Nikah

1993 Kata
"Stt, sudah jangan nangis terus. Nanti matanya bengkak, dikira kamu menikah karena terpaksa," ujar Ningsih sembari mengusap wajah Bian yang basah. "Mas, kamu tahu kesalahan yang pernah Ayah lakukan di masa lalu. Jangan pernah melakukan kesalahan seperti Ayah, Mas. Jangan! Cukup Ayah saja yang melakukan kebodohan itu." Abimana menatap lekat wajah Bian, memintanya berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu. Abimana juga menitipkan pesan yang sama saat putra sulungnya menikah beberapa tahun yang lalu, sebelum kesalahannya itu terbongkar dan diketahui oleh anak-anaknya yang lain. Lelaki paruh baya itu tidak yakin pasangan anak-anaknya akan seperti Ningsih yang mau memaafkan dan menerimanya lagi. Bian mengangguk, dia banyak belajar dari rumah tangga orang tuanya termasuk dari kesalahan yang dilakukan Abimana di masa lalu. Pun belajar tentang arti sebuah ketulusan dari Ningsih. "Ayo, kita berangkat. Keluarga Pramudya sudah menunggu kita, calon istri kamu juga pasti sudah gelisah menunggu kedatangan kita," ucap Ningsih dengan lembut. Pasangan paruh baya itu berjalan mengapit Bian. Begitu keluar dari kamar, Raka langsung memeluk erat Bian. Menepuk punggung adiknya seraya berbisik. "Jangan bandel ya, Dek. Jadilah suami yang bertanggung jawab, bimbing istrimu menuju jalan Allah, agar cinta kalian berakhir sampai ke surga." Bian memeluk erat kakak lelakinya, yang sering menjahilinya. "Terima kasih, Mas, atas petuahnya. Jangan bosan buat ingetin aku." Raka melerai pelukannya, kemudian giliran Rini yang memeluk Bian dengan singkat. Dia mencium pipi kanan dan kiri Bian, diakhiri dengan kecupan di kening. "Adik Mbak sekarang udah dewasa, udah berani menikahi seorang gadis. Barokallah, Mas Bian. Jadilah pemimpin keluarga yang baik, bersikap lemah lembutlah pada istri dan anak-anakmu nanti. Jangan membentak, perempuan itu lemah kalau dibentak, apalagi sama suaminya. Semarah apa pun kamu, jangan bentak dia. Inget itu!" pesan Rini. "Terima kasih, Mbak Rini." Bian kembali memeluk Rini. Caca langsung berhambur memeluk Bian begitu Rini melepas pelukannya. "Mas, nanti jangan lupain aku, ya? Harus sering-sering main ke sini. Jangan lupa kasih uang jajan ke aku," cetus Caca. Bian mengusap puncak kepala Caca yang tertutup hijab. " lya, Dek." Luna menakup tangannya di depan d**a, mengucapkan selamat dan do'a tanpa bersentuhan dengan Bian. Miko, suami Rini, menjadi orang terakhir yang memeluk dan melantunkan doa untuk Bian. Setelah itu, mereka semua pergi menuju ballroom sebuah hotel di bilangan Jakarta Barat, dekat dengan kediaman keluarga Pramudya, tempat diselenggarakannya akad nikah. Iringan mobil pengantin cukup panjang, karena Abimana mengundang keluarga besarnya untuk hadir dan memberikan doa di hari bahagia ini. Kedatangan keluarga Ma'arif disambut hangat oleh perwakilan dari keluarga Pramudya. Akad nikah sendiri dilakukan tanpa upacara adat sesuai keinginan kedua mempelai. Seorang pria berkemeja batik yang memimpin jalannya acara, begitu piawai membuat suasana lebih hidup dengan gurauannya, meski tetap tidak mengurangi suasana sakral pada acara itu. Ketegangan Bian sempat terurai akibat kata-kata lucu yang diucapkan oleh si pembawa acara. Sampai di acara puncak yaitu prosesi ijab kabul, Bian kembali tegang. Raka yang sedari tadi duduk mendampinginya bersama Abimana, mengingatkan Bian agar tetap tenang. Penghulu menjelaskan secara singkat tata cara mengucapkan ijab kabul. Bian sendiri sudah berlatih selama seminggu terakhir agar tidak salah mengucapkan nama Tania dan mas kawinnya. "Baik, Mas Bian sudah siap?" tanya penghulu. Bian mengangguk yakin. Setno mengulurkan tangan, Bian menyambut dan menjabatnya dengan erat. "Bismillahirrohmanirrohim. Ya... Bian Hutama bin Bapak Haji Abimana Ma'arif, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Tania Rinjani Sekar Ayu, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan cincin emas seberat sepuluh gram dibayar tunai!" ucap Setno dengan tegas dan jelas. "Saya terima nikah dan kawinnya Tania Rinjani Sekar Ayu binti Bapak Setno Pramudya, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan cincin emas seberat sepuluh gram, dibayar tunai!" Bian mengucapkan ijab kabul dengan tenang dan jelas. "Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu. "Sah!" "Sah!" "Sah!" "Barokallah, alhamdulilah." Doa pernikahan dilantunkan begitu syahdu, Bian menangis haru. Tunai sudah tugasnya hari ini. Usianya baru dua puluh dua tahun, masih sangat muda, tetapi Bian berani mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Yang akan membuat kehidupannya tidak lagi sama. Di mana yang dulu adalah dosa, kini menjadi ladang ibadah. Usai doa dilantunkan, Tania dituntun oleh Wulandari dan Dini berjalan menuju lelaki yang sudah menjadi kekasih halalnya. Mata Bian tidak berkedip melihat Tania yang begitu cantik dengan kebaya berwarna putih dan hijab yang menutupi kepalanya. "Kedip, Dek. Nanti di kamar aja mandenginnya," bisik Raka meledek. "Udah sah, Mas. Bebas aku pandang," sahut Bian, tanpa menyembunyikan senyumnya. Tania berhenti tepat di depan Bian. Keduanya diam dan hanya saling pandang dengan wajah merona. Sepasang pengantin itu saling memuji di dalam hati. "Mas Bian, ini bukan gadis yang baru saja Mas Bian nikahi?" tanya sang pembawa acara. "Iya, dia istriku," jawab Bian tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Tania yang tersipu malu. "Kalau benar, silakan Mbak Tania cium tangan suaminya, nanti Bian kecup keningnya sambil membaca doa, ya? Sudah hafal doanya, Mas?" tanya pembawa acara. "Sudah," jawab Bian singkat. "Kalau doa buat nanti malam, sudah hafal belum?" goda si pembawa acara, memancing gelak tawa tamu undangan. Bian mengabaikan semuanya, dia mengulurkan tangan yang kemudian disambut oleh Tania dan diciumnya dengan takzim. Bian mengecup kening Tania dan melafalkan doa kebaikan untuknya. Setelah itu keduanya saling memakain cincin di jari manis kanan masing-masing. "Hari ini kamu pakai hijab, Nya?" tanya Bian. Dia tak menyangka istrinya memakai hijab di hari pernikahan mereka. Tania tidak pernah membicarakan ini sebelumnya. "Iya, Mas. Cuma akad nikah aja, biar suatu saat nanti aku resmi berhijab fotonya tetep bisa dipajang di ruang tamu," jawab Tania. "Cuma akad nikah doang?" tanya Bian lagi. Mereka bicara di sela sesi pemotretan. Tania memandang wajah tampan suaminya dengan senyum manis, kemudian mengangguk pelan. "Nggak papa, kan? Aku belum siap, Yan," ujar Tania. "Nggak papa, sedikit-sedikit kamu mulai pakai baju tertutup ya, Sayang." Bian mengangkat dagu Tania dengan telunjuknya sesuai arahan fotografer. "Tahan! Dipandang istrinya, Mas. Mbak Tania juga pandang Mas Biannya. Oke, tahaan ." Fotografer terus mengarahkan gaya. Tania berjinjit pelan lalu mengecup bibir Bian. "Wah, Mbaknya nyosor duluan!" seru sang pembawa acara yang sedari tadi ikut memperhatikan. "Nya," tegur Bian dengan senyum terkembang. "Nanggung, Mas. Deket-deket tapi nggak dicium," gerutu Tania dengan manja. "Sabar, Nya. Nanti malem langsung gas, siap-siap aja!" Bian menoel hidung mancung istrinya. "Udah nggak sabar aku, Yan," balas Tania. "Kamu ini kadang panggil mas, kadang manggil nama doang," protes Bian. "Emang kamu mau dipanggil apa?" Tania meletakkan kepalanya di d**a Bian. Sesi pemotretan yang lumayan lama ini dimanfaatkan keduanya untuk melepas rindu. Itu membuat fotografer tersenyum senang karena mendapatkan gambar kemesraan mereka yang natural. "Di depan keluarga, kamu panggil aku Mas Bian. Kalau berduaan bebas mau panggil apa," jawab Bian. "Oke, Mas Bian. Nanti sebelum resepsi, kita pemanasan dulu, yuk," ajak Tania. "Nggak ada pemanasan! Nanti riasannya nggak manglingi kalau pengantinnya udah nggak perawan," sahut Wulandari yang tiba-tiba saja berdiri di samping Tania. Setno menahan tawa, begitu juga Abimana dan Ningsih yang berdiri di samping Bian. Terlalu asyik mengobrol, Tania dan Bian tidak mendengar fotografer dan pembawa acara memanggil kedua orang tua mereka untuk berfoto bersama. "Rasain!" bisik Bian menggoda istrinya. "Mas Bian, iiih...." ❗❗❗❗❗ Warning! Mengandung adegan yang bisa menyebabkan panas dingin. Acara resepsi pernikahan langsung diselenggarakan hari itu juga di tempat yang sama, agar tidak membuang banyak waktu dan tenaga. Bian dan Tania sebenarnya malas menyelenggarakan pesta seperti ini. Namun, jika orang tua sudah berkehendak, mereka bisa apa. Apalagi Tania anak bungsu, tentu saja Setno dan Wulandari ingin menyelenggarakan pesta pernikahan yang meriah dan megah. Jika saat akad nikah tadi Tania memakai hijab, kali ini istri Bian itu memakai gaun dengan potongan bahu terbuka, sampai menampakkan sedikit belahan dadanya. Bian protes keras, dia tidak rela sesuatu yang dia juga belum melihatnya harus dipajang dan diperlihatkan pada banyak orang. Namun, karena waktunya sudah mepet, Tania tidak bisa berganti gaun. Ini risiko yang harus diterimanya karena kemarin tidak menanyakan tentang gaun yang akan dikenakan Tania. "Jangan ngambek Mas Bian, ini cuma belahan doang, kok. Isinya hanya Mas Bian seorang yang boleh lihat. Nggak cuma dilihat, dipegang, diremas juga boleh," rayu Tania sembari merapikan gaunnya. Celetukan Tania membuat MUA yang membantu merapikan penampilannya tersipu menahan tawa. "Tetep aja, Nya. Aku nggak rela. Kenapa nggak pakai yang agak tertutup, sih? Biar itunya nggak kelihatan," sungut Bian. Dia berdiri di belakang Tania yang sedang menatap cermin besar. Dua orang yang membantu Tania menyiapkan diri, meninggalkan kamar. "Aku cantik nggak, Mas Bian?" tanya Tania mengabaikan Bian yang masih merajuk. "Cantik," jawab Bian singkat. Namun, matanya tak henti memandang cermin yang memantulkan bayangan istrinya yang begitu cantik, anggun dan seksi. "Peluk, dong, Mas. Jangan cuma dilihat aja. Sini peluk, aku masih kangen, Mas." Tania memutar tubuh, berhadapan dengan suaminya yang tampan dengan jas berwarna putih. Bian melangkah mendekat kemudian memeluk Tani. Menempelkan bibirnya di cekukan leher jenjang yang sedari tadi menggodanya. "Mas," desah Tania kala Bian memberikan kecupan-kecupan singkat di sepanjang leher hingga ke bahunya yang terekspos. "Heem," sahut Bian. Ingin sekali dia menarik resleting di punggung Tania agar gaun putih ini merosot dan membiarkan tubuh seksi istrinya terlihat jelas tanpa penghalang. Tangan Bian mengusap lembut setengah punggung Tania yang terbuka, mengalirkan gelenyar aneh pada tubuh gadis cantik itu. Bibir Bian masih bermain di leher jenjang istrinya. "Astaghfirullah, ditinggal sebentar kalian udah begini," omel Wulandari. Bian segera menjauhkan diri dari tubuh Tania. Mengusap tengkuknya, lelaki itu tersenyum canggung pada Wulandari. "Mami ganggu aja!" cetus Tania dengan wajah jutek. "Bukan mau ganggu, Mami panggil kalian karena acara mau dimulai," sahut Wulandari. Ningsih masuk menyusul besannya memanggil kedua mempelai. "Udah siap? Yuk, kita ke ballroom. Tamunya udah pada dateng," ajak Ningsih sembari tersenyum. "Tuh, denger. Ibu juga bilang gitu, kan? Bukan Mami ganggu kalian!" omel Wulandari pada Tania. "Loh, ada apa, Jeng?" tanya Ningsih pada besannya. "Itu, Jeng. Pengantinnya tadi lagi mesra-mesraan, katanya saya ganggu kegiatan mereka," sungut Wulandari. Bian meringis saat mata ibunya menatap tajam. Padahal dirinya tak bicara apa pun, tetap saja dia yang dianggap salah. Tania melingkar tangannya pada lengan Bian. Dia tidak mau mendebat maminya lagi, dia ingin semuanya cepat selesai. Kemudian menyerahkan jiwa raganya pada Bian! Pesta berlangsung dengan sangat meriah dan mewah. Keluarga Pramudya begitu bangga bisa berbesanan dengan Keluarga Ma' arif, mantan Ketua DPR-RI, yang dikenal sebagai sosok yang baik dan agamis. Itulah sebabnya dia mengadakan pesta yang cukup besar untuk merayakannya. Meski sempat menggerutu, pada akhirnya Bian dan Tania ikut menikmati pesta. Sandra memberikan kejutan sekaligus hadiah pernikahan untuk Tania dengan mendatangkan Tulus, penyanyi favorit adik bungsunya itu. Tania berduet membawakan sebuah lagu dengan penyanyi favoritnya. Sejenak dia melupakan Bian yang sedari tadi menahan cemburu setiap ada lelaki yang memuji kecantikannya. Usai bernyanyi, Tania kembali menuju pelaminan. Bian langsung mengeratkan pelukan di pinggang rampingnya. "Jangan ke mana-mana lagi, tetep di sini, Nya. Atau aku colok semua mata laki-laki yang melotot mandengin kamu!" sungut Bian. Tania terkekeh pelan mendengar kecemburuan suaminya. "Ish, jangan cemburu. Tetep aja mereka cuma bisa lihat, nggak bisa ngapa-ngapain," ujar Tania. "Pokoknya ini terakhir kalinya kamu pakai pakaian terbuka kayak gini, Nya. Besok-besok nggak boleh lagi," ucap Bian dengan wajah tertekuk. "Iya, Mas Bian." Tania mengecup singkat bibir Bian. "Nya," tegur Bian. "Why? Kita udah sah, Mas. Santuy aja," cetus Tania enteng. Kemeriahan pesta tetap tak sempurna bagi Tania dan Bian, karena Febi tidak bisa hadir. Sahabat mereka itu sedang mengalami fase mengidam yang cukup ekstrim. Jangankan untuk pergi ke pesta, keluar kamar pun Febi tidak sanggup. "Mas, sedih ya, Febi nggak bisa dateng. Padahal dia loh yang jodohin kita," ucap Tania lirih. Mereka saling bicara sembari menyalami tamu yang masih terus berdatangan. "Iya, ngidamnya parah banget. Sampai diinfus, gara-gara nggak bisa masuk makanan ," ujar Bian. "Aku jadi takut hamil," celetuk Tania. "Nggak boleh gitu. Setiap orang 'kan beda-beda. Febi juga waktu hamil twins ngidamnya nggak kayak gini. Katanya setiap anak beda-beda hamilnya," sahut Bian. Dia tersenyum pada salah satu teman ayahnya yang datang memberi selamat. "Iya, sih. Ah, lagian ngapain mikirin ngidam, bikin aja belum. Iyaan, kamu penasaran nggak rasanya kayak gimana?" tanya Tania. "Jangan bahas itu dulu, Nya. Masih banyak tamu ini," tegur Bian. ✅✅✅✅ Yang mau tau kisah lengkap SAKA & FEBI, baca "TETANGGAKU JODOHKU"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN