PART 11

1062 Kata
Dia dan Tania memutuskan untuk pasrah menerima bagaimana skenario Tuhan berjalan. Mereka tidak memakai pengaman, karena katanya sensasinya berbeda. Lagi pula mereka pasangan yang sah, jadi jika sampai ada anak pun tidak masalah. Tepat pukul setengah sembilan waktu Indonesia bagian timur, pesawat maskapai milik mantan menteri itu membawa mereka meninggalkan Sorong menuju Bandara Marinda Kota Wasai. Hanya setengah jam saja penerbangan mereka. Begitu sampai, Johanes langsung membawa pengantin baru itu menuju Papua Diving Resort. Bian bertukar nomor kontak dengan Johanes, setelahnya pemuda Papua itu ijin pamit dan mempersilakan tamunya beristirahat. "Mas Bian, kita langsung gas atau istirahat dulu?" tanya Tania begitu Bian menutup pintu kamar. "Mandi dulu, terus sarapan. Johanes sudah pesan makanan buat kita, sebentar lagi diantar ke kamar," jawab Bian. "Nggak main satu sesi dulu, Mas? Abis itu baru kita mandi, gimana?" tawar Tania. "Makan dulu ya, Nya. Kita nggak akan mungkin cuma satu ronde. Apalagi kamu, pasti mau terus." Bian mengecup hidung mancung milik Tania. "Ih, Mas Bian ngomongnya gitu, kesannya aku itu m***m," gerutu Tania. "Loh, memang bener kamu m***m 'kan, Nya?" ledek Bian. "m***m juga sama suami sendiri. Lagian kamu juga suka 'kan, Yan?" Tania sudah naik ke punggung Bian. "Aku mau mandi, Nya. Turun dulu, nanti abis ini aku turutin mau kamu apa." Bian menepuk pelan p****t Tania, memintanya untuk turun. "Jawab dulu. Kamu suka 'kan aku yang m***m?" Bibir Tania bermain di leher Bian. "Nyaa," desis Bian. "Jawab dulu," bisik Tania, lalu melanjutkan permainannya di leher Bian "Iya, aku suka. Aku nggak usah mohon-mohon minta jatah, kamu dengan suka rela kasih apa yang aku mau," jawab Bian cepat dengan napas yang mulai berburu. "Good." Tania membuat tanda merah di telinga Bian sebelum dia turun dari punggung suaminya itu. "Nya, mau ke mana kamu?" Bian menarik tangan Tania. "Ke kamar mandi, katanya kita mandi dulu," jawab Tania. "Nggak bisa pergi gitu aja, Sayang. Kamu udah mancing, jadi harus kamu selesaiin." Bian mengangkat tubuh Tania ke bahunya seperti membawa karung beras. "Iyaan, pelan-pelan angkatnya!" teriak Tania. Bian menidurkan istrinya di kasur. Perlahan dia merangkak menyusuri tubuh Tania, tentu saja dengan sentuhan seringan kapas yang mampu membangkitkan gairah istrinya. "Iyaan, jangan godain kayak gini. Aku udah nggak Suara pintu diketuk memotong perkataan Tania, sepertinya makanan yang dipesan Johanes telah datang. "Siapa sih, ganggu aja," gerutu Bian. Dia bangkit sembari membenarkan posisi sesuatu yang membengkak. "Makanannya dateng kali, Yan," ujar Tania. Bian menerima makanan yang diantar room boy, usai memberi tips, dia kembali menutup pintu. "Makan dulu, yuk. Laper, nih. Biar ada tenaga buat bereproduksinya," ucap Bian sembari menggulung spaghetti dengan garpu. "Reproduksi, kesannya gue pabrik anak!" omel Tania. "Gitu aja ngambek, cuma candaan, Nya." Bian mengusap lembut puncak kepala Tania, "makan dulu, sebelum kita bercinta sampai puas dan lemas," lanjutnya. "Aku nggak mau banyak anak, Yan. Aku nggak mau kayak Febi, yang terus-terusan hamil," ucap Tania. Entah apa sebabnya dia tiba-tiba saja bicara seperti itu. "Kenapa ujug-ujug ngomong gitu? Nikah juga baru beberapa hari udah ngomongin hamil," sahut Bian. "Kelihatannya hamil itu mengerikan. Nggak cuma perut yang gede, badan juga ikutan gendut, kaki juga bengkak. Apalagi pas melahirkan, serem!" Tania bergidik ngeri. Dia mendorong kembali piring yang disodorkan Bian. "Ya masa kita nggak mau punya anak? Ngapain dong kita nikah kalau nggak punya keturunan?" Bian bertanya dengan santai tanpa memperhatikan raut kesal di wajah Tania. "Nikah itu buat cari pahala, Iyan! Bukan buat bikin anak doang! Terus kalau misalnya gue mandul, elo mau nikah lagi?!" sewot Tania. "Loh, kenapa jadi ke sana pembicaraannya? Aku cuma ingetin kamu supaya jangan takut buat hamil, Nya," jawab Bian tenang. "Elo bukan ngingetin gue, apalagi nenangin gue, Yan! Elo ngomong seakan punya anak itu wajib hukumnya! Kalau gue mandul, elo mau nikah lagi?!" bentak Tania. "Astaghfirullah, Nya! Kenapa melebar, sih? Jangan mikirin yang aneh-aneh dulu, deh. Usaha juga belum maksimal kenapa malah kepikiran mandul, sih ?!" balas Bian, tanpa sadar telah meninggikan nada suaranya. "Elo bentak gue, Yan?! Kita baru aja nikah dan elo udah bentak gue?!!" teriak Tania tidak terima. "Astaghfirullah, Tania!" Kali ini Bian benar-benar membentak istrinya. Tania membuang muka, air mata sudah membasahi wajahnya. Bian menarik napas panjang, emosi dia benar-benar tersulut oleh sikap istrinya itu. Namun, dia tidak mau menyakiti lebih dari ini, cukup sekali dia meninggikan suaranya. "Nya, please, kita ke sini 'kan mau bulan madu. Kenapa malah bertengkar, sih?" Bian mengusap lengan Tania, dan langsung ditepis oleh istrinya itu. "Elo yang mulai!" sahut Tania. "Nya, kok, panggilnya elo gue lagi?" lirih Bian. Tania tak menjawab, dia malah menjauhkan diri. Bian mendesah pelan, kembali menarik napas panjang. Dia ingat pesan kakaknya agar tidak membentak istrinya. Yang tadi anggaplah dia khilaf, dan Bian berjanji tidak akan membentak Tania lagi. "Nya, aku minta maaf udah bentak kamu. Aku juga minta maaf kalau perkataan aku ada yang menyinggung perasaan kamu," ucap Bian. Lebih baik dia mengalah dan meminta maaf dari pada kegiatan bulan madu mereka gagal total. Tania tidak memberikan respon. Sekarang dia malah membaringkan tubuh di atas kasur dengan posisi membelakangi Bian. "Nya, udah, dong. Jangan marah. Kalau kamu nggak mau punya anak, it's oke. Selesai bulan madu kita pakai kontrasepsi," ujar Bian. Tania membisu, dia masih ingin dibujuk lebih keras lagi. Bian masih belum maksimal merayunya. Sayangnya, Bian tidak memahami apa yang dia mau. "Terserahlah, kamu mau diem terus juga nggak papa. Tapi jangan salahin aku kalau aku nggak tahu mau kamu apa. Selamat menjadi patung," sindir Bian. Tania membalikkan badan, kemudian duduk bersila dengan tangan dilipat di depan d**a. "Biaan!! Aku tuh pengen dirayu, dibujuk! Kamu nggak peka banget sih, jadi suami!" omelnya. Bian tersenyum miring, akhirnya Tania mengeluarkan suara juga. "Oh, jadi pengen dirayu? Ngomong, dong," godanya. "Bodo, ah!" Tania kembali berbaring membelakangi. Bian naik ke atas ranjang, dan memeluknya dari belakang. "Maaf ya, Tania Sayang. Aku nggak paham apa yang kamu mau. Makanya jangan diem aja, ngomong maunya apa," ucap Bian dengan lembut. "Peka dikit, dong, Yan," gerutu Tania. "Elah, sejak kapan sih, kamu jadi ngedrama gini? Biasanya juga langsung ngomong, jebret-jebret! Aku suka kamu yang gitu, Nya. Pusing kalau harus mecahin kode dulu," tutur Bian. "Bodo, ah! Pokoknya aku nggak mau kalau anak dijadikan hal yang wajib dalam rumah tangga kita. Sedikasihnya aja! Ngerti nggak, Yan?" Tania menepuk punggung tangan Bian yang mulai bermain di dadanya. "Biaan! Dengerin aku ngomong nggak?" omel Tania. "Iya, aku dengerin, kok. Udah ya, jangan dulu bahas anak. Kita cari enak dulu. Oke?" Tania mengangguk antusias menerima ajakan Bian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN