Tidak Bisa Menerima

1108 Kata
Ralia pernah sekali atau jujur saja, ia pernah bermimpi agar keluarganya bisa berkumpul secara utuh. Ralia tidak pernah mau berhenti berdoa kalau suatu saat nanti Marini dan Aulia akan pulang lalu mereka tinggal dalam satu atap yang sama (lagi). Sangat wajar bila Ralia tidak akan pernah bisa terima bila Marini ternyata telah menikah lagi. Terlebih, Ralia tahu kalau Arif masih sangat mencintai Marini. “Ini.” Ralia menyeka air matanya dengan cepat ketika ada yang menyodorkan sapu tangan. “Terima kasih, tidak perlu,” ucap Ralia yang bersiap akan meninggalkan tempat itu. “Lia.” Sontak Ralia menoleh ke arah orang yang memanggilnya itu. Mata mereka bertemu. Ralia bangkit, hendak berlari, tetapi tangannya ditarik dengan cepat. “Apa kabar Lia?” Ralia berusaha menepis tangan lelaki yang menggenggam tangannya. “Hei, tenang. Oke aku lepasin.” Ralia berusaha keras untuk tidak tampak panik, tetapi ini kali pertamanya bicara pada orang asing yang ternyata tahu namanya. “Aku lagi jenguk teman aku, tadi enggak sengaja lihat kamu lari ke sini. Kamu kenapa, Aulia?” Ralia tertegun beberapa detik, mendengar penjelasan lelaki yang dinilai Ralia sebaya dengannya. Dari penjelasan lelaki itu, Ralia bisa dengan cepat menyimpulkan kalau dia adalah teman Aulia atau seseorang yang mengenal Aulia. “A-aku, aku, enggak, aku enggak kenapa-kenapa,” jawab Ralia yang benar-benar tidak tahu harus berkata apa. “Kamu yakin enggak kenapa-kenapa?” Ralia meremas tangannya sendiri. “I-iya, aku enggak kenapa-kenapa. Kalau gitu, aku duluan,” ucapnya bergegas pergi sebelum ia melakukan kesalahan dengan bicara hal yang tidak perlu.  Sesekali Ralia menoleh ke belakang. Lelaki itu masih berdiri di sana, balas menatapnya. Ini adalah kali kedua, Ralia bertemu dengan seseorang yang mengira dirinya adalah Aulia. Tidak tahu itu bagus atau buruk, Ralia pernah berpikir untuk bertanya kepada mereka yang kenal Aulia, tentang apa yang sebenarnya terjadi, tetapi ada sesuatu yang memaksa Ralia untuk diam saja. Setelah meninggalkan tempat parkir, Ralia tidak tahu harus ke mana. Ia tidak mungkin masuk ke dalam kamar perawatan serta mendapati ibunya bermesraan dengan sang ayah tiri. Ralia hanya bisa duduk di kursi ruang tunggu. Sembari sesekali membalas pesan yang masuk ke ponselnya. Ia terkejut bukan main ketika ada seseorang yang duduk tepat di sampingnya. Ralia menoleh, hendak melarikan diri, tetapi tangan orang itu lebih dahulu menahan niat Ralia. “Kita bicara sebentar.” “Maaf, enggak bisa.” “Maaf, bukan bermaksud ikut campur, tapi karena sekarang Marini adalah istri saya. Jadi, saya berhak lindungi dia.” Ralia ingin sekali menutup telinganya rapat-rapat, tetapi ia tahu walau ia melakukan itu, ia masih bisa dengan jelas mendengar ocehan Heri. “Kalau begitu, enggak ada yang perlu dijelasin.” “Marini sayang sama kamu dan Aulia. Apa yang menimpa Aulia, itu bukan salah Marini. Kamu tahu sendiri bagaimana Aulia, bukan? Dia tidak pernah bicara dan memendam semuanya sendirian.” Seperti ditampar untuk yang kedua kali, Ralia sontak bangkit lalu menatap Heri. “Aulia enggak kaya gitu!” “Memang seperti itu. Suka atau enggak!” Ralia hanya terdiam. Kedua tangannya terkepal erat-erat. Ia malas meladeni Heri. Hingga akhirnya Ralia memilih untuk pergi ke kamar Aulia. *** Hari berganti. Ralia merasa semakin sulit untuk berada sendirian saja di Jakarta. Ia berpikir untuk menghubungi Arif dan merengek-rengek minta lelaki itu segera kembali. Semua semakin sulit karena Marini tampak tidak sungkan memperlihatkan bahwa ia dan Heri saling mencintai. Marini juga masih berusaha keras untuk bisa kembali bicara dengan Ralia dan Ralia mulai kehilangan banyak alasan untuk mengelak. Ralia mengibaskan jaketnya yang masih agak basah. Semalam, hujan mengguyur Jakarta. Ia tidak sempat berteduh atau semacamnya. Ralia tidak mau memakai pakaian Aulia, ia memilih untuk tetap mengenakan semua miliknya walau dalam kondisi rusak atau basah. Kembali menyusuri lorong-lorong koridor rumah sakit membuat Ralia berpikir semakin ke sini, ia semakin terbiasa melihat kengerian serta dinding pucat rumah sakit dan Ralia juga sudah mulai tidak mual ketika menghirup aroma aneh rumah sakit. Mungkin, sebaiknya Ralia tinggal di kamar perawatan saja. Ketika membuka pintu kamar perawatan Aulia, Ralia terkejut karena melihat Arif sudah duduk di sofa bersama dengan Marini juga Heri. “Ayah!” panggil Ralia yang kemudian langsung berlari mendekap Arif. “Maaf Ayah langsung ke rumah sakit dan datang enggak kabari kamu,” sesal Arif. “Enggak apa-apa, Ayah. Ralia seneng, Ayah datang.” Arif mengusap pucuk kepala putrinya kemudian melepaskan dekapan Ralia. “Duduk dulu, Ayah sedang bicara hal serius sama mama dan om Heri.” Ulu hari Ralia seakan ditonjok ketika Arif bisa dengan tenang menyebut nama Heri. Ralia tahu dengan pasti kalau selama ini Arif masih menjaga dengan baik hatinya untuk Marini. Ralia tahu kalau Arif menolak untuk menikah lagi karena masih berharap suatu hari nanti Marini akan pulang. Arif menarik tangan Ralia untuk ikut duduk di sebelahnya kemudian kembali menatap ke arah Marini. “Jadi, apa kesimpulan dari hasil pemeriksaan polisi?” Marini menarik napas dalam-dalam kemudian ia menggenggam tangan Heri berharap kehangatan tangan suaminya bisa membuat Marini sedikit lebih tenang. “Aulia nekat melompat karena terindikasi depresi.” “Mungkin karena kehamilannya,” timpal Arif. “Aku seharusnya bisa lebih dekat dengan Aulia. Tentu aku bisa melakukan sesuatu untuk Aulia,” sesal Marini. “Kamu adalah ibu yang baik, Rin,” ungkap Heri berusaha menyemangati. Sebenarnya Arif jengah mendengar komentar Heri. Lelaki itu boleh menjadi suami Marini yang berusaha menenangkan istrinya, tetapi Heri tidak berhak ikut campur dengan apa yang menimpa putrinya, Aulia. “Jadi, polisi menutup kasus ini?” tanya Arif lagi. Marini mengangguk. “Sampai menunggu keterangan dari Aulia, sementara polisi menghentikan penyelidikan. Tidak ada tanda-tanda aneh. Bahkan setelah memeriksa ponsel Aulia, tidak ada petunjuk yang bisa mengarahkan kita ke alasan apa-apa.” Ralia melirik sebuah ponsel yang terbungkus plastik klip di atas meja. Berpikir kalau mungkin itu adalah ponsel milik Aulia. “Tidak ada riwayat pesan yang mencurigakan. Jadi, polisi mengembalikan semua barang bukti. Menurut pengacara, kita juga tidak bisa menuntut apa-apa sebelum mendengar keterangan dari Aulia,” lanjut Marini. “Tapi Aulia enggak mungkin nekat kaya gitu,” protes Ralia. Sekilas Marini melirik Ralia. “Aulia sangat pendiam, tertutup. Enggak ada yang bisa tebak jalan pikiran Aulia.” “Itu karena Mama enggak berusaha dekat sama Aulia! Walau aku jarang ketemu dan komunikasi sama Aulia, aku tahu Aulia enggak mungkin lakuin itu!” sentak Ralia. “Lia, pelankan suara kamu. Dia ibu kamu,” ucap Arif yang memang tidak suka Ralia terus memusuhi ibu kandungnya sendiri. Ralia bangkit kemudian menyeka air matanya. “Ibu mana yang bisa dengan tenang menerima kenyataan kalau putrinya coba bunuh diri?” desis Ralia, “aku enggak bisa terima Aulia disalahkan karena dia enggak salah!” Ralia menyambar ponsel milik Aulia di atas meja kemudian berlari pergi tanpa peduli teriakan dari Arif.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN