Ralia kembali berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Ketika matanya bertemu dengan siapa saja di lorong, ia merunduk. Tidak tahu, alasannya mengapa, tetapi Ralia terus melakukan itu hingga ia tiba di kamar perawatan Aulia.
Keterkejutannya bertambah-tambah kala Ralia melihat ada orang asing yang ikut duduk di sofa. Marini tampak begitu tidak berkeberatan menyandarkan kepalanya di bahu orang asing itu. Ralia masuk. Marini menoleh pada Ralia lalu menarik kepalanya dari pundak lelaki itu.
“Aku pikir enggak sembarangan orang boleh masuk ke kamar perawatan Aulia,” sindir Ralia yang kemudian duduk di kursi sebelah ranjang Aulia.
Marini tercekat, wajahnya merona, ia melirik Heri yang sepertinya ikut merasa tidak nyaman akan pernyataan Ralia. “Ini suami Mama.”
Sekujur tubuh Ralia menegang. Ia ingin menatap Marini, tetapi entah mengapa yang bisa ia lakukan hanya menatap Aulia yang terpejam.
“Kami menikah sekitar satu tahun lalu,” lanjut Marini.
Ralia bisa merasakan tangannya mulai gemetar serta kedua pelupuk mata memanas. “A-aku enggak tahu,” ucapnya tergagap seperti orang bodoh.
Marini tersenyum seolah tahu apa yang ada di benak Ralia. “Enggak apa-apa. Mama memang enggak bilang ke siapa-siapa kalau kami sudah menikah. Kamu enggak perlu meminta maaf. Iya, 'kan, Mas?”
Heri mengalihkan pandangannya ke arah Marini. Ia yang memang sangat memuja wanita itu menjawab, “Iya, enggak apa-apa.”
“Siapa yang mau minta maaf?”
Sontak Marini dan Heri kembali menatap Ralia dan kini keduanya sama-sama terdiam mendengar ucapan menohok dari Ralia.
“Jadi, ini? Cowok pilihan Mama? Cowok yang buat Mama sampai tega ninggalin ayah? Cowok yang bisa bikin Mama lupa kalau Mama sudah punya suami dan anak?”
Semburat merah yang nyata hadir di wajah Marini dan Heri. Refleks Marini bangkit, tidak apa-apa mengungkit masa lalu, tetapi tidak ada yang tahu betapa sulitnya ia menjalani hidup setelah nekat pergi dari sisi Arif. Itu tidak mudah dan ia sadar, tidak ingin juga dikasihani. Ia juga tahu kalau kesalahannya di masa lalu tetap akan menuai karma meski ia terlah berusaha menebus dosa, tetapi semua itu tidak ada kaitannya dengan Heri.
Heri, lelaki yang tanpa sengaja dikenal Marini tiga tahun lalu ketika ia berada di dalam pesawat menuju Bali. Hanya cukup dengan satu kali berpandangan, keduanya jatuh cinta hingga berada di titik ini. Marini tidak akan rela ada siapa pun yang berani mengusik ketenangan rumah tangganya yang baru bersama Heri.
“Kamu enggak boleh bicara kaya gitu! Apa Arif enggak pernah ajarin kamu untuk bicara lebih pelan? Lebih sopan? Apa kamu lupa kalau aku ini orang yang melahirkan kamu?” sentak Marini.
Genangan yang sedari tadi bercokol serta membakar kedua pelupuk mata Ralia melajur di pipi. Namun, gadis keras kepala itu enggan menunjukkannya pada Marini. Orang yang sangat ia benci. “Aku enggak pernah minta dilahirkan sama Mama.”
Marini terkejut bukan main sampai rasanya ia tidak sadar kalau tubuhnya bergerak sendiri ke arah Ralia dan tangannya bergerak menyambar pipi Ralia. “Kurang ajar!”
Heri yang tahu kalau Marini pasti tidak bermaksud untuk melukai Ralia bahkan sampai menampar Ralia bergerak cepat menarik lengan istrinya itu. “Sabar! Enggak apa-apa. Mas enggak apa-apa!” bujuknya berusaha menurunkan amarah yang berkelebat di kedua mata Marini.
“Ya! Aku memang bersalah karena telah meninggalkan kalian di Surabaya, tapi kamu atau siapa pun enggak berhak untuk mengusik apa yang aku punya!” desis Marini.
Perlahan tangan Ralia naik mengusap pipinya. Ia yang masih sangat terkejut, bangkit kemudian bertanya, “Apa Mama pernah sekali saja berpikir tentang aku? Apa Mama pernah ... pernah sekali saja ingin tahu bagaimana kabarku?”
Marini terdiam, api membara yang tadi membakar habis hati serta logikanya perlahan kembali. “Lia.”
“Apa Mama tahu kalau Ralia juga pengen kaya anak-anak lain? Apa Mama tahu, betapa aku kebingungan saat aku dapat haid pertama aku? Mama harusnya sadar kalau sekarang, Mama itu enggak sendirian.” Ralia mengusap air matanya lalu menatap Marini, susah payah ia coba melengkungkan senyum lalu kembali berkata, “seharusnya aku dengar ucapan ayah. Seharusnya aku menurut dengan enggak berpikir kalau kalian bisa bersama lagi.”
Marini hanya bisa diam menyaksikan Ralia keluar dari kamar perawatan dengan setengah berlari. Lututnya goyah, beruntung Heri berada di sampingnya. Dengan cekatan pria itu menopang tubuh Marini. “Kamu enggak kenapa-kenapa?” tanya Heri cemas.
Marini memijat pelipisnya lalu mengangguk pelan. Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar. Ralia sudah tidak kelihatan lagi. Penyesalan kembali datang menyergap Marini. Ia sadar dengan kesalahan yang sudah dilakukannya, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan Marini. Ia tidak mungkin memperbaiki semuanya dengan kembali pada Arif. Itu tidak pernah terlintas dalam benaknya. Ia sadar, ketika ia melangkah keluar rumah, ia tidak mungkin kembali lagi pada Arif.
“Seharusnya kamu enggak kasar sama Ralia. Dia masih kecil, wajar kalau dia bicara kaya gitu.”
Marini menoleh ke arah Heri. “Kamu enggak marah sama Ralia, Mas?”
Heri membimbing Marini untuk kembali duduk di sofa. Ia mengusap pipi istrinya dengan kasih sayang. “Enggak. Mas ngerti. Kamu sudah cerita semuanya tenang masa lalu kamu. Mas rasa, wajar kalau Ralia marah. Kamu emang salah karena selama ini, enggak jaga hubungan baik dengan Ralia juga mantan suami kamu.”
Marini menundukkan kepalanya. “Ya. Kamu benar, Mas.”
Heri mengusap pucuk kepala Marini. “Kamu memang enggak bisa kembali ke masa lalu, tapi kamu bisa perbaiki semuanya. Ralia sama terguncangnya dengan kamu. Apa yang terjadi sama Aulia, kamu enggak mau itu terulang kembali sama Ralia bukan?”
Marini menatap Heri dengan cepat. “Enggak, Mas. Ralia enggak boleh kenapa-kenapa. Aku sayang sama Ralia.”
“Itu yang enggak Ralia percaya dari kamu. Ralia enggak percaya kalau kamu juga sayang sama dia. Jadi, kamu harus berjuang supaya Ralia bisa percaya sama kamu.”
Marini mengangguk-angguk. Ia tidak lagi banyak bicara. Yang bisa dilakukannya hanya mendekap erat Heri serta tenggelam di dadanya.
Sementara itu, Ralia yang bersusah payah menahan sedu sedan keluar dari sela bibirnya berlari menuju arah parkiran rumah sakit. Di sana, ia melihat sebuah kursi panjang dekat deretan mobil yang terparkir rapi. Tepat ketika Ralia duduk, tangisnya memecahkan keheningan di antara mobil yang terparkir.
Air matanya telah menganak sungai. Menggenang tak lama di pelupuk mata lalu turun melajur di pipi. Sejenak berhenti di ujung dagu, kemudian jatuh menimpa tangan Ralia.
“Ini.” Ralia menoleh dengan cepat ketika ada tangan yang menyodorkan selembar kain padanya. “Ini, hapus air mata kamu.”