PART 10

1349 Kata
Diikuti oleh Miko yang mengajak Rini ke kamar mereka. Hanya ada Raka dan Luna, juga Waluya dan Sandra yang masih bertahan di sana. Raka dan Waluya saling pandang, lalu tertawa lepas. "Kayaknya kita kudu ikut mereka, Wal! Mumpung anak-anak nggak ada, anggap aja bulan madu lagi," cetus Raka. "Gass!" sahut Waluya penuh semangat. "Ayo, Yang, balik ke kamar. Kamu mau digendong ala bridal style?" ajak Waluya pada Sandra istrinya. "Halah, dasar bapak-bapak m***m! Godain pengantin baru malah kepancing sendiri!" sungut Sandra. Luna terkekeh kecil, mengiyakan ucapan Sandra. Waluya menekuk wajah saat melihat istrinya bersikap defensif dengan melipat tangan di depan d**a. "Oke, kalau gitu gue duluan, Wal. Selamat merayu istri sampai mau, ya," ledek Raka. Dia langsung menggandeng lengan istrinya. "Yang... masa kita doang yang enggak? Mereka semua mau wiki-wiki, loh. Ayo, dong. Tadi malem kamu bilang masih capek, masa sekarang nggak mau lagi?" rayu Waluya. Sandra melirik tajam ke arah suaminya. Dia bangkit tanpa berkata apa-apa. "Yang, mau ke mana?" tanya Waluya. "Loh, katanya mau wiki-wiki?" "YESS!! Let's go, Baby!" teriak Waluya senang. Bian dan Tania bertemu dengan Evan dan Dewangga di depan lift. "Loh, kalian mau ke mana?" tanya Evan. "Balik ke kamar, A," jawab Bian malu-malu. "Udah sarapan?" tanya Dewangga, Bian mengangguk menjawab pertanyaan Dewangga. "A'Evan sama Kang Dewa nginep di sini juga? Kirain langsung balik ke Bandung," ujar Tania. "Iya, abis sarapan langsung balik. By the way, selamat ya, Tania. Semalem kita nggak ketemu," sahut Dewangga. "Makasih, Kang, A. Kadonya istimewa!" Tania mengangkat kedua jempolnya. "Kalau semalem istimewa nggak? Bian nggak mengecewakan 'kan?" goda Evan. "Nggak, dong! Punya dia gede, A!" seru Tania tanpa malu-malu. Dewangga membuang muka menahan tawa. "Udah gol?" tanya Evan lagi, Tania mengangguk dengan wajah berbinar. Evan tertawa lebar melihat reaksi polos Tania, sedangkan Dewangga berusaha kuat menahan tawanya, dia masih menghormati Bian. "Udah, deh, jangan godain kita! Kayak yang nggak pernah ngalamin aja," gerutu Bian. "Biar gue tebak, elo pasti lebih pasif, Yan! Gue yakin Tania yang paling ngebet," cetus Evan. "Nggak papa kali, Van. Malah enak nggak capek, tinggal pasrah doang," timpal Dewangga. "Loh, emang Kang Dewa tipe yang pasif? Kirain tipe yang mendominasi, secara look-nya begini." Telunjuk Tania naik turun mengarah ke tubuh tinggi tegap Dewangga. "Ya, ampun bini elo, Yan! Mulutnya nggak ada filter! Untung kita udah apal sama kelakuannya!" seru Evan. "Lah, apa yang salah?" tanya Tania bingung. "Udah tahu bini gue begini, kalian malah godain. Kita mau ke kamar dulu, mau lanjutin yang semalem. Kalian berdua hati-hati di jalan. Salam buat istri-istri kalian di Bandung. Bye!" Bian langsung menarik tangan Tania begitu pintu lift terbuka. Kalau diteruskan akan semakin panjang pembahasannya, apalagi dia melihat kakak-kakaknya mulai mendekat. Di dalam kamar, Bian tidak mau membuang waktu. Dia langsung mencumbu tubuh Tania yang menjadi candu untuknya. "Maas... Iyaaan.... Bentar, aku mau pipis dulu. Bentar, ya." Tania melepaskan diri dari kukungan suaminya. Dia berlari menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Tania membasuh miliknya dengan sabun khusus agar mengeluarkan aroma yang menggoda. Keluar dari kamar mandi, mata Tania membesar saat melihat suaminya duduk di sisi ranjang dengan tubuh polos. Tentu saja bagian tengah tubuh Bian yang membuat Tania kembang kempis menahan diri agar tidak menyerangnya. Dia harus bersikap elegan, jangan seperti kucing liar yang kelaparan. "Kenapa berdiri di sana, Nya? Nggak lihat apa dia udah nggak sabar ingin dipuaskan?" Bian menunjuk ke arah miliknya yang sudah siap siaga. 'Persetan dengan sikap elegan! Gue udah kagak tahan!' Tania berjalan cepat lalu langsung menerjang tubuh suaminya hingga terjengkang di atas ranjang. Bian tersenyum, dia menyukai sikap istrinya yang agresif seperti ini. Membuat permainan mereka selalu panas dan membara. Ada kalanya dia memimpin permainan, ada kalanya dia membiarkan Tania bermain dengan tubuhnya dan dia hanya diam menikmatinya. 'Bener kata Kang Dewa, sekali-kali pasif enak juga. Tinggal pasrah dan menikmati.' "Iyaaan ... kenapa rasanya seenak ini? Gue nggak mau berhenti," desah Tania yang masih aktif bergerak. "Lanjutin terus sampai elo puas, Nya. Gue rela jadi b***k pemuas nafsu elo," sahut Bian. "Elo suami gue, Bian, bukan b***k nafsu gue!" protes Tania. "Yess, i know! Aah... Nya, jangan nakal, pleasee.. Tania tersenyum lebar melihat suaminya begitu menikmati permainannya hingga matanya merem melek. ❗❗❗❗❗❗ Bian mendorong troly, sedangkan Tania lebih dulu berlari mencari orang yang akan menjemput dan mengantar mereka menuju tempat peristirahatan, sambil menunggu jadwal penerbangan menuju Kota Wasai, gerbang Kabupaten Raja Ampat. "Nya, jangan jauh-jauh!" seru Bian. Dia khawatir istrinya yang lincah itu tersesat di tengah keramaian. Bandara Domine Eduard Osok pagi ini cukup ramai. Terlihat beberapa kelompok turis yang akan pergi dan baru datang di kota Sorong, berkumpul di beberapa sudut bandara. "Mas, itu! Dia yang bawa spanduk nama kita!" Tania menunjuk ke arah pemuda berperawakan sedang, berkulit gelap, membentangkan kain bertuliskan 'Bian & Tania, Just Married!' "Gokil! Bang Saka itu yang nyuruh nulisnya kayak gitu?" tanya Bian. "Kayaknya nggak, deh. Bang Saka 'kan kayak kanebo kering, paling juga idenya Bang Kenzo," sahut Tania. "Samperin, yuk. Aku takut salah," ajak Tania. "Kak Bian dan Kak Tania kah?" tanya pemuda itu. "Iya, Bang. Saya Bian dan ini istri saya, Tania." Bian menjabat tangan pemuda berwajah ramah itu. "Selamat datang di Kota Sorong. Kenalkan nama saya Johanes. Saya yang akan menemani kakak-kakak selama berada di sini." Johanes memperkenalkan diri tanpa menyurutkan senyuman. "Saya sudah memesan ruang tunggu, Kakak-kakak bisa beristirahat sebentar sambil menunggu jadwal penerbangan ke Kota Wasai. Perjalanan dari Jakarta tengah malam kah? Kakak-kakak pasti mengantuk." Johanes mengambil alih troly yang didorong oleh Bian. Bian dan Tania berjalan di belakang Johanes. Pemuda asli Papua itu menceritakan secara singkat tentang perjalanan yang akan mereka lalui. "Pak Saka benar-benar memperhitungkan secara matang agar kalian tidak membuang waktu di Sorong. Kalau Kakak datang kemarin, Kakak harus menginap satu malam di sini. Karena kemarin tidak ada jadwal penerbangan menuju Wasai," jelas Johanes. Dia mempersilakan pasangan pengantin baru itu duduk. Kemudian melanjutkan kalimatnya. "Ada dua cara menuju Raja Ampat, yang pertama memakai pesawat dan yang kedua memakai kapal. Kapal setiap hari ada, tetapi perjalanannya lebih lama ," jelasnya lagi dengan bahasa Indonesia berlogat Papua yang kental. "Saya mabuk laut, Bang," ujar Tania sembari merebahkan kepalanya di pangkuan Bian. "Wah, apakah itu artinya nanti Kakak tidak ikut wisata hopping? Padahal itu seru sekali!" sahut Johanes. "Wisata hopping?" tanya Bian. "Iya, Kakak. Berpindah dari pulau satu ke pulau lainnya. Kita menyewa kapal beramai-ramai," jawab Johanes. "Aku nggak mau, Yan. Mendingan kita di kamar aja. Masih banyak gaya yang belum kita coba," ucap Tania pelan. Bian tersenyum, mengacak rambut Tania dengan gemas. "Sepertinya kami nggak ikut. Istri saya mabuk laut, Bang," ucap Bian pada Johanes. Pemuda Papua itu mengangguk-angguk. "Jadwal penerbangan pukul berapa?" tanya Bian setelah beberapa menit mereka saling diam. Tania sendiri sudah nyenyak di pangkuannya. "Pukul delapan lebih tiga puluh. Masih ada waktu sekitar satu jam lagi. Istirahat saja dulu, Kak," jawab Johanes. Bian mengangguk, tetapi dia memilih untuk tetap terjaga. Di penerbangan Jakarta-Sorong tadi dia sudah cukup beristirahat. Untuk mengisi waktu, Bian mengajak Johanes berbincang-bincang. Ternyata Johanes seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu di sela jadwal kuliahnya. Dia sudah dua tahun bekerja menjadi pemandu wisata untuk MFR, perusahaan tour and travel milik keluarga Saka. "Pak Saka pernah ke sini?" tanya Bian. "Belum pernah, Kakak. Yang pernah itu Pak Kenzo dan istrinya, sama seperti Kakak, berbulan madu. Saya juga yang mengantar mereka berkeliling, tapi tetap saja lebih banyak menghabiskan waktu di kamar," canda Johanes. Bian tertawa, dia juga pasti akan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Seperti yang Tania bilang, masih banyak gaya bercinta yang belum mereka coba. "Jadi Bang Johanes belum pernah bertemu Pak Saka, ya?" tanya Bian. "Sudah, Kak. Pak Frans pernah memberi kami tiket jalan-jalan ke Jakarta, karena kami telah bekerja dengan baik. Di Jakarta saya pernah bertemu dengan Pak Saka, putra Pak Frans. Tampan sekali dia, seperti bule," sahut Johanes. "Iya, memang tampan dia. Istrinya itu sahabat saya, Bang. Makanya dia kasih kami tiket bulan madu ke sini." "Oh seperti itu? Semoga saja seperti Pak Kenzo ya, Kak. Selesai berbulan madu, istrinya langsung hamil," ucap Johanes tulus. Bian tersenyum, mengaminkan dalam hati. Dia memang belum siap untuk mempunyai anak, tetapi jika Tuhan sudah berkehendak, dia tidak bisa menolak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN