“Banyak istirahat dan jangan lupa diminum obatnya.”
Ralia hanya memberikan anggukan kecil pada seorang perawat yang melepaskan selang infus kemudian turun dari ranjang. Ia meraih tangan Arif yang bersiaga menopang Ralia, kalau-kalau Ralia tiba-tiba limbung.
“Aku enggak kenapa-kenapa, Ayah,” ucap Ralia berusaha menenangkan Arif.
Arif melepaskan tangannya dari lengan Ralia lantas membetulkan jaket putrinya itu. “Lia, kamu yakin?”
Bila terus diberondong pertanyaan seperti itu, bisa-bisa Ralia malah tidak yakin akan keputusannya sendiri. Terlebih-lebih apa yang akan dilakukannya jelas lebih menakutkan, tetapi di titik ini, Ralia enggan memberikan kesan kalau ia masih di tahap bingung. Gadis itu melengkungkan senyum kemudian mengangguk.
“Ya. Aku enggak bisa tinggal di hotel. Itu mahal, Ayah, sedangkan Ayah sendiri butuh uang banyak untuk bisa bolak balik Jakarta Surabaya. Jadi, pilihan terbaiknya aku tinggal di rumah mama,” ucap Ralia.
“Lia, Ayah—“
“Ayah sendiri yang bilang kalau aku bisa jaga diri dan aku pasti baik-baik saja. Ayah enggak perlu cemas, aku janji akan selalu telepon Ayah. Beneran,” potong Ralia berharap Arif mau meredakan sedikit saja kegugupannya.
Meski Ralia terdengar meyakinkan, tetapi nyatanya kecemasan yang dirasakan Arif jauh lebih besar dari yang bisa ia kira. Ralia tinggal di apartemen tempat Aulia melompat dari balkonnya jelas adalah ide buruk. Memikirkannya berkali-kali malah membuat Arif tidak bisa melepaskan Ralia, tetapi ia tahu kalau putrinya jauh lebih keras kepala dari yang terlihat. Mau dibujuk sampai mulut Arif berbusa pun, bisa dipastikan Ralia tidak akan mau ikut pulang ke Surabaya.
Marini sendiri mengatakan kalau suaminya itu tidak tinggal bersamanya di apartemen. Heri hanya akan datang dua atau tiga kali dalam satu minggu. Terdengar janggal, tetapi Arif tidak mau bertanya lebih jauh, malah kalau dipikirkan, sedari awal, Arif tidak pernah bertanya apa-apa perihal kisah romansa yang tengah dijalani oleh Marini. Serumit apa pun, itu bukan urusan Arif lagi.
“Ayah, apa aku boleh ketemu Aulia dulu?”
Pertanyaan Ralia membuyarkan lamunan Arif. Lelaki itu tersenyum lantas mengangguk pelan. “Aulia dipindahkan ke ruang perawatan yang lebih eksklusif,” jawab Arif.
Dahi Ralia mengerut. Ia tidak mengerti dengan istilah yang baru saja diucapkan Arif. Perawatan lebih eksklusif? “Aulia?”
Arif mengangguk. “Mama kamu berpikir, mungkin kalau Aulia mendapatkan perawatan kelas satu, dia bisa lebih cepat pulih,” lanjutnya.
Bibir Ralia membulat, ia hanya bisa meng-oh-kan kalimat yang akan diucapkan. Ide itu tidak buruk dan kali ini sepertinya ia setuju dengan pendapat ibunya. Ralia meraih tasnya kemudian berjalan keluar kamar dengan tangan kembali merangkul lengan Arif.
Berjalan di lorong-lorong koridor rumah sakit, membuat Ralia merapatkan tubuhnya ke Arif. Meski tidak memiliki trauma apa-apa tentang yang berhubungan dengan rumah sakit, tetapi membayangkan Aulia pergi meninggalkannya, bisa membuat Ralia selamanya membenci rumah sakit.
“Lia, kamu yakin?”
Ralia menoleh, untuk ke sekian kalinya, ia dengan mantap menjawab, “Iya, Ayah!”
“Walau mama kamu sudah menjanjikan, tetapi ayah tiri kamu bisa datang sewaktu-waktu. Itu yang bikin Ayah cemas, Lia.” Ralia menghentikan langkahnya, sontak Arif pun ikut berhenti. “Kenapa?”
“Ayah tiri?”
Arif tersenyum. Tidak menyangka kalau Ralia bisa terkejut sampai harus berhenti berjalan. “Kenapa? Kamu bilang sudah dewasa. Ayah enggak perlu jelasin lebih jauh dari ini, 'kan?” godanya sembari menjentikkan jari di dahi Ralia.
Ralia menarik tangan Arif, menurutnya, percakapan ini terlalu serius untuk bisa dikategorikan sebagai candaan. “Ayah! Serius? Mama sudah nikah lagi?”
Arif kembali tersenyum lantas mengangguk pelan. “Hidup harus terus berjalan. Hanya, kadang ada beberapa saja yang tetap bergerak di relnya masing-masing.”
“Termasuk Ayah?” Arif terdiam dan senyum yang sedari tadi ada di wajahnya, lenyap seketika. “Ayah, Ayah bisa bohongi semua orang, tapi enggak dengan aku! Aku tahu kalau Ayah masih—“
“Semua sudah berakhir tepat ketika mama kamu keluar dari rumah kita. Kamu tahu akan hal itu,” potong Arif.
“Ayah.”
Arif kembali melepaskan senyuman di wajahnya dan berharap kali ini Ralia bisa berhenti bertanya-tanya. “Lia, kamu enggak harus memaksa keadaan untuk terus bisa membuat kamu tersenyum.”
Ralia menunduk. Meski usianya masih terbilang belia, ia tahu persis apa arti dari kalimat yang diucapkan Arif. “Ya, Ayah. Lia ngerti.”
Arif mengusap pucuk kepala Ralia hingga Ralia kembali menoleh. "Kelak, kita akan mengerti, kenapa Tuhan membuat kita sedikit menangis untuk bisa dapat yang terbaik dari-Nya.”
“Tapi Tuhan enggak tahu kalau aku tuh sudah cape menangis.”
Arif tertawa pelan. “Enggak ada yang sia-sia, Lia.”
Pada akhirnya, Ralia kembali tersenyum kemudian mengangguk pelan. Ia merangkul lengan Arif kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju ruang perawatan baru Aulia yang berada di gedung sebelah kanan, terpisah dari gedung pertama.
Setibanya di sana, Arif segera mengajak Marini untuk keluar dari ruang perawatan. Pikirnya, meninggalkan Ralia berdua saja dengan Aulia, pasti akan berdampak baik untuk Aulia.
Ralia duduk di kursi dekat dengan Aulia. Wajah saudari kembarnya itu masih tetap sama. Pucat dengan beberapa bagian yang lebam. Ia ingin mengangkat tangan Aulia, menggenggamnya dengan kuat, tetapi Ralia cepat sadar kalau saat ini, Aulia lebih rapuh dari selembar kaca tipis. Ia hanya bisa mengusap punggung tangan Aulia dengan ujung telunjuknya.
“Aul, kamu enggak bosan tidur terus?” tanyanya pelan.
Keheningan kembali menyergap keduanya. Yang menjawab pertanyaan Ralia hanya suara konstan dari mesin monitor jantung tepat di sisinya. Ralia kembali mengamati sekeliling ruangan dan kali ini, ruang perawatan Aulia jauh lebih nyaman. Bahkan kalau dipikir-pikir, ia bisa tidur di sofa yang berada di sudut sana. Sepanjang hari, sembari menunggu Aulia bangun, Ralia bisa menonton televisi atau membaca sesuatu.
“Aul, jangan karena ruang perawatan kamu nyaman. Jadi, kamu berpikir untuk lebih lama tidur. Dengar ya, aku masih akan menagih janji untuk kamu ajak aku keliling-keliling Jakarta. Aku akan tagih jtu!” tegas Ralia yang juga dijawab oleh suara konstan mesin monitor jantung.
Sekali lagi Ralia menarik napas dalam-dalam. Ia ingin sekali mendengar Aulia bicara. Apa pun itu, meski hanya satu kata saja.
“Kamu bisa dengar aku, 'kan? Aku pernah baca tentang orang-orang yang koma, katanya mereka tetap bisa dengar dan merasakan apa yang terjadi di sekelilingnya. Jadi, kamu dengar aku, 'kan, Aul?”
Mata Ralia seakan dipenuhi asap hingga ia merasa perih menusuk-nusuk setiap bagian di bola matanya.
“Kamu berutang banyak penjelasan padaku, Aul,” lanjutnya diselingi air mata yang melajur cepat di pipi.
Ralia benci berandai-andai. Ralia malas untuk berpikir atau berharap Tuhan bisa memutar balik waktu, tetapi di detik ini, bila memang itu bisa terjadi ... bila memang hal ajaib seperti itu ada, Ralia hanya ingin menebus semua waktu yang dilewati Aulia dengan begitu sulit.
Kalau saja ... ah, meskipun, terlalu banyak kata penyesalan, Aulia tidak dapat sembuh dengan kata itu.
Ralia menyusut air matanya lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Aulia. “Aku akan tetap di sini sampai kamu bangun. Aku akan tetap ada di samping kamu, Aul.”