Canggung

1075 Kata
Ralia tahu kalau Aulia tidak banyak bicara, ia mengerti dan tidak pernah banyak memaksa Aulia untuk menimpali semua yang dikatakan Ralia, tetapi kali ini, Ralia memohon pada Tuhan dengan sangat serius. Ia berharap, sekali saja, sedetik saja, Aulia bisa bicara, walau hanya satu kata saja. Sekali saja, kalau tidak, bolehkan Tuhan membiarkan Aulia bisa membuka matanya? Bisa merespons dengan baik apa yang dikatakan lawan bicara, meski hanya menggunakan gerakan isyarat? Apa yang dialami oleh Aulia adalah kondisi koma. Dokter mengatakan kalau Aulia dalam kondisi tidak sadarkan diri setelah mengalami trauma atau kecelakaan parah pada kepalanya. Sebagian besar dari otaknya termasuk batang otak, masih berfungsi baik. Itu menandakan kalau Aulia bisa saja sadar, meski tidak dapat diprediksikan kapan hal itu akan terjadi. “Aul, kamu dengar aku, 'kan? Dokter bilang, beberapa pasien yang sadar dari koma terkadang ingat apa saja yang terjadi di sekelilingnya ketika mereka sedang koma,” lirih Ralia. Ralia mengusap punggung tangan Aulia. “Dingin,” cicitnya, “kamu mau aku naikin suhu pendingin ruangan?” tanya Ralia lagi. Aulia masih dalam posisi yang sama, terpejam dengan selang ventilator tersemat di antara bibirnya. Ralia mengamati wajah Aulia. Rasanya aneh menatap seseorang yang memiliki paras sama seperti dirinya, tidur terbaring tidak berdaya. Ralia pernah mengamati Aulia yang tertidur kala mereka menghabiskan libur bersama di Surabaya, dulu. Namun, kali ini Ralia menatap Aulia dengan cara yang berbeda, ia takut tidak bisa melihat Aulia lagi. “Seharusnya kamu enggak perlu sungkan sama aku, Aul. Aku enggak bisa bayangin kalau aku ada di posisi kamu, tapi harusnya kamu tahu, Aul, kamu enggak sendirian, kamu punya aku,” lanjut Ralia. Hanya keheningan yang menjawab kalimat-kalimat Ralia. Gadis itu masih tidak mau menyerah akan kondisi Aulia. Ia tetap membesarkan hatinya, berpikir kalau Aulia pasti akan cepat tersadar kalau Aulia sering diajak bicara. Ralia mau Aulia tidak merasa kesepian karena bagaimanapun, Aulia memang tidak pernah sendirian. Suara pintu yang dibuka membuat Ralia menoleh. Ayahnya, Arif tersenyum kemudian menghampiri Ralia. “Ayo, nanti keburu malam,” ucapnya. Ralia mengangguk kemudian kembali menoleh ke arah Aulia. “Aul, aku pulang dulu ke rumah kamu. Besok, aku datang lagi,” ucapnya. Arif mengusap pucuk kepala Aulia. “Ayah juga pulang dulu ke Surabaya, setelah itu nanti Ayah kembali lagi,” tutur Arif. “Ayah, aku pasti bisa jaga Aul,” ucap Ralia dengan serius menyanggupi. Arif mengalihkan pandangannya ke putrinya yang lain. “Ayah enggak pernah ragu sama kamu. Ayah yakin, kamu pasti bisa jaga Aul, tapi sekarang, yang terpenting, kamu sehat dulu. Kalau kamu sakit, jangankan buat jaga Aul, jaga diri sendiri aja, kamu pasti kesusahan,” balasnya. Ralia mengangguk-angguk. “Ya, Ayah. Lia ngerti. Pokoknya, Ayah tenang saja. Selama ada aku, Aulia baik-baik aja!” Sekali lagi Ralia menatap Aulia. Dalam benaknya, ia berpikir, apa pun yang terjadi, ia tidak akan pergi sebelum Aulia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Meski ada kemungkinan keinginannya ditentang oleh Arif, Ralia tetap akan melakukannya. Ia tidak akan pulang ke Surabaya setidaknya sampai Aulia sadar. Marini yang sedari tadi duduk di sofa sudut menghampiri mereka. Ia menyerahkan selembar kertas juga semacam kartu kotak seukuran kartu nama. “Itu kunci apartemen. Mama sudah konfirmasi dengan pihak keamanan kalau kamu mau pulang. Maaf, Mama enggak bisa temani.” Meski enggan tersenyum, Ralia mengangguk pelan. “Iya. Aku ngerti,” jawab Ralia ala kadarnya. “Aku pulang dahulu ke Surabaya. Mungkin dalam tiga atau empat hari ke depan, aku baru bisa kembali ke Jakarta,” timpal Arif. “Iya, Mas.” Wajah Marini berubah sendu. Ia memalingkan wajahnya kemudian kembali berkata, “aku memang sudah terbukti lalai terhadap Aulia. Aku juga malu bicara seperti ini, tapi aku berharap kali ini kamu percaya kalau aku bisa menjaga Ralia dengan baik.” Bagai dihantam palu. d**a Ralia terasa sesak dalam sekejap mata. Jelas ia tidak terima akan ucapan dari Marini. “Ayah benar. Aku bisa jaga diri dan enggak akan repotin siapa pun. Jadi, tenang aja! Jadi, enggak perlu berjanji hal yang enggak perlu.” “Bukan begitu, Lia, Mama—“ “Sudahlah. Aku mengerti dan Lia juga ngerti,” potong Arif. Baik Ralia dan Marini kompak menoleh dan sama-sama terdiam. “Mendebatkan itu tidak akan menemukan ujungnya. Sebaiknya Lia segera pulang ke apartemen,” lanjut Arif. Ralia mengusap dahi Aulia, hatinya berbisik, Aku akan selalu di samping kamu, Aul. *** Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Ralia juga Arif sama-sama bungkam. Keduanya menoleh ke luar jendela taksi tanpa tahu apa yang sedang mereka coba tatap. Kecemasan berbeda, tetapi memiliki satu frekuensi yang sama jelas bercokol di hati keduanya. Arif enggan meninggalkan Ralia sendiri di Jakarta, pun Ralia enggan ditinggalkan Arif sendirian di Jakarta. Namun, kondisinya jelas tidak mendukung mereka untuk bersama-sama. Airf tahu mau dibujuk sampai mulutnya berbuih, Ralia pasti tidak mau ikut pulang bersamanya. “Ayah, kapan Ayah kembali ke Jakarta?” tanya Ralia tanpa menoleh ke arah Arif. “Ayah belum pergi, tapi kamu sudah bertanya. Kenapa? Berubah pikiran? Kamu mau pulang sama Ayah ke Surabaya?” Akhirnya Ralia menoleh ke arah Arif, ia menggelengkan kepala. “Ralia belum bisa pulang sebelum Aulia bangun, Ayah.” Arif meraih tangan Ralia. “Lia, dokter sendiri belum bisa jawab, kapan Aul bisa bangun. Kita berdoa saja, minta yang terbaik.” “Yang terbaik? Aku enggak mau minta seperti itu. Aku minta Aulia bangun dan menjelaskan semuanya,” sergah Ralia. Arif mengerti akan kesakitan dalam hati Ralia dan malah cemas sendiri karena jelas Ralia tidak akan pernah bisa menerima kenyataan bila terjadi sesuatu hal buruk pada Aulia. “Kamu percaya dengan takdir, bukan?” Ralia mengangguk. “Iya, Lia percaya.” “Kalau begitu, tanpa Ayah bicara panjang lebar, kamu pasti ngerti ke mana arah pembicaraan kita.” “Ini enggak adil! Kenapa Tuhan selalu membuat kita menderita? Apa belum cukup Dia memisahkan aku dari Aulia?” desis Ralia yang tercekat oleh air matanya sendiri. “Lia, enggak ada yang seperti itu. Tuhan maha adil. Dia tahu apa yang terbaik, bahkan tanpa umat-Nya sadari sendiri. Semua yang terjadi, pasti ada sisi baiknya,” timpal Arif. “Sisi baik? Aulia sedang sekarat dan kalau dia, kalau dia sampai kenapa-kenapa, di mana sisi baiknya, Ayah? Ralia enggak akan terima!” Arfi mempererat pegangannya di tangan Ralia. “Kamu enggak boleh berburuk sangka terhadap Tuhan. Lia, kamu harus bisa berlapang d**a. Ikhlas,” bujuk Arif. “Berlapang d**a? Kalau begitu, kenapa sampai saat ini, Ayah juga belum bisa lupa sama mama? Aky tahu kalau Ayah masih berharap mama pulang Surabaya sama kita, iya, kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN