Ikhlas, Ralia.

1029 Kata
Setelah satu percakapan yang jelas tidak memerlukan banyak jawaban, mereka terdiam canggung di dalam mobil hingga menjelang senja, keduanya pun tiba di daerah Pasar Rebo. Ralia agak terkejut ketika taksi yang mereka tumpangi melaju di jalanan agak melengkung, mendekati sebuah bangunan megah bertingkat. “Ini tempatnya, Ayah?” tanya Ralia. Arif mengangguk pelan sedangkan matanya sama menatap bangunan apartemen. “Ya, apartemen Emerald Gardenia.” “Enggak salah?” Arif menoleh ke arah Ralia. “Memangnya ada apa?” “Aulia bilang kalau mereka tinggal di apartemen sempit. Katanya lebih cocok disebut rumah susun.” Arif tidak mengomentari kalimat Ralia, meski tidak tahu alasan Aulia berbohong, tetapi ia tahu satu hal, yaitu Marini, sang mantan istri tidak akan mau untuk tinggal di tempat yang biasa saja. Dia tidak akan pernah mau tinggal di tempat yang sederhana. Itu tidak sesuai dengan gayanya. “Ini benar-benar berbeda dengan yang dikatakan Aulia,” cicit Ralia lagi. Tiba di gerbang depan yang lebar, tepat setelah melewati jalan melengkung seseorang berpakaian seragam serba hitam membuka gerbang lalu mempersilakan taksi yang mereka tumpangi untuk masuk ke bagian lobi. Walau baru dilihat dari luar, Ralia tahu kalau apartemen ini bisa dikategorikan sebagai tempat yang mewah. Bahkan Ralia dan Arif yang turun dari taksi, hanya bisa sama-sama terdiam di depan lobi dengan dinding yang terbuat dari kaca juga pintu otomatis. Ada beberapa orang yang berlalu-lalang di dalam lobi. Ralia menoleh ke arah petugas kebersihan yang dengan kesibukan mereka, lalu kembali menatap Arif. “Ini, mewah,” celetuknya. Arif tertawa kemudian mengacak-acak pucuk kepala Ralia. “Lebih nyaman dari rumah kecil kita?” goda Arif. Ralia menggeleng dengan cepat. “Enggak, di sini enggak ada Ayah sama Nenek Grace. Ayah tenang saja, aku enggak akan berpikiran aneh-aneh.” Arif menjawil ujung hidung Ralia. “Kenapa Ayah harus mengira kamu akan berpikir aneh-aneh?” Ralia menggosok-gosok ujung hidungnya. “Pokoknya kalau Aulia sudah bangun, aku akan tetap pulang sama Ayah, nanti kita pergi sama Aulia. Kita mulai semuanya lagi. Kali ini benar-benar akan baik-baik saja.” Senyum Arif menghilang. Meski ingin, ia tidak tahu apakah Marini bisa melepaskan hak pengasuhan Aulia padanya. Marini, seorang wanita yang tidak mudah mengakui kesalahannya, tetapi setelah semua kejadian ini, seharusnya bila Marini tidak mau melepaskan Aulia, Arif bisa menempuh jalur hukum atau semacamnya. “Ayah?” Arif mengerjapkan mata kemudian matanya kembali terfokus pada Ralia. “Ralia, kamu? Sungguh-sungguh akan tinggal—“ "Ya," potong Ralia yang kali ini berusaha keras untuk tersenyum seperti biasa. "Aku akan baik-baik saja! Sekarang, Ayah, pergilah! Takut terlambat," lanjutnya. Arif tahu kalau putrinya itu sedang membesarkan hatinya, ia juga memaksakan diri untuk tersenyum kemudian sekali lagi dengan pelan mengelus kepala Ralia. “Ayah janji, paling lama tiga hari, setelah itu, Ayah sudah kembali lagi. Kamu adalah gadis kecil Ayah yang paling bisa diandalkan. Tolong, jangan lupakan itu,” ucapnya. Ralia mengangguk dengan cepat. Menggigit pelan bibir serta menahan air mata agar tidak membuat Arif ragu juga merasa cemas. Ini memang terdengar berlebihan, tetapi kalau dipikir-pikir, ini adalah kali pertama Ralia akan berada sangat jauh dari jangkauan mata Arif dalam kondisi mereka berada di cengkeraman masalah. “Kamu yakin?” tanya Arif sekali lagi. Ralia menebalkan senyuman seolah ia baru saja dapat hadiah. “Iya, Ayah.” Arif punya banyak alasan untuk cemas ketika harus melepaskan putrinya, tetapi kali ini ia hanya. mengecup pelan dahi Ralia. “Berhati-hati. Ayah sayang sama kamu,” ucapnya lalu berjalan tergesa-gesa keluar dari lobi. Ralia berjalan cepat ke arah kaca yang dibingkai oleh besi tipis sebagai dinding lobi. Dari sini ia bisa dengan jelas menatap Arif yang menyetop taksi. Ralia membalas lambaian tangan Arif kemudian memberikan senyum lebar-lebar dan tepat ketika taksi yang ditumpangi Arif melaju pergi, senyumnya pun perlahan-lahan memudar. Ralia menengadah, langit-langit tinggi lobi terpampang di pandangannya. Berkali ia menarik napas panjang, berusaha menguatkan hatinya sendiri. Ia memang baru berusia enam belas tahun, semua ini, dunia baru ini memang terlalu sulit, tetapi jelas selama ini Aulia bisa bergelut sendirian, itu tandanya Ralia pun bisa melakukannya. Setelah merasa kesadarannya pulih, Ralia berjalan menuju meja resepsionis seperti yang diperintahkan Marini. Sejujurnya, ia merasa canggung dengan semua mata yang tertuju padanya. Para petugas kebersihan, penjaga keamanan, lalu, mereka yang mengenal Aulia—menatap Ralia seolah sedang menelanjangi gadis itu. Ralia jadi penasaran, apa yang dikatakan oleh Marini pada pihak apartemen. Apa ... jujur kalau Ralia adalah saudari kembar Aulia? Atau mengatakan kalau Aulia baik-baik saja dan bisa sangat sehat, segar bugar setelah jatuh dari lantai enam. Apa mukjizat itu nyata adanya? “Permisi, maaf, ini dari Ibu Marini, apartemen 218, lantai enam,” jelas Ralia pada seorang berpakaian rapi di balik meja resepsionis. Awalnya wanita yang diperkirakan berusia tiga puluhan itu sempat terpaku sembari menatap wajah Ralia. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tetapi wanita itu bisa kembali menguasai diri. Ia meraih kertas yang disodorkan Ralia, membacanya sesaat kemudian kembali tersenyum. “Beberapa hari yang lalu ada polisi yang datang untuk memeriksa apartemen, apa Ibu Marini sudah mengatakannya?” Ralia mengerutkan dahi. “Mama saya enggak ngomong apa-apa, Mbak,” jawabnya jujur. “Oh, begitu, ya? Memang saat itu, Ibu Marini hanya memberikan persetujuan lewat ponsel saja, tapi kami ikut menemani pihak kepolisian memeriksa apartemen. Kondisi rumah agak berantakan.” Ralia mengangguk-angguk. “Ya, enggak apa-apa.” “Selain itu, ada seseorang yang datang ke sini, sudah beberapa kali datang, tapi karena Ibu Marini berpesan untuk tidak menceritakan masalah yang terjadi. Jadinya, saya hanya mengatakan kalau datang saja lain waktu,” lanjutnya. Dahi Ralia kembali mengerut. Jelas ia tidak tahu siapa orang itu. “Kalau gitu, apa saya sudah bisa ke rumah?” “Orangnya ada di sana. Di ruang tunggu, dekat lift.” “Maksudnya?” “Iya, seseorang yang selalu datang hampir setiap hari mencari Aulia, ada di sana,” jelas wanita itu. Hawa dingin merambati punggung Ralia. Ia takut sekaligus penasaran. “Terima kasih, Mbak,” tutur Ralia kemudian berjalan menuju arah yang dikatakan wanita resepsionis itu sebelumnya. Dalam beberapa hari ini, Ralia selalu saja dihadapkan pada kondisi yang membuat jantungnya berdebar seolah akan loncat dari tempatnya. Kakinya melangkah sendiri menuju ruang tunggu yang berada di dekat lift. Mata Ralia berpencar mengamati beberapa orang yang duduk di sana. “Aulia?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN