Part 9

1988 Kata
"Tamunya banyak banget, kapan kelarnya ini," dumel Tania, dia sudah tidak sabar ingin merasakan malam pertama. Semoga saja setelah ini dirinya dan Bian tidak kecapaian. Akhirnya pesta berakhir, dibantu oleh pihak MUA, Tania melepaskan segala atribut yang menempel di tubuhnya. Gaun yang membalut tubuh, tiara mungil di kepala juga make up yang menempel di wajahnya. Tania mengoleskan krim malam di wajah usai membersihkan diri dan salat isya. Tidak lupa dia pun mengoleskan lotion ke seluruh permukaan tubuhnya. Bian masih berada di luar, entah ke mana suaminya itu. Pintu kamar diketuk dari luar, Tania membuka pintu perlahan. Bian berdiri dengan wajah berbinar. "Kok, lama, Yan?" "Sorry, lama. Tadi mau masuk dilarang sama Mami. Katanya kamu sedang bersih-bersih. Terus ada A'Evan sama Kang Dewa, mereka baru dateng, jadi ngobrol sebentar terus salat isya di kamar Ibu," jelas Bian. Bian berkata dengan tenang, tidak sejalan dengan degup jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Tania begitu cantik dengan wajah polos tanpa make-up. Kimono satin yang hanya menutup sampai setengah paha, membuat istrinya terlihat begitu seksi. "A'Evan dan Kang Dewa dateng?" tanya Tania. Dia tidak menyangka sepupu Febi itu bisa hadir di acara pernikahannya. "Yup, ini kado dari mereka." Bian mengeluarkan amplop dari saku jas dan menyerahkannya pada Tania. "Cuma satu? Mereka patungan? Ish, nggak modal banget!" gerutu Tania. Namun, dia tetap antusias membuka amplop dan melihat apa isinya. "Nggak boleh gitu. Masih untung mereka mau dateng, mereka baru balik dari Malaysia langsung ke sini, loh." Bian melepaskan jas dan meletakkannya pada sandaran kursi. "Wah, banyak! Berapa ini?" Tania mengeluarkan lembaran uang dolar dari amplop dan menghitungnya dengan cepat. "Dua ribu dolar, Yan! Gila! Royal banget mereka berdua!" teriak Tania heboh. Bian yang sedang membuka kancing kemejanya hanya melirik sekilas sembari tersenyum kecil. Tania mengibaskan uang ke wajahnya, dengan wajah bahagia. "Berasa jadi sultan," kekehnya. Tiba-tiba saja gadis itu tersedak saat matanya melihat sebuah d**a bidang dengan jejeran roti sobek di bawahnya. "Yan, kamu sengaja godain aku, ya?" Bian menoleh, alisnya menyatu. Dia tidak mengerti apa maksud pertanyaan istrinya itu. Dirinya semakin heran saat, Tania meletakkan begitu saja tumpukan dolar itu di atas meja, lalu dengan tergesa mencari sesuatu dari tasnya. "Nyari apa, Nya?" Bian mengamati semua tingkah istrinya dengan wajah heran. Tania mengangkat botol kecil handsanitizer, lalu menuangkannya sedikit ke telapak tangan. Usai memastikan tangannya bersih, dia berjalan mendekati Bian. Beberapa kali gadis cantik itu meneguk ludah. 'Ya Allah, suami aku seksi begini. Aku punya amalan apa sampai Engkau anugerahi suami seindah ini', batin Tania. Perlahan tangan Tania menyelusuri d**a bidang Bian yang mulus tanpa bulu. Bergerak perlahan ke bawah, menuju roti sobek yang sedari tadi menggugah hatinya. "Nya," desah Bian. Sentuhan pertama Tania pada tubuhnya membuat sesuatu yang sedari tidur, menggeliat bangun dan ingin dibebaskan. "Mas Bian, tubuh kamu seksi banget. Akhirnya aku bisa pegang sepuasnya," ucap Tania, tangannya terus melakukan gerakan acak di atas roti sobek milik Bian. "Kamu suka, Nya?" tanya Bian dengan suara serak, menahan gairahnya yang mulai terbakar. "Suka, kayak roti sobek. Biasanya aku cuma lihat di film, sekarang bisa pegang langsung," jawab Tania sembari menggigit bibir bawahnya. "Nggak sekalian kamu lihat sosis punya aku, Nya? Aku jamin kamu pasti suka!" Dengan gerakan cepat Bian melepaskan celana panjangnya hingga menyisakan celana pendek ketat. Lagi-lagi Tania meneguk air liurnya saat matanya melihat gundukan besar di sana. 'Punya Bian segede itu?! Wow, amazing!' seru Tania dalam hatinya. "Mau kamu yang buka atau aku yang buka?" tanya Bian dengan wajah menggoda. Wajah Tania memerah, menahan malu. "Pintu kamar udah kamu kunci, Mas?" tanyanya mengalihkan perhatian sebentar. Biar bagaimana pun dia masih perawan. Semesum apa pun otaknya, tetap saja ada rasa takut saat memulai percintaan untuk pertama kalinya. Bian melangkah menuju pintu kamar yang disiapkan oleh pihak hotel sebagai kamar pengantin. Setelah memastikan pintu terkunci dan tidak ada yang bisa masuk, Bian kembali melangkah menuju istrinya yang berdiri kaku dekat ranjang yang dipenuhi taburan bunga mawar. "Jadi, Nya, mau kamu yang buka atau aku yang buka? Tinggal satu lapis, aku udah nggak pakai apa-apa lagi," goda Bian dengan seringai jahil. Bukan Tania namanya jika takluk pada godaan lelaki, meski itu suaminya sendiri. Perlahan dia melepaskan ikatan kimono di pinggangnya, lalu melemparnya sembarangan. Kali ini Bian yang berdiri terpaku menatap keindahan ragawi yang dimiliki istrinya. Kulit putih mulus bersih hanya dibalut dengan lingerie tipis menerawang, menampakkan dua gundukan daging padat tanpa penyangga di dalamnya. "Mau kamu yang lepas atau aku yang lepas, Yan?" Tania balik menggoda. Perlahan dia menarik lingerie ke atas, hampir menuju pangkal pahanya. Bian mengusap pelan miliknya yang semakin kencang dan mendesak ingin dilepaskan. "Kita sama-sama ngelepas aja gimana?" Tania mengangguk, perlahan menurunkan tali lingerie dari bahunya, membuatnya luruh ke lantai. Membuat tubuh polosnya terpampang di hadapan Bian. Malu? Tentu saja! Namun, inilah yang dia tunggu! Menyerahkan jiwa raganya kepada Bian, kekasih halalnya yang dicintai sepenuh hati. Bian meneguk ludah melihat keindahan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Tanpa sadar dia melangkah mendekat. Tania menggeleng, meminta untuk tetap di tempat. "Buka celananya, Yan. Jangan curang," tegur Tania dengan wajah merah seperti kepiting rebus. Bian melakukan apa yang diminta istrinya. Wajah Tania semakin memerah saat melihat milik Bian yang berdiri tegak. 'Gedong! Yess!' teriaknya dalam hati. "Jangan m***m, Nya. Mendingan langsung gas aja, pembukaannya kelamaan!" Bian langsung menyergap tubuh seksi istrinya. Seperti singa kelaparan, Bian begitu buas menikmati hidangan yang disajikan Tania. Keduanya saling mempelajari anatomi tubuh masing-masing. Saling memegang, meraba, mengusap dan mencium. Terus bergerak mencoba saling memuaskan. Teriakan pelan Tania terdengar saat Bian mencoba untuk masuk menembus dinding pertahanannya yang masih rapat. "Sakit, Nya?" Bian menghentikan aksinya. "Terusin, Yaan.... Ini persembahan istimewa dari aku buat kamu, Sayang," sahut Tania. "Kamu yakin, Nya? Kalau sakit jangan dipaksa," ujar Bian, dia tidak tega melihat wajah istrinya yang kesakitan sampai mengeluarkan air mata. Padahal Bian sudah melakukan pemanasan sebisa yang dia tahu, tetapi tetap saja Tania merasa kesakitan. "Terusin, Sayang. I'm yours, Honey. Let's do it!" Tania menarik pinggul Bian agar melesakkan miliknya lebih dalam. Desisan keluar dari bibir keduanya saat milik Bian berhasil menembus milik Tania. Bian mengusap air di sudut mata istrinya, sebelum menggerakkan tubuh agar mencapai puncak kenikmatan yang diagungkan oleh para pelakon cinta. Percintaan pertama yang begitu hebat, meninggalkan sebuah kenangan indah. Bian mengecup bibir istrinya, mengucapkan terima kasih karena telah menjaga dirinya dengan baik. Tania tersenyum manis, "Yess!! Gue udah bukan perawan lagi!" "Ya ampun, Nya. Segitu senengnya udah di-unboxing," kekeh Bian. "Seneng, dong!" Tania memeluk tubuh Bian. "Mau lagi nggak, Nya?" "Mau, Yan! Mau lagi! Katanya yang selanjutnya nggak sesakit yang pertama. Aku udah lihat tutorialnya di yutub, ada beberapa gaya ternyata, Yan. Nanti kita cari gaya yang paling en ...." Bian membungkam mulut istrinya yang terus berceloteh dengan ciuman. Kembali mereka meneguk madu dunia, serasa terbang ke nirwana. ✅✅✅✅ Tania dan Bian saling melirik tersipu sebelum melangkah keluar kamar untuk sarapan. Padahal semalam keduanya seperti tidak punya urat malu saat memadu kasih. Untuk pemula, keduanya bisa dibilang cukup mahir, karena mereka tidak ragu untuk saling memuji dan memuja tubuh masing-masing. "Ciee... yang udah nggak perawan!" goda Sandra saat melihat Tania dan Bian menghampiri meja tempat keluarga besar mereka sarapan bersama. Tania tersipu malu, tetapi hanya sebentar, setelahnya dia langsung membalas godaan kakaknya. "Iya dong, langsung gaspol! Jangan buang-buang waktu," balas Tania. Berbeda dengan Tania yang santai, Bian terlihat malu dan canggung. Bayangan tentang aktivitas semalam masih terus berputar di kepalanya. Sudah berubah menjadi lelaki mesumkah dia? Tanya Bian di dalam hatinya. "Sekali percobaan langsung jebol, Yan?" Kali ini Dini, kakak sulung Tania yang bertanya. "Nggak." "Iya." Bian dan Tania memberikan jawaban yang berbeda. "Loh, mana yang bener ini?" ujar Sandra. "Sekali, Mas," ucap Tania pada Bian. "Dua kali, Nya. Yang pertama itu nggak langsung masuk," sanggah Bian. "Masa, sih? Perasaan udah masuk, sakit banget loh itu!" sahut Tania. Semua orang menahan senyum melihat pasangan baru itu berdebat tentang malam pertama yang baru saja mereka lakukan. Untung saja para orang tua tidak ikut bergabung, bisa dibayangkan bagaimana syoknya wajah mereka. "Belum itu, baru ujung doang. Lihat kamu nangis, makanya aku berhenti," ucap Bian. "Lagian punya kamu gede banget, ya sakit, lah," sahut Tania. Luna terbatuk mendengar perkataan Tania yang terakhir, dia kaget mendengar adik iparnya dengan enteng membicarakan ukuran suaminya di depan banyak orang. Dini langsung menegur Tania, saat Luna dan Rini terlihat tidak nyaman dengan ucapannya. "Eh, maaf, Mbak. Aku keceplosan, terlalu excited sama hal yang baru aku lihat dan lakuin semalem," ujar Tania pada Luna dan Rini sembari cengengesan. Luna dan Rini tersenyum, lalu mengajak Tania dan Bian untuk segera sarapan. "Aku belum dapet kado pernikahan dari Kak Dini, Kak Lusi sama Mbak Rini. Baru dari Mbak Luna sama Kak Sandra aja. Bakal aku tagih loh, ya," cetus Tania. "Iya, tenang aja. Kita udah siapin kado istimewa buat kalian," sahut Rini. "Ih, jangan bilang pada sharing kado. Nggak modal banget!" protes Tania, dia tidak canggung memprotes ucapan Rini, kakak iparnya. "Enggak, kok. Tenang aja. Kita diskusi biar nggak ada yang kasih kado yang sama," ujar Miko, suami Rini. "Iya, betul itu," sahut Lukman, suami Dini. "Oh, iya. Ini ada titipan dari Saka sama Febi. Mas hampir aja lupa." Raka menyerahkan amplop putih pada Bian dan Tania. "Loh, memangnya Bang Saka semalem dateng?" tanya Bian. Tania langsung mengambil amplop putih itu dan membukanya. "Enggak, kemarin dia ke kantor Mas. Dia minta maaf nggak bisa dateng. Nggak bisa ninggalin Febi sendirian," jawab Raka. "Iya, juga, sih. Rasanya pasti aneh dateng kondangan sendirian, apalagi yang paling deket sama kalian 'kan Febi, bukan Saka," timpal Rini. "Wah, tiket bulan madu ke Raja Ampat!" seru Tania. Dia mengeluarkan semua isi amplop. "Menginap di resort selama satu minggu, pelayanan VIP! Asyiiik!" Tania tanpa segan mencium bibir Bian di depan keluarga. "Aduh, Dek. Nggak risi apa mesra-mesraan di depan kita?" protes Lusy. "Nggak," jawab Tania singkat. Lusy hanya menghela napas kesal melihat tingkah adik bungsunya yang membuatnya risi itu. Menurut Lusy, kemesraan suami istri itu tidak perlu diumbar di depan banyak orang. "Beda aja ya, yang punya perusahaan tour and travel kasih hadiahnya begini," ucap Sandra, mencoba mengalihkan perhatian dari perdebatan antara Tania dan Lusy. "Ah, ini mah terlalu murah buat Bang Saka!" gerutu Tania. "Nggak boleh gitu, Nya. Bersyukur dia masih inget sama kita, padahal Bang Saka pasti lagi pusing mikirin Febi yang ngidam parah kayak gitu," tegur Bian. "Ya kasih tiket bulan madunya ke Turki, kek. Maldives, biar agak jauhan dikit," sahut Tania. "Pergi jauh malah nggak bisa bulan madu, keburu capek di jalan," timpal Raka. "Betul itu," sahut Waluya. "Inti dari bulan madu itu apa sih? Paling ngabisin waktu di kamar doang," tambah Lukman. "Bener! Bercinta terus sampe lecet!" kelakar Waluya. Para lelaki dewasa itu tertawa lepas, sedikit mengenang masa-masa bulan madu yang pernah mereka lakukan. Bian dan Thoriq, suami Lusy, menjadi bulan-bulanan. Keduanya dianggap newbie dan masih perlu ditatar sampai berhasil menghamili istri. Para istri mereka hanya menggeleng mendengar celotehan para lelaki yang mulai menjurus ke arah kasur itu. Tania ingin ikut nimbrung sebenarnya, tetapi segan pada Luna dan Rini. "Jadi, Yan? Nyesel nggak nikah?" tanya Miko. "Nggak, lah. Masa nyesel?" jawab Bian cepat. "Kalau Mas Miko sih nyesel. Nyesel kenapa nggak dari dulu nikahnya!" cetus Miko. Gelak tawa kembali menggelegar. Bian tersipu, lalu mengangguk setuju. Andai tahu rasanya bercinta seenak itu, Bian akan lebih cepat menikahi Tania. Tidak membuang waktu hampir satu tahun usai bertunangan. Harusnya dia langsung menikah saja, tanpa ada pertunangan. Pembicaraan dengan para kakak iparnya, membuat milik Bian bereaksi. Salahkan darah mudanya, hanya karena pembahasan sedikit tentang ranjang, gairahnya langsung terbakar. Bian berbisik pada Tania, mengajaknya kembali ke kamar. Tingkah Bian langsung menjadi bahan ledekan para abang iparnya. Pemuda itu memasang muka tidak tahu malu, toh yang dia ajak itu istri sahnya. Ternyata bukan hanya Bian, Thoriq pun langsung mengajak Lusy ke kamar. "Wah, kalian lemah! Ck! Ck! Gitu doang langsung terpancing," ledek Waluya. "Aku juga, deh. Mumpung nggak ada anak-anak. Yuk, Ma, lanjutin yang semalem." Lukman mengajak Dini kembali ke kamar. ✅✅✅✅ Yang mau tau kisah lengkap Saka dan Febi, baca di "TETANGGAKU JODOHKU"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN