PART 7

1980 Kata
"Cium aku, Yan." "No, Nya! Kita udah janji, lagian di dalem ada orang tua dan kakak-kakak kita. Bisa-bisa aku digorok sama mereka," tolak Bian. "Tapi, Yan ...." "Kita kasih tahu Febi, yuk!" potong Bian mengalihkan pembicaraan. "Ah, iya, aku lupa! Dia pasti seneng banget! Jadi inget kemarin dia marah-marah waktu mergokin di rumah barunya? Udah bawel kayak emak-emak dia sekarang." Tania cekikikan mengenang kejadian saat Febi memergokinya berciuman dengan Bian. Istri Saka Langit itu mengamuk dan langsung mengusir mereka berdua dari rumah barunya. "Kamu sih, bandel banget." Bian menarik hidung mancung Tania "Aku suka nggak tahan kalau deket-deket kamu, Yan. Kayaknya semakin hari, s*x appeal kamu semakin kuat, deh." Tania memeluk tubuh tegap Bian. "Itu sih, otak kamu aja yang m***m," ledek Bian. "Sembarang! Kamu juga doyan, lyan! Jangan ngelak!" sewot Tania. "Iya, Tania Sayang. Aku juga doyan dan ketagihan." Bian menatap lekat wajah Tania, perlahan mereka saling mendekatkan wajah masing-masing. Tinggal satu centimeter lagi bibir mereka bertemu, teriakan anak kecil mengagetkan mereka. "Oma! Opa! Aunty Nia mau ciuman sama Uncle Bian!!" teriak Adelia, anak sulung Dini. Di belakangnya ada empat anak lagi yang berusia di bawahnya, semuanya adalah keponakan Bian dan Tania. Tak jauh dari anak-anak kecil itu berkumpul, Caca berdiri dengan tangan terlipat di d**a. Tawanya pecah saat Bian melihat keberadaannya. "Caca! Kamu, ya!!" teriak Bian. Caca berlari ke dalam rumah, sebelumnya dia menyuruh para anak kecil kembali berteriak. "Oma, Opa, Aunty Tania ciuman sama Uncle Bian!" "Yangti, Yangkung, Om lyan ma Te' Nya iuman!"Teriak anak-anak itu bersamaan. Dini, Sandra, Luna dan Rini datang mendekat. Bian langsung mundur menjauhi Tania. "Dasar ya, Om Bian! Bandel kamu, kasih contoh nggak bener di depan anak-anak," omel Rini. "Pasti kamu nih, Dek, yang mancing duluan!" tegur Dini. Bian mengibaskan tangan, panik karena kakak-kakaknya datang. Sedangkan Tania bersikap lebih santai. Gadis itu malah berharap malam ini juga mereka menikah, dia siap untuk melepas keperawanannya pada Bian. "Nggak, Mbak-mbak, Kakak-kakak. Kita cuma pelukan doang," elak Bian. "Bohong!" teriak Caca, dia hanya nongol sebentar kemudian kembali lari ke dalam rumah. "Jangan dengerin Caca, Mbak," pinta Bian pada Rini dan Luna. "Kenapa harus bohong sih, Yan? Kita 'kan emang mau cipokan," celetuk Tania. "Tuh, kan! Dasar nakal!" Rini menjewer telinga Bian. Begitu juga Dini, dia langsung menjewer dan mengomeli Tania. "Kamu jadi cewek jangan terlalu m***m, Dek! Bikin malu! ✅✅✅✅ Akibat kejadian malam itu, Bian dan Tania dilarang bertemu berduaan. Selalu ada pengawal saat keduanya harus bertemu, entah itu Ningsih, Wulandari atau Caca. Tania dan Bian sepakat untuk menyerahkan segala pernak-pernik pernikahan pada WO dan keluarga, mereka ingin lebih fokus pada skripsi yang tinggal menunggu sidang. Hanya beberapa hal yang sangat penting saja mereka ikut terlibat, seperti pembelian mahar untuk Tania. Bian akan memberikan seperangkat alat salat dan cincin emas putih seberat sepuluh gram, sesuai permintaan Tania. Hanya itu saja keterlibatan mereka dalam persiapan pernikahan yang diselenggarakan beberapa hari lagi. Di dalam kamarnya Tania uring-uringan, dia seperti terpenjara. Dirinya merindukan Bian, sudah seminggu mereka tidak bertemu. "Dek, makan dulu. Mami udah pesen nasi Padang kesukaan kamu. Yuk," ajak Wulandari. "Mami, aku kangen Bian. Masa sih, nggak boleh ketemu? Aku itu mau menghadapi momen penting dan butuh Bian di samping aku," rengek Tania. "Momen apa?" tanya Wulandari tak mengerti. "Ya ampun, Mami. Aku mau sidang skripsi. Duh, ini keberuntungan apa gimana, kenapa sidang skripsi cuma beda dua hari sama akad nikah? Kalau calon pengantin yang lain harus puasa biar badannya langsing, kalau aku nggak usah puasa juga kurus! Stres!" dumel Tania tanpa henti. Wulandari hanya menggeleng melihat tingkah putri bungsunya itu. "Dan aku butuh pelukan Bian, Mi. Pelukan Mas Bianku tersayaang ...." Tania merengek, meminta ibunya memberi kelonggaran sedikit saja. "Itu salah kamu sendiri! Coba kalau kamu malem itu nggak nyosor, pasti kalian masih bisa bebas ketemu seperti biasa. Udah tahu kalau keluarga Bian itu kuat agamanya, ini malah nempel-nempel terus! Masih untung mereka nggak ilfil punya calon mantu kayak kamu!" sewot Wulandari. Bagaimana dia tidak marah, cucu-cucunya yang menyaksikan kemesraan Tania dan Bian mengatakan kalau Tania yang lebih dulu menyeret Bian ke halaman belakang. Kemudian keduanya berdiri berhadapan lalu saling menempel. Bikin malu! Untung saja keluarga Ma'arif tidak membatalkan rencana pernikahan. "Ih, Mami .... Itu 'kan akunya lagi khilaf," lirih Tania dengan bibir cemberut. "Khilaf lagi alasannya! Kamu itu perempuan, jaga imej dikit, dong!" omel Wulandari. "Ya ampun, Mami, kayak nggak pernah muda aja. Mas Bianku yang tersayang itu badannya seksi, mukanya ganteng, bersih dan wangi lagi! Bikin aku pengennya nempel aja. Aku juga manusia kali, Mi, punya hasrat yang ingin .... "Astaghfirullah!" potong Wulandari. "Haduuh, pantas Jeng Ningsih ribut aja minta kalian buru-buru nikah. Kelakuan kamu mengkhawatirkan! Untung Bian laki-laki baik, jadi dia masih bisa jagain kamu baik-baik!" Wulandari terus mengomel, kepalanya pusing mendengar celotehan Tania yang nyeleneh. "Emang Mami dulu sama Papi nggak kayak gitu? Papi juga ganteng, nggak mungkin Mami nggak ngebet duluan," celetuk Tania. "Heh! Mami sama Papi nggak pacaran! Kami langsung nikah, pacaran setelah nikah. Lagian Mami ini bukan perempuan agresif, Mami ini tipe perempuan jinak-jinak merpati," sahut Wulandari dengan sedikit emosi. "Dih, jinak-jinak merpati. Udah nggak jaman kali, Mi. Sekarang mah cowok sama cewek punya hak yang sama buat menyatakan cinta," timpal Tania. "Terserah kamu! Pusing kepala Mami ngomong sama kamu! Pokoknya kamu jangan ketemu sama Mas Bian sampai kalian menikah! Titik!" ujar Wulandari tanpa mau dibantah lagi. Di tempat lain, Bian pun mengalami hal yang sama dengan Tania. Rindu setengah mati. Pemuda itu terus memandang foto-foto mereka yang disimpannya di dalam laptop. Beberapa video kebersamaan mereka juga diputarnya. "Nya, kangen kamu...." Bian mencium layar laptopnya. "Hueeeks!" Bian menengok ke belakang, matanya melotot melihat Caca masuk tanpa mengetuk pintu. "Nggak sopan masuk kamar Mas nggak ketuk pintu dulu!" tegur Bian. "Udah, Mas. Tapi Mas Bian nggak nyahut juga, jadi aku langsung masuk aja. Ternyata Mas ku ini lagi diserang penyakit malarindu ya?" ledek Caca. "Ini semua gara-gara kamu! Coba malem itu kamu nggak nyuruh anak-anak