Berkata kalau Ralia tidak terkesan ketika ia membuka pintu adalah bohong. Tepat ketika daun pintu terbuka lebar, ia melangkah masuk. Lampu di ruang ganti sepatu menyala otomatis. Ralia menoleh ke kiri dan kanan kemudian membuka sepatunya. Kesan pertama ketika kakinya melangkah di ruang yang besar dengan sofa yang saling berhadapan adalah berpikir mungkin ini ruang tamu.
Terus melangkah, tidak jauh setelah itu ada satu ruangan yang lebih besar, di sebelah kiri ada sofa lagi dan di hadapannya terdapat televisi layar datar. Ralia menoleh ke sisi kanan. Terlihat ada mini bar, lemari pendingin dua pintu, berbagai peralatan memasak yang sepertinya jarang dipakai, dispenser air, serta kompor listrik.
Ralia kembali melangkah, kali ini ada dua pintu yang saling berhadapan. Ia membuka salah satu perusahaan pintu di sebelah kiri. Ralia memutar palka pintu. Seragam sekolah yang tergantung di sudut ruangan, tas serta meja belajar di samping ranjang membuatnya segera tahu kalau kamar ini adalah kamar Aulia.
Ralia masuk, menutup pintu lantas menurunkan ranselnya. Sejenak ia mengedarkan pandangan. Menatap lemari, meja belajar, tempat tidur yang semuanya terlalu rapi, malah terkesan seperti tidak pernah digunakan. Perlahan Ralia duduk di tepian ranjang. Hatinya yang sedari tadi sudah terasa tidak nyaman kini membuat matanya kembali berkabut.
Cepat-cepat ia menyusut air matanya ketika ia sadar melihat pintu kaca yang sepertinya terhubung ke arah balkon. Bulu kuduk Ralia meremang. Di sanalah Aulia nekat melompat, di sanalah Aulia kehilangan arah hingga merasa mengakhiri hidup adalah jalan terbaik.
Ralia memejamkan mata rapat-rapat sembari menunduk ia bergumam, “Pasti ada sesuatu yang salah. Aku tahu Aul enggak mungkin kaya gitu. Aul enggak mungkin kaya gitu.”
Dada Ralia naik turun menahan sesak. Ia melepaskan jaketnya kemudian bergegas keluar kamar dengan niat membersihkan diri. Namun, ketika ia tiba di kamar mandi, tangisnya malah pecah seiring derasnya air yang keluar dari keran.
***
"Ralia? Bangun, Lia. Lia, Ralia, bangun.”
Perlahan mata Ralia mulai terbuka. Awalnya memang terlihat samar-samar, tetapi lama-kelamaan bayangan yang ada di hadapannya semakin jelas. Ralia terkesiap, tidak percaya dengan apa yang ditatapnya dan tidak ada yang bisa dilakukan selain menangis sembari memeluknya erat-erat. Mendekap seolah takut akan berpisah.
"Aulia, kamu baik-baik saja? Aul ... aku takut!" raungnya.
Sentuhan nyata di punggung membuat Ralia mengurai dekapannya, ia menatap Aulia yang balas menatapnya. Aulia, mengusap air mata Ralia yang terus mengalir. "Aku ingin pulang," lirih Aulia, "izinin aku pulang," tambahnya lagi.
"Pulang? Ya, kita pergi bersama! Ayah akan membawamu pergi ke Surabaya! Kita akan tinggal bersama!" balas Ralia seraya menatap cemas Aulia. Aulia malah menunduk serta wajahnya berubah sendu. Ralia dengan cepat menarik tangan Aulia. “Kenapa? Kenapa kamu diam aja?”
“Aku enggak bisa pergi sama kalian.”
Ralia tercekat. “Ke-kenapa?”
“Karena aku akan pulang.”
“Ya, kita pulang ke Surabaya, kamu selalu bilang kalau senang tinggal sama aku di Surabaya. Kamu janji sama aku, kamu harus mau ikut aku pulang ke Surabaya!”
Aulia kembali menggeleng. “Aku minta maaf karena cuma bisa bikin kalian cemas.”
“Kamu enggak boleh ngomong kaya gitu, Aul, kita keluarga, kita—“
“Aku akan segera pergi ke tempat anak aku, Lia.” Lidah Ralia membeku. Ia hanya bisa menatap Aulia dengan napasnya yang terasa berat. Jantung Ralia berdentum lebih cepat, getaran dingin menyergap ke seluruh tubuhnya, ia sungguh ketakutan. “Aku enggak mau lagi, Ralia. Aku takut,” lanjut Aulia yang kemudian menunduk sembari menggenggam erat tangan Ralia.
“Kenapa? Kamu kenapa?”
“Aku, aku ingin pulang Ralia.”
“Lia? Lia? Ralia!!”
Perlahan-lahan mata Ralia terbuka. Seketika rasa kantuknya lenyap ketika wajah Marini sudah ada di hadapannya. Sontak ketika Ralia coba bangun, Marini menarik diri dari pandangan Ralia lalu duduk tepian ranjang.
Ralia yang masih kebingungan dengan jantung berdentum hebat menatap ke sekelilingnya. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi kemudian ia menunduk—melihat tangannya sendiri yang gemetaran.
“Sebentar, Mama ambil minum dulu,” ucap Marini lantas bergegas pergi.
Ekor mata Ralia mengikut gerakan Marini yang pergi meninggalkan Ralia kemudian Ralia kembali menatap kedua telapak tangannya. “Tadi, tadi, jadi, tadi cuma mimpi?” cicitnya.
Marini kembali dengan membawa segelas air. Ia kembali duduk di tepian ranjang. “Ini, minum dulu,” ujarnya. Ralia diam beberapa detik. Sebenarnya ia tidak ingin mengambil gelas itu, tetapi sepertinya, Ralia benar-benar butuh sesuatu yang bisa sepenuhnya mengembalikan kesadarannya. “Pelan-pelan,” ucap Marini kala melihat Ralia minum tergesa-gesa.
Ralia mengembalikan gelas yang telah kosong ke Marini. “Terima kasih.”
“Iya. Kamu enggak apa-apa? Mama baru pulang untuk ganti pakaian. Mama dengar kamu mengigau sambil nangis terus sebut-sebut nama Aulia,” jelas Marini.
“Aku, aku enggak tahu,” balas Ralia yang masih kebingungan. Haruskah ia berkata yang sejujurnya tentang mimpi yang terasa begitu nyata atau diam saja.
Marini mengusap dahi Ralia, tetapi gadis itu refleks menepis tangan Marini. “Maaf,” ucap Marini yang seketika tahu kalau Ralia belum bisa menerima kehadirannya.
“Aku, aku ingin sendirian.”
Marini menarik napas dalam-dalam kemudian mengangguk. “Ya. Mama cuma sebentar. Ganti pakaian lalu kembali lagi ke rumah sakit. Kamu enggak apa-apa sendirian?”
Ralia malas berlama-lama berdekatan dengan Marini. Cepat-cepat ia segera mengangguk dengan harapan Marini lekas pergi.
Marini menatap Ralia. Berpikir, meski rupa Ralia persis sama dengan Aulia, jelas kepribadian mereka berbeda. Aulia tidak pernah sekali pun menjawab secara tegas apa-apa yang dikatakannya. Itu berbanding terbalik dengan apa yang dimiliki Aulia. Marini bangkit kemudian berkata, “Kalau kamu perlu apa-apa, kamu boleh telepon Mama.”
“Kalau aku perlu sesuatu, aku bisa cari sendiri.”
Penolakan dan penolakan. Marini berpikir sampai kapan ia akan mendapatkan penolakan dari putrinya sendiri. “Baiklah. Mama pergi dulu.”
Tepat ketika Marini telah pergi, Ralia kembali menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Kepalanya menoleh ke kiri, menatap jam Beker yang jarumnya menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas. Ralia kembali bangkit kemudian merogoh isi ranselnya.
Ponsel pintar milik Ralia berkedip ketika Ralia mengusap layarnya. Ralia terkesiap melihat beberapa notifikasi panggilan tidak terjawab serta beberapa pesan dari Arif. Ralia membuka salah satu pesan yang bertuliskan.
Kamu tidur? Ayah sudah sampai di rumah. Balas pesan ayah kalau kamu bangun.
Jemari Ralia bergerak lincah membalas pesan Arif. Ia membalas.
Ya, sehabis mandi sama minum obat, Ralia ketiduran. Maaf, Ayah. Besok pagi, Ralia telpon Ayah.
Setelah membalas, Ralia meletakkan ponselnya di nakas kemudian kembali duduk di tepian ranjang. Ia menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara langkah mendekat. Berpikir mungkin itu adalah Marini yang masuk ke kamarnya sendiri.
Sekali lagi Ralia merebahkan diri ke ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar. Ia berusaha mengingat tentang apa yang baru saja terjadi di dalam mimpinya. Mimpi tentang Aulia. Beberapa pertanyaan berkelebat di benak Ralia.
Hal seperti, mengapa Aulia melakukan ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa hanya karena hamil? Apa Aulia menginginkan kehamilan ini? Lantas apa Aulia bersedih karena kehilangan bayinya? Mengapa Aulia dan Marini seperti memiliki jarak yang sangat jauh?
Ralia menghembuskan napasnya. Semua pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab sendiri oleh Aulia. Aulia harus sadar dan menjelaskan semuanya.
***
Pagi menjelang, Ralia bangun dengan kepala pening karena semalaman menangis. Setengah mengantuk, Ralia keluar dari kamar. Sejenak ia berhenti di depan kamar sembari menatap pintu kamar Marini yang tertutup. Tidak ada suara dari dalam sana, Ralia berpikir mungkin malam tadi, Marini pergi lagi ke rumah sakit.
Ralia berjalan menuju rak dapur, ia menarik satu gelas lalu mengisi penuh dengan air dingin dari dispenser. Ia minum seperti seseorang yang baru saja berjalan ribuan kilo di padang pasir. Sayangnya, rasa haus yang membuat kerongkongannya masih terasa kering tidak mau sepenuhnya hilang.
Sekali lagi Ralia mengedarkan pandangan ke penjuru apartemen. Pikirnya, mungkin tempat ini bisa jadi lebih nyaman kalau Arif dan Marini tinggal bersama layaknya sebuah keluarga pada umumnya.
“Keluarga?” cicit Ralia.
Sejak kepergian Marini dan saudari kembarnya—Aulia, Ralia tidak tahu lagi apa makna dari sebuah kata keluarga. Ralia sulit untuk menjalani hidup seperti yang selama ini dicontohkan oleh Arif. Ayahnya selaku mengatakan kalau Ralia bisa bahagia walau tanpa kehadiran mama, tetapi Arif tidak pernah tahu, ada beberapa bagian yang tidak bisa dilakukan oleh seorang ayah, meski Arif telah berusaha keras untuk menjadi seorang ayah yang baik.
Ralia menarik napas dalam-dalam kemudian meletakkan gelas ke meja dapur. Ia kembali berjalan menuju kamar Aulia, mematikan lampu lantas membuka gorden. Seketika seluruh ruangan dimandikan cahaya matahari. Ralia kembali gemetar ketika teringat akan kenyataan Aulia melompat dari sini, dari balkon yang ada di hadapannya. Balkon yang terhalang pintu kaca.
Tangan Ralia gemetar, tetapi ia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk menarik selot lalu menggeser pintu. Angin menerpa wajahnya ketika Ralia melangkah keluar menuju balkon. Kakinya sempat membeku ketika ia melihat pagar besi tipis. Otaknya membayangkan Aulia berdiri di sana, naik ke atas pagar kemudian melompat.