“Aulia?”
Ralia enggan untuk membalikkan raganya. Dia ... yang memanggilnya dengan sebutan Aulia, jelas mengira Ralia adalah Aulia. Ia belum siap untuk membicarakan soal Aulia pada siapa pun, apa lagi mengingat kalau ternyata mamanya meminta pihak apartemen untuk tidak bicara soal kejadian mengerikan itu.
“Aulia!”
Cengkeraman erat di lengan yang tiba-tiba datang kemudian memaksa Ralia memutar balik tubuhnya hampir membuat gadis itu limbung. Ralia tidak punya waktu dan kesempatan untuk melarikan diri.
Mata mereka bertemu. Sejenak keduanya terpaku-berusaha membaca situasi aneh yang melingkupi hingga tiba-tiba gadis yang tangannya masih mencengkeram erat bahu Ralia, menarik Ralia ke dalam dekapannya. Lama-kelamaan terdengar suara tangis yang semakin nyata.
“Ya Tuhan, gue, gue senang liat lo sehat-sehat aja. Gue bersyukur Aulia, lo enggak tahu kalau gue beneran hampir mati karena dengar berita tentang lo,” raungnya sembari terisak-isak.
Ralia berusaha melepaskan diri dari dekapan gadis tambun berkacamata itu, tetapi semakin Ralia coba meloloskan diri, semakin erat pula dekapannya. Ralia bingung, haruskah ia balas mendekapnya. Gadis itu menangis dengan tulus. Ralia bisa merasakannya.
“Kenapa lo diem aja? Kenapa, sih, lo terus kaya gini? Aul? Aulia?” cecarnya sembari mengguncang-guncangkan bahu Ralia.
Sekali lagi mata mereka bertemu. Ralia memang tidak kaget kalau ada yang mengira dirinya adalah Aulia, mereka adalah kembar identik. Walau sebenarnya, kalau dilihat dengan saksama, perbedaan keduanya akan terlihat sangat jelas. Aulia memiliki t**i lalat kecil di dekat alis sebelah kanannya. Juga lesung pipi lebih dalam dari Ralia.
“Aulia? Lo dengar gue enggak sih?” protesnya.
Ralia tidak bisa berbuat apa-apa selain sejenak memandanginya. “I-iya, dengar,” jawabnya dengan nada pelan.
“Ya ampun, gue enggak pernah sesenang ini dengar suara lo,” akunya kembali menarik Ralia dalam dekapan.
Isak tangis yang kembali terdengar jelas, membuat Ralia ingin sekali ikut menangis. Semua beban yang menghajar dadanya sudah ada di ujung kesabaran, tetapi Ralia tidak ingin pertahanannya jebol. Sekarang, ia benar-benar meloloskan diri dari dekapan gadis itu lalu mundur selangkah.
“Terima kasih kamu sudah cemas, tapi aku baik-baik saja,” ujar Ralia sembari melebarkan senyumannya.
Wajah tembam gadis itu tiba-tiba saja berubah pucat. Bahkan, ia turut mundur selangkah mengikuti gerakan Ralia seolah Ralia berbahaya. “Lo ... senyum?”
Senyum yang tadinya dimaksudkan Ralia agar situasi canggung tidak berlangsung lama akhirnya malah menjadi bumerang. Keringat dingin membasahi kedua telapak tangan Ralia. “Me-memangnya kenapa?”
Sekali lagi gadis itu menarik tangan Ralia, bahkan memegangi dahi Ralia. “Lo enggak apa-apa? Beneran?”
Ralia menepisnya pelan. “Aku enggak kenapa-kenapa.”
“Lo yakin?” tanyanya lagi.
“Enggak pernah seyakin ini.”
“Lo yakin?” tanyanya lagi yang kali ini bersuara lebih cemas sembari mencondongkan wajahnya ke arah Ralia
Ralia khawatir, ia merasa lebih baik berkata, hai, aku Ralia, saudari kembar Aulia. Masalah selesai, tetapi sepertinya ia tidak bisa mengatakan hal semacam itu. “Iya,” jawab Ralia yang kemudian mendorong sedikit ujung bahu gadis itu. Ralia tidak berani untuk bertaruh. Kalau gadis itu tidak berada di pihak Aulia, maka semuanya akan kacau. Air mata gadis itu bisa jadi hanyalah tipuan semata.
Gadis itu melepaskan kecemasan dalam helaan napas kasarnya. “Gue lega. Setelah lihat lo, gue bisa tidur nyenyak. Gue tahu pasti berita itu salah. Pasti cewek yang mau bunuh diri itu bukan lo. Dari semua yang gue kenal, Lo adalah orang yang paling enggak pernah punya masalah dan enggak punya alasan buat lakuin hal-hal kata gitu.”
Ralia mengerjapkan matanya. Hatinya lega karena ada yang satu pemikiran dengannya. Ingin sekali menimpali gadis itu. Ya, ya dan iya. Jelas sekali ia setuju dengan semua yang diucapkan oleh dia yang tidak diketahui namanya itu. Menurut Ralia pun, Aulia tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Semua pasti bisa dijelaskan. Semua hanya kesalahpahaman. Meski Aulia benar-benar nekat melompat, bisa jadi waktu itu Aulia berniat melarikan diri atau semacamnya.
“Kita bisa bicara? Kamu lagi buru-buru? Bagaimana kalau kita ke rumahku saja?” tawar Ralia.
Gadis itu berjengit seolah tawaran Ralia bukan hal yang wajar. Seakan Ralia mengajaknya untuk melakukan perbuatan tercela. Seperti bukan ajakan biasa seorang teman pada teman lain. “Ke sana? Ke atas sana? Mama lo emang lagi keluar?”
Lagi-lagi Ralia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Memangnya kenapa kalau mama aku ada di rumah?”
Gadis berkacamata itu mengedikkan bahu. “Gue enggak bisa jawab karena Lo sendiri enggak pernah jelasin, tapi tunggu, perasaan ada yang aneh sama Lo.”
Ralia berusaha untuk tetap tenang. Ia mengingat lagi bagaimana cara Aulia bicara dan sebagainya. Aulia memang pendiam, setiap kali diajak bicara, Aulia enggan untuk menatap ke arah lawan bicara dan itu berbanding terbalik dengan apa yang biasa Ralia lakukan, tetapi kali ini, Ralia menurunkan pandangan lalu memelankan suara.
“Ya, mungkin aku terlalu lelah. Jadi, maaf kalau ucapan aku terdengar aneh,” sesal Ralia yang berharap gadis itu percaya kalau ia adalah Aulia. Untuk saat ini, lebih baik ia tidak mengatakan pada siapa pun siapa jati diri yang sebenarnya. Tidak untuk sekarang.
“Ya sudah, iya, Lo keliatan cape. Ya sudah, istirahat saja. Besok gue ke sini lagi. Handphone Lo ke mana? Kenapa gue enggak bisa hubungi Lo?” tanyanya penasaran.
Sontak Ralia menyentuh tasnya lalu ingat kalau yang dimaksud dengan gadis itu adalah ponsel milik Aulia. “Enggak bisa dihubungi?” tanya Ralia.
“Iya. Enggak bisa.”
“Ah, itu, ponselku kena air. Lagi dibetulin,” kilahnya. Ralia baru sadar, mungkin saja ada sesuatu di ponselnya Aulia.
Gadis itu membulatkan bibirnya. “Kalau gitu, gue pulang dulu, ya?”
Ralia mengangguk kemudian melambaikan tangan ke arah teman Aulia yang berlalu pergi. Set lah yakin benar kalau ia telah sendirian, Ralia segera berjalan menuju lift. Ia menekan panah dengan arah ke atas.
Setelah pintu lift terbuka, Ralia masuk lalu menekan tombol empat. Lift bergerak, Ralia harus membiasakan diri, mungkin dalam beberapa hari ke depan, ia akan naik turun menggunakan lift serta fasilitas lainnya.
Mudah-mudahan saja, Aulia segera sadar, batin Ralia.
Ralia bergegas keluar dari lift. Matanya menatap pintu-pintu apartemen yang tertutup. Di bagian kanan ada dua pintu, lalu di sebelah kiri ada tiga pintu. Ralia merogoh saku celananya. Mengamati nomor apartemen yang ditulis Marini.
Perlahan, ia berjalan menuju tujuan. Semakin dekat, hatinya malah meragu. Ia takut kalau Ralia malah nekat menelpon Arif lantas meminta ayahnya itu untuk kembali menjemputnya.
Ralia menekan-nekan tombol sesuai dengan kombinasi yang juga dikatakan olah Marini lantas menekan tombol hijau. Tangan gadis itu mencengkeram palka pintu, hatinya kembali berbisik, “Haruskah ke sana?”