong. Tidak ada yang mencurigakan. Hanya ada beberapa pesan darinya, Arif juga Marini serta seseorang yang bernama Maura. Bahkan di galeri ponsel pun tidak ada banyak foto, hanya ada beberapa gambar liburan di Surabaya saja.
“Enggak, ini pasti salah!”
“Kami juga berpikir kaya gitu, tapi itu kenyataannya.”
Sontak Ralia mendongak dan senyum Arif ditatapnya. “Ayah?”
Arif mengusap pucuk kepala Ralia kemudian duduk di sampingnya. “Lia, polisi jauh lebih jeli. Mereka memikirkan banyak kemungkinan-kemungkinan yang bahkan enggak pernah kita pikirkan sebelumnya.”
“Tapi, gimana pun, Aulia enggak mungkin dengan sadar coba untuk bunuh diri, Ayah,” sergah Ralia yang tidak mau melepaskan keyakinan itu dalam dirinya.
“Kita masih harus bersabar. Aulia akan sadar dan menjelaskan semuanya. Menurut dokter, kondisi Aulia perlahan membaik.”
“Bohong! Kalau emang gitu, kenapa Aulia masih belum bangun?”
Arif mengusap punggung Ralia, berusaha membesarkan hati putrinya. “Ayah, 'kan sudah bilang, bersabar Ralia. Ketika Aulia bangun, kita akan dapat semua jawabannya. Sekarang, yang perlu kita lakukan hanya berdoa dan berdoa.”
Ralia diam. Kalau sudah seperti ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti semua permintaan Arif.
“Lusa nanti, kita pulang ke Surabaya. Ayah dapat tambahan cuti dua hari saja. Mama kamu sudah janji untuk tetap kasih kita kabar terbaru soal perkembangan Aulia.”
“Maksudnya?”
Arif menarik napas. “Kita enggak bisa lama-lama di Jakarta, Lia.”
Ralia tertegun beberapa detik. “Ke-kenapa? Oh, apa karena mama enggak suka aku tinggal di rumahnya? Enggak masalah, aku juga enggak suka tinggal di rumah kaya gitu! Aku bisa tidur sama Aulia di rumah sakit! Aku enggak akan mau pulang sebelum Aulia bangun!”
Arif tahu itu yang akan dikatakan Ralia. Ia kembali menatap Ralia. “Lia, Ayah sudah setuju untuk mama bawa Aulia berobat ke fasilitas yang lebih baik di luar negeri. Kita hanya menunggu kondisi Aulia dinyatakan stabil oleh dokter juga izin dari kepolisian. Setelah itu, Aulia akan pergi ke Singapura.”
Sontak Ralia bangkit lalu mengusap air matanya. “Kenapa, sih, kalian itu enggak pernah luas untuk pisahin aku sama Aulia? Kenapa kalian itu senang sekali bikin aku sama Aulia berjauhan?”
Arif bangkit lalu mengusap lengan Ralia, tetapi gadis itu menepis tangannya. “Enggak seperti itu, Ralia.”
“Lalu seperti apa? Pernah enggak sih, sekali saja Ayah percaya sama aku? Aku yakin kalau Aulia enggak melompat atas kesadarannya sendiri!”
Arif menyugar rambutnya. “Lalu apa yang kamu mau? Apa yang akan kamu lakukan?”
Ralia tidak langsung menjawab pertanyaan Arif dan tidak berani juga menatap mata Arif. “Aku enggak akan pergi dari sini. Meski Ayah memaksa, aku enggak akan mau pulang ke Surabaya sampai Aulia bangun!”
Ralia kembali melangkah pergi tanpa tahu ke mana arah tujuannya. Waktu yang ia punya hanya sedikit dan demi apa pun itu, ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Aulia.
***
Setelah seharian memikirkan dan hanya berjalan bolak-balik di kamar apartemen Aulia, akhirnya Ralia duduk di tepian ranjang kemudian mengusap layar ponsel milik Aulia. Ia memilik satu nomor atas nama Maura untuk dihubungi.
Setelah cukup lama terdengar nada sambung stabil, Ralia hampir saja menjatuhkan ponsel ketika mendengar kata halo di ujung sambungan.
“Maura?”
“Aulia? Akhirnya, lo telpon gue juga!”
Entah harus kecewa atau lega ketika tahu kalau lawan bicaranya adalah gadis yang tempo hari berkunjung ke apartemen. “Ini ... Maura?”
“Lo kenapa? Masih enggak enak badan? Iya, ini gue. Kenapa?”
Ralia bingung harus bicara apa, tetapi sepertinya dari Maura ia bisa mengorek satu atau dua informasi tentang Aulia. “Kita, apa kita bisa ketemu?”
“Ketemu? Ya, boleh. Di mana?”
***
Ralia dan Maura sama-sama diam seribu bahasa. Sesekali mereka juga tampak saling memandang satu dengan yang lain. Maura tampak menatap ke sekeliling kamar. “Gue enggak nyangka akhirnya lo ajak gue ke sini.”
Ralia menoleh. Kalimat yang dikatakan Maura terdengar jelas. Sangat jelas. “Aulia enggak pernah ajak kamu ke sini?”
Maura menoleh dengan cepat, ia menurunkan sedikit kaca mata lalu menatap Ralia dengan tatapan menyelidik. “Lo kenapa? Perasaan dari kemarin aneh. Kaya bukan lo, gitu.”
Ralia memutar bola matanya, tetapi pandangannya kembali pada Maura. “Kamu, belum pernah ke sini sebelumnya?”
“Lo, lo kenapa, sih?” Ralia diam, ia berpikir untuk jujur, tetapi ia tidak tahu Maura berada di pihak yang mana. Bisa jadi, gadis itu yang mendorong Aulia dari balkon. “Aul, lo kenapa?”
Ralia mengerjapkan mata kemudian memijat pelipisnya. “Enggak tahu, belakangan ini, aku ngerasa aneh.”
Maura tertawa kecil. “Ya, gue juga tahu kalau lo aneh. Aneh banget liat lo bisa banyak ngomong kaya gini.”
“Memangnya, sebelumnya aku jarang bicara.”
“Lo kenapa, sih?” tanya Maura gemas sembari memukul pelan lengan Ralia.
“Aku, sebenarnya aku mau tanya beberapa hal sama kamu.”
“Ya sudah, tanya aja. Gue jawab kalau bisa jawab.”
“Maura, aku enggak tahu mau mulai dari mana.”
AMelihat Ralia yang tiba-tiba menangis, senyum Maura hilang. Ia menggenggam tangan Ralia. “Lo kenapa? Gue tahu ada yang enggak beres! Lo kenapa? Dari awal, pas Adjie telpon dan bilang kalau lo jatuh dari balkon apartemen, gue ngerasa kaya mau mati, tapi gue lega tuh orang bohong. Lo baik-baik aja.”
Ralia mengusap air matanya. “Adjie?”
Maura mengangguk. “Iya, si Adjie.”