teriak, para orang tua nggak akan tahu! Mas masih bisa ketemu Tania," rutuk Bian. "Harusnya Mas bilang makasih sama aku dan anak-anak. Kami udah mencegah Mas dan Mbak Tania dari perbuatan dosa," sahut Caca, dia duduk di kasur Bian. "Ck! Mas nggak ngapa-ngapain kali! Nanti juga kalau kamu pacaran, kamu bakal tahu gimana rasanya," ujar Bian. "Aku nggak mau pacaran. Aku mau ta'arufan aja kayak Mbak Luna sama Mbak Rini. Mereka ketemu sama suami pas udah sah. Rasanya pasti seru! Deg-degan kayak gimanaaa gitu !" Gadis berkerudung coklat itu menempelkan tangan di d**a, wajahnya menengadah dengan mata terpejam. Dia sedang membayangkan suatu hari nanti akan bertemu sang kekasih dalam ikatan suci yang dinamakan pernikahan. "Jadi menurut kamu, apa yang Mas dan Tania lakuin ini nggak bener? Apa kamu juga menganggap calon istri Mas ini bukan perempuan baik-baik?" Bian menatap tajam wajah adik kandungnya yang terlihat salah tingkah. "Aku nggak bilang kayak gitu, Mas," jawab Caca gugup. Tatapan Bian menakutkan, dirinya merasa bersalah telah menyinggung perasaan kakaknya itu. "Maaf, Mas. Aku nggak ada bilang kalian salah atau bagaimana. Tadi Mas 'kan bilang kalau aku bakal rasain sendiri nanti kalau punya pacar. Aku nggak mau pacaran. Aku mau menikah tanpa pacaran. Nggak ada sama sekali maksud buat nyinggung perasaan Mas Bian. Maaf, kalau aku ...." Bian mengangkat tangannya, meminta Caca untuk diam. "Aku tahu Tania belum menutup auratnya seperti kalian, tapi dia perempuan baik. Hatinya tulus dan apa adanya. Jangan menilai seseorang dari penampilannya!" ucap Bian. "Astaghfirullah, Mas. Aku nggak pernah menilai buruk Mbak Tania. Aku juga suka dan sayang sama dia. Lagian siapa aku sampai merasa lebih baik dari Mbak Tania? Aku cuma anak SMA yang masih harus banyak belajar," tutur Caca dengan mata berkaca-kaca. Dia sedikit kesal karena Bian secara tidak langsung telah menuduhnya berpikiran buruk terhadap calon istrinya. Bian merasa bersalah telah membuat adiknya berkaca-kaca seperti ini. Dia memeluk Caca dengan erat, mengecup puncak kepalanya berulang kali. "Maafin Mas, Dek. Mas nggak bermaksud bikin kamu marah kayak gini." Caca menangis dalam pelukan Bian. Dia menengadah menatap wajah kakaknya. "Mas, nanti kalau udah nikah, masih boleh aku peluk kayak gini nggak?" Bian tersenyum dan kembali mengecup puncak kepala Caca. "Ya boleh, dong. Kapan pun kamu kangen Mas dan pengen dipeluk kayak gini, tinggal bilang. Nanti Mas datang dan peluk kamu," jawab Bian. "Kenapa Mas nggak tinggal di sini aja, sih? Jadi sepi rumahnya," ucap Caca. "Kami harus belajar mandiri, Ca. Kebetulan Mbak Tania kamu itu punya apartemen, jadi kami tinggal di sana sampai nanti uang Mas terkumpul buat beli rumah," jelas Bian. "Jujur, aku pikir Mas Bian bakal nikah sama Kak Febi. Kalian 'kan deket banget dari SMA. Ibu juga sempat berpikiran kayak gitu, loh," cetus Caca. "Jangan bilang kayak gitu di depan Mbak Tania, ya? Nanti bisa ngambek dia," kekeh Bian. "Mbak Tania cemburu? Padahal Kak Febi 'kan udah nikah, kenapa harus cemburu? Lagian kalian bertiga juga bersahabat,' sahut Caca. "Namanya juga perempuan, Dek. Suka cemburu nggak jelas." Keduanya duduk di sisi ranjang Bian. Caca memeluk tubuh kakaknya. "Tapi aku suka banget sama Mbak Tania. Dia itu aura positifnya kuat banget. Lucu, apa adanya, suka ceplas-ceplos, ya pokoknya kalau ada Mbak Tania suasana jadi ramai," ucap Caca dengan tulus. "Itu yang akhirnya bikin Mas jatuh cinta sama dia. Anaknya ngegemesin, jadi pengen cium aja bawaannya," celetuk Bian. "Tuh, kan! Keceplosan sendiri suka cium-cium. Lapor ke Ibu, ah!" Caca bangkit dari duduknya. "Eh, Dek! Jangan laporan macem-macem! Awas kamu, Mas jewer sampai telinganya merah!" teriak Bian. Caca menjulurkan lidah lalu berlari keluar kamar. Bian mengejar adiknya, Caca berlari menuju ruang tengah di mana orang tuanya sedang duduk berpelukan menonton televisi. Caca langsung duduk di pangkuan Abimana. "Coba, Mas berani nggak jewer telinga aku," ledek Caca. "Ada apa ini?" tanya Ningsih. "Caca itu, Bu! Jangan dengerin kalau dia ngomong yang aneh-aneh. Fitnah itu!" rajuk Bian. Dia langsung meletakkan kepalanya di pangkuan Ningsih. "Tuh, Mas Bian yang su'udzon! Aku nggak ngomong apa-apa, kok," balas Caca. "Ish, kamu tuh ya, bikin Mas kesel aja!" Tangan Bian menggapai pipi Caca dan mencubitnya gemas. "Maaas, sakit! Ayah, Mas Bian nakal," adu Caca pada Abimana. "Udah, jangan bertengkar. Bentar lagi Mas Bian nikah, nggak tinggal di sini lagi. Harusnya kalian akur, dong," omel Ningsih. "Nanti kalau Caca nikah, kita tinggal berduaan ya, Bu," sahut Abimana sembari mengecup pipi istrinya. "Tolong, ya, aku mau nikah. Jangan sampai aku punya adik lagi," omel Bian. "Haduuh, amit-amit. Masa aku punya adik," sambung Caca. Abimana dan Ningsih tertawa melihat dua anaknya senewen melihat kemesraan mereka. ✅✅✅ Bian berdiri tegap menatap bayangan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat tampan dengan potongan rambut baru dan setelan beskap berwarna putih membalut tubuh. Bian menarik napas dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan. Hari ini, satu jam lagi, dia akan melepas masa lajangnya. Dirinya akan memikul tanggung jawab baru, sebagai suami dan pemimpin rumah tangga. Pintu kamarnya diketuk, Abimana dan Ningsih masuk. Mereka memakai baju pasangan dengan warna biru pucat. "Udah siap, Mas?" Satu pertanyaan sederhana dari Abimana membuat air mata Bian luruh. "Ayah, apa aku sanggup memikul tanggung jawab ini?" tanya Bian sembari menahan isak, sedangkan air matanya telah turun tak terbendung. "Insyaa Allah, kamu sanggup, Mas. Terus berdoa sama Allah, memohon agar setiap langkah kamu membimbing istri dan membangun rumah tangga dipermudah oleh-Nya." Abimana menepuk bahu tegap Bian. "Terus bimbing aku, Yah, Bu. Aku masih butuh bimbingan kalian," lirih Bian. "Insyaa Allah, Nak. Doa kami akan selalu tercurah untuk kamu." Ningsih memeluk Bian. Putra keduanya itu memeluk lalu mengecup punggung tangannya. "Terima kasih, Ibu. Maaf, aku belum bisa membalas semua jasa-jasa Ibu, tapi aku sudah melamar anak gadis orang ," ucap Bian. "Kamu menikah itu hadiah terbaik untuk Ibu, Mas. Bagi kami, kamu itu masih anak-anak. Tapi nyatanya, kamu ini lelaki dewasa. Sudah memiliki kebutuhan biologis yang harus disalurkan. Daripada zina lebih baik menikah. Terima kasih, Mas. Jadilah suami yang bertanggung jawab dan setia pada keluarga. Sayangi istri dan anak-anakmu kelak," pesan Ningsih. Bian kembali memeluk ibunya, tangisnya semakin kencang. ✅✅✅ Yang mau baca kisah lengkap Saka dan Febi, baca di "TETANGGAKU JODOHKU"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN