"Eh, ini bukan karena kamu hamil 'kan, Nia?" tanya Ningsih pada Tania.
"Enggak Ibu .... Mas Bian itu lurus banget, jagain aku banget. Nggak mungkin dia ngerusak aku," jawab Tania.
"Ibu nggak percaya banget, sih, sama aku," gerutu Bian.
"Soalnya Ibu kaget, Mas. Tiba-tiba aja kamu mau nikah buru-buru," ucap Ningsih. Tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala Bian yang duduk di samping Tania.
"Ibuu... nanti Ibu rayu Papi sama Mami ya, biar mereka ngijinin kami cepet nikah," rengek Tania dengan manja.
"Kalau rayu Papi itu tugas Mas Bian sama Ayah. Nanti Ibu bantu bujuk Mami, mudah-mudahan Allah meridhoi niat baik kalian, ya," sahut Ningsih.
"Ayah pasti bantu! Denger kalian mau cepet nikah aja udah seneng banget, jadi pasti Ayah dukung seratus persen!" cetus Abimana yang sedari tadi diam menyimak.
"Makasih, Yah," ucap Bian.
"Em ... tapi tabunganku belum banyak," cicit Bian. Usahanya bersama Edo, salah satu teman SMA-nya memang mulai berkembang, tetapi delapan puluh persen keuntungan yang didapat dia putar kembali agar bisnisnya semakin besar.
"Jangan takut, nanti Papi bantu. Buat kehidupan sehari-hari kamu sudah punya penghasilan 'kan, Mas?" tanya Abimana.
"Udah, Yah. Belum besar, sih, tapi cukup kalau Tania mau diajak hidup sederhana dulu sementara waktu," jawab Bian.
"Aku pasti mau, Mas lyaaan. Asal kita cepet nikah!Halalkan aku, Mas," ucap Tania sembari cekikikan.
Ningsih tersenyum lebar melihat calon menantunya yang selalu ceria ini. Dirinya berharap suatu hari nanti Bian bisa membimbing Tania agar mau menutup auratnya dengan sempurna. Rasanya Ningsih tidak rela sembarang lelaki bisa melihat kemolekan tubuh Tania.
"Mami sama Papi kamu ada di rumah nggak nanti malam ?" tanya Abimana.
"Ada, Yah. Nggak akan ke mana-mana, soalnya siang ini ada arisan keluarga. Biasanya mereka ada di rumah, kecapean abis makan banyak," seloroh Tania.
"Mereka keganggu nggak ya, kalau Ayah sama Ibu main nanti malam?" tanya Abimana lagi.
"Ayah mau ngapain?" tanya Bian.
"Loh, kamu gimana sih, Mas? Katanya pengen cepet-cepet nikah. Ayah sama Ibu mau langsung ngomong ke orang tua Tania," sahut Ningsih.
"Secepat ini?" tanya Bian tak percaya.
"Lebih cepat lebih baik," tegas Abimana.
"Yess!!" Tania mengepalkan tangannya ke udara.
"Alhamdulillah, ucap itu, Sayang," tegur Ningsih lembut.
Tania cengengesan lalu mengucapkan hamdalah seperti yang diperintahkan calon mertuanya.
Mereka membahas rencana pernikahan Bian dan Tania sampai lupa makan siang, membuat Caca merengek karena perutnya lapar.
Ningsih menepuk dahinya, karena terlalu bahagia sampai melupakan makan siang. Untung saja Bi Eroh sudah memasak, dia hanya tinggal menghangatkan dan menyajikan di meja makan.
Tania membantu Ningsih menyiapkan makan siang, begitu juga dengan Caca. Tiga perempuan berbeda usia itu bercengkerama dengan santai dan hangat. Tania benar-benar diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Bian, meski dirinya masih belum menutup aurat.
"Yuk, kita makan siang menjelang sore," ajak Ningsih. Bian dan Abimana yang sedang berdiskusi di ruang tengah segera beranjak menuju ruang makan.
Usai makan bersama, Bian mengantarkan Tania pulang sekaligus menyampaikan pesan orang tuanya pada orang tua Tania. Bahwa nanti malam, Abimana dan Ningsih akan datang berkunjung.
Di sepanjang jalan Tania terus berceloteh dengan riang. Dia begitu bahagia akhirnya Bian mau menikahinya dalam waktu dekat.
"Kalau Mami sama Papi nolak, gimana?" tanya Tania.
"Ya udah, kita sabar menunggu. Tapi, aku mau kita jaga jarak dulu, Nya," jawab Bian.
"Jaga jarak?" tanya Tania heran.
"Iya. Apa yang dibilang Tante Irma itu benar. Ibu suka nangis kalau lihat kita pergi kencan. Ya walau ucapan Ibu nggak sefrontal Tante Irma, aku tahu Ibu pingin kita bisa jaga diri," tutur Bian tanpa mengalihkan perhatiannya dari keruwetan lalu lintas ibukota di akhir pekan seperti saat ini.
"Tapi kita 'kan kita masih jaga diri, Yan. Nggak pernah berbuat macam-macam," sahut Tania.
"Itu 'kan menurut kita. Menurut agama ya beda lagi, Nya."
"Kamu ngomong gitu bukan karena kamu mulai bosen sama aku 'kan?" cicit Tania.
Bian menarik tuas rem tangan, mobilnya berhenti karena terjebak macet.
"Nggak, Nya. Kalau aku bosen nggak mungkin aku minta pernikahan kita dipercepat, iya kan? Aku cuma mau bantu kedua orang tua kita biar nggak kena dosa aja," jawab Bian.
"Jadi sampai kita nikah nggak ada ciuman lagi, nih?" Bian mengangguk menjawab pertanyaan Tania.
"Yaaan ... masa kita pacaran cuma pegangan tangan doang? Kayak anak SD!" rajuk Tania.
"Aku malah takutnya kamu yang bosen sama aku, Nya," cetus Bian mengabaikan rengekan Tania.
"Kok, gitu?" Tania sedikit tak terima Bian berkata seperti itu.
"Iya, kamu 'kan seneng banget nyosor, nyiumin aku. Nanti nggak boleh, Nya. Tunggu sampe kita nikah," ujar Bian. Matanya menatap wajah Tania dengan lembut.
Tania mengerucutkan bibirnya, "Tapi kamu juga suka, lyan. Malah akhirnya kamu lebih buas."
Bian terkekeh, menjalankan mobilnya dengan perlahan kemudian kembali menarik tuas rem tangan. Mobilnya hanya bergerak beberapa meter saja.
"Ya iya, sih. Tapi aku serius, Nya. Kita tahan dulu jangan cium-cium sampai nikah. Kamu sanggup nggak?" tanya Bian.
"Kamu sendiri sanggup nggak?" Tania balik bertanya.
"Sanggup, asal kamu nggak godain aku aja. Lemah aku, Nya. Kamu itu...." Bian meneguk ludah ketika Tania menggigit bibir bawahnya untuk menggoda.
"Nya.... Astaghfirullah!" Bian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tuh, padahal aku nggak godain kamu, loh, Yan," ledek Tania.
"Oke, sekali ini aja. Ini terakhir, sebelum kita puasa ciuman sampai kita nikah," ujar Bian.
"Yakin?" ledek Tania lagi.
"Nya...." Lagi-lagi Bian mengusap wajahnya frustrasi. Tawa Tania pecah, melihat Bian yang seperti itu membuatnya merasa gemas.
Untung saja Tania baru jatuh cinta pada Bian belakangan ini, kalau lebih lama mungkin saat ini dirinya sudah jebol. Kekasihnya itu sungguh menggemaskan, sering menampakkan keluguan dengan wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang seksi.
Betul, tubuh Bian itu seksi. Tania pernah melihatnya berganti kaos saat latihan. d**a bidang dengan perut kotak-kotak membuat para gadis yang menonton klub basket latihan berteriak heboh, termasuk dirinya yang saat itu masih berstatus sebagai sahabat.
Setelah status mereka berubah, Tania melarang Bian berganti baju di depan banyak orang. Dia tidak rela gadis lain menikmati pemandangan indah yang seharusnya hanya dia yang melihat.
"Nya, jadi gimana?" tanya Bian.
"Apanya?" Tania menahan tawanya agar tidak kembali pecah.
"Haduh, dilematis ini! Aku nggak tega lihat Ibu kebagian dosa, tapi aku juga kepingin, Nya! Gimana ini?" Bian mengacak rambut tebalnya.
"Nggak tahu," sahut Tania pura-pura cuek.
"Nyaaa...."
"Ya udah, berdo'a aja semoga Mami sama Papi setuju kita nikah cepet," sahut Tania.
"Aamiiin!" seru Bian penuh semangat.
"Soalnya aku juga nggak kuat kalau kelamaan nggak cium kamu, Yan," bisik Tania sembari mengecup telinga Bian.
Bian mendesah frustrasi, kemudian menarik tengkuk Tania dan mendaratkan ciuman singkat di bibir Tania yang sedari tadi menggodanya.
"Terakhir, sampai kita sah menikah," tekad Bian.
Tania tersenyum. 'Kita lihat aja nanti, Yan. Seberapa kuat kamu tahan sama godaan aku', batin Tania berkata.
✅✅✅✅
Tidak menyangka orang tua Tania menyambut baik rencana Bian dan orang tuanya. Tentu saja itu membuat Tania terlonjak kegirangan. Dia sampai mengecup pipi Setno berulang kali.
Ucapan Irma sedikit banyak membuat Setno merasa takut. Baik tentang dosa, maupun tentang banyak orang yang ingin menjadi besan Abimana Ma'arif, mantan Ketua DPR RI.
Meski Bian belum lulus kuliah, Setno yakin dia pasti sudah memikirkan bagaimana caranya menafkahi Tania. Apalagi selama ini dalam pantauannya, Bian termasuk pemuda yang baik, sopan dan bertanggung jawab.
"Mau nikahnya kapan?" tanya Setno pada Tania.
"Lebih cepat lebih baik," jawab Tania dan Bian kompak.
"Wah, kompak sekali." Wulandari tersenyum lebar.
"Kalian nggak berbuat yang aneh-aneh 'kan?" Mata Setno memicing menatap pasangan muda itu.
"Nggak, Pi. Mas Bian ini lempeng nggak aneh-aneh," jawab Tania.
"Tapi Papi nggak yakin sama kamu. Genit, mirip Mami," cetus Setno.
"Loh, kok, bawa-bawa Mami?" protes Wulandari.
"Itu dia, Pi. Makanya aku pengen cepet-cepet nikah. Biar gimana juga aku laki-laki normal," ujar Bian sembari mengusap tengkuknya malu-malu.
"Oke, jadi lebih cepat lebih baik. Bagaimana Pak Abimana, Bu Ningsih? Ada saran tentang pernikahan anak-anak kita?" tanya Setno pada orang tua Bian.
"Kami selaku orang tua Bi menginginkan pernikahan bisa dilakukan dalam waktu dekat. Insyaa Allah kami akan menyiapkan mahar yang dipinta oleh Tania. Tinggal menunggu kesiapan Pak Setno dan Bu Wulan, kapan mau mengadakan pernikahan mereka?" jawab Abimana dengan bijaksana.
Setno melirik istrinya, meminta pendapat. Wulandari berbisik meminta waktu untuk bertanya pada orang tuanya di desa.
"Kami meminta waktu tiga hari ya, Pak Abimana. Kami akan meminta pendapat pada orang tua kapan waktu yang tepat untuk dijadikan hari baik bagi Tania dan Bian," ucap Setno.
"Baik, kami tunggu kabar baiknya, Pak Setno. Besar harapan saya, anak-anak kita bisa menikah secepatnya," sahut Abimana.
Pembicaraan malam itu berakhir, dan berlanjut pada tiga hari kemudian. Bian dan keluarganya kembali datang, kali ini kakak dan adiknya turut serta. Begitu pun ketiga kakak Tania berikut para suaminya, ikut berkumpul.
"Pak Abimana, alhamdulillah, kakek nenek Tania sudah memberi restu. Mereka bilang bulan depan, 14 September, bulan yang baik untuk menikah. Pak. Bagaimana?" tanya Setno usai menjelaskan hasil diskusinya dengan keluarga di desa melalui telepon.
"Alhamdulillah, saya senang dengarnya, Pak. Saya setuju, keluarga kami setuju. Bagaimana Mas Bian, siap?" tanya Abimana pada Bian. Putranya itu mengangguk pasti.
"Nah, setelah ini biarkan calon pengantin dan para ibu menyiapkan semuanya. Kita cukup gelontorkan dananya saja, Pak," gurau Setno, Abimana tertawa sembari mengangguk setuju.
"Tania mau mahar apa? Bilang sama Ibu, nanti disiapkan. Uang Mas Bian cukup kok, kamu tenang aja," ujar Ningsih.
"Aku nggak mau memberatkan Mas Bian, Bu. Semampu dan sepantasnya saja." Tania menjawab dengan malu-malu.
"Masya Allah, calon menantu Ibu ini luar biasa." Ningsih memeluk Tania dan mengecup kening calon menantunya itu.
"Nanti bilang ya, mau model kebaya yang seperti apa? Mbak bikinin spesial buat kamu," ucap Luna. Tania tersenyum, mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Rini, kakak perempuan Bian juga tidak mau kalah dengan kakak iparnya. Dia juga ingin memberikan hadiah istimewa untuk adiknya.
"Mbak kasih voucher menginap di suite room tiga hari tiga malam buat kalian. Biar proses unboxing-nya nggak keganggu," ucap Rini dengan seringai jahil.
"Wah, nggak adil itu. Waktu aku nikah dulu, Tania gangguin malam pertama aku!" seru Sandra, kakak kedua Tania.
"Ih, nggak kok? Aku 'kan nggak gangguin Kak Sandra." Bibir Tania mencebik.
"Bener! Waktu aku nikah juga, ini anak bolak balik ngetuk pintu kamar. Ada aja alasannya. Pinjem charger lah, minta pembalut lah," dumel Dini, kakak sulung Tania. Ikut menjahili adik bungsu mereka.
"Kak Dini, itu Kak Sandra yang suruh. Aku bocil ya nurut aja daripada nggak dapet tambahan uang jajan. Kalian kok jahat, sih! Masa mau ganggu waktu aku lepas keperawanan!"rajuk Tania.
Raka dan Abimana yang sedang menikmati kudapan tersedak mendengar celetukan Tania. Ningsih dan Luna kompak memberikan minum untuk suami mereka.
"Kaget, ya, Pak. Saya sebagai satu-satunya lelaki di rumah sudah biasa seperti itu. Mereka itu kalau ngomong suka ceplas-ceplos. Mirip sama Maminya. Lusy satu-satunya yang mirip saya," ucap Setno.
"Ramai ya, Pak," sahut Raka.
"Jangan ditanya, udah mirip pasar. Untung suami-suami mereka siap pasang kuping."
Setno menoleh ke arah ketiga menantu lelakinya yang duduk berjejer persis di belakang istri masing-masing. Ketiganya terkekeh dan mengangguk pada Setno.
"Mas Bian udah kenal sama calon kakak-kakak iparnya?" tanya Ningsih.
"Udah, Jeng. Mereka sering main futsal bareng. Akur mereka itu, kompak," jawab Wulandari.
"Ibu ini bagaimana sih, mereka 'kan sudah tunangan hampir setahun masa Bian belum kenal sama calon iparnya," ujar Rini.
"Ah, iya, ya. Lupa. Haduuh maaf, Jeng, saya udah tua ternyata," kekeh Ningsih.
Pertemuan keluarga itu berjalan hangat dan akrab. Ternyata Raka kakak sulung Bian, satu almamater dengan Waluya, suami Sandra, kakak kedua Tania. Mereka baru bertemu karena saat acara pertunangan tempo lalu, Sandra dan Waluya tidak hadir karena ibunda Waluya sakit dan dirawat di Surabaya.
Keluarga Abimana Ma'arif memiliki empat orang anak, dua anak lelaki dan dua anak perempuan. Bian adalah anak ketiganya. Keluarga Setno Pramudya juga memiliki empat orang anak, yang semuanya perempuan. Tania menjadi putri bungsu dari pasangan Setno dan Wulandari.
Tania diam-diam mengajak Bian ke halaman belakang rumah saat keluarga mereka saling bercengkerama.
"Kenapa malah ngajak aku mojok gini, Nya?" tanya Bian.
"Kangen aku tuh, Yan. Tiga hari ini kita nggak ketemu," rajuk Tania.
"Kan, kamu tahu aku sedang kejar target biar bisa sidang sebelum kita nikah. Aku juga udah serahin jabatan kapten basket, biar lebih fokus," jawab Bian.
✅✅✅
Yang mau tau kisah lengkap Febi dan Saka, Silahkan baca dengan judul "TETANGGAKU JODOHKU"